Arsip untuk Juli, 2011

Manja. Itu pikiran saya waktu pertama kali menjejakkan kaki di ibukota RI ini. Lho, manja gimana? Bukannya di Jakarta ini semua penuh perjuangan dan persaingan, bahkan hanya untuk bisa mencapai kantor. Persaingan. Kerja keras. Itu aja yang dibilang, layaknya propaganda suatu rezim otoriter. Kalo saya pikir di Jakarta itu hanya punya kelebihan sebagai pusat, bagai pusaran yang menyedot sumberdaya dari segenap penjuru, sehingga tak sempat memikirkan atau melihat yang lain. Ciri khas model kerajaan yang sentralistik.

Eh, tapi kok kayaknya malah ngompol (ngomong politik) ini.

Ok, break dulu, lihat sekitar kita. Coba lihat SPBU, tempat kendaraan membeli BBM . Sampai saat ini tenang-tenang dan aman-aman saja, bukan?

Bukan!

Jelas warga Jabodetabek dan kota-kota besar di Jawa yang bilang tenang dan aman. Coba saja search di google “BBM langka”, maka akan tampil pemberitaan mengenai kelangkaan BBM di sejumlah daerah. Meskipun sempat terjadi di Pulau Jawa, namun kelangkaan BBM umumnya terjadi di luar Pulau Jawa. Sarkastisnya, daerah penghasil minyak bumi seperti di Kaltim, Kalsel dan Riau pun menjadi pelanggan tetap kelangkaan BBM. Ini yang membuat jengkel masyarakat di daerah. Sebab kalau sudah begini, harga Bensin (premium) bisa di eceran bisa sampai 4 kali lipat harga aslinya.

peta kelangkaan BBM

Ya jangan beli di eceran… (gitu mungkin kata orang  Jakarte). Ok coy, datang aja ke pom bensin, pasti nemu keadaan begini :

antre BBM

dan sudah capek-capek berjam-jam antre, ternyata mendapatkan kenyataan seperti ini :

BBM habis

Kalau sudah begini, harga BBM patokan pemerintah udah nggak ada artinya. Di Banjarmasin, saya pernah membeli premium yang biasanya Rp 4.500 di SPBU, di eceran saya beli Rp 12.000. Mau ikut ngantri? apa nggak kerja, bisa 3 jam antre belum tentu dapat. Orang-orang bahkan bermalam di SPBU, nunggu pasokan datang. Dalam kondisi langka BBM begitu biasanya pembelian dengan jerigen dilarang.

Keadaan jadi makin parah, konflik internal terjadi antar masyarakat, soalnya ada yang memanfaatkan situasi dengan ngisi BBM full tank, lalu kendaraannya ‘kencing’ untuk dijual eceran. Angkutan kota jadi makin langka, soalnya sopir angkot lebih seneng jadi ‘trader’ BBM. Angkotnya ikut antre BBM, lali ‘kencing’, dijual ke pedagang eceran, lalu ikut antre BBM lagi. Praktis angkot itu jadi nggak beroperasi.

Banyak alasannya kenapa BBM bisa langka begitu. Semuanya simpang siur. Ada yang bilang ulah spekulan. Ada yang bilang masyarakat sendiri yang panik. Ada yang bilang ada kerusakan di kilang xxx, ada yang bilang transport BBM terganggu (karena cuaca buruk, alur dll), bahkan ada yang bilang pasokan lancar saja, dan malah heran ada kelangkaan BBM di lapangan. Dan keadaan langka BBM ini terus berulang secara rutin (bahkan ada yang bilang lebih sering langkanya daripada lancarnya).

Terus kenapa di Jakarta kok nggak ada kelangkaan BBM? masalah spekulan kan sumbernya disana. Masalah kilang dan transportasi kan sama saja, bahkan di penghasil minyak kok malah bermasalah.

Ini bukannya iri hati dengan Jakarta, sang Ibukota. Namun supaya di Jakarta itu mbok ya merasa bersyukur fasilitasnya bagaimanapun lebih baik daripada di daerah dalam hal transportasi. Pasokan BBM dijaga (jadi BBM digelontor di Jakarta untuk dibakar dalam kemacetan… sungguh hebat kerjamu nak!!!). Moda transportasi beragam. Infrastruktur sudah banyak dibangun. Ongkos transportasi dibatasi, dan relatif murah. Masalah macet, kenaikan tarif KRL, ketidaknyamanan angkutan kan konsekuensi yang harus diterima, dan suatu kerelatifan keadaan (sawang sinawang, kata orang jawa).

Kalo masalah melepas subsidi BBM, saya yakin di daerah lebih siap daripada di pusat. Wong sudah biasa beli bensin premium yang lebih mahal daripada pertamax plus kok. Masalahnya, pengambil kebijakan kan di Jakarta. Jadi yang nggak siap itu sebenarnya pengambil kebijakan itu sendiri.

Lho, kan saya sudah tinggal di Jakarta? ngapain saya buat tulisan yang mikirin daerah gini?

Menyambung tulisan sebelumnya, bila tulisan-tulisan sebelumnya masih seputar Jakarta, kali ketiga ini saya mau ajak jalan keluar Jakarta. Apa Jakarta sudah habis? belum… banyak yang masih bisa dieksplorasi lagi (saya tidak akan membahas ‘wisata’ mall), tapi karena sudah jenuh, mari kita keluar Jakarta. Tapi ya belum jauh-jauh, karena masih seputar Jabodetabek (tepatnya, Bogor dan Depok).

1. Taman Safari Indonesia – Cisarua

Tempat ini kayaknya favorit banget, mengingat begitu macetnya jalan menuju kesana. Jaraknya sekitar 78 Km dari Jakarta, 20 Km dari Bogor, dan 80 Km dari Bandung, kearah Puncak.

Kayaknya kalo kesana naik mobil semua. Tapi bisa kok naik angkutan umum kesana, cuma memang perjuangannya lebih banyak, karena banyak oper-oper dan merupakan angkutan pedesaan/antar kota.

Dari Jakarta harus ke Bogor dulu. Misalnya  dari terminal Lebak Bulus naik  Bis Agra Mas ke Bogor, dengan tujuan Terminal Baranangsiang. Kalo naik KRL, turun Stasiun Bogor, lanjut dengan angkot 03 (Bubulak – Baranangsiang). Dari Barangsiang kemudian naik  angkot 01 (jurusan Baranangsiang – Ciawi) transit di Tajur, naik Angkot tujuan Cisarua, turun di pertigaan Taman Safari. Selanjutnya bisa lanjut dengan angkot atau ojek untuk masuk kedalam Taman Safari Indonesia. Kalau mau jalan silakan, jaraknya sekitar 4 Km dari pertigaan Taman Safari, Jalan Puncak Raya, koordinatnya di S 6 42.859 E 106 56.834.

Kalo mau masuk, nggak boleh jalan kaki, soalnya di Taman Safari ini yang dikurung pengunjungnya, bukan binatangnya. Jadi gimana dong, kan nggak bawa mobil? tenang, Taman Safari Indonesia menyediakan angkutan khusus untuk penumpang yang nggak bawa mobil.

Udara di sini lumayan sejuk. Ada banyak penginapan di disana, baik yang disediakan Taman Safari sendiri maupun di sekitarnya (kalo kemaleman pulang). Yang perlu diingat, beberapa atraksi hanya buka di hari weekend saja. Tapi ingat juga, waktu weekend macetnya luar biasa. Jangan sampai setelah riang di sana, pulangnya ‘meriang’ karena macetnya parah banget.

2. Taman Buah Mekarsari

Taman ini ada di daerah Jonggol, Cileungsi, Bogor. Koordinatnya di S 6  24.652 dan E 106  59.271. Ada apa disana? tentu ada buah. hehehehe… gak cuma itu saja, di sana ada tempat outbound, camping ground, permainan anak dan danau wisata. Disebelahnya ada kolam renang Amazing waterpark.

Kalau mau ke danau, naik kendaraan berbentuk kereta/trem.

kereta mekarsari

Mau Mekarsari? gampang :

Dari UKI :

Naik angkot elf coklat no 59  jurusan UKI – Cileungsi,turun di Perempatan Cileungsi (dibawah fly over Cileungsi), oper angkot 64 (jurusan Jonggol), turun di depan Mekarsari.

Dari Kampung Rambutan :

Naik angkot 121 (tujuan Cileungsi), turun di perempatan Cileungsi, selanjutnya sama, naik angkot 64. Atau naik Naik bis kecil jurusan Kampung Rambutan – Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari.

Dari Senen :

Naik Bis Besar Metro mini (Jurusan Senen – Cileungsi), turun di perempatan Cileungsi. selanjutnya sama, naik 64.

Dari Priok :

Naik Bis  Mayasari Bhakti no 42 Jurusan Tanjung Priuk – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Terus naik 64.

Dari Pulogadung :

Naik bis kecil jurusan Pulogadung – Jonggol, turun di depan Gerbang Mekarsari

Dari Depok :

Naik angkot ke Cisalak (Misalnya D-06 Depok-Pasar Cisalak), lalu naik angkot 79, Jurusan Cisalak – Leuwi Gintung, turun didepan Plaza Cibubur, dilanjutkan naik Angkot 121 Jurusan Kp. Rambutan-Cileungsi, turun di Perempatan Cileungsi. Atau kalo dari Gas alam bisa naik Angkot P01 Jurusan Gas Alam-Cileungsi, turun di Perempatan Cileungsi. Lalu ceritanya sama, naik angkot 64.

Dari Bekasi :

Naik bis kecil jurusan Bekasi- Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari.

Dari Cibinong/Citeureup :

Naik angkot 64 Jurusan Jonggol. Tapi angkot ini jarang yang sampai ke Jonggol (hanya sampai ke Cileungsi) jadi dari Cileungsi harus nyambung lagi naik angkot yang sama jurusan Jonggol.

Dari Bogor :

Dari Barangsiang naik Bis kecil jurusan Bogor- Jonggol turun di depan Gerbang Mekarsari. Kalau dari Terminal Bubulak naik angkutan Elf jurusan Laladon/Bubulak – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Kalau dari Ciawi, naik angkot jurusan Ciawi – Cileungsi, turun di perempatan Cileungsi. Lalu ceritanya sama, naik angkot 64.

Dari Cianjur/Bandung :

Naik bis jurusan Jakarta yang melewati rute Jonggol, turun didepan gerbang Mekarsari.

3. Kebun Raya Bogor

Kalau ke Bogor, ada yang nggak sreg kalo nggak ke Kebun Raya Bogor. Kebun Raya ini konon berada di titik nol kota Buitenzorg (Bogor era kompeni). Disini ada istana Bogor yang berbatas pagar dan danau dengan Kebun Raya.

istana bogor dari kebun raya

Mau Kebun Raya Bogor sebenarnya sangat mudah, soalnya lokasinya memang di tengah kota Bogor, dan dekat stasiun Bogor (kota). Kebanyakan angkot melewatinya. Dari Stasiun Bogor, naik aja angkot ijo 02, jurusan Sukasari-Bubulak. Selain angkot 02, bisa naik angkot 6 (Ciheuleut-Ramayana) atau angkot 10 (Bentar- Kemang- merdeka). Tapi ingat dari Stasiun Bogor, macet karena jejeran angkot yang ngetem. Kalau mau cepat ya naik ojek, atau jalan dulu ke depan.

Kalo mau jalan kaki sih bisa juga, tak sampai 1 Km  sudah bisa sampai pagarnya Kebun Raya (tapi kalau sampe ke gerbangnya, bisa 2 Km). Tapi ingat di dalam Kebun Raya gak ada angkutan, jadi harus jalan kaki, so hematlah kaki anda.

4. Mesjid Kubah Mas dan Kampung 99 Pepohonan (Kampung Rusa)

Ini lokasinya dekat dengan Jakarta, lokasinya di Meruyung, Limo, Depok. Mesjid ini aslinya bernama Mesjid Dian Al Mahri, tapi lebih terkenal dengan sebutan Mesjid Kubah Mas, karena …… (jawab sendiri ah).

Mesjid Kubah Mas

Kalo mau kesana gampang, dari terminal Depok naik saja angkot 03 jurusan Parung (jangan khawatir kehabisan, angkot ini sangat dominan disana, bisa 24 jam). Lalu turun di pertigaan Parung bingung (kenapa dinamai gini? bingung khan?), oper angkot 102 yang banyak ngetem di pertigaan, lalu turun di seberang gerbang Mesjid Kubah Mas (kelihatan dari jalan). Kalau dari arah Cinere, bisa naik angkot 102 itu, turun di gerbang masjid (gak perlu nyeberang).

kampung 99 pepohonan

Diseberang Mesjid Kubah Mas, ada gapura menuju kampung, yang terkenal dengan sebutan Kampung 99 pepohonan (atau Kampung Rusa), disebut demikian karena ada rusa dan ada banyak pepohonan (tapi gak tahu apa jumlahnya 99). Di kampung yang berwawasan lingkungan ini ada arena outbound, membajaj.. eh membajak sawah (piracy is our culture !), dan penjualan aneka produk alami seperti yoghurt buah, susu kambing dan hasil kebun. Karena lokasinya agak masuk, kalo bingung, koordinatnya : S 6 23.092 dan E 106 45.888. Atau tanya saja orang di dekat Mesjid Kubah Mas, pasti tahu semua.

Tulisan ini membahas kembali aplikasi Komutta, yang sudah menjadi aplikasi android favorit di Indonesia.

Para pengguna handset android layak berbangga, karena menjelang berlakunya single operation KRL, Komutta, aplikasi mengenai informasi angkutan umum di android menyambut dengan versi terbaru, yaitu versi 0.7.1.
Versi ini tentu saja memuat jadwal baru KRL per 2 Juli 2011.  Jadwal ini bagi para pengguna KRL sangat berguna, karena rata-rata belum hapal. Hari gini masih beli fotokopian jadwal KRL di stasiun? Kan ada android dan Komutta.
Apa hanya itu? Nggak dong. Ada tambahan untuk 428 jurusan angkot. Juga sekarang lebih rapi kategorisasinya. Peta Google pun sudah muncul sebagai bacground jalur busway dengan dibantu gps untuk menentukan posisi saat itu.


Ok banget… Saya berharap suatu saat peta jalur ini bisa dipakai untuk bis kota biasa atau angkot,  setidaknya bisa jadi panduan biar lebih mandiri dan nggak gampang dibohongi orang. Pengalaman saya dibohongi masalah angkot terjadi kalo saya mencoba trayek baru (entah sengaja dibohongi or memang sok tahu).
Nah, ini yang baru. Coba ke menu busway. Kalo kita sentuh tombol menu, atau geser bawah, akan muncul menu CCTV. Jadi kita bisa lihat situasi di halte-halte busway. Asyik kan?

CCTV Halte Transjakarta

Yang patut diacungi jempol adalah kecepatan developer aplikasi ini untuk mengupdate. Masalah transportasi di Jakarta ini dinamis banget. Besok bisa berbeda dari hari ini.

Lanjut terus Komutta.!