Breaking News : Jadwal Single Operation yang akan dijalankan per 2 Juli 2011 dapat dilihat di sini

Setelah ditunda penerapannya pada Maret 2011 kemarin, single operation untuk KRL rencananya akan diterapkan pada Juli 2011. Kemarin ditunda alasannya karena kurangnya sosialisasi. Memang perubahannya banyak sekali, bahkan mengagetkan bagi yang sudah profesional menggunakannya.

Berikut peta rute KRL saat ini (pra single operation) :

Rute Pra Single line KRL

Rute Pra Single line KRL

dalam rute-rute utama itu, terdapat banyak pecahan rute juga, sehingga rute-rute KRL sangat banyak. Nah, dalam single operation nanti, hanya ada 5 rute, dan juga rute lingkar, sehingga rutenya nanti kemungkinan besar jadi seperti ini :

Rute Single Operation KRL

Rute Single Operation KRL

Lihat, jadi simple kan?

Tunggu, simple bagi operator. Lha bagi penggunanya apakah sesimple itu, ataukah malah jadi sempel (gilabahasa suroboyo)?

Mari menjadi pengamat KRL.

1. Info Perubahan Jadwal dan Rute

Sampai saat ini saya tidak melihat jadwal dan rute yang nanti akan diterapkan Juli 2011, pada media yang diakses banyak orang, baik di stasiun maupun situs resmi KRL. Jadi saya tidak bisa merencanakan, menghitung dan memperkirakan perjalanan jauh-jauh hari. Misalnya juga apakah masih ada KRL berhenti di Gambir, karena sudah tidak ada lagi KRL ekspres?

2. Beban Rute

Coba lihat rute 1 (Bogor). Rute tersebut melintasi Manggarai, Sudirman (dukuh atas), Tanah Abang, Duri, Pasar Senen, Jatinegara. Bayangkan beratnya beban penumpang yang menaiki KRL itu, bila sebelumnya dipecah dengan tujuan Tanahabang dan Jakarta Kota, maka artinya semua akan jadi satu rute itu. Yang harus diingat, kepadatan tiap-tiap stasiun berbeda. Pada jam berangkat kerja, tujuan utama kebanyakan adalah Stasiun Sudirman, Stasiun Senen, dan stasiun-stasiun dari Manggarai ke Kota (Cikini, Gondangdia, Gambir, sampai ke Kota).

3. Transit

Dengan cuma 5 rute, maka banyak tujuan yang sekarang tidak kesampaian, contohnya rute Bogor, tujuan Gondangdia. Mau nggak mau harus turun di Manggarai, untuk transit ke rute 5 (KRL dari Bekasi menuju Jakarta Kota). Modelnya jadi kayak busway, harus pindah-pindah bis, eh KRL.

4. Waktu tempuh

Karena hanya dengan 5 rute, tentunya akan menambah waktu lama, misalnya untuk transit, menunggu KRL atau karena tak adanya ekspres jadi gak bisa langsung.

5. Biaya

Ini yang gak jelas, apakah transit KRL seperti busway, jadi gak bayar lagi ataukah harus bayar lagi. Cuma logikanya kalo harus bayar lagi jadi tambah biaya dong, jelas gak ekonomis dan merepotkan harus beli tiket, bisa-bisa ketinggalan KRL. Penurunan tarif dari ekspres ke kereta single operation tidak banyak berpengaruh bagi misalnya yang dari Depok. Biasanya ekpres memang sudah Rp 9.000. Lha ini dengan tarif sama, waktunya jadi lebih lama. Bahkan sebenarnya harganya naik, karena setara dengan Ekonomi AC dulu cuma Rp 5.500, sekarang jadi Rp 9.000.

6. Kalibrasi

Dengan sistem transit, jelas jadwal harus dikalibrasi antar rute. Contoh masih sama, jadwal dari rute 1 Bogor menuju Gondangdia, misalnya jam 6.30 sampai Manggarai, menunggu rute 5 tujuan Kota. Harus dikalibrasi bahwa jadwal rute 5 itu sampai Manggarai misalnya jam 6.35. Jadi nunggu 5 menit masih OK-lah. Jangan dibuat misalnya rute 5 baru datang jam 7.00.  Masa nunggu setengah jam?

7. Presisi

Dengan kalibrasi rute itu, maka presisi antar jadwal sangat menentukan. Contohnya ya tadi, rute 1, Bogor mau ke Gondangdia, jadi turun di Manggarai, nunggu rute 5 (KRL Bekasi tujuan Kota). Jadwal normal KRL rute 5 baru datang 3 menit kemudian. Kalo kereta rute 1 itu udah telat  5 menit aja, lewat deh…. bisa telat masuk kantor nih nunggu KRL selanjutnya.

8. Kereta udah penuh dari tujuan

Ini masalah transit. Contohnya masih sama,  rute 1, Bogor mau ke Gondangdia, turun di Manggarai, nunggu rute 5 (KRL Bekasi tujuan Kota). Kereta rute 5 tujuan Kota itu pastinya udah penuh dari Bekasi. Mau maksa naik? apa mau diatap? kalo nunggu KRL berikutnya ada jaminan gak telat? Satu hal mendasar yang perlu diingat : hanya ada satu jam tujuh pagi dan jam 5 sore dalam satu hari, dimana orang sama-sama berangkat kerja dan pulang kerja.

9. Merepotkan, membingungkan

Transit di stasiun tak semudah di halte busway. KRL tak punya warna khusus atau tulisan khusus (kayak busway), di stasiun juga tak ada pintu-pintu khusus tujuan seperti busway, juga bercampur dengan kereta api jarak jauh. Satu hal lagi, stasiun lebih besar dan jarak antar spoor bisa berjauhan (di Jakarta Kota aja ada 12 jalur spoor). Juga bagaimana dengan orang cacat, ibu hamil, orang tua yang harus pindah-pindah kereta, repot, bingung dan bisa berbahaya apabila tergesa-gesa. Sebenarnya KRL eks Jepang ini ada tulisan digitalnya di gerbong,

10. Rawan dan berisiko bila ada trouble

Karena sistem single operation gak bisa nyalib, dan sistem transit, maka kalo ada touble di salah satu rute bisa kacau penumpang. Ingat, ini dari sudut pandang penumpang. masih contoh yang tadi, kalo jalur 5 trouble di Bekasi, misalnya, nunggu di Manggarai pun jadi kacau, maklum KRL nya masih di Bekasi. Gak mungkinlah nyuruh masinis rute 1 belok ke Gondangdia.

Memang dari sisi operator jadi simple, dan persebaran penumpang lebih merata. Pendapatan diharapkan juga naik (lha Ekonomi AC dihapus, tarif jadi naik dong, mengimbangi KRL ekspres yang turun dikit). Yang ngeri kalo jumlah keretanya tidak sebanyak yang diperlukan, terutama pada jam sibuk.

Wah, saya lihat saja deh ujicobanya dulu…

Komentar
  1. upin syapira mengatakan:

    peta krl adalah peta yang alami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s