Ketika busway transjakarta mulai beroperasi, tentu saja saya gak mau ketinggalan ingin merasakan. Walau saya tinggal di Banjarmasin, ketika tahun 2006 ada tugas ke Jakarta, kesempatan itu pun datang juga. Koridor II yang jadi sasaran percobaan saya, karena kebetulan saya berangkat dari Jelambar.

Pertama kali memang agak membingungkan, karena kadang transit. Namun selanjutnya menyenangkan dan cukup cepat. Suasana dalam bis cukup nyaman, disiplin dan informatif. Sungguh iri dan dengki saya waktu itu sebagai orang daerah menyaksikan fasilitas transportasi Jakarta.

Busway

Susana, eh suasana dalam transjakarta

Ketika saya pindah kerja ke Jakarta, ternyata kenangan manis dahulu mulai pudar. Transjakarta saya rasakan berbeda saat dulu pertama kali saya naiki, yaitu;
1. Bis telah kotor dan kusam, senada dengan haltenya.
2. Pintu otomatis telah rusak, diganti oleh pintu ‘ototmatis’ alias didorong manual pake otot
3. Pake karcis, dulu pake kartu
4. Cara nyetir yang kayaknya mulai kepingin jadi kopaja. Sumpah, jalur aja yang tetep, tapi tarikan gas & rem-nya bikin mual.
5. Informasi tulisan dan suara halte berikut banyak yang tak berfungsi
6. Ini kayaknya cuma perasaan, tapi terasa sekali wajah kru dan awak bis tak seramah dan seceria dulu.
7. Dulu saya tak pernah dioper, tapi sekarang pernah alami dioper ke bis lain.
8. Ada halte yang dilewati, saya alami di matraman, alasannya macet.
9. Ini yang utama; jalurnya makin banyak yang diserobot.
10. Namun ada bagusnya, yaitu koridornya nambah dan ada bis gandeng.

Tampaknya yang paling penting adalah komitmen. Jika pemerintah setengah hati, jadinya busway terancam gagal. Komitmen ini bukan insidentil, atau lips service, namun jangka panjang.

Sedih sekali melihat halte-halte yang hancur dan mangkrak, gaji pegawainya yang tak naik-naik, bisnya yang makin kusam, jalurnya yang dipenuhi pihak yang tak berhak. Yang paling menyedihkan adalah blow up media massa untuk berita negatif busway. Saya gak tahu kenapa opini masyarakat digiring untuk mengamini busway proyek gagal, dan malah jadi penyebab kemacetan. Busway sudah berjalan 5 tahun, memakan biaya yang tidak sedikit. Brasil saja memerlukan waktu 20 tahun untuk efektif menjalankan busway-nya. Saya gak rela kita mulai dari nol lagi, kalaupun kita sama dengan Brasil toh tinggal 15 tahun lagi (wadauw) bisa efektif. Kereta Api saja dibangun oleh jaman belanda oleh meneer kompeni untuk bisa mengaplikasikan KRL di Jakarta dengan efektif. Busway pastinya iri (dan gak tega) dengan saudara tuanya, KRL yang mempunyai license to kill untuk makhluk yang berada di jalurnya, dan belum ada yang berani memblokir jalurnya.

 
Konyol rasanya melihat warga komplek elit pondok indah yang menolak jalur busway (kalo saya mah malah seneng banget dekat kompleknya ada angkutan umum). Emang jalan moyangnya. Atau melihat halte busway ditembaki bandar narkoba yang lagi sakaw. Tadi pagi membaca suara pembaca di kompas, bahwa ada bis transjakarta yang dipecahkan kacanya karena penumpang stress gara-gara macet dan gak bisa turun (emang metromini bisa turun dimane aje). Ada lagi statement dari mobil penyerobot bahwa busway itu jalur dia dulu, sekarang diambil alih jadi busway, jadinya dia merasa teraniaya dan berhak nyerobot busway. Lebay. Kejadian awal tahun 2011, di Mampang jalur busway diblokir massa gara-gara menabrak anak kecil di jalurnya. Ada juga pengendara mobil yang diwawancarai TV bilang dia tak tertarik untuk beralih ke busway karena kondisi busway masih gak nyaman & aman (emangnya tahu darimana kondisi busway, naik aja gak pernah?).

Yah…., kalo busway transjakarta ini gak dijagain, bisa habis dunia, eh jalan raya ini oleh orang-orang sakit jiwa itu. Yang waras dipaksa harus ngalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s