Bangsa kita memang bangsa yang bermental juara. Tidak ada yang mau kalah. Tidak cuma pengendara, namun juga penumpang angkutan umum. Semua berebutan.

Bis
Halte sekarang tinggal kenangan. Tak ada lagi tempat perhentian khusus bis. Bis, termasuk bis patas bisa berhenti dimana saja, terutama untuk mengangkut penumpang.Dulu bahkan bis patas tidak berhenti di semua halte.
Sekarang tampaknya orang tidak tahu kalo halte adalah tempat naik/turunnya penumpang. Bis bisa diklakson pengendara mobil gara-gara berhenti di halte. Ada yang beralasan kondisi halte yang tidak kondusif, antara lain kotor, dikapling pedagang, atau jadi pangkalan ojek. Namun saya lihat bahwa banyak penumpang cenderung bermental raja, tidak mau jalan jauh menuju halte. Lama-lama yang bermental sahaya pun ikut-ikutan karena bermental juara, tidak mau kalah.

Penghalang Lompat Depan Stasiun Dukuh Atas

 

Lho, kok penumpang terus yang disalahkan? Saya kan penumpang juga, jadi saya lempar juga kesalahan pada pemerintah, mbangun halte kok gak pake survei. Kok tidak terintegrasi. Coba lihat halte busway di stasiun gambir. Bisa gempor saya, bawa barang bawaan banyak sepulang dari jawa timur, lantas naik busway. Jauh banget jalannya, dan gak ada pelindung dari hujan dan panas. Sama juga di stasiun dukuh atas. Halte bis umum dan halte busway juga jauh. Karena itu bis sering berhenti depan stasiun karena banyaknya penumpang, sampe akhirnya diberi kawat penghalang, bahkan sempat diberi pelumas agar tak dilompati. Kenapa juga mbuat pintu stasiun menghadap jalan sudirman kalo gak boleh berhenti disitu. Menuju halte bis dan busway  juga rawan,harus memotong /menyeberangi arus kendaraan dari arah Sudirman ke bawah atau ke jalan galunggung.

Dalam bis patas AC biasanya ada kelompok kecil penumpang yang juga bermental raja, namun kolektif (jadi united kingdom dong). Ini biasanya ada pada bis yang eksklusif (agak jarang) sehingga lama kelamaan ada yang saling kenal karena tiap hari ketemu. Mereka bisa nyuruh awak bis melambat atau menunda keberangkatan hanya karena ada seorang teman yang ketinggalan bis, atau bertengkar dengan penumpang lain gara-gara plot bangku.  Yes, they’re the champion.

Kereta

menjadi sang juara masuk KRL

Raja dan Juara bertahan ada disini semua. Mulai saat mencuri start menunggu yang melanggar garis batas aman, berebut masuk pintu sampai memaksa duduk tidak pada tempatnya. Raja kan selalu duduk. Biasanya di KRL ekspres dan ekonomi AC mereka membawa kursi lipat atau koran, lantas duduk di lantai. Alasan mereka sih gak apa-apa karena tahu kondisi, asal tidak mengganggu. Saya tidak jelas maksud tidak mengganggu, sebab dalam prakteknya sering saya jumpai mereka menyumpal jalan, menghalangi keluar masuk penumpang, karena memaksakan duduk pada saat kereta lumayan penuh. Padahal di KRL ekspres sudah jelas ada larangan duduk di lantai atau menggunakan kursi lipat (sayang larangan ini gak ada sanksinya, jadi mandul).

10 Larangan KRL

 

Saya takjub menyaksikan para raja ini, yang duduk seharian di kantor dan tak ada puasnya menambah lagi porsi duduk walau cuma paling lama 1 jam. Terkesima menerima kenyataan para raja, ratu dan juara berebut itu ternyata lemah, tidak kuat berdiri sebentar. Sesungguhnya raja itu hanya pantas disandang oleh manula, ibu hamil, yang membawa balita, penyandang cacat, dan tempatnya adalah courtesy seat (sayangnya courtesy seat banyak dikudeta raja palsu). Harusnya petugas KA juga menertibkan ini, gak cuma memeriksa karcis saja.

Akulah Raja Kereta

 

Kesemua raja dan juara yang tidak pada tempatnya itu tidak bisa dikembalikan ke sikap diri masing-masing dan himbauan belaka. Harus ada sesuatu yang konkret, misalnya berupa aturan berikut perangkat untuk menjalankan aturan itu. Misalnya busway, bisnya tinggi, sehingga orang tidak bisa/susah naik turun bukan pada haltenya. Atau sistem karcis suplisi untuk mencegah penumpang gelap. Di Jepang batas aman di stasiun gak cuma garis, namun diberi pagar pembatas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s