Kali ini saya bercerita sedikit tentang sesuatu yang gak biasanya, yaitu berbicara tentang yang sedikit pribadi.

Tiap kali bepergian, apakah ke kantor, wisata, ataukah dinas luar saya hampir selalu memakai kendaraan umum. Memang ini dididik oleh keadaan, dulu dari kecil sampe dengan kuliah selalu naik bis dan angkot, karena kere, tidak punya kendaraan. Sampai akhirnya saya bisa memiliki motor sendiri.

Pilihan memakai motor juga karena tuntutan pekerjaan di Surabaya sebagai konsultan yang memiliki banyak klien, yang mengharuskan saya mobile. Juga karena seringkali pulang larut malam, dimana tidak ada angkutan lagi. Juga saat itu saya berfungsi sebagai doble agent, alias kerja lebih dari satu kantor.

Kemudian sewaktu saya pindah kerja ke Banjarmasin, pilihan memakai motor juga paling rasional, karena langkanya angkutan umum yang murah meriah. Paling banyak ojek, yang tentu saja bisa mengurangi gaji secara signifikan jika digunakan rutin.

Kemudian, ketika saya pindah ke Jakarta, pilihan yang saya gunakan back to nature. Kembali ke angkutan umum. Alasannya sih sederhana, karena di Jakarta memungkinkan memilih KRL yang bisa menembus macet, atau bisa tidur sewaktu macet, atau mengalihkan risiko pada sopir (mau nabrak, mau urusan, bukan saya yang nyetir). Juga angkutan di Jakarta secara jarak relatif lebih murah dibandingkan angkutan lain di daerah, dan sangat tersebar, tersedia sampai malam.

Namun pilihan untuk memilih angkutan umum itu tidaklah mudah, apabila tidak terbiasa. Saya memerlukan waktu puluhan tahun untuk bisa terbiasa dan ‘mencintai’ angkutan umum. Memang banyak pengalaman saya ‘dikhianati’ oleh angkutan umum yang suka ‘selingkuh’, namun saya tidak kapok-kapok.

Mungkin alasan yang paling tepat kenapa saya tetap memilih angkutan umum adalah saya masih tetap kere, tepatnya bermental kere. Anggapan masyarakat dan pemerintah bahwa pengguna angkutan umum adalah orang-orang kere mungkin benar. Namun kategori kere = tidak punya kendaraan pribadi sayangnya nggak selalu benar.

berselimut

Saya punya mobil hatchback baru dan dua buah motor (nggak ada kredit). Sesuai dengan kriteria sensus ekonomi, kepemilikan kendaraan tersebut menggugurkan kriteria kere.

Jadi, memang mentalnya yang kere.

Logika umum bahwa jumlah kepemilikan kendaraan = kemacetan itu sudah saatnya ditinjau. Bukan jumlah kendaraan yang dimiliki yang bikin macet, namun jumlah kendaraan yang masuk ke jalan pada saat yang sama itu yang bikin macet.

Jangan bikin kebijakan yang mendorong penggunaan kendaraan pribadi sebagai kendaraan harian, contohnya BBM disubsidi, pembuatan jalan tol, tarif parkir murah, peminggiran angkutan umum. Mental kere perlu diterapkan ke penentu kebijakan. Merdeka!

Komentar
  1. ima apriany mengatakan:

    pengguna kendaraan umum dan pejalan kaki memang dianaktirikan, karena petinggi negara ini tidak mau menggunakannya. Di gerbang kantor saya pun setiap pengguna mobil diberi hormat dengan posisi siap, yang pedestrian susah lewat. Dianggap kere??

    • andrefeb mengatakan:

      iya, namanya juga prinsip materialisme dipopulerkan. Mungkin harapannya bisa dapat tips tuh. Kapan-kapan saya mau nulis tempat-tempat (umum) yang tidak friendly bagi pedestrian dan pengguna angkutan umum. mau ikut nyumbang tulisan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s