Ternyata budaya bertransportasi umum di Indonesia sudah sejak dulu ada. Namun anehnya budaya itu seakan-akan tidak ada bekasnya, melihat tidak adanya komitmen untuk angkutan umum, penghormatan dari pengguna kendaraan pribadi, dan tren penggunanya yang terus menurun. Tepatnya, marjinalisasi untuk angkutan umum berjalan dengan mantap.

Sehingga angkutan umum seakan dipaksa menjadi berandal jalanan, sebagai klandestin yang berjuang melawan peminggiran tersebut.

Eh, kok jadi ngelantur… tulisan ini sekadar sebagai nostalgia, mungkin teringat dulu ketika kecil atau masih bayi (lho, apa sudah punya memori?) pernah ada didalamnya sebagai pengguna yang menyemarakkan dunia transportasi Indonesia.

1. Bemo

the legend of bemo

the legend of bemo

Ternyata Bemo punya singkatan yaitu “becak motor” dan merupakan kendaraan bermotor roda tiga yang biasanya digunakan sebagai angkutan umum diIndonesia. Meskipun nama Bemo dikaitkan dengan becak, namun bemo sebenarnya adalah model bis ukuran supermini, karena mempunyai trayek dan tarif tetap, beda dengan becak yang lebih mirip taksi bertenaga nasi. Memang Bemo mulanya beroperasi seperti taksi, namun kemudian dibentuk  trayek tertentu,  dan akhirnya dikhususkan ke trayek pinggiran yang tak disentuh oleh bus kota. Bemo mulai dipergunakan di Indonesia pada awal tahun 1962, pertama-tama di Jakarta, kemudian Bogor, Bandung,  Surabaya, Surakarta, Malang,  Padang, Denpasar,  yang dimaksudkan untuk menggantikan becak. Namun rencana ini tidak berhasil karena kehadiran bemo tidak didukung oleh rencana yang matang. Bemo cepat populer karena kendaraan ini lebih murah, berdaya angkut besar (bisa menampung 7 orang),  mampu menjangkau jalan-jalan yang sempit, bisa menempuh jarak jauh dan lebih cepat daripada becak yang lebih mahal karena daya angkutnya cuma 2 orang, pelan dan tidak bisa jauh. Di Jakarta, bemo mulai dipinggirkan pada 1971, disusul oleh Surabaya dan Malang pada tahun yang sama. Pada1979, Pemerintah Daerah Surakarta mengambil langkah yang sama.

Bemo diproduksi oleh Daihatsu, sebagai Daihatsu Midget, kendaraan beroda tiga (satu di depan, dua di belakang). Kendaraan ini saking kecilnya sehingga diberi nama “midget” (kerdil). Daihatsu Midget ini sebenarnya didesain sebagai angkutan barang. Ini menjelaskan kenapa Bemo sangat sempit, sampai penumpangnya harus beradu lutut. Karena lama sudah tidak diproduksi lagi, sparepartnya pun sudah tidak didukung, namun masih bisa survive karena sparepartnya masih diproduksi lokal secara imitasi (salut !!!  btw, kenapa gak produksi nasional aja ya?). Saya masih bisa menaiki Bemo di jaman modern ini yaitu ketika di Malang (sopirnya curhat bahwa Bemo ini operasionalnya sehari jalan, dua hari masuk bengkel, maklum sudah sepuh), dan di kawasan Grogol, dimana statistik saya menunjukkan dalam 6 kali naik bemo 2 kali mengalami trouble. Sampai kapan Bemo masih beroperasi di Indonesia? Mungkin sampai tidak mempunyai keekonomisan operasional lagi, ada ada penggantinya yang efektif.

2. Helicak

Helicak juga punya singkatan, dan lagi-lagi berhubungan dengan Becak,  yaitu “Helikopter Becak”, karena bentuknya mirip dengan helikopter dan becak. Helicak adalah kendaraan angkutan masyarakat seperti Taksi, yang banyak ditemukan di Jakarta, Surabaya, Salatiga dan Yogyakarta pada tahun 1970-an.

model Helicak

model Helicak

Helicak pertama muncul tahun 1971. Diadopsi dari skuter Lambretta yang didatangkan dari Italia, Gubernur Jakarta waktu itu, Ali Sadikin, mencanangkannya sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawi.

Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak (masih tetap gak manusiawi ya). Karena (seperti biasa) Kebijakan pemerintah dalam menyediakan angkutan rakyat yang tidak konsisten, berdampak pada kelangsungan hidup Helicak, yang kalah populer dengan Bajaj. Lambat laun Helicak punah. Saya sendiri terakhir mempergunakan Helicak pada saat berumur 4 tahun di Surabaya, untuk membawa adik saya yang masih bayi pulang dari rumah sakit ke rumah.

3. Bajaj

Bajaj oranye 2 tak

Bajaj, awalnya sama dengan Helicak, untuk menggantikan Becak. Jika Helicak produk Italia, Bajaj adalah produk India dibawah lisensi Vespa Italia. Desain Bajaj masih lebih manusiawi daripada Helicak, dengan nilai ekonomis yang lebih baik, menjadikan Bajaj cepat populer. Bajaj masih eksis sampai kini dan upaya membuat punah angkutan ini susah, sehingga kemudian lebih mudah mengalihkannya ke generasi Bajaj baru, Bajaj type RE 4 Stroke yang menggunakan mesin 4 tak, dengan sistem 2 bahan bakar, premium dan Bahan Bakar Gas, berwarna biru, berbeda dengan Bajaj legendaris dua tak yang berwarna oranye.

Bajaj baru & biru, 4 tak

Saat ini Bajaj masih eksis di Jakarta, Banjarmasin dan Pekanbaru serta beberapa ibukota kabupaten di Indonesia. Bajaj beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang, dengan bentuk kemudi mirip seperti kemudi sepeda motor daripada kemudi mobil. Di Jakarta, operasional Bajaj dibatasi. Di pintu depan bajaj, biasanya tertulis daerah operasi bajaj, yang biasanya terbatas pada satu kotamadya saja, dan tidak bisa masuk semua jalan (biasanya tidak boleh ke jalan protokol). Bajaj masih bisa diandalkan mengingat kemampuannya bermanuver, dan dapat masuk ke gang kecil, serta berdaya angkut lebih besar (dan tertutup) dibandingkan dengan ojek.

4. Becak

Becak (dari bahasa Hokkien: be chia “kereta kuda”) adalah suatu moda transportasi beroda tiga yang umum ditemukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia. Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seorang pengemudi. Tidak jelas kapan becak mulai dikenal di Indonesia, namun diperkirakan legenda becak di Indonesia dimulai sekitar tahun 1930-an.

Becak Bogor

Becak Bogor

Di Indonesia ada dua jenis becak yang lazim digunakan:

A. Becak dengan pengemudi di belakang. Jenis ini biasanya ada di Jawa.
B. Becak dengan pengemudi di samping. Jenis ini biasanya ditemukan di Sumatra. Untuk becak jenis ini dapat dibagi lagi ke dalam dua sub-jenis, yaitu:

1. Becak kayuh – Becak yang menggunakan sepeda sebagai kemudi.
2. Becak bermotor/Becak mesin – Becak yang menggunakan sepeda motor sebagai penggerak.
Pro dan kontra

Becak kayuh merupakan alat angkutan yang ramah lingkungan, karena tak menimbulkan polusi udara dan suara, selain suara pengayuhnya.

Namun, keberadaan becak di kota-kota besar yang sangat agresif dan dinamis, bisa sangat mengganggu lalu lintas karena lamban dan bodinya yang lebar. Becak ada di hampir semua kota di Indonesia, kecuali Jakarta. Becak dilarang di Jakarta sekitar akhir dasawarsa 1980-an, dengan alasan becak adalah “eksploitasi manusia atas manusia”. Penggantinya adalah, ojek, bajaj dan Kancil. Di Kota-kota besar seperti Surabaya, meskipun Becak tidak dilarang, namun keberadaannya dibatasi, dengan adanya kawasan bebas Becak.

5. Delman

Delman adalah kendaraan transportasi tradisional yang beroda dua atau empat yang menggunakan kuda sebagai penggantinya. Nama kendaraan ini berasal dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore Deeleman, seorang litografer dan insinyur di masa Hindia Belanda.Orang Belanda sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama dos-à-dos (punggung pada punggung, arti harfiah bahasa Perancis), yaitu sejenis kereta yang posisi duduk penumpangnya saling memunggungi. Istilah dos-à-dos ini kemudian oleh penduduk pribumi Batavia disingkat lagi menjadi ‘sado’ (bukan sado-masochis lho!).

dokar tempo doeloe

Sedangkan Dokar atau bendi merupakan jenis delman, yang lebih populer sebagai angkutan di pedesaan dan kota-kota kecil di Jawa. Berbeda dengan andong, dokar hanya mempunyai dua roda dan ditarik oleh satu kuda saja, sedangkan andong mempunyai roda empat yang bisa ditarik satu atau dua kuda.

6. Oplet

oplet era 70an

oplet era 70an

Nama oplet berasal dari nama Chevrolet atau Opel, meskipun sebenarnya kebanyakan oplet bermerk Morris dan Austin. Namun beberapa menafsirkan oplet dari kata auto let. Pada 1960-an dan 1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling populer di Jakarta. Oplet adalah kendaraan umum yang memiliki satu pintu di bagian belakang. Pintu itu menjadi tempat masuk dan keluar penumpang. Desain pintu ini menjadi inspirasi Bemo dan angkutan kota sebelum era mikrolet pintu samping. Di bagian depan juga ada pintu, yakni di bagian kanan dan kiri. Satu penumpang boleh duduk di samping sopir. Oplet berdaya angkut sekitar 10 penumpang, dengan jumlah itu duduk penumpang masih relatif longgar karena dimensi oplet lumayan besar.  Hampir seluruh badan oplet terbuat dari kayu. Begitu pun jendela. Untuk menutup dan membuka jendela, penumpang tinggal mengangkat atau menurunkannya. Jendela juga terbuat dari kayu dan semacam kulit sehingga tidak transparan. Tangki bensin ada di bagian dalam, persis di antara kaki-kaki penumpang. Oplet memiliki lampu sen yang berada di luar sisi kanan dan kiri. Kalau akan berbelok ke kanan, maka tongkat kecil berwarna kuning akan naik seperti portal. Begitu juga yang sebelah kiri. Klakson oplet juga unik karena merupakan klakson karet yang tidak berhubungan dengan mekanisme mobil.

Sumber-sumber : wikipedia, warta kota dan sumber lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s