Melanjutkan tulisan terdahulu mengenai transportasi jadul Indonesia, saya lanjutkan dengan angkutan jadul yang lebih mantap, yang lebih bersifat angkutan massal.

A. Bis tingkat

bis tingkat jakarta

bis tingkat jakarta

Bis tingkat (dikenal dengan sebutan doble decker) memang bis yang bertingkat, mempunyai dua lantai, sehingga kapasitasnya bisa lebih besar daripada bis biasa. Bis tingkat pernah digunakan diberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, Solo, Makasar dan kota-kota di Madura. Bila di Jakarta menggunakan merk Volvo, di Surabaya yang digunakan bermerk Leyland. Ciri bis ini adalah tidak mempunyai tempat berdiri di tingkat atas, dan berjalan lambat. Karena biaya perawatan yang tinggi, apalagi setelah krisis ekonomi tahun 98, bis ini mulai punah. Setelah era 90-an, saya sudah tidak menjumpai bis ini berkeliaran lagi.

Bis Tingkat Werkudoro, Solo

Bis Tingkat Werkudoro, Solo

Namun di Solo pada 1 April 2011 malah meluncurkan bis tingkat, khusus untuk pariwisata, namanya Werkudoro. Bis ini bukan bis untuk komuter, karena tarifnya memang tarif pariwisata.

B. Kereta Api – Kereta Rel Listrik

Sejarah kereta api di Indonesia dimulai tahun 1864, oleh pemerintah Hindia Belanda, di Jawa.  Pembangunan di luar Jawa dilakukan di Sumatra di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang-Maros belum sempat diselesaikan. Bahkan jaringan kereta api sampai ke Pulau Madura.

KRL doeloe  jurusan weltevreden (Gambir) - Tanjungpriuk

KRL doeloe jurusan weltevreden (Gambir) - Tanjungpriuk

Sejarah Kereta Rel Listrik (KRL) dimulai tahun 1923, dimulai dengan elektifikasi jalur Tanjung Priuk – Meester Cornelis (Jatinegara). KRL hanya dinikmati di Jakarta dan Bogor, bahkan sampai saat ini. Peresmian elektrifikasi jalur KA bersamaan dengan hari ulang tahun ke 50 Staats  Spoorwegen (PT KA-nya Hindia Belanda), sekaligus juga peresmian stasiun Tanjung Priuk yang baru yaitu pada 6 April 1925. Jalur kereta listrik di Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) ini merupakan pelopor KRL di Indonesia, yang saat itu paling maju di Asia. Di masa itu, kereta listrik telah menjadi andalan para  komuter untuk bepergian.

stasiun depok lama...... banget

stasiun depok lamaaa...... banget

Mungkin saking cintanya dengan barang jadul, atau terlena dengan kebesaran jaman Hindia Belanda, pemerintah Indonesia tidak pernah membeli lokomotif listrik  untuk mengganti atau menambah jumlah lokomotif listrik yang beroperasi sampai digantikan dengan rangkaian Kereta Rel Listrik baru buatan Jepang sejak tahun 1976. Saat ini KRL jabodetabek beroperasi dengan kereta buatan Jepang, dengan mengangkut 400.000 komuter.

C. Trem Listrik

Trem mulai muncul di Batavia (Jakarta) pada 1869. Mula-mula berjalan dengan ditarik kuda, kemudian digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881.

Trem Batavia melintas Beos

Trem Batavia melintas Beos

Surabaya juga tak mau kalah, tahun 1886, trem uap mulai mengisi lalu lintas Surabaya. Tahun 1901, trem listrik mulai beroperasi di Jakarta, disusul Surabaya tahun 1910. Trem uap terakhir beroperasi pada 1933, sejak saat itu semua trem sudah menggunakan listrik.

Trem Surabaya melintas bawah viaduk (jalan pasar besar)

Trem Surabaya melintas bawah viaduk (jalan pasar besar)

Trem digusur pada 1960-an, atas usul Bung Karno, yang lebih cenderung kepada metro atau kereta api bawah tanah. Saat itu bersamaan dengan semangat untuk memajukan Asia, dimana banyak pembelian Bis Kota “Tata” dari India.

Hilanglah sudah kejayaan trem di Jakarta dan Surabaya, tanpa tergantikan hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s