KRL tingkat

KRL tingkat

Pengalaman pertama kali naik KRL sungguh tak terlupakan. Sekitar tahun 1997, saya pertama kali mencoba KRL Jabodetabek, karena tantangan dari kakak saya, bahwa belum tahu rasanya Jakarta tanpa mencoba KRL. Saat itu KRL yang ada hanya KRL BN Holec, ekonomi tanpa AC, yang terkenal sebagai baja berjalan nan kelam dan kejam.

Berbekal peta Jakarta, saya menghapalkan letak stasiun, memahami bahwa KRL selalu berjalan jalur kanan. Waktu itu saya mengejar jadwal tes wawancara kerja, sehingga waktu adalah hal yang krusial. Sesuai dengan saran dari kakak saya, tas ransel saya taruh di depan, meminimalkan risiko copet. Kemeja saya masukkan tas, sehingga saya cuma memakai kaos oblong.

Pertama memang agak shock dengan banyaknya calon penumpang di stasiun. Kemudian KRL datang, lebih shock lagi karena penumpang sudah sampai keatap. Gimana cara masuknya? Tapi gimana lagi, naik bis sudah tidak memungkinkan waktunya, dan wawancara ini adalah harapan masa depan saya. Jadi… Maju… ganbate!!!… faito….!!!! dengan semangat 45 saya mendesak masuk, dibantu dorongan penumpang lain di belakang.

Ajaib…. saya bisa masuk. Namun kekuatan daya dorong penumpang dari belakang terus saja mendorong sehingga saya menjauh dari pintu dan terjebak dalam gerbong nan gelap. Kejadiannya kemudian adalah mirip dengan kisah gerbong maut di masa perjuangan, bedanya di KRL ini kami tidak tahu sedang berperang dengan siapa. Dengan kepadatan seperti itu, saya tak memerlukan pegangan untuk berdiri, karena posisi penumpang sudah saling jepit. Disaat itu saya merasakan bahwa udara memang nikmat Tuhan yang amat besar.

KRL terus melaju, sementara saya cuma bisa menghitung berapa kali KRL berhenti untuk mengetahui posisi sampai dimana. Sampai akhirnya konsentrasi saya pecah dan kehilangan jejak hitungan, sehingga saya harus bertanya pada penumpang lain untuk mengetahui posisi saat ini. KRL terus melaju, beberapa penumpang sudah ada yang turun, namun kepadatan nyaris tak berkurang. Tiba saatnya untuk turun di stasiun berikutnya. Kata-kata permisi kepada penumpang lain untuk dapat mendekati pintu tidak banyak gunanya. Jika kelewatan stasiun, gawat, kembali lagi lewat darat (lewat angkutan lain) sama saja dengan bertempur melawan  macet… sekali lagi, waktu sangat krusial.

Jadi…. Maju!!! Ganbate !!!! Faito !!!! kesempatan turun cuma satu kali. Dengan memiringkan tubuh untuk mendapatkan sela dan bantuan dorongan penumpang lain yang akan turun, saya berhasil mendekati pintu. Ketika kereta berhenti, jangan ragu… maju !!! ganbate !!!! karena di stasiun tujuan ada juga penumpang yang akan naik, jadi jangan mau kalah, karena yang turun harus duluan.

Setelah turun dari kereta, saya mendapati pakaian yang acak-acakan seperti habis naik KRL (emang iya). Sampai di tempat wawancara, saya menuju toilet dulu dan berganti baju dengan kemeja yang tersimpan dalam tas. Kemudian bersisir sebentar dan…. it’s show time!

Terimasih KRL, presisi waktunya boleh juga. Karena waktu adalah krusial.

Komentar
  1. KRL mania mengatakan:

    KRL bagian dari hidupku

  2. ridwan mengatakan:

    ah krl ekonomi jurusan manggarai-serpong kan penuh apalagi ka langsam pse-rkb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s