Apa sih yang di jadikan pertimbangan dalam memilih moda transportasi sehari-hari?

Ada yang bilang biaya. Ada yang bilang kecepatan. Ada yang bilang Kenyamanan, dan fleksibilitas. Ada yang bilang keamanan.

Jadi mana yang bener???

Jawabnya ya bener semua. Ini dilihat dari sudut pandang siapa. Sebagai bahan renungan, mari kita lihat tabel berikut mengenai perbandingan biaya :

calculation of transport cost

calculation of transport cost

Tabel itu itung-itungan sederhana berdasar pengalaman pribadi saya sendiri dari Depok ke daerah Slipi (kurang lebih 30 km).  Sengaja saya masukkan Capex (capital expenditure), karena biasanya ini yang lupa diperhitungkan, yaitu biaya perolehan barang modal (kendaraan bermotor), yang saya buat dengan metode penyusutan dengan kilometer normal selama 5 tahun. Emangnya pake motor pemberian bokap? enggak lah yaw, pake keringat sendiri. Asumsinya beli tunai, gak pakai nyicil.

Sedangkan Opex (Operating expense) lebih mudah. Itu adalah pengeluaran operasional sehari-hari. BBM yang dipake ya yang tanpa subsidi, pertamax, lha wong sudah mampu ngenet dan bikin blog, bisa beli mobil dan motor tanpa nyicil (kalo nyicil, saya harus masukkan beban bunga leasing dong). Biaya servis juga cuma servis rutin saja, dibagi per kilometer normal, tidak termasuk servis besar dan kemungkinan perbaikan non rutin (hal itu saya kompensasikan dengan tak adanya nilai sisa/residual value untuk kendaraan). Kalo retribusi & perijinan hanya biaya PKB tahunan yang dibagi per hari. Yang tidak dimasukkan adalah biaya asuransi (biasanya di Jakarta mobil pake itu), juga biaya lisensi mengemudi (SIM).

Sedangkan untuk moda angkutan umum, tiket itu tiket p.p., termasuk ongkos angkot dari/ke terminal dan stasiun.

Dari tabel itu terlihat kalo yang paling murah naik bis patas non AC, dan yang termahal adalah naik mobil pribadi. Jadi kalo pertimbangannya biaya, ya sudah jelas pilihannya. Saya jadi mikir dengan biaya mobil seperti itu, apa gak mendingan naik taksi aja ya, kan mirip-mirip tuh, nggak capek, udah punya sopir.

Namun coba lihat tabel berikut, yang akan merumitkan suasana. Di Jakarta faktor waktu adalah yang paling krusial.

Cost of Time

Cost of Time

Disini terlihat angkutan paling murah tadi ternyata juga yang paling lama. Khusus untuk bis, saya tambahkan waktu tunggu karena jadwalnya gak pasti, harus nunggu di jalan dulu. Rekor tercepat dipegang oleh KRL Ekspres. Jadi bermurah-murah disini artinya benar-benar sampai puas pakainya (emang mau? bukan puas, tapi sampai muak di jalan).

Nah, kalo ada yang bicara masalah keamanan, mungkin tabel di bawah bisa sedikit memberikan gambaran :

Transport Accident

Transport Accident

Data yang dipakai dari Kompas.com, dan Detik.com, tahun 2010. Dari tabel tersebut tabrakan antar KRL memang tak pernah terjadi. Sedangkan Sepeda Motor menduduki ranking 1. Tapi bila dirujuk ke jumlah sepeda motor yang dipunyai penduduk Jakarta, adalah sekitar 8 juta, asumsi dari jumlah tersebut yang dipakai turun ke jalan sebesar 40%, dan dipakai pulang pergi, maka hasilnya adalah sekitar 6,4 juta penggunaan, maka rasio kecelakaan yang 21 kali sehari itu relatif kecil, jika dibandingkan dengan kecelakaan di angkutan umum, yang beroparasi mencapai 8000-an rit sehari, dengan 4 kali kecelakaan perhari. Namun kecelakaan yang dialami motor kebanyakan fatal dan memakan korban jiwa, maklum sarana pelindungnya minim. Bila dibandingkan dengan bis, terutama bis patas AC, tingkat kefatalan lebih rendah karena kecepatan relatif rendah, bodi dan bemper gede, dan kalaupun terjadi kecelakaan, yang celaka adalah lawan transaksinya, eh lawan tabrakannya.

Bagaimana dengan kenyamanan? ok, lihat tabel mengenai fasilitas ini:

Comfortness

Comfortness

Yang paling nyaman dengan segala fasilitas itu adalah mobil. Untuk musik ini saya putuskan adalah perangkat audio, jadi ngamen dan earphone gak termasuk (kalo dimasukkan, semua bisa full musik dong).

OK, mari kita lihat tingkat fleksibilitas masing-masing moda transport :

Flexibility

Flexibility

Jelas memakai sepeda motor paling luwes. Mau berhenti di warung OK. Mau menyelinap di gang OK. Bahkan kalo mau dan boleh, bisa naik trotoar, naik jembatan penyeberangan, sampe naik lift. Dan KRL dari jalurnya aja udah jelas paling kaku, punya sistem, rute dan jadwal.

Dengan melihat tabel tersebut diatas, tiap-tiap faktor bisa menghasilkan pemenang yang berbeda-beda. Yang biasa dilakukan adalah kombinasi, jadi pulang/perginya bisa beda moda. Contohnya berangkat naik KRL, pulang naik bis, atau sebaliknya. Juga bisa naik motor ke stasiun, lalu naik KRL.  Ada juga yang berangkat naik motor, pulang naik mobil (curanmor kali??).

Namun dengan mengamati pola yang ada, khususnya di kelas menengah, faktor biaya tidak menjadi bahan pertimbangan. Yang diperhatikan adalah kecepatan. Maka tidak heran okupansi KRL ekspres makin lama makin meningkat, meskipun biayanya mahal, beda tipis dengan nomor dua setelah biaya penggunaan mobil. Gak apa-apalah mahal dikit, asal cepat. Mau naik helikopter gak mampu, juga takut ketinggian.

Banyaknya perpindahan para pekerja kelas menengah dari mobil pribadi ke KRL sangat dimungkinkan sepanjang KRL Ekspres konsisten menjaga presisi waktunya dan kenyamanan ditambah. Namun dengan adanya rencana Single Operation KRL, yang dipastikan akan menambah waktu dan mengurangi kenyamanan, dikhawatirkan akan menambah lebar jurang perbedaan antara pengguna kendaraan pribadi ke Transportasi Umum.

komuter di stasiun dukuh atas. mayoritas pekerja kelas menengah

komuter di stasiun dukuh atas. mayoritas pekerja kelas menengah

Pekerja kelas menengah ini yang memainkan peranan dalam transportasi Jakarta. Mereka umumnya dulu berasal dari kalangan bawah (jadi masih ada sisa mental kere-nya), yang kemudian naik status sosialnya karena pendidikan. Mereka umumnya profesional yang mengutamakan pekerjaan dan keluarga, sehingga waktu untuk kerja dan keluarga yang utama, artinya jumlah waktu di jalan harus diminimalkan. Mereka juga tak segan bersusah payah sedikit mengurangi kenyamanan (asal nggak kebangetan) karena dasarnya pernah menjadi kelas bawah, eh maksudnya pernah menjadi pengguna angkutan umum.

Yang terakhir, pilihan memang bergantung pada pemakai/pengguna. Enjoy yang mana. Ada yang enjoy naik mobil, biarpun macet dan mahal gak peduli, sudah biasa. Ada juga yang lebih suka naik angkot. Tapi itu bagi golongan yang mampu pilih.

Yang paling mengenaskan adalah bila tidak punya pilihan lain, misalnya harus naik angkutan umum, karena gak punya kendaraan pribadi atau gak bisa nyetir, dan tidak enjoy. Walah, ya jangan hidup di Jakarta. Enjoy aja, naik angkutan umum itu gak seburuk yang ente kira, namun lebih buruk. Eh nggak, kok, bercanda. Kalo gak percaya, lihat tulisan-tulisan di blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s