Selama ini saya hanya melihat jembatan transit antar halte busway di sekitar Plaza Semanggi. Melihatnya saja sudah bingung dan penasaran, kok kelihatannya jembatannya banyak sekali dan saling sliweran diatas. Rasa penasaran itu terpaksa disimpan sampai ada kesempatan.

Akhirnya tiba waktunya saya harus ikut training di Hotel Bidakara. Seperti biasa, jika lokasinya ada di jalur utama Jakarta, andalan saya tentu saja Busway dikombinasi dengan KRL. Dari Depok, saya naik KRL ekonomi AC (soalnya hanya Ekonomi AC yang berhenti di Cawang, kalo ekspres kebanyakan bablas). Dari stasiun Cawang, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa halte busway yang didepan stasiun itu (Halte Cikoko) putus, tidak nyambung ke seberang. Jadi maksud saya mau naik koridor 9 ke arah Pancoran harus ‘ikut arus’ dulu untuk pindah kesisi sebaliknya, atau jalan ke halte lain di Tebet BKPM. Segera saya lihat jam tangan, masih kepagian 40 menit. Segera handset andalan, Garmin Asus A50, handset android bersenjata Navigasi Garmin saya suruh menghitung rute ‘pedestrian mode’  ke arah Bidakara.

Calculating… jarak 1,4 km. Kemarin saya tarik via google map 2,1 km. Jelas beda, saya udah jalan keluar stasiun, jadi Garmin menarik garis dari posisi saya saat ini, yang sudah bergerak kearah pancoran. Dengan trek lurus dan landai, saya hitung kecepatan saya bisa saya kebut 4 km/jam, jadi paling banter 30 menit sudah sampai tujuan. Kecepatan ini lebih tinggi daripada hari kemarin saya naik kendaraan dari Kalibata ke Pancoran, dengan jarak yang hampir sama (2,2 km) ditempuh dalam waktu 1 jam karena macet luarbiasa. Sampai di Bidakara, saya udah dapat keringat. Lumayan, soalnya kalo disuruh olahraga malas banget, lagipula keringat saya gak bau.

Sampai siang harinya saya harus balik ke kantor soalnya ada RUPS, materi RUPS di saya. Saya hitung lagi, kalau naik taksi, melewati jalan Gatot Subroto yang sudah bebas 3 in 1 gini bisa tekor di waktu dan dompet (dan orang-orang kantor pasti udah jengkel tahu saya naik bis dan tiba ‘on time’). Jadi busway koridor 9 transit koridor 1 menjadi andalan lagi dengan jalur sterilnya. Aplikasi “Komutta” di Garmin Asus A50 segera in action lagi, menunjukkan bahwa saya harus transit di Halte Semanggi ke Halte Benhil. Bus Transjakarta Gandeng merah kuning (komodo) dengan mantap melintas diantara kemacetan yang mengular di sekitaran bundaran Semanggi. Waw… akhirnya kujejakkan kakiku di transit busway terpanjang di Indonesia itu.

Halte Busway Semanggi

Sampai diatas jembatan penyeberangan busway, pemandangan eksotik. Saya jepret kamera dari hape, sayangnya saya tidak sadar ada tiang jembatan yang menghalangi. Ya udah, perjalanan dilanjutkan ke halte Benhil, untuk pindah koridor 1 menuju Blok M. Saya perkirakan jaraknya lebih dari 500 meter, tapi saya enjoy saja dengan perjalanan itu, karena view dari situ bagus (gak ada deh selain Jakarta) seakan-akan sudah di kota modern yang tertata rapi.

langkah-langkah transit

Ada yang pernah menghitung jaraknya dengan langkah kaki di blog ini. Saya lupa mengaktifkan GPS untuk mencatat track saya.  Setidaknya kalau kondisinya bersih dan terjaga, nyaman juga berjalan disini. Kalau bicara waktu, saya kira asyik juga kalo kita biasa pake transit halte ini, karena kalo ikut fitness kita pakai waktu khusus (ada yang bilang mengurangi waktu dengan keluarga), kita pakai waktu perjalanan dari / ke kantor. Pasti semua sepakat, daripada macet, mendingan jalan. Tapi kalau saya maksudkan ‘jalan’ disini bener-bener jalan kaki, pasti ada yang pada emoh, mendingan duduk di kendaraan kejebak macet.

Cuma saya nggak tahu gimana jalan di transit halte ini kalau pas hujan ya? ada yang mau sharing?

Komentar
  1. zaqlutv mengatakan:

    halte plaza semanggi yach? hmm.. nanti pas pulang kampung liat ah..
    eh itu skrg udah ada bis trans yang gandeng yach? udah lama?

    • andrefeb mengatakan:

      bis gandeng kayaknya udah ada sejak 2008, dulu saya pertama naik dari ancol. sekarang banyak kelihatan di gatot subroto. katanya bis gandeng dipake untuk koridor yg tracknya gak banyak belok (lurus-lurus)

  2. zaqlutv mengatakan:

    ooooo gitu….
    lhaaaa aye sejak 2008 jarang pulang kampung:mrgreen: 2009 sih sempet pulang tapi cuma sebentar..

  3. Ori mengatakan:

    Sebenarnya kalau dari Stasiun Cawang mau naik bus Transjakarta arah Pancoran, jangan langsung naik tangga keluar stasiun, tapi jalan dulu menyusuri terowongan dibawah jalan Gato Subroto baru nanti naik tangga keluar di sisi gedung Menara Saidah, baru naik tangga penyebrangan lagi menuju halte bus Transjakarta arah Pancoran

  4. praditya mengatakan:

    kpung mlayu pulo gebng pigir nya cet kuning nya nyala

  5. nisa mengatakan:

    ke hotel bidakara turunnya di halte apa ya?

    • andrefeb mengatakan:

      Bisa di halte tugu pancoran. Atau kalo gak berani di pancoran krn takut arus lalu lintasnya, di halte pancoran barat. Jalan sedikit balik arah karena bidakara sudah kelewatan kalo dari arah tugu pancoran

  6. nisa mengatakan:

    saya kurang hapal daerah pancoran,takut nyasar.haha

  7. cempaka mas juga panjang berkelor kelor….

  8. rizalondri mengatakan:

    Wuihhh saya ngerasain juga …… jalan kaki di long distance bridge entuhh……
    Enak sih sebenarnya jalan disitu, nyaman. Namun perasaan itu mungkin hanya untuk yang pertama kali seperti saya, yang berkali kali apakah merasakan hal yang sama??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s