Melanjutkan tulisan mengenai hitung-hitungan biaya transportasi para penglaju (komuter) di Jakarta, berikut saya tampilkan lagi tabel perbandingan mengenai biaya transpor, karena banyak yang penasaran dengan model perhitungan biaya yang saya tampilkan terdahulu.

Kali ini lebih detail, residual value saya tampilkan. Konsekuensinya, saya juga memasukkan biaya servis besar dan asuransi. Asuransi? ya, soalnya tidak memasukkan biaya kerusakan dan biaya lain yang bersifat insidental. Residual value itu nilai sisa, jadi pada saat kendaraan telah melewati masa ekonomisnya (saya asumsikan di sini 5 tahun), mempunyai nilai pasar sebesar itu. Saya memakai asumsi inflasi 5%, tingkat penyusutan sepeda motor lebih tinggi daripada mobil (karena dipakai melebihi pemakaian normal), dan di-present value-kan.

calculation of transport cost (advanced)

calculation of transport cost (advanced)

Masih memakai contoh yang sama seperti tulisan terdahulu, perjalanan sehari dari Depok ke Slipi p.p., (kurang lebih 60 km p.p.).  Hasilnya masih sama, yang termurah tetap Bis Patas non AC, termahal mobil. Namun biayanya untuk mobil dan sepeda motor agak turun, karena penyusutannya sudah dikurangi residual value.

Memang biaya sepeda motor bisa turun ke peringkat 3 termahal apabila asuransi tak dimasukkan. Namun ya itu tadi, saya tidak memasukkan biaya insidental, jadi sebagai gantinya ya asuransi.

Sekarang dengan biaya seperti itu, saya coba masukkan dalam tabel proporsi biaya vs gaji :

Kalau saya pake hitung-hitungan bisnis, biaya transportasi yang lazim di dunia bisnis adalah 13%.  Jadi melihat tabel itu, mobil small MPV cocoknya memang dipake oleh mereka yang berpenghasilan sekitar Rp 30 juta keatas. Bahkan sepeda motor pun harusnya cocok dipake untuk yang berpenghasilan diatas Rp 5 juta.

Lantas kenapa kendaraan pribadi banyak sekali di Jakarta? apa penghasilan mereka memang setinggi itu?

Ok, itu kan dunia. Kalo di Indonesia, mengingat infrastruktur yang ada, rata-rata biaya transport 30%, jadi yang berpenghasilan diatas Rp 10 juta masih merasa cocok memakai mobil. Lha wong tetangga saya yang gajinya segitu aja bisa pake mobil, masa saya nggak, begitu pikiran kita semua. Juga motor dipikir bisa dipake untuk yang berpenghasilan mulai Rp 2,5 juta. Yang membantu hal ini adalah banyak dan mudahnya pembiayaan untuk kepemilikan kendaraan bermotor. Wah, kalau beban bunga saya masukkan, makin melonjak biaya transport untuk kendaraan pribadi itu.

Dengan makin macetnya Jakarta, makin mahalnya BBM dan Pajak Kendaraan Bermotor, bisa-bisa bangkrut di jalan, terutama untuk kendaraan pribadi.

going to JKT

going to JKT

Namun ini yang menjengkelkan, lagi-lagi ujungnya minta penghasilan dinaikkan, artinya standar gaji di Jakarta makin tinggi (meskipun menyedot sumber daya dari daerah), yang lagi-lagi hasilnya makin menarik banyak orang untuk kerja di Jakarta. Artinya tambah macet lagi.

Kayak lingkaran setan ya? tapi banyak yang enjoy kok, apa memang semua sudah jadi setan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s