Arsip untuk Juni, 2011

komentar di Kompas.com

Komentar seperti diatas yang nadanya sama banyak sekali. Mungkin itu juga pikiran bandar narkoba  (Nico alias Siang Fuk) yang nembaki busway koridor IX di Jalan Pluit Permai Raya, Sabtu 15/1/2011.

Kalo pola pikirnya yang bayar pajak yang berhak nikmati, yang kaya dong (yang pajaknya gede) yang paling berhak? Apa kata dunia?????

Banyak orang menuduh busway sebagai sumber kemacetan di Jakarta. Dulunya gak macet (?), terus ada busway jadi macet. Iseng-iseng saya kumpulkan angka-angka seputar transportasi di Jakarta, untuk ngetes aja apa bener begitu.

Ukuran Bus Transjakarta (non gandeng) adalah bis besar. Bis ini mempunyai panjang 12 m, lebar 2,5 m. Kita pakai tes adalah Koridor 1, yang mempunyai panjang 12,9 km. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, Busway koridor ini mempunyai headway (jeda antar bis) antara 1,56 menit sampai 1,63 menit pada jam sibuk. Okupansinya cukup tinggi, antara 80% sampai 90% dari kapasitas maksimum 85 orang dalam satu bis. Kecepatan rata-ratanya 19,52 km/jam. Sedangkan data okupansi loading (rata-rata penumpang) kendaraan pribadi bisa dilihat di sini.

Perhitungan kali ini sederhana, diambil dari logika seandainya jalur busway koridor 1 diisi oleh mobil atau sepeda motor, tidak lagi diisi bis Transjakarta, berapa sih penumpang yang bisa terangkut sepanjang jalur itu (hitungan sekejap).

1. Kondisi Standar

Asumsi headway (jeda antar bis) 5 menit, sesuai standar maksimum dari busway :

Spek Busway vs Pribadi

Sedangkan untuk mobil dan motor saya pakai spek Avanza dan Supra X 125. Dari angka-angka tersebut saya masukkan dalam perhitungan sederhana saya :

Disini rasio ruang Bis Transjakarta di jalan sebanding dengan 4sepeda motor dan 2 mobil. Lho kok sedikit? mari lihat gambar ini :

Disini rasionya dalam kondisi bergerak. Jarak aman antar kendaraan adalah 3,6 meter. Hitungan didapat dari kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta yaitu 13 km/jam, diformulasikan dengan perhitungan jarak aman yaitu 2 detik.

Hasil dari perhitungan total orang yang terangkut dengan Bis Transjakarta dibandingkan mobil adalah hampir 3x lipat. Sedangkan bila dengan sepeda motor adalah 1,5 kalinya.

2. Kondisi jam sibuk

Asumsi macet, jadi kecepatan kendaraan (selain busway) hanya 5 km/jam, sehingga jarak aman jadi 1,4 meter. Busway tetap 19,52 km/jam. Namun sesuai dengan penelitian diatas, pada saat jam sibuk, headway antar bis meningkat, rata-rata jadi cuma 1,6 menit.

Hasilnya jadi :

Hasil dari perhitungan total orang yang terangkut dengan Bis Transjakarta dibandingkan mobil adalah lebih dari 5 x lipat. Sedangkan bila dengan sepeda motor lebih dari 2 kalinya.

Memang dalam kenyataannya tidak mungkin melulu mobil atau motor, melainkan kondisinya kombinasi. Tapi setidaknya dari situ terlihat gambaran minimal dan maksimumnya.

Jadi? Silakan disimpulkan sendiri sebenarnya apa bener Busway itu malah bikin macet. Bukannya memang macet makin parah, dan momennya pas busway diperbanyak.

Namun yang menjadi faktor penentu sebenarnya jeda antar bis Transjakarta. Contohnya di Kondisi standar, kalo headway lebih dari 8 menit, masih banyak orang yang bisa diangkut motor. Bahkan kalo lebih lebih dari 15 menit, masih banyak penumpang mobil. Sedang dalam kondisi jam sibuk, kalo headway lebih dari 5 menit, masih banyak orang yang bisa diangkut motor. Bahkan kalo lebih lebih dari 11 menit, masih banyak penumpang mobil.

Logikanya, jalur busway kalo kebanyakan kosong ya mubazir, wong di kanan kirinya muacet…cet.

Harapannya, busway bisa lebih cepat menembus kemacetan, seperti saudaranya yang sudah lahir lebih dulu, KRL. Banyak orang mau meninggalkan mobil pribadi dengan naik KRL (ekspress), alasannya cuma 1 : KECEPATAN.

Di blog ini, kali kedua saya menulis tentang hal yang agak pribadi, setelah dulu sedikit menulis tentang mental saya yang kere. Tapi ya gak apa-apa, wong ini blog saya sendiri.

Di akhir Juni ini, saya mendapatkan sesuatu yang tidak saya sangka, yaitu sebuah Samsung Galaxy Tab P1000. Lumayan (sangat lumayan, karena gratis). Kok bisa? apa nemu di Kopaja? ya nggak lah. Ini buah dari keisengan saya, yaitu ikut lomba desain brand produk perusahaan. Semoga hasil karya saya lancar jadi brand batubara yang menghidupi boiler industri dan sumber energi di Indonesia maupun Asia. Sebenarnya saya mau jual ini galaxy tab, karena hape saya jadi ada 4, dan saya gak suka bawa banyak-banyak, dan android bukan barang baru bagi saya. Namun kemudian saya berpikir ulang untuk menjualnya, setelah mencobanya sendiri.

Samsung Galaxy Tab P1000

Tapi dapet handsetnya aja, bonus garskin, gak termasuk cewek modelnya seperti gambar diatas.

Baru hari kedua saya bawa itu Galaxy Tab (galtab), saya udah ‘melupakan’ 1st Android saya, Garmin Asus A50. Tepatnya bener-bener lupa alias ketinggalan di rumah, padahal ada janjian dengan auditor di luar kantor.

Hasilnya : saya jadi kagok & katrok. Karena saya keluar pakai kopaja (berdiri lagi), jadi nggak enak mengeluarkan si galtab karena gede banget, jadi kesimpen di tas aja. Udah gitu earphone bluetooth-nya nggak bawa.

Sebenarnya saya mau naik taksi biar harga diri perusahaan gak jatuh (masa manajer perusahaan tambang mau ketemu auditor naik kopaja), tapi mental kere yang didukung dengan keadaan sangat menunjang -yaitu uang di dompet sangat tipis, ATM ketinggalan- membuat pilihan naik angkutan umum sangat rasional.

Walhasil si Galtab baru keluar dari tas setelah mendarat dari angkutan umum, yang membuat saya tampak aneh karena bila ada telpon, otomatis suara lawan bicara keluar di speaker phone, jadi kedengaran semua orang. Salahnya sendiri gak pake earphone (udah dibilangi gak bawa, ketinggalan!). Akhirnya saya bisa komunikasi lebih banyak pake sms dan email. Itupun dilakukan sembunyi-sembunyi dari balik backpack saya, karena saya gak suka jadi perhatian orang.

dimensi galaxy tab P1000

Kesimpulannya, kalo dibawa di angkutan umum saya lebih suka Garmin Asus A50, karena kecil (bisa dikantongi) dan handal GPS-nya. Namun mengenai kinerja ya saya pilih Galtab. Memory internalnya sangat lega (16GB), kalo mau bisa tambah memori card max 32 GB. Prosesor kencang membuat si galtab mendekati sebuah komputer. Desainnya tipis, dengan layar Gorilla Glass 7 inch dibenamkan hi res 600×1024. Masalah aplikasinya jangan takut, ada dokumen to go, mirip dengan Microsoft Office. Saya kan memang perlunya cuma excel kalo kerja. Ketahanan 7 jam baterai serta think free office yang diberikan gratis menambah nilai tambah. Kelebihannya dibanding Ipad, kalo hape utama ketinggalan, ini bisa jadi hape biasa, asal pake earphone. Seperti Samsung saya yang pertama (i780), galtab ini fiturnya lengkap dibanding dengan yang sekelasnya. Ada wifi, buletut, kamera belakang 3,2 MP dan kamera depan 1,3 MP (jadi bisa video call) dengan flash & autofokus. Jangan lupa ada GPS nya juga lho, meskipun bukan kelasnya Garmin Asus.

Dengan fitur itu membuat saya memutuskan membeli asesoris ini :

leather case & bluetooth keyboard

'laptop' galaxy tab

Jadi kayak laptop ya? keyboardnya bisa dilepas kalo mau lebih ringkas. Tapi jadi ngetik di layar, mengurangi tampilan layar.

Bagi yang suka naik angkutan umum, ukuran dan berat menjadi hal yang penting, karena selalu dipanggul atau ditenteng. Jadi galtab meringankan beban saya.

Bete kena macet di bis kota? main game aja, gamenya luarbiasa. Ada NFS yang bisa download gratis, dan game-game lain yang bisa diunduh dari market atau samsung apps. Kalo nyetir mobil sendiri mana bisa main. Nah, kalo di bis kan bisa aja, asal dapat duduk & cuek kalo dilihatin yang lain dan diincer kampret, eh copet.

Yang jelas, dengan aplikasi wordpress for android, aktivitas ngeblog bisa lebih lancar…..

Ini menyambung tulisan terdahulu (jadi ini part-2 nya). Obyek wisata masih di daerah Jakarta

1. Planetarium & Observatorium Jakarta

Letaknya di TIM (Taman Ismail Marzuki), di Cikini. Disini ada teropong bintang, namun jadwal peneropongan malam untuk umum tidak tiap haru, silakan ditanyakan sendiri disana. Yang jelas, jadwal tetap yang ada adalah pertunjukan teater bintang di kubahnya, yang membuat kita seakan-akan kembali ke impian masa kecil menjelajah antariksa.

planetarium Jakarta (inset : Ruang Pertunjukan)

Jadwal Pertunjukan Selasa – Jumat : setiap 16:30, tapi kalo Sabtu,  Minggu dan Sabtu Libur Nasional   setiap 10:00, 11:30, 13:00, dan 14:30. Kalo Jumat Libur Nasional setiap : 10:00, 11:30, 13:00, 15:00, 16:30.

Angkutannya? kalo naik KRL  :  kereta dari Bogor/Depok atau Bekasi, atau semua kereta dari Manggarai tujuan Jakarta Kota, turun di Stasiun Kerata Api Cikini. dari Stasiun dapat menyambung dengan Metromini No. 17 arah Pasar Senen atau cukup naik Bajaj, atau ojek, atau jalan kaki (jarak sekitar 1 km).

Kalo naik Busway : Jalan Cikini tidak dilewati koridor busway, tapi ada koridor 5 (Ancol – Jatinegara) yang ‘nyerempet’, yaitu melewati Jalan Kramat Raya, berhenti di Halte Kramat Sentiong. Dari situ naik aja ojek/bajaj, atau jalan kaki (jarak sekitar 1 km). Kalo mau cara lain, naik koridor 1, turun di halte BI dan nyambung naik kopaja 502 ke arah Kampung Melayu.

Kalo naik angkutan umum biasa dari Senen/Manggarai bisa naik Metromini No. 17 Jurusan Pasar Senen – Manggarai, kalo dari Kampung Rambutan, naik Kopaja No. 57 Jurusan – Cililitan – Tanah Abang, Dari Lebak Bulus atau Mampang silakan naik Kopaja No. 20 Jurusan Pasar Senen – Lebakbulus, tapi ingat rute kembali dariLebak Bulus menuju Pasar Senen tidak lewat Planetarium.

2. Wisata Kota Tua Jakarta

Yang ini pas buat yang gemar fotografi. Karena kota tua, bangunan-bangunannya ya bangunan tua, dan banyak juga terdapat Museum. Lokasinya sih di seputaran Stasiun Beos (Jakarta Kota). Stasiun Beos itu sendiri juga termasuk bangunan wisata kota tua. Tidak jauh dari situ terdapat Museum Bank Mandiri dan Museum Batavia/Museum Fatahillah/Museum Sejarah Jakarta. Kalau mau ke Museum Bank Mandiri cukup nyebrang pake TPO (terowongan penyeberangan orang) dari arah stasiun kota ke Museum/ halte Busway.

Museum Fatahillah

Ada yang khas di wisata kota tua ini, yaitu ojek sepeda. Ojeknya rata-rata juga berusia lanjut, mungkin biar selaras dengan kota tua.

ojek sepeda

Misalnya di sekitar Museum Fatahillah. Dengan tarif sekitar Rp 30.000 (kalo belum naik), maka anda akan diantar ke pelabuhan sunda kelapa, menara syahbandar, museum bahari, jembatan kota intan dan toko merah. Saya nggak menerangkan sejarah bangunan-bangunan itu, karena tukang ojek sepeda itu yang akan menerangkannya (jadi guide). Jadi ongkos ojek itu sebenarnya juga meliputi jasa guide.

Karena lokasi kota tua di sekitar Stasiun Jakarta Kota, maka angkutannya paling pas ya naik KRL. Atau bisa juga naik busway koridor 1. Kalo naik angkutan lainnya, yang jurusan kota, misalnya Metromini 85, Lebak Bulus – Kota, atau Mayasari Bhakti P17 (kampung Rambutan-Kota).

3. Setu Babakan

Ini perkampungan cagar budaya Betawi, lokasinya di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Bangunan rumahnya khas Betawi. Disini bisa dijumpai makanan khas betawi seperti Kerak telor, Ketupat Sayur dan lain-lain (makanan aje lu pikirin). Disini juga bisa mancing di Setu/Danau. Ada juga tempat mainan anak dan penjualan souvenir.

“Kalo ente pake angkot, kagak usah bayar. Masa masuk kampung bayar, lu pikir gue preman?  Kalo lu bawa kendaraan, nyoh parkir disono, paling seceng !” (wah aku kok iso dadi wong betawi?).

Kampung Setu Babakan

Angkotnye gampang, dari Blok M naik aje Kopaja 616 tujuan Cipedak. Itu Kopaja lewat Lenteng Agung (ISTN). Jadi kalo lu naik KRL, turun aje di Lenteng Agung. Kalo lu naik Busway, turun aje di terminal blok M.

Kalo lu dari Terminal Depok, lu naik aje angkot D 128, minta diturunin di kampung Setu Babakan ye!

4. Monumen Pancasila Sakti (Lubang Buaya)

Ini kayaknya bukan obyek wisata. Kayaknya obyek horor. Tapi gimana lagi, horor kan juga wisata. Cuma kalo ditanya anak-anak agak susah jawabnnya. “Penderitaan itu pedih Jendral !” (masih teringat filem masa kecil dulu, G30S/PKI).

Disini ada diorama mengenai peristiwa itu. Hii… “Penderitaan itu pedih Jendral !”.  Srettt…sretttt.

Diorama Monumen Pancasila Sakti

Lokasinya di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Kalo angkutannya angkot KWK  T-05A dari Kampung Rambutan. Kalo dari UKI (Cawang) naik 461 ke arah Pd. Gede turun di Monumen Pancasila Sakti. Dari Cililitan: Naik T04 ke arah Pondok Gede turun di Monumen Pancasila Sakti. Dari Pondok Gede: Naik angkutan umum 461, K40, T04 yang ke arah Cililitan turun di Monumen Pancasila Sakti.

“Libur t’lah tiba ! Libur t’lah tiba… Hatiiiii ku gembiraaaa…!”

Ya, liburan sekolah sudah tiba. Mau kemana ini ???

Di Daerah Jakarta dan sekitarnya, ada banyak tempat yang mudah dicapai oleh angkutan umum.

1. Taman Margasatwa Ragunan

Gadjah di Ragunan

Disinilah tempat ‘madakno rupo‘ di Jakarta. Tempat hiburan yang murah meriah. Harga tiketnya cuma Rp 4.000. Disini banyak binatang (jelas, kan kebun binatang), ada danau wisatanya dan ada bumi perkemahan. Lebih baik membawa tikar untuk lesehan setelah penat berjalan-jalan. Kalo tidak mau bawa, bisa beli sebelum pintu masuk, cuma goceng. Atau kalo mau di dalam juga ada yang menyediakan sewanya (sudah dihampar). Banyak warung makanan dan asongan (sayangnya ini cukup mengganggu karena terlalu banyak), jadi jangan kuatir kehausan atau kelaparan. Masalah harga dan rasa ya silakan tanggung sendiri.

Walk in Ragunan

Ada banyak angkutan umum yang singgah disini.

Transportasi utama adalah Bis Transjakarta koridor 6 (Ragunan – Dukuh Atas).

Jika dari Pulogadung, naik koridor 4, turun halte Halimun, pindah koridor 6, kemudian keluar ke Halte Dukuh Atas 2, karena koridor 6 yang ini dari Ragunan. Lalu pindah ke koridor 6 juga, tapi arah sebaliknya, yang ke Ragunan.

Jika dari Blok M, ini agak muter, karena jika naik Koridor 1, harus transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan. Jadi secara jarak lebih baik nggak pake Busway, melainkan naik Metromini 77 jurusan Ragunan Blok M.

Jika dari Kalideres, naik Koridor 3, turun di Halte Dukuh Atas, kemudian naik koridor 1, dan transit ke Dukuh Atas ke Dukuh Atas 2, untuk pindah ke Koridor 6 tujuan Ragunan.

Jika dari Kampung rambutan, naik Koridor 7, pindah ke Koridor 9 di Halte Pasar Kramatjati, turun di Halte Kuningan Barat, jalan ke Halte Kuningan Timur, akhirnya akan ketemu Koridor 6 disitu yang menuju Ragunan.

Jika dari Lebak Bulus…. mendingan nggak naik busway dari situ deh. Soalnya akan dibawa dulu ke Harmoni, padahal kan udah dekat Ragunan….. jadi  naik Kopaja P20 ke Mampang, dari situ naik Busway Koridor 6 ke Ragunan. Atau kalo mau langsung dari lebak bulus naik saja KWK 011 jurusan Pasar Minggu.

Selain Busway, banyak Angkutan lainnya. Jika dari Tanah Abang, bisa naik Kopaja 19 dan Kopaja 985 yang melalui Blok M. Kalau dari Kampung Melayu bisa naik Kopaja 68 dan 602 yang melalui Pasar Minggu. Dari Depok bisa ke Pondok Labu dulu (naik 105 atau S16), terus bisa naik Kopaja atau Mikrolet M20 ke Ragunan, atau dari Cinere naik 61.

Jika Dari Taman Mini bisa naik Mikrolet Merah (KWK) 15A.

Jika naik KRL, stasiun yang terdekat adalah stasiun Tanjung Barat atau Stasiun Pasar Minggu. Untuk pilihan angkutan, mendingan ke Stasiun Pasar Minggu, karena dekat terminal, meskipun di Stasiun Tanjung Barat lebih cepat karena jalur menuju Ragunan searah, naik KWK S15.

2. Monas

Belum ke Jakarta namanya kalo belum pernah ke Monumen Nasional (Monas), tugu setinggi 132 meter.  Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi  emas.  Monas dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum. Di Ruang Kemerdekaan di Monas, disimpan naskah asli proklamasi.

Lokasinya sangat strategis karena di tengah kota dan dekat Stasiun Gambir. Disana ada Diorama Sejarah Perjuangan Bangsa, taman, dan melihat Jakarta dari Puncak Monas. Kalau hari Minggu pagi banyak orang berjualan dan berolahraga.

Monas, lanskap Jakarta

Angkutan Utama adalah KRL, turun Stasiun Gambir. Dari situ Monas sudah kelihatan. Namun karena saat ini (sebelum single operation KRL), cuma KRL Ekspres yang berhenti di Monas. Kalo KRL lain berhenti didekat situ (stasiun Juanda atau Gondangdia terus naik Bajaj/ojek). Nanti kalo single operation berjalan, dari semua stasiun jalur Depok/Bogor bisa, misalnya dari Pasar Minggu, dari Lenteng, dari Cawang.

Kalo naik Busway,  yang lewat Gambir/Monas adalah Koridor 2. tapi jangan lupa tanyakan transitnya. Misalnya dari Cawang, naik koridor 9 ke halte Semanggi, transit ke halte Benhil (Bendungan Hilir), terus naik koridor 1 ke halte Harmoni untuk pindah ke Koridor 2, sampe ke halte senen, pindah koridor 2 arah sebaliknya.

Kalau naik bis biasa, misalnya dari Blok M, naik PPD P42 tujuan Senen. Kalo dari Kampung Rambutan naik aja PPD PAC79 jurusan Kota. Dari Slipi bisa naik P77. Tapi pengalaman saya, paling enak memang busway.

3. Ancol

Ini tempat wisata yang populer banget. Ada Dunia Fantasi, Gelanggang Samudra, Seaworld, Kolam Renang (atlantis), Pasar Seni, Outbond, dan tentu saja pantai.

Halilintar di Dufan

Tempat ini bisa dijangkau KRL langsung dari Bogor/Depok dan Bekasi, namun khusus hanya hari Minggu. Jadwalnya silakan lihat di sini. Kalo pas bukan hari Minggu, bisa turun di Stasiun Jakarta Kota, lalu naik Mikrolet 15A jurusan Priuk. Atau turun di Stasiun Senen, lalu naik Busway Koridor 5 tujuan Ancol.

Bus Transjakarta juga nggak mau ketinggalan . Koridor 5 siap mengantar sampai Ancol, tinggal tanyakan saja transit di mana. Umumnya transit di halte Senen.

Kalo naik angkutan umum biasa, bisa dari Kampung Rambutan naik PPD P31, jurusan Kampung Rambutan – Ancol. Kalo dari Blok M naik aja Steady Safe 116 atau Jasa Utama P125 jurusan Tanjung Priuk (kalo bis itu masih ada). Kalo dari Grogol naik PPD P32 jurusan Ancol.

Karena wahananya sangat banyak di Ancol, sebaiknya berangkat pagi. Jika mau masuk ke Dufan, siap-siap bawa baju ganti, karena banyak permainan basah-basahan, dan tentu saja uang yang cukup, karena rata-rata tiket di Ancol relatif mahal bagi masyarakat kebanyakan. Maka itu kalau sudah kesana ya seharian, sayang duitnya udah bayar mahal kalo, cuma sebentar (masa kalah sama naik bis P54, bayar cuma Rp 2.500, bisa 3 jam).

4. Taman Mini Indonesia Indah

Ini tempat wisata legendaris. Disini sambil berwisata juga belajar mengenal daerah-daerah di Nusantara. Nggak perlu keliling Indonesia, cukup mampir di anjungan-anjungan yang mewakili provinsi-provinsi di Indonesia, hanya dengan merogoh kocek Rp 10.000.

Seulawah di TMII

Selain itu, ada museum-museum yang bisa menambah pengetahuan, biar nggak kuper. Contohnya ada Museum Transportasi (ini yang pas dengan blog ini), Museum Listrik, Museum Keprajuritan, Museum Komodo dan banyak lagi. Selain itu ada Snow bay tempat berenang, Teater Imax, Taman Burung. Ada Aeromovel (yang cuma ada 2 didunia, satunya lagi di Brasil), Kereta Gantung, dan…. wah pokoknya banyak coba klik aja http://www.tamanmini.com.

sepur kluthuk di museum transport TMII

Mau kesana gampang, angkutannya bisa pake metromini T45 dari Pulogadung. Dari Bekasi bisa naik KWK40 jurusan Kampung Rambutan. Kalau dari arah selatan, misalnya Ragunan, bisa naik KWK S15 A. Dari Depok, silakan naik KWK S19. Dari Cililitan bisa naik KWK T01, T02 dan T05.

Meskipun gak ada jalur KRL, jangan kuatir masih ada busway, yaitu Koridor 9, Pinang Ranti-Pluit. Kalo dari Blok M misalnya, bisa naik koridor 1, terus berhenti di Halte Benhil, dan pindah ke Halte Semanggi. Disini anda akan melewati transit busway terpanjang di indonesia. Terus naik Koridor 9 menuju Pinang Ranti, dan turun di Halte Garuda (TMII).

Empat dulu yah…nanti dilanjutkan lagi dengan obyek wisata lain. Capek kan keliling satu obyek wisata aja bisa makan waktu seharian.

Bosan dengan keadaan seperti ini ? :

Macet di Jalur Utama

Mau gimana lagi… angkutan sehari-hari emang jalurnya lewat situ. Tapi, tunggu dulu, Siapa bilang naik angkot gak bisa milih jalur? Kalau bis/angkotnya (apalagi kalo busway atau KRL), ya susah ambil alternatif jalan. Tapi ingat ini Jakarta bung! banyak jalan menuju Jakarta.

Maksudnya bukan angkutannya disuruh cari jalur lain, tapi kita milih angkutan yang lain. Ada baiknya jika ada waktu atau agak santai mencoba alternatif angkutan lain, sekadar supaya tidak bosen, cari pengalaman atau alternatif jika jalur yang biasa bermasalah. Kalau teman saya alasannya supaya tidak bisa diketahui pola perjalanannya (sok misterius). Tapi keputusan itu dia ambil setelah kecurian laptop di mobilnya, gara-gara dihapalkan orang dia selalu naruh laptop di jok mobil depan sebelah kiri. Jadi sekarang polanya dia kadang naik mobil, kadang naik motor, kadang lewat jalan sini, kadang lewat sono, kadang naik bis, kadang naik KRL, tergantung situasi dan suasana hati.

Error in 106

Ada pengalaman saya waktu mencoba jalur pulang dari Lebak Bulus ke Depok. Waktu itu bulan puasa, dan pulang kantor lebih cepat. Sampai di Terminal Lebak Bulus, timbul keinginan untuk mencoba angkot 106 tujuan Parung. Jalur standar naik Deborah kecil, tapi ya gitu itu. Namanya DEBORAH, ya pasti DEkil, BObrok dan geRAH. Mumpung agak sore,  saya naik saja angkot 106 yang sudah terisi banyak, langsung jalan. Tapi… baru jalan beberapa meter sudah dihadang kemacetan parah, nyaris tak bergerak di Pasar Jumat ke arah Cirendeu. Sudah telanjur, nikmati aja. Sampai Pondok Cabe, penumpang mulai banyak turun. Hari sudah gelap. Akhirnya cuma saya yang turun di Parung, kemudian lanjut angkot D-03 arah Depok (harusnya turun di Bojongsari, tapi gimana lagi namanya knowless, coba-coba). Sampe rumah, orang-orang sudah pulang sholat Terawih. Jadi pilihan trial & error mencoba jalur alternatif itu hasilnya gagal, alias error (bayarnya mahal lagi). Baru setahun kemudian saya tahu jalur itu efektif jika pagi hari, tapi arah berlawanan (dari Parung ke Lebak Bulus) karena angkot 106 itu memasuki jalur cepat pondok cabe (dia masuk jalur kanan melawan arus. Jika tidak, penumpang bisa protes). Lain jam, beda efektivitasnya.

Error in Pondok Labu, & try again

Agak trauma dengan pengalaman error itu, saya jadi agak berhati-hati dengan trial & error. Namun godaan selalu ada karena di depan hidung ada angkot Pondok Labu-Pasar Jumat, dan angkot 02 Ciputat-Pondok Labu yang warnanya putih. Sebelum mencoba jalur Pondok Labu, saya kumpulkan informasi. Sebenarnya daerah itu sudah familiar, karena itu jalur saya bila memakai kendaraan pribadi. Info yang saya dapatkan :

1. Jalur Fatmawati selalu macet

2. Angkot KWK S-16 dari Pondok Labu ke Depok (Mampang) tidak ‘ngalong’, alias cuma sampai jam 7.

3. Angkutan alternatif dari Pondok Labu ke Depok adalah 105 yang lewat Gandul (ini sudah sering saya coba, tapi jalurnya muter-muter).

4. Ongkos Angkutan ke Pondok Labu Rp 3.000, S-16 Rp 4.000

Citra dari Google Maps saya unduh :

Areal Pondok Labu

Ok, dengan informasi itu maka saya putuskan naik angkot Pasar Jumat ke Pondok Labu. Sialnya, saya lupa kalau jalur Arteri Pondok Indah macet berat. Jadi hampir satu jam baru bisa mencapai Pasar Jumat. Saat itu sudah jam 6. Sampai ke Pondok Labu, tidak saya jumpai S-16, saya tanyakan ke sopir angkot-angkot disana katanya sudah habis (padahal belum jam 7). Dan disitu (depan Pasar Pondok Labu/ terminal bayangan II) gak ada angkot 105. Ya udah, saya naik 114 ke Cinere, kemudian lanjut 110 ke Depok. Jadi muter-muter, kesimpulannya : Error. Gagal.

Penasaran….  Seminggu kemudian saya lihat ada angkutan 02, Ciputat – Pondok Labu sedang berlabuh di perempatan Poinsquare, langsung aja saya naiki. Jalan gak seberapa macet, sampai Fatmawati baru terasa macet. Apalagi memasuki jalan menuju perempatan DDN Pondok Labu. Tampak 105 bertebaran di terminal bayangan I. Jalan macet banget hanya bisa dilalui 1 mobil.

Kemudian di perempatan DDN Pondok Labu, tampak angkot S-16 yang menyolok karena merah warnanya bertengger menunggu penumpang. Saat itu pukul 18.30.

S16 di Perempatan DDN

Oh, disini rupanya si S-16 kalau malam. Rupanya sopir angkot-angkot itu pada nggak ngerti apa pura-pura ya waktu saya tanya di trial & error pertama di Pondok Labu? makanya gak ada S-16 disana. Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan, dan hasil trial & error ini berhasil. Lain kali saya mau jalan aja menuju perempatan DDN, macet, lebih cepat kalau jalan kaki. Kalau gak ada S-16, bisa naik 105 ke perempatan Grogol-Cinere oper 110, lebih cepat.

Jalur angkot di jalan perkampungan/perumahan lebih santai, dan duduknya tidak seperti di bis. Interaksi dengan sopir lebih dekat sehingga terbuka kesempatan menjalin hubungan dengan sopir, eh, nggakkk… maksudnya mencari info lebih, agar blog ini lebih kaya isinya.

Selama ini saya hanya melihat jembatan transit antar halte busway di sekitar Plaza Semanggi. Melihatnya saja sudah bingung dan penasaran, kok kelihatannya jembatannya banyak sekali dan saling sliweran diatas. Rasa penasaran itu terpaksa disimpan sampai ada kesempatan.

Akhirnya tiba waktunya saya harus ikut training di Hotel Bidakara. Seperti biasa, jika lokasinya ada di jalur utama Jakarta, andalan saya tentu saja Busway dikombinasi dengan KRL. Dari Depok, saya naik KRL ekonomi AC (soalnya hanya Ekonomi AC yang berhenti di Cawang, kalo ekspres kebanyakan bablas). Dari stasiun Cawang, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa halte busway yang didepan stasiun itu (Halte Cikoko) putus, tidak nyambung ke seberang. Jadi maksud saya mau naik koridor 9 ke arah Pancoran harus ‘ikut arus’ dulu untuk pindah kesisi sebaliknya, atau jalan ke halte lain di Tebet BKPM. Segera saya lihat jam tangan, masih kepagian 40 menit. Segera handset andalan, Garmin Asus A50, handset android bersenjata Navigasi Garmin saya suruh menghitung rute ‘pedestrian mode’  ke arah Bidakara.

Calculating… jarak 1,4 km. Kemarin saya tarik via google map 2,1 km. Jelas beda, saya udah jalan keluar stasiun, jadi Garmin menarik garis dari posisi saya saat ini, yang sudah bergerak kearah pancoran. Dengan trek lurus dan landai, saya hitung kecepatan saya bisa saya kebut 4 km/jam, jadi paling banter 30 menit sudah sampai tujuan. Kecepatan ini lebih tinggi daripada hari kemarin saya naik kendaraan dari Kalibata ke Pancoran, dengan jarak yang hampir sama (2,2 km) ditempuh dalam waktu 1 jam karena macet luarbiasa. Sampai di Bidakara, saya udah dapat keringat. Lumayan, soalnya kalo disuruh olahraga malas banget, lagipula keringat saya gak bau.

Sampai siang harinya saya harus balik ke kantor soalnya ada RUPS, materi RUPS di saya. Saya hitung lagi, kalau naik taksi, melewati jalan Gatot Subroto yang sudah bebas 3 in 1 gini bisa tekor di waktu dan dompet (dan orang-orang kantor pasti udah jengkel tahu saya naik bis dan tiba ‘on time’). Jadi busway koridor 9 transit koridor 1 menjadi andalan lagi dengan jalur sterilnya. Aplikasi “Komutta” di Garmin Asus A50 segera in action lagi, menunjukkan bahwa saya harus transit di Halte Semanggi ke Halte Benhil. Bus Transjakarta Gandeng merah kuning (komodo) dengan mantap melintas diantara kemacetan yang mengular di sekitaran bundaran Semanggi. Waw… akhirnya kujejakkan kakiku di transit busway terpanjang di Indonesia itu.

Halte Busway Semanggi

Sampai diatas jembatan penyeberangan busway, pemandangan eksotik. Saya jepret kamera dari hape, sayangnya saya tidak sadar ada tiang jembatan yang menghalangi. Ya udah, perjalanan dilanjutkan ke halte Benhil, untuk pindah koridor 1 menuju Blok M. Saya perkirakan jaraknya lebih dari 500 meter, tapi saya enjoy saja dengan perjalanan itu, karena view dari situ bagus (gak ada deh selain Jakarta) seakan-akan sudah di kota modern yang tertata rapi.

langkah-langkah transit

Ada yang pernah menghitung jaraknya dengan langkah kaki di blog ini. Saya lupa mengaktifkan GPS untuk mencatat track saya.  Setidaknya kalau kondisinya bersih dan terjaga, nyaman juga berjalan disini. Kalau bicara waktu, saya kira asyik juga kalo kita biasa pake transit halte ini, karena kalo ikut fitness kita pakai waktu khusus (ada yang bilang mengurangi waktu dengan keluarga), kita pakai waktu perjalanan dari / ke kantor. Pasti semua sepakat, daripada macet, mendingan jalan. Tapi kalau saya maksudkan ‘jalan’ disini bener-bener jalan kaki, pasti ada yang pada emoh, mendingan duduk di kendaraan kejebak macet.

Cuma saya nggak tahu gimana jalan di transit halte ini kalau pas hujan ya? ada yang mau sharing?

Melanjutkan tulisan mengenai hitung-hitungan biaya transportasi para penglaju (komuter) di Jakarta, berikut saya tampilkan lagi tabel perbandingan mengenai biaya transpor, karena banyak yang penasaran dengan model perhitungan biaya yang saya tampilkan terdahulu.

Kali ini lebih detail, residual value saya tampilkan. Konsekuensinya, saya juga memasukkan biaya servis besar dan asuransi. Asuransi? ya, soalnya tidak memasukkan biaya kerusakan dan biaya lain yang bersifat insidental. Residual value itu nilai sisa, jadi pada saat kendaraan telah melewati masa ekonomisnya (saya asumsikan di sini 5 tahun), mempunyai nilai pasar sebesar itu. Saya memakai asumsi inflasi 5%, tingkat penyusutan sepeda motor lebih tinggi daripada mobil (karena dipakai melebihi pemakaian normal), dan di-present value-kan.

calculation of transport cost (advanced)

calculation of transport cost (advanced)

Masih memakai contoh yang sama seperti tulisan terdahulu, perjalanan sehari dari Depok ke Slipi p.p., (kurang lebih 60 km p.p.).  Hasilnya masih sama, yang termurah tetap Bis Patas non AC, termahal mobil. Namun biayanya untuk mobil dan sepeda motor agak turun, karena penyusutannya sudah dikurangi residual value.

Memang biaya sepeda motor bisa turun ke peringkat 3 termahal apabila asuransi tak dimasukkan. Namun ya itu tadi, saya tidak memasukkan biaya insidental, jadi sebagai gantinya ya asuransi.

Sekarang dengan biaya seperti itu, saya coba masukkan dalam tabel proporsi biaya vs gaji :

Kalau saya pake hitung-hitungan bisnis, biaya transportasi yang lazim di dunia bisnis adalah 13%.  Jadi melihat tabel itu, mobil small MPV cocoknya memang dipake oleh mereka yang berpenghasilan sekitar Rp 30 juta keatas. Bahkan sepeda motor pun harusnya cocok dipake untuk yang berpenghasilan diatas Rp 5 juta.

Lantas kenapa kendaraan pribadi banyak sekali di Jakarta? apa penghasilan mereka memang setinggi itu?

Ok, itu kan dunia. Kalo di Indonesia, mengingat infrastruktur yang ada, rata-rata biaya transport 30%, jadi yang berpenghasilan diatas Rp 10 juta masih merasa cocok memakai mobil. Lha wong tetangga saya yang gajinya segitu aja bisa pake mobil, masa saya nggak, begitu pikiran kita semua. Juga motor dipikir bisa dipake untuk yang berpenghasilan mulai Rp 2,5 juta. Yang membantu hal ini adalah banyak dan mudahnya pembiayaan untuk kepemilikan kendaraan bermotor. Wah, kalau beban bunga saya masukkan, makin melonjak biaya transport untuk kendaraan pribadi itu.

Dengan makin macetnya Jakarta, makin mahalnya BBM dan Pajak Kendaraan Bermotor, bisa-bisa bangkrut di jalan, terutama untuk kendaraan pribadi.

going to JKT

going to JKT

Namun ini yang menjengkelkan, lagi-lagi ujungnya minta penghasilan dinaikkan, artinya standar gaji di Jakarta makin tinggi (meskipun menyedot sumber daya dari daerah), yang lagi-lagi hasilnya makin menarik banyak orang untuk kerja di Jakarta. Artinya tambah macet lagi.

Kayak lingkaran setan ya? tapi banyak yang enjoy kok, apa memang semua sudah jadi setan?