Bosan dengan keadaan seperti ini ? :

Macet di Jalur Utama

Mau gimana lagi… angkutan sehari-hari emang jalurnya lewat situ. Tapi, tunggu dulu, Siapa bilang naik angkot gak bisa milih jalur? Kalau bis/angkotnya (apalagi kalo busway atau KRL), ya susah ambil alternatif jalan. Tapi ingat ini Jakarta bung! banyak jalan menuju Jakarta.

Maksudnya bukan angkutannya disuruh cari jalur lain, tapi kita milih angkutan yang lain. Ada baiknya jika ada waktu atau agak santai mencoba alternatif angkutan lain, sekadar supaya tidak bosen, cari pengalaman atau alternatif jika jalur yang biasa bermasalah. Kalau teman saya alasannya supaya tidak bisa diketahui pola perjalanannya (sok misterius). Tapi keputusan itu dia ambil setelah kecurian laptop di mobilnya, gara-gara dihapalkan orang dia selalu naruh laptop di jok mobil depan sebelah kiri. Jadi sekarang polanya dia kadang naik mobil, kadang naik motor, kadang lewat jalan sini, kadang lewat sono, kadang naik bis, kadang naik KRL, tergantung situasi dan suasana hati.

Error in 106

Ada pengalaman saya waktu mencoba jalur pulang dari Lebak Bulus ke Depok. Waktu itu bulan puasa, dan pulang kantor lebih cepat. Sampai di Terminal Lebak Bulus, timbul keinginan untuk mencoba angkot 106 tujuan Parung. Jalur standar naik Deborah kecil, tapi ya gitu itu. Namanya DEBORAH, ya pasti DEkil, BObrok dan geRAH. Mumpung agak sore,  saya naik saja angkot 106 yang sudah terisi banyak, langsung jalan. Tapi… baru jalan beberapa meter sudah dihadang kemacetan parah, nyaris tak bergerak di Pasar Jumat ke arah Cirendeu. Sudah telanjur, nikmati aja. Sampai Pondok Cabe, penumpang mulai banyak turun. Hari sudah gelap. Akhirnya cuma saya yang turun di Parung, kemudian lanjut angkot D-03 arah Depok (harusnya turun di Bojongsari, tapi gimana lagi namanya knowless, coba-coba). Sampe rumah, orang-orang sudah pulang sholat Terawih. Jadi pilihan trial & error mencoba jalur alternatif itu hasilnya gagal, alias error (bayarnya mahal lagi). Baru setahun kemudian saya tahu jalur itu efektif jika pagi hari, tapi arah berlawanan (dari Parung ke Lebak Bulus) karena angkot 106 itu memasuki jalur cepat pondok cabe (dia masuk jalur kanan melawan arus. Jika tidak, penumpang bisa protes). Lain jam, beda efektivitasnya.

Error in Pondok Labu, & try again

Agak trauma dengan pengalaman error itu, saya jadi agak berhati-hati dengan trial & error. Namun godaan selalu ada karena di depan hidung ada angkot Pondok Labu-Pasar Jumat, dan angkot 02 Ciputat-Pondok Labu yang warnanya putih. Sebelum mencoba jalur Pondok Labu, saya kumpulkan informasi. Sebenarnya daerah itu sudah familiar, karena itu jalur saya bila memakai kendaraan pribadi. Info yang saya dapatkan :

1. Jalur Fatmawati selalu macet

2. Angkot KWK S-16 dari Pondok Labu ke Depok (Mampang) tidak ‘ngalong’, alias cuma sampai jam 7.

3. Angkutan alternatif dari Pondok Labu ke Depok adalah 105 yang lewat Gandul (ini sudah sering saya coba, tapi jalurnya muter-muter).

4. Ongkos Angkutan ke Pondok Labu Rp 3.000, S-16 Rp 4.000

Citra dari Google Maps saya unduh :

Areal Pondok Labu

Ok, dengan informasi itu maka saya putuskan naik angkot Pasar Jumat ke Pondok Labu. Sialnya, saya lupa kalau jalur Arteri Pondok Indah macet berat. Jadi hampir satu jam baru bisa mencapai Pasar Jumat. Saat itu sudah jam 6. Sampai ke Pondok Labu, tidak saya jumpai S-16, saya tanyakan ke sopir angkot-angkot disana katanya sudah habis (padahal belum jam 7). Dan disitu (depan Pasar Pondok Labu/ terminal bayangan II) gak ada angkot 105. Ya udah, saya naik 114 ke Cinere, kemudian lanjut 110 ke Depok. Jadi muter-muter, kesimpulannya : Error. Gagal.

Penasaran….  Seminggu kemudian saya lihat ada angkutan 02, Ciputat – Pondok Labu sedang berlabuh di perempatan Poinsquare, langsung aja saya naiki. Jalan gak seberapa macet, sampai Fatmawati baru terasa macet. Apalagi memasuki jalan menuju perempatan DDN Pondok Labu. Tampak 105 bertebaran di terminal bayangan I. Jalan macet banget hanya bisa dilalui 1 mobil.

Kemudian di perempatan DDN Pondok Labu, tampak angkot S-16 yang menyolok karena merah warnanya bertengger menunggu penumpang. Saat itu pukul 18.30.

S16 di Perempatan DDN

Oh, disini rupanya si S-16 kalau malam. Rupanya sopir angkot-angkot itu pada nggak ngerti apa pura-pura ya waktu saya tanya di trial & error pertama di Pondok Labu? makanya gak ada S-16 disana. Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan, dan hasil trial & error ini berhasil. Lain kali saya mau jalan aja menuju perempatan DDN, macet, lebih cepat kalau jalan kaki. Kalau gak ada S-16, bisa naik 105 ke perempatan Grogol-Cinere oper 110, lebih cepat.

Jalur angkot di jalan perkampungan/perumahan lebih santai, dan duduknya tidak seperti di bis. Interaksi dengan sopir lebih dekat sehingga terbuka kesempatan menjalin hubungan dengan sopir, eh, nggakkk… maksudnya mencari info lebih, agar blog ini lebih kaya isinya.

Komentar
  1. Reja mengatakan:

    kalo pagi2 dari depok ke pondok labu lebih cepet D 105 apa S-16 ya?
    rencananya mau coba nyambung D 02 dari pd labu ke terminal lebak bulus.. soalnya naik deborah sesak ama rada jarang berangkatnya

    • andrefeb mengatakan:

      pengalaman sih lebih cepet S16, soalnya jalannya lurus aja. kalo 105 lebih jauh & muter-muter. cuma depoknya dari mana? kalo dari terminal S16 jarang, dia ngetem di perempatan mampang (perempatan jl pramuka- kalilicin – sawangan). kalo 105 lebih banyak dari terminal. ngetem juga di pertigaan tanahbaru-raya sawangan.

      Oh ya, kalo ke lebak bulus dari pondok labu, selain D-02 bisa dicoba yang jurusan ke Pasar Jumat (angkot putih PAD). jalurnya lebih sepi (lewat karang tengah) dari pada D-02 yang lewat Fatmawati. Dari perempatan pasar jumat dijamin lebih cepat kalo mau kemana-mana, karena semua angkutan dari terminal lebak bulus lewat sana.

  2. firman pradana mengatakan:

    gan mau tanya, rencana mo ambil rumah di daerah mampang, grogol. depok. kantor saya di blok – m. saya belum tau rutenya nie. yang jalur cepat angkutan umum lewat mana. trus estimasi berapa jam dari blok m ke sana ?

    • andrefeb mengatakan:

      Jalur utama ke terminal depok naik 03, terus naik kopaja 63 atau PAC 143 (tapi jarang). Kalau mau jalur alternatif naik 110 ke cinere, terus ada metromini ke blok m. Jalur terpendek naik S16 ke pd labu, naik metromini 610 ke blok M. Estimasi ke blok M tergantung jamnya. Kalo jam sibuk bisa 2jam

      • firman pradana mengatakan:

        Oh gitu ya gan, kemaren abis dari JCC ada pameran property. Yah itu yang menarik dan paling deket yach ke mampang grogol ada lagi di perumahan cinere residence itu di jalan meruyung 300 m dari kubah mas. Kalo kata temanku itu jalannya sempit. Nah gimana menurut agan lebih deket ke mampang atau meruyung ? aksesnya lebih cepat mana dari blok M. By the way, terminal bayangan 1 posisinya di mana ? sebelum aneka buah ya ? kalo dari perampatan rs. fatmawati jauh gan ??

      • andrefeb mengatakan:

        Kayaknya itu lebih dekat ke jalur limo/meruyung/cinere daripada ke jalur mampang/krukut/ pdk labu. Jalur limo pengalaman saya angkutannya sampe malam (bahkan kalo nyambung jalur 03 bisa 24 jam) tapi padat/sering macet. Jalur mampang-pd labu lebih dekat & lebih sepi (meskipun kalo macet nightmare) punya batasan waktu tidak bisa lebih dari jam 19.45. Menurut saya akses paling cepat memang ke pd labu…

  3. bobby mengatakan:

    mau tanya nih klo dari pondok cina mau ke menara FIF yang ada di simatupang enaknya naik angkutan umum apa dari pondok cina selain naik deborah ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s