Manja. Itu pikiran saya waktu pertama kali menjejakkan kaki di ibukota RI ini. Lho, manja gimana? Bukannya di Jakarta ini semua penuh perjuangan dan persaingan, bahkan hanya untuk bisa mencapai kantor. Persaingan. Kerja keras. Itu aja yang dibilang, layaknya propaganda suatu rezim otoriter. Kalo saya pikir di Jakarta itu hanya punya kelebihan sebagai pusat, bagai pusaran yang menyedot sumberdaya dari segenap penjuru, sehingga tak sempat memikirkan atau melihat yang lain. Ciri khas model kerajaan yang sentralistik.

Eh, tapi kok kayaknya malah ngompol (ngomong politik) ini.

Ok, break dulu, lihat sekitar kita. Coba lihat SPBU, tempat kendaraan membeli BBM . Sampai saat ini tenang-tenang dan aman-aman saja, bukan?

Bukan!

Jelas warga Jabodetabek dan kota-kota besar di Jawa yang bilang tenang dan aman. Coba saja search di google “BBM langka”, maka akan tampil pemberitaan mengenai kelangkaan BBM di sejumlah daerah. Meskipun sempat terjadi di Pulau Jawa, namun kelangkaan BBM umumnya terjadi di luar Pulau Jawa. Sarkastisnya, daerah penghasil minyak bumi seperti di Kaltim, Kalsel dan Riau pun menjadi pelanggan tetap kelangkaan BBM. Ini yang membuat jengkel masyarakat di daerah. Sebab kalau sudah begini, harga Bensin (premium) bisa di eceran bisa sampai 4 kali lipat harga aslinya.

peta kelangkaan BBM

Ya jangan beli di eceran… (gitu mungkin kata orang  Jakarte). Ok coy, datang aja ke pom bensin, pasti nemu keadaan begini :

antre BBM

dan sudah capek-capek berjam-jam antre, ternyata mendapatkan kenyataan seperti ini :

BBM habis

Kalau sudah begini, harga BBM patokan pemerintah udah nggak ada artinya. Di Banjarmasin, saya pernah membeli premium yang biasanya Rp 4.500 di SPBU, di eceran saya beli Rp 12.000. Mau ikut ngantri? apa nggak kerja, bisa 3 jam antre belum tentu dapat. Orang-orang bahkan bermalam di SPBU, nunggu pasokan datang. Dalam kondisi langka BBM begitu biasanya pembelian dengan jerigen dilarang.

Keadaan jadi makin parah, konflik internal terjadi antar masyarakat, soalnya ada yang memanfaatkan situasi dengan ngisi BBM full tank, lalu kendaraannya ‘kencing’ untuk dijual eceran. Angkutan kota jadi makin langka, soalnya sopir angkot lebih seneng jadi ‘trader’ BBM. Angkotnya ikut antre BBM, lali ‘kencing’, dijual ke pedagang eceran, lalu ikut antre BBM lagi. Praktis angkot itu jadi nggak beroperasi.

Banyak alasannya kenapa BBM bisa langka begitu. Semuanya simpang siur. Ada yang bilang ulah spekulan. Ada yang bilang masyarakat sendiri yang panik. Ada yang bilang ada kerusakan di kilang xxx, ada yang bilang transport BBM terganggu (karena cuaca buruk, alur dll), bahkan ada yang bilang pasokan lancar saja, dan malah heran ada kelangkaan BBM di lapangan. Dan keadaan langka BBM ini terus berulang secara rutin (bahkan ada yang bilang lebih sering langkanya daripada lancarnya).

Terus kenapa di Jakarta kok nggak ada kelangkaan BBM? masalah spekulan kan sumbernya disana. Masalah kilang dan transportasi kan sama saja, bahkan di penghasil minyak kok malah bermasalah.

Ini bukannya iri hati dengan Jakarta, sang Ibukota. Namun supaya di Jakarta itu mbok ya merasa bersyukur fasilitasnya bagaimanapun lebih baik daripada di daerah dalam hal transportasi. Pasokan BBM dijaga (jadi BBM digelontor di Jakarta untuk dibakar dalam kemacetan… sungguh hebat kerjamu nak!!!). Moda transportasi beragam. Infrastruktur sudah banyak dibangun. Ongkos transportasi dibatasi, dan relatif murah. Masalah macet, kenaikan tarif KRL, ketidaknyamanan angkutan kan konsekuensi yang harus diterima, dan suatu kerelatifan keadaan (sawang sinawang, kata orang jawa).

Kalo masalah melepas subsidi BBM, saya yakin di daerah lebih siap daripada di pusat. Wong sudah biasa beli bensin premium yang lebih mahal daripada pertamax plus kok. Masalahnya, pengambil kebijakan kan di Jakarta. Jadi yang nggak siap itu sebenarnya pengambil kebijakan itu sendiri.

Lho, kan saya sudah tinggal di Jakarta? ngapain saya buat tulisan yang mikirin daerah gini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s