Ho…ho…ho…, ini bukan puisi, melainkan sekadar pelaporan singkat saja mengenai kekhususan jalur busway di Jakarta.

inside busway

Setelah lama nggak pernah naik transjakarta, ada kesempatan ketika cuti kerja kemarin saya mengantar ibu saya ke Gambir. Tentu saja sebagai depokers, angkutan yang rasional menuju Gambir adalah KRL ekspres. Setelah selesai urusan di Gambir, ibu saya ingin ke Lebak Bulus. Tentunya sebagai anak yang berbakti, saya segera mengajaknya naik bis Transjakarta yang lebih manusiawi dalam mengangkut orang-orang sepuh. Padahal jalur transjakarta dari Gambir ke Lebak Bulus sedikit melingkar jauh.

Karena saya di halte Gambir 2, saya tanyakan dulu apakah bisa ke Lebak Bulus. Ternyata harus ke Halte Gambir 1 (letaknya dekat sih). Dari halte Gambir 1, naik bis koridor 2 menuju Harmoni, yang lancar saja meskipun harus berdiri. Turun di Harmoni, langsung menuju pintu busway tujuan Lebak Bulus, koridor 8. Saya punya pengalaman yang nggak enak di koridor 8 ini mengenai transit penumpang di daerah Mall Ciputra, yang menyusahkan karena harus menyeberang jauh, bisnya jarang lagi. Jadi saya tanyakan apakah bis ini juga transit ataukah langsung ke Lebak Bulus. Dijawab oleh petugasnya,” langsung!”… Akhirnya mengerti juga manajemen busway mengenai kesulitan penumpangnya.

Bis koridor 8 dari Harmoni ini relatif sepi, karena penumpang baru ada di jalan Panjang, sehingga saya bisa duduk dengan santai. Saya memilih duduk dekat sopir sambil mengamati jalur busway yang dilalui. Ternyata sepanjang perjalanan banyak sekali penyerobot yang masuk ke jalur bis Transjakarta koridor 8 ini. Bis selalu membunyikan klakson, namun sering sekali mengerem mendadak karena seringkali ada mobil dan terutama motor yang tiba-tiba nyelonong masuk jalur busway.

Ini salah satu faktor pengurang busway dibandingkan KRL. Jadi meskipun sama-sama berdiri, sangat tidak nyaman di dalam bis transjakarta karena sering terjadi pengereman. Kalo di KRL, masyarakat dapat memaklumi apabila ada kendaraan atau orang yang ketabrak, tapi kalo busway bisa terjadi amuk massa.

Masih di jalan Panjang (mungkin karena panjangnya jalan itu), terdengar suara sirene meraung-raung di kejauhan. Makin lama makin jelas terdengar. Ya, ada konvoi kendaraan pejabat di belakang bis Transjakarta, di jalur busway. Kejadian selanjutnya bisa ditebak…. Bis Transjakarta keluar dari jalurnya, untuk ‘mempersilahkan’ tuan besar agar lewat. Karena sudah keluar jalur, Bis Transjakarta mau masuk jalurnya lagi juga susah, karena di belakang konvoi banyak sekali kendaraan pribadi yang ‘ngikut’. Dengan susah payak bis itu kembali lagi ke jalan yang benar (susahnya keneknya gak bisa turun untuk menghalau kendaraan lain, gak seperti Kopaja).

Kemudian sampailah di Jalan Arteri Pondok Indah, yang jalur buswaynya nggak ada separator (catatan : Busway gak ‘direstui’ sama warga Komplek Pondok Indah). Jadi bila di jalur busway yang ada separatornya aja banyak yang gak merasa berdosa menyerobot hak masyarakat penumpang umum, apalagi di jalur arteri Pondok Indah ini. Sialnya, bis transjakarta malah gak bebas bermanuver, harus tetap di jalurnya (yang lebih macet karena banyak putaran, simpangan, belokan dan penyerobotan).

Demikianlah penindasan dan perampasan jalur Busway, dilakukan mulai dari masyarakat, baik kelas bawah atau kelas atas, dan disempurnakan oleh pejabat negara tercinta ini.

Mungkin dalam benak mereka sama pikirannya, “Masak cuma motor dan angkot aja yang bisa ngelanggar aturan? ane juga mau dong !!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s