Kisah ini saya ceritakan sebagai tetenger, sebagai pengingat bahwa monopoli begitu menyiksa konsumen.
Entah bagaimana asal mulanya, ada sebuah PO bis, yang mengantungi trayek Depok-Lebak Bulus. Deborah namanya, norak penampilannya. Warnanya dasarnya gak jelas antara ungu terang dan pink, bergaris hijau, bertulisan kuning. Dalam bis ada interior korden-korden atau kain yang bergantungan. Seragam kenek dan sopirnya pun pink (hueeeekkj!!). Norak abis.
Dia dipanggil dengan sebutan sayang; “si Debby”. Penggemar si Debby banyak, terutama pada jam sibuk. Sampe-sampe fans fanatik Debby rela bergelantungan dan jatuh berguling-guling berebut menaikinya.
Kenapa si Debby begitu banyak fansnya dan sangat fanatik? Apakah pelayanannya excelent? Tarifnya murah? Kenyamanan? Keamanan?

si Debby tampak muka

Jawabnya : NO! bukan semua itu.

Pelayanannya lebih jelek daripada truk pengangkut sapi. Penumpang dijejalkan terus, tak ada yang ditolak, sampe bergantungan di pintu, kayaknya ingin memecahkan rekor MURI. Tarifnya paling mahal, untuk jarak cuma 18 Km ongkosnya Rp 4.000. Bandingkan dengan PPD P54 jurusan Depok-Grogol yang cuma Rp 2.500 dengan jarak 40 Km, atau yang sama kelas bis 3/4, kopaja 63 jurusan Depok-Blok M yang bertarif Rp 3.000 dengan jarak 22 Km. Kursinya walau dilapisi busa lebih jelek dari kopaja, karena sangat tegak dan jaraknya sempit, kaki gak bisa masuk. Penuh dengan copet & kelaikan bis dipertanyakan. Cara sopirnya nyetir bisa bikin muntah.

Terus kenapa? Kenapa?

Debby tampak belakang

Tidak lain karena di jalur utamanya, si Debby tak punya saingan. Di jalur Lebak Bulus yang melewati TB Simatupang, tak ada angkutan yang sepadan untuk penumpang yang turun atau naik di daerah Antam, Rancho, Tanjung Barat dan jalur ke Depok (lenteng agung, margonda). Lho? Kan ada saudaranya, Deborah AC Depok-Kalideres? Ok, Deborah AC itu waktu temnya lama, dan kalo sore jaraknya bisa selisih lebih dari 1 jam (saya tes pernah 2 jam), jadi memang hanya untuk penggemar setianya aja yang mau nunggu selama itu. Juga berselisih jarak antara terminal lebak bulus – poins, dan sampe citos.
Ok, kan ada Bianglala Patas AC 143? Sama aja, jarak temnya lama banget, dan baru muncul ke TB Simatupang dari Fatmawati, langsung masuk tol JORR. Jadi cuma nongol beberapa meter untuk kemudian masuk tol.
Kenapa bisa begitu ya? Ini salah satu faktornya karena jalan tol JORR yang melintas ditengah jalan TB Simatupang. Semua bis yang kearah pasar rebo, kampung rambutan,bekasi dan lain-lain, masuk tol JORR dan gak ada yang keluar sebelum pasar minggu selain si Debby. Jadi penumpang yang ke Pasar Minggu, Rancho, Tanjung Barat hanya akan terpenuhi hasratnya oleh si Debby.

Sudah gitu, si Debby tahu kalo dia sangat dibutuhkan. Sebagai tirani yang memegang monopoli jalur Lebak Bulus ke arah Depok, kelakuannya bener-bener bikin sebel penumpang. Sekitar jam pulang kantor (jam 5-an), si Debby itu meskipun armadanya cukup banyak, temnya dilamain, soalnya saingannya juga armadanya sendiri. Kadang bisa seperempat jam, sehingga penumpangnya berjubel. Gak ada yang mengontrol temnya, yang menjalankan manajemen di jam sibuk. Udah gitu, penumpangnya juga maksa aja, misalnya ada calon penumpang cewek, udah tahu penuh bergantungan masih tanya sama keneknya,”bisa bang?”, yang tentu aja langsung disambut gembira oleh kenek, “masih bisa neng, ayo masuk aje!”. Dan penumpang yang laki disuruh ngasih tempat dan terpaksa bergantungan di pintu.

Meskipun udah penuh di feedex, si Debby gak akan masuk pintu tol disitu. Udah banyak yang bergantungan di Poins, juga gak akan masuk pintu tol situ. Si Debby cuma mau masuk pintu tol di Citos, karena rekornya selama ini kayaknya belum pecah (belum ada yang kebalik gara-gara kelebihan penumpang).

dalam Debby

dalam Debby (sedang ngetem di lebak bulus)

Kita emang pada dasarnya serakah semua, namun ketiadaan saingan membuat si Debby menjadi tiran, dia menindas rakyat, eh penumpangnya yang gak ada pilihan lain yang sepadan. Jika saja ada bis yang kearah pasar minggu/lenteng agung, tentu banyak pilihan, baik secara ongkos maupun waktu. Misalnya ke Depok, ada bis ke pasar minggu (harusnya tarifnya gak lebih dari Rp 2.000), maka banyak bis ke Depok cukup Rp 2.000. Sama saja ongkosnya total Rp 4.000.

Hal ini juga rawan bagi angkutan lain yang memonopoli, bahkan angkutan yang tersistem seperti KRL dan Busway Transjakarta. Semua kasusnya sama, penumpang sama sekali gak punya suara, gak diberikan pilihan, sehingga banyak yang memilih keluar dari ‘medan perang’ dan mengandalkan kendaraan pribadinya sendiri. Harusnya pemerintah sebagai regulator mempunyai otoritas untuk mengatasi masalah ini, namun…. apa pernah pejabat-pejabat penentu kebijakan itu naik angkutan umum?

Komentar
  1. nadya assegaf mengatakan:

    gila setuju banget gue…..

  2. yudi mengatakan:

    setuju banget di jabodetabek ini boleh dikata po deborah sebagai transportasi dengan pelayanan terburuk, mungkin untuk yang memiliki kendaraan peribadi di jalur pondok pinang – pondok indah – fatmawati – tol fatmawati – lenteng dst atau yang eksit ke arah pasar minggu bisa memberi tebengan berbayar seperti yg banyak ke arah bekasi, kalo ngandelin solusi dari birokrasi gak mungkin ada sampai kapan pun.

  3. metamocca mengatakan:

    Saya masih sering naik di kerajaan sang tiran ini. Dan sering juga dibuat kesel. Kalo ga lama, ya mogok.

    Ijin reblog ya…🙂

  4. metamocca mengatakan:

    Reblogged this on Just Notes of Me and commented:
    Ini nih yang disebut Putri ‘my bebi debby’.. *huek* hihihihih…
    Tapi mau ga mau ya harus naik ini pulang pergi. Memang benar-benar tirani yang norak :p

  5. lambangsarib mengatakan:

    pinter nih ngulasnya. top bro…

  6. […] debbie (sebutan sayang dariku) atau si tiran yang norak (sebutan sayang dari meta) bisa disimak disini, disini, atau disini. Ada juga yang lucu […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s