Bila diperhatikan, sektor layanan publik atau layanan umum, termasuk transportasi umum di negara kita indonesia tercinta mengalami penurunan.

Muacet (diambil dari kompas.com)

Contoh yang paling mudah, beberapa tahun lalu masih gampang menemukan telepon umum, wartel untuk berkomunikasi. Sekarang? pemerintah mungkin mengasumsikan semua orang punya hand phone kali ya? nyaris gak ada lagi fasilitas itu.

Sama halnya dengan angkutan umum. Seperti dikutip dari Viva news, Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya mencatat dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penggunaan angkutan umum di Jakarta turun hingga 70 persen. Hingga 2010, pengguna kendaraan umum hanya 12, 9 persen dari 38,3 persen.  Sedangkan untuk pengguna sepeda motor selama lima tahun terakhir justru terus meningkat dari 21,2 persen menjadi 48,7 persen. Mobil pribadi mengalami kenaikan dari 11,6 persen menjadi 13,5 persen. Secara keseluruhan, pertumbuhan kendaraan bermotor mulai Januari 2011 juga terus meningkat di Jabodetabek. Hingga saat ini, tercatat 12 juta unit, dengan rincian 8 juta kendaraan roda dua dan 4 juta roda empat.

Dikutip dari Vivanews, Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Royke Lumowa menyesalkan sikap Pemprov DKI yang dianggap lambat untuk melakukan peremajaan terhadap angkutan umum di Jakarta.  Busway, MRT, dan ERP tidak didukung penyediaan angkutan umum yang layak sebagai sarana pendukung, sehingga mandul. Untuk menarik minat masyarakat, sistem angkutan umum harus diperbaiki secara menyeluruh, terutama kereta api.

Kenapa sih orang lebih suka kendaraan pribadi? yang utama adalah karena dalam persepsi masyarakat transportasi umum tidak lagi dapat diandalkan. Sulitnya menemukan angkutan umum yang layak, nyaman, aman dan ‘manusiawi’ di Jakarta. Faktor kedua adalah masalah ekonomi. Kemudahan kredit kendaraan (motor khususnya) menyebabkan semakin banyaknya masyarakat yang dapat memiliki kendaraan. Dengan kalkulasi mereka, biaya transport lebih murah karena tak perlu bayar angkutan yang oper beberapa kali.

Jadi akhirnya negara ini menjadi semakin individualis. Semakin private. Semua mengandalkan kemampuannya sendiri. Masyarakat dipaksa mengandalkan kendaraan sendiri, pemerintah cuma menyediakan jalan dan infrastruktur (meski banyak yang rusak), mengandalkan telepon sendiri, pemerintah cuma menyediakan ijin pendirian BTS, mengandalkan tabungan sendiri bila sakit, membuat pemadam kebakaran sendiri, dan akhirnya nanti semua urusannya sendiri. Jadi peranan pemerintah jadi semakin sedikit. Wah asyiknya. Tapi logikanya kalo seperti itu pajak dan pungutan-pungutan harusnya lebih rendah, dan pegawainya juga lebih sedikit, karena pemerintahnya udah gak diandalkan lagi. walahh… kok jadi berat gini tulisan di blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s