Arsip untuk ‘Bis’ Kategori

Manuver Kopaja S-13

Posted: 13 Juni 2013 in Bis, Transport Jakarta
Tag:, ,

Kopaja AC S-13 (Ragunan-Grogol) yang pernah saya ceritakan disini sekarang sudah ada yang berubah. Mulai Januari 2013 lalu bis ini, beserta saudaranya, Kopaja AC P-20 (Lebak Bulus-Senen) akan ‘terintegrasi’ dengan busway. Artinya sudah boleh mampir di halte busway. Tapi saya sendiri nggak terlalu tahu model ticketing-nya, soalnya pasti penumpang Transjakarta ditagih lagi oleh kenek kopaja. Maklum saya belum pernah dikasih tiket selama naik kopaja ini.

Tapi saya tidak membahas masalah tiketnya, saya cuma bercerita tentang efeknya disisi penumpang dengan adanya gelar ‘terintegrasi’ ini. Pertama, bis ini jelas harus memiliki pintu di kedua sisinya. Karena halte busway umumnya berada disebelah kanan. Jadinya dinding sebelah kanan dirombak, yang mengorbankan sekitar 3-4 baris tempat duduk.

Pintu busway Kopaja AC

Jadi jumlah penumpang berdiri meningkat, alias penumpang duduk menurun. Bagi beberapa penumpang ini merugikan, apalagi jika jarak jauh.

Kesulitan lain adalah bis ini jadinya seakan bermanuver ke kiri dan kanan, khususnya di jalan arteri pondok indah, yang berimpitan dengan Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas)

busway

jadi dari citra satelit diatas kita bisa melihat kalau kopaja S13 itu datang dari arah tenggara (Jl Simatupang) berbelok ke Arteri Pondok Indah, dia harus memilih mengangkut penumpang di halte bis biasa atau di halte busway. Jika memilih dua-duanya maka dia akan bermanuver tajam dari kiri (halte biasa) langsung ke kanan (halte busway). Tapi lebih sering didaerah situ halte bis biasa yang dikorbankan. Ada yang bilang, kalau mau nunggu Kopaja S13 tunggu aja di halte busway. Ada benernya tapi gak 100%. Kopaja S13 ini sering cuma alternatif saja, karena banyak bis lain yang arahnya sama. Misalnya mau ke Mesjid Pondok Indah, bis lain adalah Kopaja reguler 86, Metromini 85, Deborah raksasa, Mayasari Bhakti PAC 73, atau PPD AC 16. Atau mau lebih jauh ke Ratu Plaza bisa PPD AC 16. Bahkan sampai ke Slipi masih berimpit dengan Kopaja 86. Jadi ini cuma masalah bis mana yang datang duluan, bukan loyal pada salah satu bis.

Masalahnya sekarang jalan Arteri pondok indah itu macet banget, jadi manuver ke kiri dan kekanan itu bisa bikin pengendara yang lain sewot. Perilaku mendua ini bikin runyam. Akhirnya karena bis lebih sering di jalur kanan, saya sering melihat penumpang akhirnya naik/turun ditengah jalan, yang jelas secara safety gak bagus.

Mungkin nanti kedepannya semua halte bis akan dijadikan satu, atau benar-benar terintegrasi. Mungkin kapan-kapan dilain hari.

Kebijakan angkutan umum terkesan sepotong-sepotong dan eksklusif alias tidak melibatkan banyak pihak (yang berkepentingan). Contohnya? banyak, misalnya untuk Bandara Internasional Sukarno Hatta (CGK), hanya dilayani oleh Bis Damri. Memang ada taksi, namun taksi bukan jenis angkutan umum massal, yang imbasnya bisa lebih high cost dibanding kendaraan pribadi. Akses KRL bandara masih sekadar wacana. Padahal arus transit di Bandara CGK saya pikir sudah sangat padat. Contoh lain seperti di tulisan saya sebelumnya mengenai kereta api.

Eksklusif-nya suatu moda angkutan bisa dilihat pula pada jalur busway transjakarta. Sejauh ini jalur busway hanya diperbolehkan bagi bis transjakarta, dan baru-baru ini diperbolehkan bagi APTB (Armada Perbatasan Terintegrasi Busway). Namun dalam prakteknya lebih banyak angkutan umum lain yang tidak menyatu dengan busway. Sehingga kalau ingin berpindah ke moda angkutan lain seperti bis reguler atau sebaliknya, maka harus meninggalkan atau menuju halte busway, karena berbeda halte. Mungkin yang diutamakan adalah sistem tiketnya yang lebih mudah apabila khusus Bis Transjakarta atau APTB.

Tapi sepertinya busway itu memang tidak melibatkan, atau bahkan cuma sekadar memikirkan pelaku transportasi yang sudah ada lebih dulu. Misalnya bis kota reguler yang ada sebelumnya. Alih-alih menggandeng bis kota yang ada sebelumnya untuk terintegrasi dalam sistem busway, malah membuat angkutan baru seperti APTB. Seakan-akan berpikiran bahwa Kopaja, Metromini atau bis kota lainnya tidak bisa lagi diatur atau dilibatkan. Artinya sama saja dengan ‘membunuh’ pelan-pelan armada yang sudah ada tersebut.

Untungnya, seiring dengan pergantian kepemimpinan di Jakarta, wacana untuk integrasi bis kota kembali muncul. Jadi nanti bis-bis non Transjakarta bisa masuk jalur busway, atau bisa mempergunakan halte-halte busway yang ada untuk transit. Tentunya akan membutuhkan banyak modifikasi agar bis-bis kota lain itu bisa beroperasi dengan baik di jalur dan fasilitas busway.

Semoga saja cepat terlaksana, dan bisa lebih mengoptimalkan Busway Transjakarta dan APTB, yang terbatas jumlah armadanya. Jangan sampai malah timbul kekhawatiran akan persaingan baru antara Transjakarta vs bis kota lainnya, sehingga memilih untuk memproteksi jalur Busway dari bis-bis non Transjakarta/APTB.

Seperti perang, siapa yang mengenal medan lebih baik, dia akan menang. Informasi yang sering dibutuhkan bagi pengguna angkutan umum adalah jalur yang dilalui angkutan umum, jadwal, dan apa moda yang dipilih. Sekarang Google map menyediakan fasilitas yang memudahkan pengguna angkutan umum.

Misalnya, kalo kita dari Slipi, kita bisa melihat apa saja angkutan (bis) yang melewati halte disana, sekaligus jadwalnya.

Halte di Slipi di Google Map

Coba klik saja halte (icon bertanda bis), dan muncul informasi seperti diatas. Jika kita klik lagi kode bis yang ada, maka akan muncul jadwalnya.

jadwal bis di Google Maps

Ok bukan? bukan….

Sekilas memang sangat membantu, tapi harap diingat, bahwa informasi diatas kurang valid. Banyak bis yang tidak tercantum dalam informasi tersebut, bahkan juga banyak bis ‘fiktif’, entah informasinya salah atau bis itu telah tidak lagi beroperasi. Belum lagi masalah jadwal, maupun halte yang ada. Sebab sangat susah untuk melakukan pemutakhiran dan validasi data  dalam kesemrawutan angkutan umum di Jakarta. Namun setidaknya usaha Google ini bisa membantu, namun di lapangan, kita yang harus aktif mencari tahu sendiri dengan banyak bertanya, kalau perlu crosscheck dengan banyak orang karena informasi juga sering salah.

Untuk halte busway, lebih valid karena sumbernya mengacu pada pengelola transjakarta, disamping transjakarta sendiri sudah tersistem. Namun untuk tampilan lebih bagus di program Aplikasi Android, Komutta, yang menampilkan track dan halte busway di google maps.

Upaya Komutta sudah mendekati informasi angkutan di Singapura.

informasi jalur dan track di publictrans.sg

Kapan ya… kita punya transportasi umum seperti negara jiran itu? Bukan sekadar informasi mengenai angkutan umum, namun penerapan sistem angkutan umumnya… wahhh… mimpi kali yeeee…

Setelah ‘sukses’ meluncurkan Kopaja AC S-13, Kopaja resmi meluncurkan 30 bus baru dengan AC, GPS, wi-fi, kartu pembayaran elektronik, layanan SMS khusus untuk kedatangan bus, dan tripod barrier pada pintu masuk, pada 5 Juli 2012. Kalo ada yang tanya buat apa GPS itu, apa sopirnya nggak hapal jalan? Oh, ternyata GPS itu untuk mengontrol jalur dan kecepatan kendaraan akan dikontrol. Dengan sistem dualcontrol, kendaraan yang melanggar aturan kecepatan maupun keluar jalur bisa dihentikan, mesinnya dimatikan dari pusat kontrol. Wah… ini baru berita.. misalnya saja kurang koordinasi dengan kantor pusat karena ada pengalihan arus…. mesin dimatikan, he..he..he..

Bus-bus baru tersebut akan melayani rute P-19 (Ragunan-Tanah Abang) dan P-20 (Lebak Bulus-Senen). Jalur ini terkenal ramai, dengan jumlah armada yang relatif banyak. Tentunya dengan fasilitas yang ada, harganya tidak bisa disamakan dengan yang biasa. Rencananya tarif akan dipatok Rp 5.000, meskipun kemungkinan (besar) bisa dinaikkan menjadi Rp 7.000.

Sepanjang pengalaman saya naik S-13, Kopaja AC itu tak pernah sampai kepenuhan. Berhentinya sama saja seperti kopaja lainnya, hanya ‘kelakuannya’ lebih tenang dari Kopaja biasa. Tripod barrier juga tidak berfungsi maksimal, malah saya sering kecantol (banyak yang kemudian ditiadakan keberadaannya).

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya disini, memang Kopaja AC tidak menawarkan kecepatan atau berkurangnya waktu tempuh, namun memilih ‘berkompromi’ agar lebih nyaman ‘menikmati’ kemacetan yang ada.

cafe bus (gambar dari okinawahai)

Saya jadi punya ide, gimana kalo membuat bus kota seperti Kopaja menjadi seperti cafe berjalan yang lengkap? jadi daripada nunggu macet di cafe-cafe di mall, mendingan sekalian ngafe sambil pulang. Masalah tarif… gak masalah… kan ini cafe…

Selama menggunakan angkutan umum ini, ada satu hal yang membuat saya bebas dari tanggung jawab mematuhi aturan lalu lintas. Jelas saja, karena bukan saya sopirnya. Jadi kalau angkutan saya yang melanggar aturan, yang di tilang ya sopirnya. Sebenernya mau melanggar lampu merah, mau nerobos jalur busway, mau melawan arah ok aja asal cepet. Toh kalo ada urusan bukan kita yang nanggung.

Bahkan kalau mau coba pengalaman teman saya pengguna setiap Angkot D-106 jurusan Parung-Lebak bulus, kalau pagi di Jalan Pondok Cabe Raya, angkot itu kalau ikut antrean macet pasti penumpangnya pada protes, sopirnya disuruh ambil jalur kanan melawan arah biar lancar jalannya. Dan sopirnya kebanyakan ‘terpaksa’ ikut ‘perintah’ itu. Nah, kalau ada masalah, seperti kena tilang, atau nabrak kendaraan lain, ‘pemberi perintah’ pasti lepas tangan. Jawabannya ya cuma satu, meskipun penumpang adalah ‘raja’, siapa dong sopirnya?

ngetem di perempatan

Ini ada cerita yang saya alami berkaitan dengan masalah tilang. Kejadiannya di perempatan Lebak Bulus – Pondok Indah (Poins). Obyeknya adalah Metromini 72, jurusan Lebak Bulus – Blok M. Sesuai aturan, disitu memang nggak boleh stop (ada tanda dilarang stop). Tapi sudah jadi kebiasaan banyak bis yang ngetem, karena penumpang banyak yang datang menyeberang dari arah poin square. Nah, kali ini ceritanya ada polisi, sehingga bis nggak ada yang berani ngetem. Dan bis yang saya naiki ini juga nggak berhenti ngetem. Karena kepadatan lalu lintas, maka bis 72 ini berjalan pelan. Karena penumpang juga banyak disana, dan pintu bis juga terbuka lebar (mana ada kopaja/metromini pintunya nutup kalo beroperasi), maka penumpangpun berlompatan naik.

Hasil dari peristiwa itu adalah sopir bis 72 itu ditilang, alasannya karena menaikkan penumpang tidak pada tempatnya. Sampai disini saya jadi berpikir, yang ditilang jadinya sopirnya, padahal yang melanggar juga penumpangnya. Hmmm…. kok sepertinya nggak fair ya… bukannya apa. Nggak sampai 50 meter dari perempatan itu ada sebuah halte bis, tepatnya di depan gedung BCA di Jalan Arteri Pondok Indah. Kenapa kok penumpangnya nggak mencegat di halte? kenek bis 72 itu cuma bisa ngedumel,” Wong penumpang mau naik masak nggak boleh”. katanya. Tidak menyalahkan penumpang, melainkan kesal pada polisinya (yang sebenarnya menjalankan aturan). Jelas kalau berurusan dengan polisi, ada biaya dan waktu yang terbuang, padahal setoran harus jalan, dan asap dapur juga harus terus ngebul.

Memang sih risiko penumpang yang naik/turun ditempat terlarang ya lumayan, karena seringkali bis tidak berhenti. Jadi bisa saja jatuh. Tapi sekali lagi, kalau ada penumpang yang jatuh dan cedera, apalagi sampai meninggal, sopir bis jelas (lagi-lagi) berurusan dengan polisi.

Jadi memang saya rasakan kalo tidak dipaksa memang susah tertibnya. Busway dan KRL menaik turunkan penumpang pada halte/stasiun juga karena konstruksi dan sistemnya tidak mengkondisikan penumpang naik/turun tidak pada tempatnya.

Satu hal lagi yang membuat saya trenyuh… Sopir dan kenek bis tadi ternyata satu keluarga. Saya lupa bilang, kenek itu seorang ibu, istri sang sopir. Wanita kurus asal Pasar Turi, Surabaya itu menggendong anaknya yang terkecil, yang berusia 2,5 tahun. Sebentar-sebentar dia meletakkan anaknya itu di dekat kursi bapaknya, untuk menarik uang penumpang.

Mungkin kejadian ini membuat saya sebagai penumpang menjadi sedikit mencoba berempati pada sopir-sopir dan kru angkutan umum, bukan cuma melulu protes, klaim dan mengeluh.

Ke Pasar (Part-1)

Posted: 26 Desember 2011 in Bis, bus kota, KRL, Transport Jakarta
Tag:, ,

Pasar dan stasiun atau terminal, sepertinya berhubungan erat. Kebanyakan pasar berdekatan dengan stasiun atau terminal. Mengenai asal mula pasar itu seperti mempertanyakan lebih dulu mana ayam dengan telur. Apakah karena stasiun/terminal itu banyak orang yang berlalu-lalang sehingga memancing pedagang membuka dagangan disana, ataukah karena pasar itu ramai sehingga banyak mengundang angkutan umum untuk menuju kesana? Yang jelas saya tidak akan membahas masalah itu. Disini hanya akan dibahas pasar (tradisional) yang berdekatan dengan Stasiun atau terminal di sekitaran Jabodetabek.

1. Pasar Tanah Abang

image

Siapa yang nggak tahu Pasar Tanah Abang? Pasar grosir yang menjual pakaian dan bahan pakaian ini pernah terkenal hingga ke manca negara. Pasar ini berdekatan dengan Stasiun Tanahabang (kode THB). Stasiun THB adalah stasiun besar KRL. Selain kereta komuter seperti KRL dan kereta Rangkasbitung, stasiun ini juga merupakan stasiun kereta api jarak jauh ke Jawa (tengah dan timur). Dulu stasiun THB ini bisa dijangkau langsung baik dari Bekasi, Serpong maupun Depok. Namun sejak era loopline penumpang Bekasi harus transit dulu di Manggarai. Untuk terminal bis atau angkot, kebanyakan armadanya ngetem di pinggir-pinggir jalan. Salah satu bis yang melayani rute Tanah Abang adalah bis Koantas Bima 102 (Ciputat – Tanah Abang) dan Patas AC BMP 102 (Depok – Tanah Abang).

Selain pasar grosir pakaian, di daerah Tanah Abang juga banyak agen pengiriman barang dan EMKL (ekspedisi muatan kapal laut), dimana sering truk-truk menurunkan atau menaikkan barang di pinggir jalan. Juga tentu saja banyak pedagang kaki lima tang menggelar dagangan di pinggir jalan. Tentu saja lalu lintas di sekitaran stasiun dan pasar sangat semrawut terutama di jam sibuk, yang diperparah banyaknya angkot dan bus yang ngetem dan sepeda motor yang melawan arah.

2. Pasar Asemka

Pasar Asemka juga cukup terkenal. Pasar ini menjual aneka macam barang, mulai dari alat tulis dan buku, pakaian, mainan dan lain-lain. Biasanya ramai ketika menjelang tahun ajaran baru, dimana barang keperluan sekolah dijual dengan harga miring (asal bisa menawar). Lokasinya tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota dan Halte Busway Koridor 1.

Khusus penumpang KRL dari Serpong, harus transit di Stasiun Tanahabang ke Manggarai, baru bisa menuju Stasiun Kota. Dari Stasiun/halte busway, cukup menyeberang lewat lorong penyeberangan, disitu ada petunjuk ke arah Asemka. Kalo malas jalan kaki, disana banyak ojek sepeda. Pasar ini cukup besar dan semrawut. Saya bingung membedakan pasar ini ujungnya dimana, karena orang menggelar dagangan sampai di mulut lorong penyeberangan depan stasiun. Di jalan dekat Pasar Asemka, jalan kaki saja sulit, apalagi naik kendaraan, karena jalan juga dipenuhi dagangan dan penjualnya.

3. Pasar Kemiri

image

Bagi yang berdomisili di Depok, terutama yang naik KRL dari Stasiun Depok Baru tentu mengenal pasar ini. Pasar Kemiri berada sepanjang rel KRL mulai dari Stasiun Depok Baru sampai sekitar Mal Depok (D-Mall). Meskipun becek, jorok dan kacau, pasar ini digemari karena harganya diklaim paling murah santero Depok. Saking dekatnya dengan rel KRL, ketika KRL lewat, pembeli dan penjual harus minggir terlebih dahulu. Karena Stasiun Depok Baru bersebelahan dengan Terminal Depok, tentu saja akses ke pasar ini juga didukung oleh bis dan angkot.

4. Pasar Minggu

Tidak susah mencari Pasar di Pasar Minggu ini. Justru saya kesulitan mencari Stasiun Pasar Minggu, yang tersembunyi di balik lapak-lapak dagangan. Pasar Minggu dulu terkenal sebagai pasar yang berjualan buah-buahan. Meskipun pedagang buah masih banyak di Pasar Minggu, namun Pasar ini melebar sampai di jalan-jalan dan berjualan apa saja seperti pasar-pasar lain. Selain stasiun KRL, juga terdapat Terminal Pasar Minggu dengan armada angkot dan bis yang relatif banyak. Bis Damri Bandara juga menjadikan Pasar Minggu sebagai terminal, yang biasanya juga dinaiki orang Depok karena di Depok tak ada lagi bis bandara.

Selain Bis yang berterminal di Pasar Minggu, beberapa bis juga lewat Jalan Pasar Minggu (hanya lewat, tidak masuk terminal) seperti PPD 54 jurusan Depok – Grogol dan Mayasari PAC 81 jurusan Depok – Kalideres.

Sekian dulu deh, nanti dilanjutkan lagi. Masih banyak pasar yang belum dibahas.

Posted from WordPress for Android

Posted from WordPress for Android

Kramat Djati (bisnis) tujuan Palembang - Rawamangun-Lebakbulus

Melanjutkan tulisan sebelumnya, dengan ojek saya meninggalkan Palembang menuju terminal Karya Jaya. Tapi sebelum sampai terminal, terlihat Bis Kramat Djati (KD) yang ada di poolnya (lebih mirip lapo tuak), jadi saya tanyakan apa bener ini bis yang ke Lebak Bulus. Ternyata bener, jadi saya berhenti di pool KD saja, nggak usah menunggu di terminal Karya Jaya. Sialnya, keputusan ini kayaknya nggak pas. Rencana saya mau makan, apa daya di pool ‘lapo tuak’ ini nggak ada tempat makan yang layak. Mendingan saya ke terminal saja.

'lapo tuak', eh pool KD Palembang

Menjelang Pukul 13.00, Bis  berangkat menuju terminal. Terminal Karya Jaya tampak lengang, dengan genangan air disana-sini habis hujan. Karena sulit mencari warung, akhirnya ketemu asongan yang berjualan pempek, harganya cuma seribuan. Bedanya dengan di Jakarta yang digoreng garing, di sini cenderung masih ‘basah’. Jadilah makan siang dengan pempek saja dalam bis.

Kramat Djati tujuan Palembang - Bandung

Serombongan bis berangkat hampir bersamaan. Bis KD ini tipenya bisnis, tempat duduknya 38, beda dengan eksekutif yang 32 seat. Saya memandang iri pada bis KD eksekutif yang jurusan Bandung (agen KD Jl, Atmo bilang tujuan Jakarta gak punya kelas eksekutif). Namun info yang saya dapat, KD Bandung ini beda manajemen walaupun masih satu bagian perusahaan.

interior Kramat Djati klas Bisnis

Baru ketika masuk bis saya sadar kalo kursi saya gak seperti yang saya inginkan. Saya sebenarnya mau di sebelah kiri, tapi malah dapat yang kanan. Jadi berpapasan kendaraan dari arah sebaliknya. Saya agak ngeri, juga ketika malam, kena sorot lampu kendaraan dari depan. Jadi susah tidur deh.

Selama perjalanan lancar saja. Di Ogan Ilir, dua orang Sarkawi masuk. Jadi semua kursi bis terisi penuh.

dalam naungan gerimis pada sebuah perhentian di Ogan Ilir

Dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh tahun saya nggak naik bis jarak jauh. Bis ini dilengkapi TV (yang nggak pernah nyala), AC, kursi kelas bis Patas AC, selimut, bantal kecil dan tersedia toilet. Untung saja AC nya nggak seberapa ‘menggigit’. Selama perjalanan, mampir hanya 2 x di restoran Padang, sekali di Ogan ilir, jam 15.00 (waktu yang nanggung) dan kedua di Lampung, malam atau dinihari (saya nggak tahu jam berapa, soalnya ngantuk banget). Makanannya bayar sendiri, jadi nggak ditanggung bis. Selama perjalanan saya nggak ke toilet sama sekali, jadi nggak tahu kebersihannya. Bis berhenti sebentar di mengisi solar yang dimanfaatkan beberapa penumpang untuk buang air.

Kelihatannya semua PO bersatu melawan hegemoni si ijo

Selama perjalanan, hampir berbarengan dan sering saling ngeblong dengan PO lain seperti Pahala Kencana (PK), Maju Lancar (ML), Ladju Prima (LP), Sari Harum (SH), dan Handoyo, tapi anehnya saya nggak lihat genk ijo yang mendominasi (Lorena), atau saya yang silap ya?

Sampai Bakeheuni, lancar-lancar saja, tak ada antrean yang berarti. Pukul 04.00 bis sudah siap dalam KMP Duta Banten. Bis dimatikan mesin dan AC nya, dan penumpang ‘diusir’ keluar bis. Ini juga sesuai dengan anjuran keselamatan dari perhubungan. Ada kisah ‘horor’ dimana ada ferry tenggelam, ada satu bis yang tewas tenggelam gara-gara malas keluar bis ketika dalam kapal.

kelas lesehan KM Duta Banten

Saya memilih kamar lesehan, sambil menonton TV, maklum berjam-jam duduk terus. Jadi karcis ‘upgrading’ dari kelas III ke kelas lesehan Rp 8.000 saya tebus (ditarik ketika saya sedang enak-enak tidur), karena jatah penumpang bis adalah kelas III. Peluit berbunyi 3 kali, dan kapal mulai berlayar (padahal gak ada layarnya).

Subuh di Pelabuhan Merak

Subuh di Pelabuhan Merak

Pukul 6 pagi, kapal merapat di pelabuhan Merak, menandai akhir perjalanan pertama saya ke Sumatera. Lepas Merak, memasuki tol menuju Jakarta dan disuguhi suasana yang tak asing lagi : MACET. Setelah melepas penumpang di Terminal Rawamangun, bis berhenti di Terminal Lebak Bulus pukul 10 lebih. Alhasil, saya baru sampai rumah pukul 12 siang. Jadi total perjalanan adalah 24 jam dari pool KD ke rumah saya.

– tribute to my wife, teman ‘tidur’ selama perjalanan –

image

Tulisan ini terpaksa saya buat karena kejadian sore tadi yang saya alami. Sebenarnya nggak enak mengkritisi diri sendiri, tapi harus saya tulis pengalaman ini. Sore itu dari arah Pancoran saya naik metromini 62 (Manggarai-Pasar Minggu) ke arah Pasar Minggu. Cuaca sangat panas dengan sinar matahari menyorot dari arah kanan, sementara bis terisi lumayan penuh. Sekitar 2 Km menjelang Pasar Minggu, sang metromini mendadak mati mesin dan susah distarter (biasa, akinya soak). Jelas dalam situasi ini solusinya cuma didorong biar hidup lagi mesinnya.

Karena memang kepanasan sejak tadi, segera saya turun bersama beberapa penumpang mendorong bis bobrok itu. Tapi, kok berat banget bis ini, didorong sampe ngeden juga cuma gerak sedikit. Akhirnya setelah mesinnya nyala, saya baru sadar kalo banyak penumpang yang masih di bis, nggak mau turun. Pantes aja berat, ndorong bis sekaligus penumpangnya. Weleh-weleh kok nggak ada empatinya sih, yang lain ndorong kok malah enak-enak duduk di bis. Apa takut nggak bisa dapat duduk? wong tujuan sudah tinggal 5 menit lagi.

Lalu saya terbayang kejadian serupa di Slipi, yang menimpa bis PAC Mayasari Bhakti. Saya bisa membayangkan betapa berat bis itu dengan penumpang yang penuh. Waktu itu saya nggak bisa turun karena posisinya berdiri di tengah, mau turun terhalang penumpang yang lain (alasan saja ini sebenarnya, he… he…).

Ketika naik atau turun juga tidak mau repot. Ada halte, tapi kayaknya cuma jadi asesoris atau tempat berteduh, lebih sering naik atau turun di tempat terdekat yang paling pendek jarak tempuh jalan kakinya. Memang ini bisa dikarenakan halte banyak yang tidak strategis penempatannya, atau dijajah pedagang kakilima, tapi apakah tidak bisa naik turun di halte tanpa dipaksa seperti busway? Saya pernah melihat ada penumpang minta turun hanya 20 meter setelah bis berhenti di halte, hanya karena ingin berhenti pas didepan kantornya! padahal dia masih muda, sehat dan tidak cacat dan bisa berjalan normal.

Dalam hal berbagi tempat duduk juga nggak bisa diharapkan kerelaannya. Banyak orang tua, ibu yang menggendong bayi dan anak kecil yang terpaksa berdiri. Memang hal ini didukung tak adanya courtesy seat, atau kenek yang menegur, namun masalahnya adalah : apakah tak ada etika penumpang, khususnya bis kota di Jakarta?

Banyak yang mengeluh kelakuan sopir bis atau kenek yang ugal-ugalan, seenaknya atau tak tahu aturan. Namun tenyata penumpangnya juga mampu mengimbanginya, nggak beda-beda jauhlah kelakuannya. Atau budaya angkutan umum kita memang seperti itu?

Dibalik itu semua, saya masih berpikir tentang suatu pembelaan diri sebagai penumpang. Bicara tentang etika, apakah ada pernah diajarkan di sekolah atau di rumah mengenai etika penumpang umum? atau dipampangkan secara jelas dan diinformasikan secara luas? Bicara tentang aturan, apakah ada aturannya dan ada sanksinya? dalam KRL dan busway saja yang ada larangan makan-minum, memakai kuli atau courtesy seat saja nggak sanksinya. Kalo penumpang mencegat bis di areal S dicoret saja yang ditilang sopir bisnya.

Jangan-jangan penumpang tak beretika dan tak tahu aturan itu memang karena benar-benar nggak tahu. Ah, masak sih… kan masih bisa berempati. Minimal masih punya hati, kan ada perasaan nggak enak kalo duduk dalam bis, sementara ada yang ndorong. Akibatnya, malam ini saya harus cari tukang pijat.

Mengeluh

Posted: 4 November 2011 in Bis, bus kota, Transport Jakarta
Tag:,

Dalam survei yang dilakukan oleh YLKI, ada tujuh poin yang dikeluhkan oleh pengguna busway transjakarta, yaitu :

(1) waktu tunggu yang lama

(2) jarak tempuh yang panjang

(3) keselamatan dan keamanan

(4) kenyamanan

(5) sistem informasi seperti jadwal dan tiket

(6) aksesibilitas halte yang belum optimal, seperti untuk penyandang cacat, jembatan penyeberangan orang (JPO) yang rusak dan panjang

(7) kebersihan di halte, JPO dan di dalam bus.

Dari sisi regulator, Pemprov (seperti sudah bisa dilihat) memang tidak serius menggarap transjakarta. Pelayanannya tidak naik-naik, juga gaji sopirnya (tapi ada isu mau dinaikkan). Padahal dibalik semua keluhan ini, ternyata  busway semakin diminati.

Akhirnya YLKI menyimpulkan bahwa pelayanan busway di Indonesia adalah yang terburuk di dunia. Satu lagi rekor dunia pecah.

Wah jadinya kok cemen gini ya. Bisanya mengeluh saja. Padahal sebagai penumpang, etika saya juga rendah. Tapi, tunggu dulu, bukannya mau membela diri. Etika di busway itu apa sih? Kok berebut naik bis yang langka karena takut telat karena tak ada jaminan bis belakang bisa dimasuki lagi disebut tak beretika? kok pake standar etika barat untuk kondisi Indonesia? Kan gak match kalo pelayanan busway terburuk di dunia penumpangnya punya etika terbaik. Njomplang gitu lho.

Tapi, sebagai pengguna setia bis non busway, saya merasa gimana gitu lho… busway itu sesuatu banget di Jakarta ini. Bila ada jalur busway dan kendaraan umum lain (non KRL atau Taksi) saya masih lebih memilih naik busway. Bukannya apa, namun saya pengguna bis non busway seperti metromini nggak pernah disurvei. Kok kayaknya dianaktirikan, padahal saya kan juga berhak mendapatkan hak sebagai penumpang, dan operator bis juga berhak mencari nafkah. Apa mau dibiarkan mati sendiri bis-bis non busway, seperti PPD, Kopaja, Metromini dan PO bis lain? Jangan sampai busway hanya menjadi pemain tunggal yang memonopoli sehingga tak punya alternatif. Jadinya seperti dalam draconian era. Jadi kayaknya busway harus punya saingan (dibaca : angkutan selain busway juga harus ditingkatkan pelayanan dan kelangsungan hidup operatornya).

 

Musim hujan telah tiba. Artinya harus siap menghadapi guyuran air deras, angin dan pohon/baliho tumbang serta banjir. Kesemuanya tentu bisa berimbas pada kemacetan parah. Tapi musim hujan harus dihadapi dan ditembus agar bisa berangkat kerja dan pulang ke rumah. Bagi yang berkendaraan umum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, jadi seperti tips menghadapi hujan dalam angkutan umum :

1. Tempat menunggu angkutan

Tempat menunggu idealnya semacam halte atau stasiun dimana bisa berteduh dari guyuran air. Tapi apa daya kalo tidak tersedia, apalagi kadang halte sering penuh jadi tempat berteduh para biker. Terpaksa emperan toko atau rumah bisa dimanfaatkan sejenak. Ada yang perlu dihindari yaitu berteduh dibawah pohon. Selain berisiko tumbang bila kena angin kencang, risiko lain yang fatal adalah sambaran petir. Kalau perlu, datangi saja terminal terdekat agar bisa langsung menaiki angkutan.

2. Perlengkapan

Umumnya supaya praktis membawa payung lipat kecil yang bisa dimasukkan dalam tas. Ini berguna saat transit, berpindah angkutan dan saat menunggu bila tak ada tempat berteduh yang layak. Yang lebih bagus lagi bila membawa bungkus/sarung payungnya juga, sehingga kalo dilipat, airnya tidak membasahi penumpang lain karena bisa langsung dimasukkan tas. Kelemahan payung ini adalah ringkih, gampang rusak kena angin, sehingga gak bisa kalo dibuat naik ojek.

Alternatif lain adalah memakai jas hujan/jaket parasut, yang lebih handal, kalau perlu beserta celananya, jadi bisa dipakai naik ojek juga. Tapi penumpang lain bisa kebasahan.

3. Pahami karakter model angkutan

Tiap moda angkutan berbeda dalam menghadapi hujan. Contoh gampangnya kalo naik ojek ya risiko kebasahan jelas ada, namun fleksibel cari jalan dalam menembus macet. Untuk moda angkutan KRL tidak terpengaruh hujan dan jalurnya biasanya relatif tinggi, jadi lebih aman banjir, tapi kalo bicara angin jelas ada risiko di sistem LAA dan pantografnya. Angkot, selain risiko basah bagi penumpang di dekat pintu terbuka, karena rendah lebih berisiko kebanjiran daripada bis kota. Bis kota non AC, risiko kebasahan (terutama bagi yang bergelantungan) dan kalau ventilasi di atap bis rusak (gak bisa ditutup).

4. Lindungi barang yang mudah rusak

Kalau terpaksa hujan-hujanan, cari atau selalu sedia kantong plastik. Itu bukan hanya untuk muntah karena mabuk perjalanan, tapi tempat aman bagi barang-barang yang rentan rusak. Jadi kalo bawa Hape, laptop, buku, masukkan aja ke kantong plastik baru dimasukkan tas. Biar badan basah kuyup, yang penting harta kita aman. Kalau mau juga masukkan sepatu kedalam kantong plastik, dan bersandal jepit, biar penampilan tetap OK. Kalau mau juga sekalian baju dan celana/rok (eh, tapi masa cuma pake kolor dan kaos saja?).

5. Memahami daerah rawan banjir

Rajin mencari info. Contohnya dari BMKG mengenai potensi banjir di bulan November dan Desember 2011

potensi banjir DKI Nov 2011

potensi banjir DKI 2011

Dengan mengetahui potensi kebanjiran di suatu daerah, minimal kita siap bila terjebak banjir. Sebaiknya sih mengambil rute yang menghindari daerah banjir. Kecuali kantor kita atau rumah kita memang di daerah itu…

6. Fleksibel

Tingkat gangguan relatif tinggi di musim hujan ini. Contohnya kerusakan LAA di KRL, atau kemacetan akibat pohon/baliho tumbang atau banjir. Jangan ragu berganti angkutan. Keuntungan bagi yang berkendaraan umum begini adalah bila jalan depan terhadang banjir, kita bisa jalan terus, karena gak punya kendaraan yang wajib dijaga dan disayang-sayang. Saya pernah harus berjalan kaki menembus banjir agar bisa melanjutkan perjalanan, sementara mobil dan motor berhenti semua. Sampai diseberang banjir, lanjut lagi dengan angkot yang menunggu disana.

7. Jaga kesehatan

Tentu saja banyak yang sakit di musim hujan ini. Risikonya bagi yang naik angkutan umum adalah penularan penyakit sesama penumpang. Jadi jaga kesehatan, dan jangan lupa cuci tangan pakai sabun ketika sampai di rumah/kantor. Kalo perlu juga bawa masker atau pembersih antiseptik.

8. Persiapan dan bekal lebih banyak

Siapkan uang yang lebih banyak, untuk berpindah angkutan atau beli makanan/minuman di tengah kemacetan. Kalo perlu bawa bekal makanan/minum, mengingat waktu banjir besar pedagang makanan dan minuman kehabisan stok gara-gara diborong komuter yang terjebak banjir.