Untuk stasiun-stasiun tertentu seperti Tanahabang, Senen, Gambir, Jatinegara, kereta yang singgah tak hanya KRL komuter, namun juga kereta jarak jauh antar provinsi. Pengguna kedua jenis kereta ini juga berbeda, menyangkut pola penggunaannya, sehingga menciptakan karakter tersendiri.
Pengguna KRL komuter selalu tampak tergesa-gesa, hampir tidak membawa bawaan, lebih mengenal medan, single fighter , penampilan formal dan tak banyak omong. Berbeda dengan pengguna kereta jarak jauh yang tampak lebih santai, ‘celingak-celinguk’, banyak membawa bawaan, berombongan dan cuma berkaos oblong.
Pas saja, karena pengguna komuter umumnya pekerja yang tiap hari pulang pergi, berbeda dengan pengguna kereta jarak jauh yang lebih insidental. Nah, bagaimana bila kedua karakter penumpang itu bersinggungan?

Stasiun Tanahabang

Contohnya di Stasiun Tanahabang, yang termasuk stasiun KRL besar, juga merupakan stasiun untuk kereta jarak jauh. Bagi para komuter, waktu sangat krusial, disini memakai hitungan menit, bahkan detik. Mereka biasanya datang ke stasiun sudah mepet waktunya (karena jam pulang kantor yang baru usai), dan hampir bersamaan waktunya, sehingga sangat padat. Untuk naik dan turun tangga di stasiun ini, para komuter terlihat sangat tergesa-gesa, seringkali terhalang oleh pengguna kereta jarak jauh yang tampak slow motion, berombongan, membawa anak dan membawa barang bawaan.

Begitu pula dengan antrean pembelian tiket. Untuk KRL, khususnya ekspres, diletakkan pada loket paling kanan, dengan tujuan masing-masing, contohnya Bekasi, Depok/Bogor dan Serpong. Namun untuk menghindari penumpang ketinggalan kereta (antrean terlalu panjang, sedangkan KRL yang dimaksud sudah datang), loket masing-masing tujuan juga melayani (KRL Ekspress) tujuan lainnya, contoh bila anda sudah masuk di  antrean tujuan Serpong, petugas loket juga melayani jika anda membeli tujuan Bogor. Sehingga antrean disini akan terlihat sama panjangnya, meskipun loket tertera tujuan KRL ekspress yang berbeda.

Lagi-lagi faktor waktu sangat krusial. Para komuter yang rata-rata berpengalaman, tidak banyak omong, sudah menyediakan uang dan tahu dimana ‘menempatkan diri’ dalam memilih loket. Sehingga jumlah calon penumpang yang  banyak bisa bergerak lancar dalam antrean. Dibantu juga dengan petugas loket yang bisa swift tiket lainnya dan selalu menyediakan uang kembalian yang cukup.

Meskipun sudah diatur loket antara KRL komuter (ekspress) dan kereta jarak jauh itu berjauhan (kereta jarak jauh ada disisi kiri, KRL ekspress ada disisi kanan) dan dijelaskan dengan tulisan yang segede gajah diatas loket, ada saja orang-orang yang tak pandai ‘menempatkan diri’, alias salah loket. Biasanya ini penumpang kereta jarak jauh. Saya pernah menjumpai ada seorang ibu-ibu yang ngedumel di antrean KRL Ekspres Bogor; “wah kok jurusan Bogor ini !..” dan berhenti dalam antrean. Jadi bapak-bapak, calon penumpang yang ada di belakangnya langsung memberitahu; “Sama saja bu, gak apa-apa pake loket ini !”. Asumsinya ibu itu calon penumpang KRL Ekspres tujuan Bekasi atau Serpong. Dia gak sampai berpikir kalo ada orang yang kesasar loketnya sampai jauh.

Eh, si ibu itu malah marah-marah, “Sama-sama apanya! saya ini mau ke Jawa naik Kereta Brantas! Masak sama kayak ke Bogor! kamu nyahut aja sih !”. Sampai si bapak yang memberitahu dibelakangnya itu gak bisa ngomong dan tersenyum kecut. Maksud hati memberi tahu, tapi malah diomelin.

Tambahan lagi ilmu baru di jakarta. Jangan malu bertanya. Jangan sok tahu. Jangan menjawab kalo gak ditanya. dan kuatkan hati menghadapi manusia aneh kejadian aneh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s