Saat musim kampanye politik adalah saat yang sepi. Sepi? Bukannya malah ramai? Bener,sepi di terminal. Bis banyak dicarter untuk kampanye, dan gak ada bis pengganti. Ya… bisku sedang ‘berhalangan’.
Itulah kenyataan yang harus diterima penumpang bis. Sudah datang subuh, siap-siap rebutan bis biar dapat tempat duduk yang nyaman, eh bis tersayang gak nongol-nongol di terminal. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, tidak ada surat keterangan dari PO terkait. Penumpang harus mencari sendiri transportasi alternatif menuju kantornya, yang tentu saja memerlukan lebih banyak biaya, waktu dan ketidaknyamanan.

Tak ada jaminan, tak ada tanggung jawab

Situasi seperti itu ternyata cukup sering terjadi, tak hanya di musim kampanye. Bis bisa tiba-tiba hilang karena dicarter,misalnya rombongan sekolah, darmawisata, supporter bola, demonstrasi dan lain-lain. Gak cuma dicarter, bis yang ‘berhalangan’ alias menghilang tiba-tiba bisa karena pemogokan, kerusakan, atau alasan sepele, sopirnya kesiangan bangun.
Ini yang menjadi momok penumpang umum. Tak adanya jaminan akan tem (jadwal bis) dan tanggung jawab apabila tak bisa sampai tujuan. Pemerintah sebagai regulator tak mau mengontrol bahwa pengemban trayek harus bertanggung jawab atas trayek dan waktunya.

keleleran

Penumpang dituntut untuk kreatif mengatasi sendiri semua kesulitannya. Yah, apa boleh buat, siapa takut cuma masalah begituan. Transport di Jakarta kan beragam. Daripada keleleran dijalan/terminal menunggu bis yang gak jelas datangnya,  mungkin ada baiknya membaca sekadar trik untuk menyiasati masalah itu ;
1. Jangan membawa uang ngepas
Maksudnya disini uang di dompet tidak boleh ngepas. Sediakan cadangan uang lebih, karena anomali di jalan bisa menuntut kita estafet,pindah angkutan bertahap

2. Dengarkan rumor

Rumor didapat dari kenek, atau penumpang kawakan. Rumor ini perlu didengar, terutama masa kampanye & libur sekolah. Dimasa ini banyak bis yang dicarter.

3. Ketahui jalur alternatif

Jangan terlalu loyal atau cinta pada satu jenis trayek saja, karena mereka suka nyeleweng. Ada obyek carteran dikit aja udah lupa ama penumpang. Bila diperhatikan,banyak overlapping jalur. Contohnya, dari depok menuju slipi, ada 3 bis Patas AC (Steady Safe PAC 48 tujuan grogol, Mayasari Bhakti PAC 81 tujuan Kalideres, Bianglala PAC 143 tujuan Grogol), dan 1 bis non AC (PPD 54 tujuan Grogol). Atau estafet, contohnya ke lebak bulus naik Deborah, kemudian Kopaja 86 tujuan Kota. Banyak jalan menuju roma, eh slipi. Untuk estafet, memerlukan pengetahuan lebih mengenai peta Jakarta, jurusan angkutan, atau terminal. Namun pelajaran dasarnya adalah mengenal terminal/tempat dimana banyak jurusan angkutan, contohnya di Cawang atau Terminal Blok M. Idenya adalah, apabila bisa mencapai tempat itu, alternatif jalur akan lebih banyak.

4. Kombinasikan dengan moda angkutan lain

Biasanya trayek bis yang biasa dipakai berdasarkan ‘best practice‘ pengalaman menumpang. Biasanya yang dipilih kecepatan, baru kemudian kenyamanan, atau alasan kepraktisan, gak perlu oper angkutan lain. Nah jika bis yang biasa kita pakai sedang ‘berhalangan’, konsekuensinya bila kita ambil trayek lain adalah waktu lebih lama karena jalur alternatif itu bisa lebih macet, atau lebih jauh, atau harus estafet sehingga ada waktu loading/unloading. Untuk bisa mencapai tujuan dengan waktu yang relatif sama, bisa diperhitungkan untuk estafet menggunakan KRL. KRL memang cepat, namun rutenya terbatas. Sehingga untuk mencapai KRL atau dari KRL menuju tempat tujuan memerlukan moda angkutan lain, syukur-syukur ada busway yang steril yang bisa menerobos Jakarta dengan jalur khususnya. Contohnya tetap sama, dari Depok menuju Slipi. Naik saja KRL AC Ekonomi, turun di Cawang. Kemudian silakan naik busway koridor 9, pinang ranti-pluit. Bis Transjakarta itu bila steril jalurnya akan mudah menembus kemacetan daerah Gatot Subroto-Slipi. Ini malah bisa lebih cepat daripada biasanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s