Di kota-kota besar di Indonesia, terutama yang berada di luar Jawa, jenis transportasinya meskipun tidak bermacam-macam seperti di Jakarta, namun pilihannya malah lebih dahsyat. Jika di Jakarta wacana waterway pernah mencuat, di negeri seribu sungai, Banjarmasin, malah lebih duluan. Maklum, sungai ada lebih dulu daripada jalan.

Klotok

Meskipun sekarang sungainya tak sampai seribu, Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan ini masih mempunyai transportasi air yang lebih baik daripada Kopaja, yaitu taksi air, yang terkenal dengan sebutan klotok.

Klotok di Banjarmasin

Klotok mengarungi Sungai Martapura

Klotok adalah perahu bermesin tempel. Klotok ini dikemudikan oleh motoris. Klotok masih diandalkan oleh masyarakat pinggiran sungai di Banjarmasin, meskipun sekarang terancam kepunahannya oleh populasi sepeda motor. Pada tahun 2008, saya menaiki taksi klotok ini cuma membayar Rp 1.500 dari Sungai Andai ke Pasar Lama, dimana kalau naik taksi kuning (angkot) membayar Rp 2.000, belum kalau mau naik ojek untuk mencapai jalan raya. suprisenya, saya menemukan tulisan di badan klotok bahwa penumpang klotok telah diasuransikan.

Namun klotok ini lebih jarang dijumpai daripada angkutan lain seperti taksi kuning, apalagi ojek. Juga kalau masuk ke anak sungai utama, seperti di Sungai Andai ini harus pas dengan jam anak sekolah, atau pasang surut. Sebab ada kemungkinan tidak ada penumpang, dan bisa kandas. Sekarang kebanyakan penghasilan klotok dari carteran, terutama wisatawan ke pasar terapung.

Ferry penyeberangan

Angkutan Sungai yang lain adalah Ferry. Ini jika di Banjarmasin ada di Sungai Barito, dekat kuin. Karena di sana tidak ada jembatan, adanya jembatan Barito di luar kota, harus memutar jauh.

Ferry Penyeberangan

Ferry ini menyeberangkan pekerja perkayuan dari kota Banjarmasin ke lokasi kerja di Jelapat.

Speed (long) Boat

Perahu ini mempunyai ukuran panjang, dan mempunyai mesin yang lebih kuat, bahkan mesin ganda, sehingga lebih cepat daripada klotok. Di sekitar Banjarmasin, perahu ini biasa digunakan oleh penduduk daerah kuala, daerah hulu sungai, dan daerah aliran Sungai Barito untuk ke Banjarmasin, p.p. Biasanya mereka adalah pedagang, sehingga dermaganya ada di sekitar Pasar Sudimampir.

Longboat

Saya pernah menaiki speed boat ini dari Muara Teweh ke Buntok , yang lumayan bebas hambatan. Namun jika tidak biasa akan mabuk karena guncangan lebih terasa daripada naik klotok.

Kemunduran Angkutan Sungai

Satu hal yang saya sesalkan, bahwa pola pembangunan di Indonesia di komando oleh Pusat, yang notabene adalah orang-orang daratan. Sehingga mode transportasi dan pembangunan acuannya selalu jalan darat. Melihat kondisi geografis kota-kota seperti Banjarmasin dan Palangkaraya, apakah tidak sebaiknya mengembangkan warisan yang sudah ada, yaitu budaya sungai?

Seharusnya yang dilakukan adalah merawat sungai, dengan menjaga hulu, pengerukan alur dan pencegahan erosi, bukannya malah mengurug sungai dijadikan jalan. Bukan melulu membangun jalan dan jembatan, namun juga membangun terusan dan dermaga.

Tunggu sebentar… sebelum banyak bicara lebih jauh, tahukah para pemimpin dan penentu kebijakan di gedung-gedung tinggi di Jakarta itu bahwa Banjarmasin itu sebenarnya tak ada daratan, karena rata-rata selalu tergenang air pasang surut?

Lihat:  http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Banjarmasin

“…ketinggian tanah asli berada pada 0,16 m di bawah permukaan laut dan hampir seluruh wilayah digenangi air pada saat pasang…”

Welcome to water world, brother

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s