Arsip untuk April, 2011

Bila diperhatikan, sektor layanan publik atau layanan umum, termasuk transportasi umum di negara kita indonesia tercinta mengalami penurunan.

Muacet (diambil dari kompas.com)

Contoh yang paling mudah, beberapa tahun lalu masih gampang menemukan telepon umum, wartel untuk berkomunikasi. Sekarang? pemerintah mungkin mengasumsikan semua orang punya hand phone kali ya? nyaris gak ada lagi fasilitas itu.

Sama halnya dengan angkutan umum. Seperti dikutip dari Viva news, Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya mencatat dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penggunaan angkutan umum di Jakarta turun hingga 70 persen. Hingga 2010, pengguna kendaraan umum hanya 12, 9 persen dari 38,3 persen.  Sedangkan untuk pengguna sepeda motor selama lima tahun terakhir justru terus meningkat dari 21,2 persen menjadi 48,7 persen. Mobil pribadi mengalami kenaikan dari 11,6 persen menjadi 13,5 persen. Secara keseluruhan, pertumbuhan kendaraan bermotor mulai Januari 2011 juga terus meningkat di Jabodetabek. Hingga saat ini, tercatat 12 juta unit, dengan rincian 8 juta kendaraan roda dua dan 4 juta roda empat.

Dikutip dari Vivanews, Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Royke Lumowa menyesalkan sikap Pemprov DKI yang dianggap lambat untuk melakukan peremajaan terhadap angkutan umum di Jakarta.  Busway, MRT, dan ERP tidak didukung penyediaan angkutan umum yang layak sebagai sarana pendukung, sehingga mandul. Untuk menarik minat masyarakat, sistem angkutan umum harus diperbaiki secara menyeluruh, terutama kereta api.

Kenapa sih orang lebih suka kendaraan pribadi? yang utama adalah karena dalam persepsi masyarakat transportasi umum tidak lagi dapat diandalkan. Sulitnya menemukan angkutan umum yang layak, nyaman, aman dan ‘manusiawi’ di Jakarta. Faktor kedua adalah masalah ekonomi. Kemudahan kredit kendaraan (motor khususnya) menyebabkan semakin banyaknya masyarakat yang dapat memiliki kendaraan. Dengan kalkulasi mereka, biaya transport lebih murah karena tak perlu bayar angkutan yang oper beberapa kali.

Jadi akhirnya negara ini menjadi semakin individualis. Semakin private. Semua mengandalkan kemampuannya sendiri. Masyarakat dipaksa mengandalkan kendaraan sendiri, pemerintah cuma menyediakan jalan dan infrastruktur (meski banyak yang rusak), mengandalkan telepon sendiri, pemerintah cuma menyediakan ijin pendirian BTS, mengandalkan tabungan sendiri bila sakit, membuat pemadam kebakaran sendiri, dan akhirnya nanti semua urusannya sendiri. Jadi peranan pemerintah jadi semakin sedikit. Wah asyiknya. Tapi logikanya kalo seperti itu pajak dan pungutan-pungutan harusnya lebih rendah, dan pegawainya juga lebih sedikit, karena pemerintahnya udah gak diandalkan lagi. walahh… kok jadi berat gini tulisan di blog ini.

Seberapa malam anda berani keluyuran mengandalkan angkutan umum di Jakarta (kecuali Taksi)?

Busway

Tepat di hari kartini ini, busway memberikan layanannya hingga tengah malam, namun terbatas pada Busway di koridor I dan IX, saat ini bisa melayani penumpang hingga pukul 23.00.

night way

“Busway Koridor I Blok M-Kota Mulai  Kamis (21/4/2011) beroperasi hingga pukul 23.00. Dengan demikian sudah dua koridor dilayani hingga pukul 23.00 setelah sebelumnya koridor IX, Pinangranti-Pluit. Halte dan jam tutup loket untuk layanan busway larut malam di koridor I antara lain halte Blok M (23.00), halte Bundaran Senayan (23.10), halte Bendungan Hilir ( (23.12), halte Karet (23.13), halte Dukuh Atas (23.14), halte Bunderan HI (23.14), halte Sarinah (23.13), halte Harmoni (23.06), halte Mangga Besar (23.03) dan Kota tutup (23.00). Sedangkan halte-halte yang tidak melayani bus malam hari tutup seperti biasa yakni pukul 22.00”

(Pos Kota, 21/4/2011)

KRL

Bukan kereta hantu manggarai, tapi memang KRL bisa beroperasi sampai tengah malam.

bukan KRL hantu

Untuk tujuan Bogor/Depok, paling malam dari Tanahabang adalah Ekonomi AC 434, jam 20.45. Dari Jakarta Kota, Ekonomi AC 440, jam 23.35.

Untuk tujuan Bekasi, paling malam dari Jakarta Kota Ekonomi AC 514, jam 22.00. Dari Tanjung Priuk Ekonomi AC 510, jam 18.05. Dari stasiun Senen Ekonomi AC 512, jam 21.21.

Tujuan Tangerang, paling malam dari Jakarta Kota adalah Banteng Ekspres 572, jam 19.50. Dari Manggarai, Banteng Ekspres 575A-576A, jam 20.27.

Tujuan Serpong, paling malam dari Tanahabang Ekonomi AC Ciujung 557-558, jam 23.00.

Perhatikan bahwa KRL lingkar (Ciliwung) yang bertolak dari Manggarai ke Manggarai paling malam jam 19.00. KRL ini melewati Jatinegara, Pondok Jati, Kramat, Pasar Senen, Kemayoran, Kampung Bandan, Angke, Duri, Tanahabang, Karet, Sudirman, kembali ke Manggarai. Kereta Ciliwung yang sama juga berangkat jam yang sama, dengan rute yang berkebalikan. Jadi KRL lingkar ini bisa berfungsi sebagai KRL transit, misalnya dari Tanahabang ke Senen.

Dengan semakin malamnya jam operasional angkutan umum, semoga tidak dijadikan alasan bos untuk semakin sering menyuruh karyawannya lembur.

Hari gini gak punya android?

Rupanya hape-hape berbasis android ini udah sangat merakyat, sampai merambah ke penumpang umum. Developer aplikasi lokal juga memikirkan hal ini. Aplikasi ini dapat diunduh di android market, search aja komutta.

Daripada banyak menerangkan, lebih baik masuk ke screenshot saja ya.

 Tampilan awal

Tampilan awal Komutta

Komutta menampilkan 4 moda transportasi : KRL, Busway Transjakarta, Bis Patas AC, dan Taksi.

1. Menu Busway

tampilan awal menu busway adalah pemilihan lokasi awal

busway1

Bila bingung posisi kita dengan jalur busway terdekat, ada pilihan peta, dengan GPS

GPS komutta

Dengan bantuan GPS di hape saya (Garmin Asus A50), posisi kita ditunjukkan oleh bulatan biru putih, dengan lingkaran biru menunjukkan akurasinya. Sedangkan garis orange adalah jalur busway. Bulatan orange putih yang ada di garis orange itu adalah halte busway (di sini bila diklik menunjukkan halte mana). Namun di hape Garmin Asus A50, saya tidak bisa menemukan peta google map di mode map Komutta. Sehingga tidak ada navigasi menuju halte, dan tak ada petanya. Menurut developernya, untuk update yang versi update (0.5.2) memang ada suatu hal yang membuat peta-nya gak muncul, namun di versi sebelumnya (0.5.1 ) sebenarnya sudah ada.. Nanti di versi 0.6 akan diperbaiki lagi

Tapi jelas cukup membantu karena ada posisi kita dan ada kompasnya yang menunjukkan arah kita. Setidaknya bisa dibantu dulu dengan GPS bawaan garmin untuk mengarahkan ke halte busway, dengan berpedoman trayek dari Komutta.

Seharusnya sesuai dengan tampilan di situsnya, ada peta google map :

peta google map

Bila kita sudah menentukan tujuan dan posisi maka akan tampak detailnya :

Busway detail

menu detail ini bisa dipilih apakah cuma pergantian halte saja ditampilkan, ataukah semua halte.

2. Menu KRL

KRL

Menu ini menampilkan stasiun dulu, kemudian akan didetailkan KRL apa saja (next atau all day) yang akan melintas.

KRL yang melintas

Selanjutnya bisa diklik KRL yang dimaksud untuk menampilkan seperti ini

KRL detail

Detail ini menunjukkan KRL yang kita klik, meliputi berhentinya dimana, berikut waktu berhentinya. Cukup ringkas daripada membuka seluruh jadwal KRL, namun menu KRL disini hanya menampilkan stasiun awal, tidak ada stasiun tujuan. Sehingga harus mencari sendiri KRL yang singgah di stasiun tujuan. Namun ada satu dua yang belum pas, jadwalnya harus disinkronisasi lagi dengan jadwal KRL terbaru. Sebaiknya mengecek lagi di stasiun/situs KRL resmi karena untuk memastikan. Sebagai panduan, cukup bisa membantu karena lebih banyak yang cocok.

3. Bis Patas AC

Menu awalnya adalah memilih rute bis, atau lokasi

PAC menu awal

Trayek PAC

Kemudian seperti juga menu KRL, dapat diklik untuk melihat detailnya, antara lain melihat lewat mana.

Perlintasan trayek PAC

Untuk bis PAC juga ada trayek yang belum tercakup disini, contohnya PAC 48 (Depok Grogol), atau Deborah Depok Kalideres.

4. Taksi

Menampilkan perusahaan taksi yang ada.

Daftar Taksi

Kemudian bisa diklik, akan langsung nyambung ke telepon. Ready to call

Ready to call taxy

Sebagai catatan, Komutta ini hanya untuk Jabodetabek saja.

Update terakhir Komutta per 2 Maret 2011. Komutta  menerapkan Engine baru untuk mencari Transjakarta Route. Ditambahkan dukungan untuk bahasa Indonesia. Email Saran, dan berbagi hasil pencarian melalui Email.

Situs developer Komutta dapat dilihat disini :

http://www.mreunion-labs.net

Saat musim kampanye politik adalah saat yang sepi. Sepi? Bukannya malah ramai? Bener,sepi di terminal. Bis banyak dicarter untuk kampanye, dan gak ada bis pengganti. Ya… bisku sedang ‘berhalangan’.
Itulah kenyataan yang harus diterima penumpang bis. Sudah datang subuh, siap-siap rebutan bis biar dapat tempat duduk yang nyaman, eh bis tersayang gak nongol-nongol di terminal. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, tidak ada surat keterangan dari PO terkait. Penumpang harus mencari sendiri transportasi alternatif menuju kantornya, yang tentu saja memerlukan lebih banyak biaya, waktu dan ketidaknyamanan.

Tak ada jaminan, tak ada tanggung jawab

Situasi seperti itu ternyata cukup sering terjadi, tak hanya di musim kampanye. Bis bisa tiba-tiba hilang karena dicarter,misalnya rombongan sekolah, darmawisata, supporter bola, demonstrasi dan lain-lain. Gak cuma dicarter, bis yang ‘berhalangan’ alias menghilang tiba-tiba bisa karena pemogokan, kerusakan, atau alasan sepele, sopirnya kesiangan bangun.
Ini yang menjadi momok penumpang umum. Tak adanya jaminan akan tem (jadwal bis) dan tanggung jawab apabila tak bisa sampai tujuan. Pemerintah sebagai regulator tak mau mengontrol bahwa pengemban trayek harus bertanggung jawab atas trayek dan waktunya.

keleleran

Penumpang dituntut untuk kreatif mengatasi sendiri semua kesulitannya. Yah, apa boleh buat, siapa takut cuma masalah begituan. Transport di Jakarta kan beragam. Daripada keleleran dijalan/terminal menunggu bis yang gak jelas datangnya,  mungkin ada baiknya membaca sekadar trik untuk menyiasati masalah itu ;
1. Jangan membawa uang ngepas
Maksudnya disini uang di dompet tidak boleh ngepas. Sediakan cadangan uang lebih, karena anomali di jalan bisa menuntut kita estafet,pindah angkutan bertahap

2. Dengarkan rumor

Rumor didapat dari kenek, atau penumpang kawakan. Rumor ini perlu didengar, terutama masa kampanye & libur sekolah. Dimasa ini banyak bis yang dicarter.

3. Ketahui jalur alternatif

Jangan terlalu loyal atau cinta pada satu jenis trayek saja, karena mereka suka nyeleweng. Ada obyek carteran dikit aja udah lupa ama penumpang. Bila diperhatikan,banyak overlapping jalur. Contohnya, dari depok menuju slipi, ada 3 bis Patas AC (Steady Safe PAC 48 tujuan grogol, Mayasari Bhakti PAC 81 tujuan Kalideres, Bianglala PAC 143 tujuan Grogol), dan 1 bis non AC (PPD 54 tujuan Grogol). Atau estafet, contohnya ke lebak bulus naik Deborah, kemudian Kopaja 86 tujuan Kota. Banyak jalan menuju roma, eh slipi. Untuk estafet, memerlukan pengetahuan lebih mengenai peta Jakarta, jurusan angkutan, atau terminal. Namun pelajaran dasarnya adalah mengenal terminal/tempat dimana banyak jurusan angkutan, contohnya di Cawang atau Terminal Blok M. Idenya adalah, apabila bisa mencapai tempat itu, alternatif jalur akan lebih banyak.

4. Kombinasikan dengan moda angkutan lain

Biasanya trayek bis yang biasa dipakai berdasarkan ‘best practice‘ pengalaman menumpang. Biasanya yang dipilih kecepatan, baru kemudian kenyamanan, atau alasan kepraktisan, gak perlu oper angkutan lain. Nah jika bis yang biasa kita pakai sedang ‘berhalangan’, konsekuensinya bila kita ambil trayek lain adalah waktu lebih lama karena jalur alternatif itu bisa lebih macet, atau lebih jauh, atau harus estafet sehingga ada waktu loading/unloading. Untuk bisa mencapai tujuan dengan waktu yang relatif sama, bisa diperhitungkan untuk estafet menggunakan KRL. KRL memang cepat, namun rutenya terbatas. Sehingga untuk mencapai KRL atau dari KRL menuju tempat tujuan memerlukan moda angkutan lain, syukur-syukur ada busway yang steril yang bisa menerobos Jakarta dengan jalur khususnya. Contohnya tetap sama, dari Depok menuju Slipi. Naik saja KRL AC Ekonomi, turun di Cawang. Kemudian silakan naik busway koridor 9, pinang ranti-pluit. Bis Transjakarta itu bila steril jalurnya akan mudah menembus kemacetan daerah Gatot Subroto-Slipi. Ini malah bisa lebih cepat daripada biasanya.

Masyarakat pengguna transportasi umum mau tidak mau pasti pernah singgah di terminal ataupun stasiun. Persinggahan walau sebentar namun kadang kala sangat berarti, contohnya untuk sekadar buang air. Nah, bagaimana fasilitas yang ada di stasiun or terminal di Jabodetabek?

1. Toilet/wc
Pada umumnya sangat tidak layak. Kebanyakan malah dikelola oleh masyarakat. Dari pengalaman saya, yang relatif layak adalah stasiun daripada terminal. Namun tidak semua stasiun, melainkan stasiun-stasiun besar seperti Gambir, dan beberapa stasiun KRL seperti stasiun Sudirman (dukuh atas). Namun saya pernah menjumpai air di toilet dukuh atas habis. Sedangkan di halte-halte busway, sepertinya bangunan toiletnya hanya penampakan belaka.

2. Fasilitas parkir

Tampaknya ada pola pikir yang gak bener mengenai pengguna transportasi umum. Dianggapnya orang yang memilih angkutan umum ini orang yang gak punya kendaraan pribadi, khususnya mobil. Sehingga saya sulit menjumpai adanya parkir yang layak, terutama di terminal. Parkir yang relatif layak ada di stasiun yang padat jumlah penumpangnya, seperti di stasiun depok. Namun terbatas pada motor.

Parkir stasiun depok lama

parkir stasiun depok lama

Parkir disini disebut penitipan motor, umumnya dikelola masyarakat sendiri. Tempatnya terlindung, dan bahkan ada asuransinya. Namun untuk menemukan parkir mobil, tampaknya cuma bisa ditemukan di stasiun seperti gambir, atau stasiun KRL Tanjung Barat. Stasiun Tanjung Barat sendiri membikin bingung, sebab luasan parkirnya luas bisa menampung banyak mobil,namun hampir tak ada mobil parkir. Maklum stasiun ini tak punya keistimewaan (tak disinggahi KRL ekspres). Jadi kayaknya nggak match. Sedangkan untuk terminal busway, yang parkirnya lumayan memadai adalah di Ragunan.

3. Tempat ibadah

mushola stasiun dukuh atas

Jika di terminal dan stasiun besar umumnya memiliki mushola. Stasiun KRL sekelas Sudirman juga memiliki mushola. Namun saya menjumpai disana orang sholat dipaksa tayamum karena gak ada air.

4. Surat keterangan
Ini kelihatan sepele, namun bagi pekerja bisa besar maknanya. Disini keunggulan KRL daripada transportasi lain. Jika ada keterlambatan atau ada masalah di KRL yang menyebabkan penumpang terlambat, kita bisa meminta surat keterangan dari stasiun, sehingga kita gak jadi di-SP oleh HRD, dan uang makan gak jadi dipotong. Lumayan. Kalo terminal? Urusan loe!

5. Ruang tunggu

Menunggu memang menjemukan (apalagi kalo yang ditunggu bermasalah, gak jelas datangnya). Jika di terminal kebanyakan kurang layak, bahkan jarang ada tempat duduk. Ruang tunggu di halte busway umumnya terbatas tempat duduknya, karena ruangannya juga kecil, untuk berdiri saja kadang penuh sesak.

tempat duduk stasiun depok

Di stasiun KRL rata-rata ada tempat duduknya, meskipun berbentuk batangan besi yang terpatri kokoh. Mungkin alasannya supaya tidak mudah dicuri atau dirusak, meskipun sangat tidak nyaman diduduki.

Beberapa stasiun, seperti stasiun dukuh atas (lagi-lagi) tempat duduknya bagus dan ada TV nya.

ruang tunggu stasiun dukuh atas

Namun daya tampung ruang tunggu seperti itu hanya terkesan elegan, dari sisi fungsi tidak terlalu banyak menampung calon penumpang yang ingin duduk ketika jam sibuk.

6. Papan Informasi dan pengumuman.

Pada umumnya di terminal susah mencari papan informasi mengenai trayek, waktu keberangkatan dan bisnya dimana. Jadi informasinya didapat dari calo, kenek dan asongan.

informasi jadwal KRL di Dukuh Atas

Namun di stasiun seperti Depok baru, Gambir, Beos dan Dukuh Atas (lagi-lagi) ada informasi seperti itu. Satu saingan dari KRL adalah Busway, yang ditiap haltenya ada informasi mengenai trayek dan halte.

7. Informasi update posisi alat transport

Stasiun tentu saja mengumumkan posisi kereta-kereta yang akan menuju stasiun itu dan jadwal keberangkatannya. Juga mengenai kereta yang akan masuk di jalur berapa. Jadi calon penumpang tak perlu bertanya dan dapat memperkirakan berapa lama harus menunggu, ataukah mencari alternatif lain (bayangkan kalo ratusan penumpang itu pertanyaannya sama ditanyakan orang yang sama, apa gak dower jawabnya). Sedangkan di terminal, atau halte, hanya Tuhan dan bis itu sendiri yang tahu posisinya sekarang.

8. Jumlah tempat pemberhentian (naik turun)

KRL mempunyai batasan jumlah stasiun, bahkan untuk KRL ekspres malah lebih terbatas lagi, untuk memperoleh keunggulan waktu tempuh. Hampir sama dengan busway, bedanya busway lebih banyak haltenya. Sedangkan bis (baik bis kecil, besar dan AC), malah hampir bisa berhenti disemua tempat (nggak peduli ada halte apa nggak).

Dari 8 fasilitas tersebut, tampaknya mode transportasi bis kalah telak untuk hampir semua hal, karena KRL mempunyai sistem yang lebih menyeluruh, meliputi jaringan relnya, hubungan antar stasiun, hubungan antar KRL-stasiun. Namun kelebihan bis justru karena tak tersistem itu, lebih fleksibel, dan mempunyai jaringan lebih luas daripada kereta. Contohnya di fasilitas terakhir, dimana bis bisa berhenti dimana saja sepanjang jalurnya. Hal yang sama juga terjadi pada waktu berangkat. Coba misalnya anda mau pulang kantor lebih awal (misalnya jam 13.00), maka dijamin akan susah mencari KRL dari Jakarta/Tanahabang menuju Bogor/Depok, Bekasi dan Serpong. Tapi bis tetap ada meskipun lebih panjang jarak tem-nya.

Selama ini saya merasa terminal sebagai tempat yang tidak nyaman, bahkan menakutkan. Di terminal, calo agresif menarik-narik penumpang, harus waspada dengan banyaknya kendaraan yang sliweran, banyaknya orang yang berniat gak baik (copet, penipu dll). Selama ini saya menghabiskan waktu bepergian dengan menyinggahi terminal dan stasiun, terutama masa kecil sampai dengan remaja, di Surabaya dan sekitarnya, atau disingkat Gerbangkertosusila (Gersik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan).

Ternyata… ketika saya di Jakarta, yang terjadi malah lebih parah kondisi terminalnya. Baru tahu saya kalau terminal di Jawa timur itu the best bus station in Indonesia. Bukan hoax, silahkan lihat saja deh perbandingannya :

A. Terminal Antar Kota/Provinsi

1. Surabaya – Terminal Purabaya

Terminal Purabaya

Nama lain terminal ini (lebih terkenal) adalah Bungurasih, karena lokasinya memang di Bungurasih, Sidoarjo. Merupakan terminal utama Surabaya untuk transit antar kota dan antar provinsi.

Fiturnya paling canggih, misalnya papan informasi jadwal bis :

Papan informasi Bungurasih

Di terminal ini, jurusan bis, papan informasi, jalur bis dan loket peron tertata dan dipampangkan jelas. Calon penumpang mempunyai ruang tunggu yang luas berbentuk bangsal besar, jalan koridor yang terlindung dari panas dan hujan menuju bis.

Saat ini, terminal ini masih dalam proses revitalisasi. Lebih canggih lagi rek!

revitalisasi bungurasih

Dan no picture = hoax. Lihat progressnya :

revitalisasi terminal purabaya on progress

2. Surabaya – Terminal Osowilangun

Terminal Osowilangun

Kalau Terminal Purabaya di sebelah selatan Surabaya, Terminal Osowilangun ada di Utara. Sama seperti di Purabaya, penumpang berjalan di trotoar dan dinaungi kanopi sampai masuk bis, sehingga terlindung dari hujan dan panas, serta risiko ketabrak bis. Bis-bis ada pada jalur antrian, dan tempat parkir terpisah. Tak ada bis yang ngetem berlama-lama karena akan disundul belakang, dan teguran dari petugas.

3. Jakarta- Terminal Pulogadung

Karena Surabaya sudah mengeluarkan Terminal Purabaya, Jakarta nggak mau kalah, mari kita lihat penampilan terminal Pulogadung.

Terminal Pulogadung

Silakan pembaca simpulkan sendiri, bagaimana perbandingan fitur-fitur terminalnya. Bis-bis dijejer aja di lapangan, calon penumpang berseliweran bersama dengan asongan dan copet. Aduh malu gue, ini yang ngambil fotonya aja ngumpet-ngumpet diatap (mungkin saking malunya). Terminal ini sudah tidak layak dan rencananya akan dipindahkan ke Pulogebang, sekitar 2015. Terminal pulogadung sudah overload, kacau penuh pedagang kaki lima, preman, calo, copet dan bercampur antara luar kota dan dalam kota.

4. Jakarta – terminal Lebak Bulus

Ya udah… Jakarta akhirnya ngeluarkan terminal andalannya… Lebak Bulus !! kalau Pulogadung di Timur, Lebak Bulus ada di daerah Selatan (agak kebarat). berikut penampakannya :

terminal lebakbulus

Lho? terus, apa keunggulannya? sama aja kayak bis dijejer di lapangan. Jangan salah, kelebihannya adalah :

tidak terlalu padat, pedagang kaki lima tidak sebanyak di pulogadung, preman, calo, copet tidak sebanyak pulogadung (walah, penonton kecewa nih). Hal yang mengecewakan saya adalah tarikan peron di Terminal ini saya kira gak bener. Dalam tulisannya Rp 200, namun saya kasih uang Rp 1.000 dikasih kembalian Rp 500 (apa gak bisa matematika ya?). Kalo saya kasih Rp 500 gak dikasih kembalian. Dan juga gak pake karcis. Sayangnya anggota KPK gak ada yang naik bis disini ya…

Deket stadion lebak bulus (menurut saya bukan nilai tambah nih). Dan rencana MRT akan punya stasiun di stadion itu.

B. Terminal angkutan dalam kota

1. Jakarta – Terminal Blok M

terminal blok M

Baru ini terminal yang layoutnya cukup bagus di Jakarta. Jadi lumayanlah bisa ada yang bisa dibanggakan. Tapi cuma layout lho, gak bicara masalah pengaturan terminalnya.

2. Jakarta – Terminal (?) Pondok Kopi

terminal pondok kopi

Kali ini contoh terminal kelas kampung, jadi saya tampilkan terminal bayangan di pondok kopi.  Saya bingung mana terminalnya. Sebenarnya saya mau tampilkan terminal cinere atau pondok labu, tapi gak ada terminalnya, cuma metromini dan angkot aja yang tergeletak di pinggir jalan. Gimana sih, bikin trayek kesana tapi gak ada terminalnya.

3. Surabaya – Terminal Joyoboyo

terminal joyoboyo

Memang gak tertata cukup rapi, ngaku kalah deh kalo dibandingkan Blok M. Dulu Joyoboyo merupakan terminal campuran, dalam dan luar kota. Namun kemudian luar kota dilarang masuk ke Joyoboyo.

Tunggu dulu, apakah Joyoboyo tetap seperti itu. Tentu tidak. Coba lihat gambar ini :

Konsep Terminal Joyoboyo

Dan nggak cuma ngomong doang, nggak modal kumis doang. Berikut gambar progressnya :

Joyoboyo - on progress

4. Surabaya – Terminal Manukan

Kali ini kelasnya cuma terminal kampung :

terminal

terminal manukan

Ini terminal pinggiran Surabaya, kelasnya terminal kampung. Cuma beberapa angkot yang singgah. Namun lihat layout dan pengaturannya.

Jadi… sudahkah Jakarta memanusiawikan pengguna dan pelaku angkutan umum? Mungkin sudah waktunya memilih gubernur yang tidak punya hanya punya pengalaman bermobil dinas, namun pernah merasakan jadi penumpang umum.

Dalam menaiki KRL ekonomi panas, berbicara masalah safety memang rasanya sia-sia. Mungkin tips dalam KRL ekonomi panas cuma :

– Pegangan yang kuat

– Menghindari copet : taruh hape dalam saku depan yang tertutup jaket, atau kancingkan saku belakang, waspada saat naik/turun, taruh ransel/tas di depan

– Berdoa selalu

– Kalo gak yakin, jangan memaksa

Maka itu sesuai judul saya lebih mengarah ke KRL Ekonomi AC dan Ekpress.

Jendela tertutup tirai

Perhatikan dalam keadaan siang maupun malam, panas maupun mendung, kebanyakan tirai di jendela selalu tertutup. Itu bukannya tidak ada alasannya. Sebagian penumpang (terutama yang berpengalaman) selalu menutup tirai itu, karena takut lemparan batu.

Batu? ya… ada saja orang-orang sakit jiwanya yang melempar kereta. Kebanyakan terjadi di malam hari, meskipun siang juga sering terjadi. Lokasi yang banyak terjadi adalah di dekat stasiun citayam. Namun semua tempat terutama jika melewati pemukiman rawan pelemparan batu, seperti yang pernah saya alami di sekitar manggarai.

Kaca Pecah

Maka itu untuk sedikit meredam energi kinetik lemparan batu dan sebaran pecahan kaca, tirai tersebut diturunkan. Sebenarnya fungsi tirai itu untuk menghalangi terik sinar matahari. KRL Jepang memang tidak dipersiapkan untuk dilempari batu kacanya. Maklum disana banyak yang jalan di subway, dan juga nggak banyak orang stress. Paling banter nebar gas sarin.

Tirai di KRL

Sebenarnya daya lemparan batu dipadu dengan laju kereta menghasilkan momentum yang besar, dan tirai setipis itu kemungkinan juga tidak terlalu efektif menahan, tapi bagaimana lagi, memakai helm dan jaket pelindung akan menimbulkan risiko lain : bikin malu. Dan kita berharap tirai tersebut cukup elastis untuk meredam energi kinetik batu produk orang sakit jiwa itu.

Awas kejepit !!!

Tiap pintu KRL ekspress dan AC ekonomi selalu ditempeli stiker : “awas tangan kejepit”. Banyak orang mengira arti kejepit itu adalah kejepit dua bilah pintu (ditengah-tengah) ketika pintu menutup, namun risiko yang paling besar adalah risiko kejepit pinggiran pintu.

Awas Kejepit

Lihat stiker peringatan itu, gambar telunjuk itu menunjuk pada pinggir pintu, bukan tengah-tengah pintu. Paling banyak kenanya adalah ketika mau turun, ketika penumpang berdesakan mendekati pintu, ada yang tangannya menahan dengan berpegangan pada pintu. Ketika pintu membuka, pintu itu menggeser masuk kecelah diantara body kereta, sehingga bila ada tangan yang berpegang di pintu, jarinya akan terseret menggeser searah masuknya pintu kereta ke dalam body (seperti gambar diatas) . Teman saya ada yang jempolnya terjepit disitu, dan baru lepas setelah pintu kembali menutup. Jepitan pintu pada body itu cukup untuk bisa memutuskan jempol tangan. Jadi : Waspadalah ketika pintu membuka, lebih besar bahaya kejepitnya daripada pintu menutup. Waspadalah, waspadalah.