Kalau melihat lay out angkutan umum, terutama bis di Jakarta, saya membayangkan bahwa bis-bis itu didesain untuk tidak untuk semua keadaan dan golongan. Yang cocok menggunakan adalah orang muda yang sehat, dan sendirian (tidak bawa anak).

Contohnya di bis Mayasari Bhakti ini :

pintu depan bis kota

Ground clearence bis ini termasuk tinggi, dengan pintu yang sempit, melalui tangga yang kecil, melebihi 1 anak tangga.  Proses naik turun penumpang menjadi tersendat, karena penumpang naik dan turun tidak bisa bersamaan (hanya cukup 1 orang). Aktivitas naik/turun tangga juga membuat proses jadi lebih lama. Risiko juga lumayan karena ada ketinggian bis berakibat kemungkinan jatuh besar. Besi pegangan mencuat dari body, cukup kecil namun cukup bisa menjegal orang.

Dalam Bis PAC

Interior dalam bis Patas AC mengadopsi sepenuhnya bis Bumel, AKAP klas ekonomi. Tidak beda-beda jauh dengan interior semua bis kota, yaitu posisi kursi menghadap depan, dua seat di sisi kiri, tiga seat disisi kanan. Ini mungkin cocok dengan bis AKAP jarak jauh, dimana jarak antar perhentian jauh (penumpang didesain naik/turun di terminal, bukan halte). Bis ini didesain hanya untuk penumpang duduk. Bener-bener kasihan yang kebagian berdiri, karena hampir tidak ada ruang. Sungguh jauh perbedaan nasib antara penumpang berdiri dan duduk disini.

Sekarang coba bandingkan dengan bis karesori Japan ini :

Pintu Bis Jepang

Bis ini mempunyai ground clearence rendah. Bis ini mempunyai pintu tengah yang lebar, dengan tiang pegangan melintang vertikal. Penumpang naik/turun bisa bersamaan di pintu tengah (asal beda jalur). Bis jenis ini ada di Jakarta, digunakan oleh PPD dan PO Steady Safe, dengan warna ada yang masih sama seperti gambar diatas. Gambar diatas sih waktu bis itu masih beroperasi di Jepang, jadi jangan bandingkan waktu in action di Jakarta.

Interior bis Jepang

Coba lihat interior bis Jepang ini. Sisi kanan hanya ada 1 kursi menghadap depan, sedangkan sisi kiri kursi berjajar menghadap tengah (seperti di busway). Penumpang yang berdiri mempunyai ruang yang cukup luas, dengan pegangan yang lebih nyaman. Jika dilihat lagi, jendela bis ini lebar banget, sehingga ventilasi lumayanlah untuk yang tidak pakai AC. Bis ini memang didesain tidak untuk duduk saja, melainkan juga memperhatikan nasib yang berdiri. Namanya juga bis kota, ya pastilah ada yang berdiri.

Kondisi Riil

Desain yang ‘salah’ oleh bis karoseri Indonesia itu sebenarnya juga ada alasannya.

1. PO bis biasa memutasikan bis-nya. Dari bis AKAP menjadi bis kota. Jadi bisa jadi itu ex bis luar kota

2.  Karoseri yang ada kebanyakan pesanannya model itu, tidak kreatif. Kalo mau model lainnya jangan-jangan nambah ongkosnya (macem-macem aje mintanye)

3. Kondisi jalan di Jabodetabek tidak semulus di Jepang (sebelum Tsunami). Jadi ground clearence-nya mesti tinggi.

4. Banyak penumpang manja. Maunya duduk terus, jadi kapasitas duduk harus besar. Promosinya kenek bis kan, “duduk, duduk!”

5. Meskipun jaraknya gak jauh, macet parah banget. Jadi waktu tempuh sama saja bis AKAP

6. Kalo bukan jam berangkat/pulang kantor, kadang sepi banget. kalo sepi berdiri kan malu.

7. Gak ada orang cacat, nenek-nenek dan yang bawa anak ikut dalam tim desainer karoseri bis kota

8. Halte yang  ada gak mendukung (emang masih dipake itu halte?), gak kayak busway, halte & bisnya di-syncronize

Ya, untungnya konsep bis yang penumpang friendly itu terwujud dalam bis Transjakarta. Cuma catatannya : kalo waktu tempuh berjam-jam, duduk atau (apalagi) berdiri kondisi apapun ya gak nyaman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s