Arsip untuk Agustus, 2011

lalu lintas kota cobaan besar di bulan puasa ini.

macet bertambah parah, sedang deadline masuk kantor atau buka di rumah sangat sempit.

seringkali tidak bisa berbuka dirumah, karena macet sudah sedemikian payah.

sementara sepeda motor saya melaju ditengah asap knalpot, dipepet mobil-mobil yang susah dibedakan ngawurnya dengan sepeda motor, yang juga menyalip tanpa perhitungan dan membuat kaget.

diperempatan, kendaraan saling serobot. Beberapa kali kaki terinjak dan tersenggol.

dongkol dalam hati… tapi apa yang bisa dilakukan selain merelakan, agar tak sesak jalan nafas ini.

memaafkan,  karena memang saya tidak mempunyai kengawuran atau kecepatan yang sepadan dengan mereka.

mungkin juga saya yang harus meminta maaf karena saya menjadi penghalang jalannya.

lalu lintas kota memang sudah begini ini.

dan saya juga mungkin harus meminta maaf kepada sopir angkot, ojek dan bis kota yang biasa saya tumpangi.

nafkah mereka saya kurangi dengan tidak memakai jasa mereka, nanti saja lain waktu, tidak sekarang ini.

maaf juga saya mintakan ketika berebut tempat duduk di KRL dan bis.

mungkin ada hak mereka yang terampas atas ‘kedudukan’ saya.

saya mungkin juga harus memberi maaf yang tulus pada pemimpin kita yang tak juga memberikan solusi bagi macetnya kota.

karena mungkin saya tak punya kekuasaan, kapabilitas dan pandangan yang sepadan dalam berlalu lintas.

di suatu perempatan, tak sengaja saya menginjak kaki pengendara lain.

segera saya meminta maaf, dan dia dengan mengangguk tersenyum.

baru terasa betapa leganya dimaafkan, selega dia memaafkan saya.

— Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin —

Iklan

Lebaran sudah dalam hitungan hari. Namun ada ‘keajaiban-keajaiban’ yang terjadi, khususnya di perkeretaapian.

Tiket

Seperti yang pernah saya tulis disini, kereta api merupakan angkutan favorit, dengan perjuangan memperoleh tiket yang luar biasa susah dan ajaib. Waktu pembukaan penjualan tiket, loket baru buka 30 menit, tiket KA, termasuk KA Argo Anggrek, sudah langsung habis seperti air jatuh ke pasir gurun.

Namun…. hari ini saya membuka detik.com, dan membaca bahwa tiket KA Argo Anggrek tujuan Surabaya masih banyak tersisa. Rata-rata tiap perjalanan antara tanggal 26 – 30 Agustus 2011 hanya terjual tak sampai sepertiganya.

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

saya coba menduga karena;

1. Harga tiket KA Argo Anggrek sudah mendekati harga tiket pesawat.

2. Untuk jurusan Surabaya, KA menghadapi persaingan dari pesawat udara, apalagi banyak extra flight

3. Tiket yang belum habis adalah tiket KA tambahan, dimana orang yang tak kebagian di penjualan pertama sudah membeli tiket lain (KA lain atau moda angkutan lain).

Namun saya tetap heran… sudah menjadi pengalaman bertahun-tahun bahwa penjualan tiket KA eksekutif perdana selalu ludes, namun PT KA tetap tidak (berani ?) mengeluarkan tiket tambahan ketika tiket pertama sudah terbukti sukses berat. Jeda waktu antara penjualan tiket pertama dan tiket tambahan terlalu panjang, dan kesempatan antara waktu itu sudah diambil oleh pihak lain, terutama maskapai penerbangan. Para pemudik KA terutama adalah keluarga, tentu mempunyai perencanaan mudik jauh-jauh hari dan nggak mau gambling menunggu adanya tiket tambahan.

 

Sidak Semu

Rabu, 24 Agustus 2011, Wapres Boediono datang ke Stasiun Senen. Lho, apa mau mudik pake kereta? wah ini baru berita, apalagi Stasiun Senen kan pangkalannya kereta ekonomi. He, jangan salah, Pak Wapres hanya mau meninjau persiapan mudik di Stasiun Senen. Hasil kunjungan tersebut membuahkan kepuasan di muka Pak Wapres. Kereta ekonomi ternyata tertib dan tak ada yang berdiri. Padahal sebagai praktisi, saya melihat untuk perjalanan di hari biasa non lebaran saja pasti ada yang berdiri dan berdesakan, apalagi lebaran. Kok bisa ya?

Fakta dibelakang Fenomena aneh ini :

1. Ada larangan dan pembatasan penumpang masuk ke peron stasiun, saya baca disini.

2. Kelihatannya sudah dipersiapkan dan diatur kereta yang akan disidak. Ini tuduhan saya, karena faktanya banyak yang tak dapat tempat duduk.

Saya masih bertanya-tanya, mengenai pelarangan penumpang untuk masuk ke peron. Apakah ini berkaitan dengan kunjungan Wapres, ataukah kebijakan stasiun untuk lebaran? Kereta Api kelas Ekonomi mempunyai tempat duduk terbatas, sedangkan tiket yang dijual melebihi tempat duduk. Sehingga sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun, banyak pemudik yang datang awal untuk berusaha mendapat posisi yang lebih nyaman di gerbong. Dan mereka datang nggak tanggung-tanggung, kadang bisa sehari sebelumnya, hanya sekadar mendapat tempat yang dirasa lebih ‘nyaman’. Menghalangi penumpang masuk lebih awal ke peron tanpa sosialisasi lebih dulu atau menyediakan tempat tunggu yang layak akan menyiksa banyak calon pemudik.

Kemudian… apa sih untungnya dengan kondisi ‘semu’ kereta ekonomi yang dilihat Pak Wapres? Apa senang kalo nanti dalam pikiran Pak Wapres itu, PT KA sudah baik & layak memenuhi kebutuhan penggunanya. Lha ngapain PT KA menyebut-nyebut kekurangan fasilitas, infrastruktur, dan keluhan-keluhan lainnya? wong nyatanya KA lebaran saja sepi, nggak ada yang berdiri kok.

Wacana ERP (electronic road pricing), yaitu membayar retribusi untuk memasuki jalan-jalan tertentu terus menguat. Tujuannya untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Saya tidak mau membahas banyak mengenai ERP ini, namun cuma ingin memberikan gambaran dari sudut pandang saya mengenai model bayar-membayar untuk masuk jalan.

Sebenarnya sudah ada jalan tol. Saya juga tidak mau membahas banyak mengenai tol ini, termasuk tol dalam kota dan rencana pembangunan enam ruas tol sejenis di Jakarta.

Ok, mari kita beralih sebentar ke Busway. Saya sudah sangat sering membaca mengenai komentar (terutama dari pemakai kendaraan pribadi) bahwa jalur Busway merampas hak pengguna kendaraan lain, disamping itu juga mubazir, karena bis Transjakarta jarang-jarang lewat.

Nah, mari kita nikmati dulu hasil bidikan kamera saya dari gedung di daerah Slipi (Jl. Letjend. S. Parman), yang kebetulan memiliki jalur busway, tol dalam kota dan jalur biasa (arteri).

Jl. S. Parman, suatu siang di bulan Juli

Sebenarnya kalau mata dan benak tidak salah, terlihat yang masih longgar itu adalah jalur tol dalam kota (masing-masing sebanyak 3 lajur). Jalur busway satu lajur (prakteknya juga sering berbagi dengan kendaraan pribadi), sedangkan jalur arteri 2 lajur, yang dipakai kendaraan selain busway. Namun di media massa selalu yang dipersalahkan adalah kemacetan di Slipi sejak ada jalur busway. Coba saja misalnya dua busway dalam foto diatas (1 bis gandeng & 1 bis biasa) dihilangkan, apakah lantas kemacetan juga sirna? toh nyatanya jalur busway juga prakteknya sering dibajak (seperti gambar diatas). Bis Transjakarta cuma kurang banyak aja headway-nya biar nggak mubazir.

Lalu, kenapa nggak protes dengan pengguna tol dalam kota? atau sekalian aja protes yang buat kebijakan tol dalam kota itu? Karena mayoritas penggunanya adalah kelas menengah (keatas), yang merupakan kelas penting dalam politik negeri ini. Yang juga termasuk dalam kelas itu para pengambil kebijakan. Itu tuduhan saya. Korbannya sudah ada, baru-baru ini truk barang kena imbasnya, mereka dibatasi masuk ke tol dalam kota, demi memperlancar perjalanan kelas menengah itu, setelah sebelumnya pernah dilarang masuk. Jadi dalam mempergunakan tol, ada diskriminasi hak. Di luar negeri, highway biasanya menghubungkan antarkota. Namun di Jakarta, tol dalam kota lebih sebagai prasarana anti macet (padahal sering macet juga). Penggunanya cuma kendaraan roda empat. Lha justru kendaraan roda dua sebagai mayoritas malah gak punya fasilitas. Bahkan sekadar jalur khusus pun gak ada. Katanya negara demokrasi? Lha kok mayoritas selalu tertindas?

Layang Mayangkara, Surabaya

Saya kemudian mengenang mengenai masa lalu di Surabaya, yaitu jalan layang Mayangkara. Dulu untuk melalui jalan itu harus membayar tol. Jalan layang itu untuk menghindari lintasan kereta api dan arus ke pasar dibawahnya. Jadi kalo mau lancar, bayar dulu. Itu dulu, sekarang jalan layang Mayangkara telah berfungsi selayaknya. Bagi yang mau terus ke arah selatan atau ke Sidoarjo ya memakai jalan layang. Bagi yang mau belok-belok atau mau lihat kereta api ya lewat bawahnya.

Kemudian pandangan saya beralih lagi ke perbaikan jalan di Cinere raya. Waktu itu mobil yang lewat jalan kampung, ditarik ‘sumbangan’ oleh warga. Yang membuat terenyuh, motor disuruh lewat jalan lain, soalnya motor mana pernah bayar.

polisi cepek

Lalu penampakan ‘polisi cepek’ atau ‘pak ogah’. Udah jelas siapa yang bayar didahulukan, walau hanya sekadar ‘cepek’ (eh tapi sekarang minimal gopek).

Nggak tahu ya (semoga saya salah), dalam sudut pandang saya antara ERP, Tol, sumbangan jalan, polisi cepek,  kok nggak beda jauh. Mementingkan yang bayar. Menyamankan yang sudah nyaman, karena yang tak berpunya sudah biasa susah.

Anjing menggonggong, kafilah berlalu setelah memberi recehan.

Kejadian penumpukan penumpang di halte seperti tulisan saya terdahulu sepertinya akan diminimalkan. Saya baca di sini, Busway Transjakarta akan menerapkan Intelligent Transport System (ITS), yang  diluncurkan pada Selasa (23/8/2011).

Halte Busway Slipi Kemanggisan (Slipi Jaya)

Salah satu kegunaan sistem ini adalah untuk melacak dan mengetahui pergerakan bus transjakarta di jalan, sehingga dapat memperlancar gerakan busway khususnya di perempatan-perempatan yang ramai dilalui kendaraan. Dengan adanya ITS ini dapat mengatur sehingga berurutan kendaraan (tak cuma bis transjakarta saja) yang melewati persimpangan dan tidak ada benturan.

Selain memantau pergerakan bus transjakarta, sistem berbasis serat optik ini juga dilengkapi sistem pengendali lalu lintas dalam satu kawasan atau disebut Area Traffic Control System.

Selain itu, ada rencana bis Transjakarta di Koridor I untuk dipasangi global positioning system (GPS), untuk mengetahui keberadaan busway yang sedang melaju sehingga penumpang yang ada di halte tahu berapa lama busnya akan tiba. Gabungan Sistem tersebut juga akan melengkapi halte bus transjakarta dengan papan pengumuman elektronik yang akan menyampaikan perkiraan kedatangan bus transjakarta.

Kontrol ITS (foto Kompas)

Hmm… canggih-canggih ya.. Memang lalu lintas Jakarta sudah complicated, sehingga memang sudah tak seharusnya diatasi dengan metode konvensional.

Namun secanggih-canggihnya sistem informasi, kalo rumus dasarnya gak dipecahkan (jumlah kendaraan beroperasi jauh lebih banyak dibanding dengan daya tampung jalan),  jangan-jangan fungsinya hanya menginformasikan adanya kemacetan saja.

Harusnya lebih dibenahi lagi dengan berfokus pada tansportasi publik, kan katanya negara kita negara demokrasi yang bukan kapitalis. Katanya sih…. katanya….

Bicara angkutan umum di Indonesia, terutama di Jakarta, seringkali mengelus dada karena kondisinya dianggap ‘tidak manusiawi’. Beberapa bahkan dianggap ‘ekstrim’, terutama masalah perilaku pengemudi dan penumpangnya. Contohnya Bis sekelas Kopaja (non AC) atau Metromini, seringkali overload, penumpangnya bergelantungan di pintu, dan pengemudinya ngebut dan bermanuver seperti orang mabuk.

Atau bicara masalah KRL, dimana fenomena ‘atapers’, atau penumpang yang suka duduk di atap sudah menjadi kebiasaan yang susah ditanggulangi, karena kereta sudah penuh sesak.

Namun, dengan kondisi angkutan umum di sini yang seperti itu, apakah kita layak “berbangga diri” menyebut sebagai yang paling parah, atau paling ekstrim?

Hooo… jangan jadi katak dalam tempurung. Diatas langit masih ada langit. Ternyata di luar negeri ada saingan berat kita, bahkan kemungkinan besar kita kalah telak.

Karena saya sendiri nggak pernah keluar negeri, foto-foto dan tulisan ini saya dapatkan dari browsing di google :

Kereta India

umat Hindu perjalanan kereta penumpang yang penuh sesak untuk mengambil bagian dalam festival "Guru Purnima'' di kota Goverdhan dekat kota utara India Mathura, 24 Juli 2010. (kaskus)

Kereta Bangladesh

Mudik lebaran 2010 (Bangladesh)

Bis Pakistan

Kopaja atau Metromini bisa minder dengan norak dan nekatnya bis Pakistan ini

Bis Filipina

Jeepney Filipina ternyata jenis double decker?

 

Mudah-mudahan gambaran kondisi angkutan umum di negara-negara diatas tidak menjadikan kita terpacu untuk menirunya. Ini cuma sebagai penglipur lara saja, bahwa ternyata banyak yang lebih sengsara dari kita.

Dan juga semoga ini tidak dijadikan contoh oleh pejabat-pejabat transportasi kita untuk menuduh kita sebagai penumpang yang cengeng dan manja.

Sama sekali tidak. Urusan safety adalah keharusan. Sebab tanpa ikhtiar untuk selalu menjaga keselamatan transportasi adalah bunuh diri, dosa besar. Yang mengabaikan pentingnya regulasi dan keselamatan angkutan umum berarti bisa disebut pembunuh dong?

Seperti yang pernah saya tulis di sini, kereta api adalah angkutan favorit untuk mudik. Pada saat sekitar lebaran, aktivitasnya bertambah, sehingga lalu lintas kereta, terutama daerah yang rawan antara Manggarai – Jakarta Kota menjadi padat sekali karena berbagi jalur dengan kereta lokal, KRL Jabodetabek.

KRL melintas Gambir

Seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk sedikit mengatasi kepadatan itu, PT KAI melakukan ‘kebijakan’ bahwa KRL tidak akan berhenti di stasiun Gambir, jadi melintas langsung. Tahun ini mulai H-5 sampai H+3 KRL tak behenti di Gambir. Jelas ini merepotkan bagi pengguna KRL maupun calon penumpang Kereta Api jarak jauh. Bagi pengguna KRL yang biasanya bisa turun Gambir, sekarang harus menambah biaya dan waktu karena harus turun di stasiun Juanda atau Gondangdia. Bagi pengguna kereta api jarak jauh yang menyusuri Pulau Jawa, jelas ini mengurangi alternatif angkutan dan kenyamanan menuju Gambir.

Karena angkutan yang relatif cepat dan mudah di Depok adalah KRL, jelas saya naik KRL. Karena nggak berhenti di Gambir, harus turun di Gondangdia. Dari atas harus turun ke bawah lewat tangga, karena stasiun Gondangdia adalah stasiun atas. Kemudian mencari bajaj, terus menuju stasiun Gambir, naik tangga lagi dua tingkat untuk menunggu kereta di atas. Bayangkan, misalnya saya dari Depok, membawa 2 orang anak kecil yang satunya harus digendong, disamping itu juga membawa barang dan tas bawaan untuk mudik. Kok malah jadi nelangsa gini ya…

kereta jawa dari front utara

‘Kebijakan’ itu cuma di Gambir. Saya berpikir apa nggak seharusnya sebagai sesama pengguna produk kereta, berhenti sejenak di stasiun Gambir (biasanya juga cuma dalam hitungan detik) kan tidak mengganggu. Saya makin jengkel mengingat Gambir adalah pemberhentian bagi kereta eksekutif… sampai tersirat pikiran ; “oh… begini ya, memang pengkastaan itu ada. Kelas yang paling tinggi yang diutamakan”.

Boro-boro mengintegrasikan antar moda angkutan, ini yang satu perusahaan, sesama kereta aja nggak kompak, satu harus dikalahkan yang lain. Saya dulu bahkan punya pikiran… kalo saya telat naik kereta jawa (kereta jarak jauh) gara-gara KRL saya yang ke Gambir telat, bisa nggak ya dapat pengembalian tiket? kan satu perusahaan (mimpi kali yeee…).

Alasan PT KA, rencana pemindahan terminal kereta jawa ke stasiun Manggarai dan jalur double-double track antara Cikarang-Manggarai masih belum terlaksana juga, sehingga ‘kebijakan’ melarang KRL berhenti di Gambir dilakukan. Selalu masalah teknis, atau kadang masalah bisnis yang dijadikan alasan. Kalau menurut saya sih… pembuat kebijakan ini tidak pernah, atau sedikit sekali melihat dari sisi penumpang.

Akhirnya kesempatan mencoba Kopaja AC tercapai juga. Setiap ada moda transportasi baru yang diberitakan ‘heboh’, saya penasaran selalu ingin mencobanya. Saat itu perjumpaan dengan Kopaja AC S13 juga tidak sengaja. Seperti biasa saya terjebak macet dalam bis di TB Simatupang, Perempatan Poin Square.

Saat itu pandangan tertuju pada bis yang jaraknya sekitar 50 meter di depan yang ‘tidak biasanya’, dari belakang terlihat tulisan ‘KOPAJA’ besar, dan buritannya berwarna kuning. Apa itu ya Kopaja AC? katanya warnanya ijo? Segera saya turun dan menyeberang ke sisi jalan Arteri Pondok Indah. Sepeda motor dan mobil yang berhimpitan di perempatan menyebabkan saya agak sulit menyeberang. Saya pikir mungkin bisa ketinggalan Kopaja AC itu, namun untunglah ‘manuver’ Kopaja AC itu tidak brutal seperti saudara lamanya, kopaja reguler. Bahkan bisa dikategorikan ‘lelet’ untuk ukuran lalu lintas Jakarta yang srudak-sruduk.

Saya pikir jam kerja segitu penuh banget, mengingat Kopaja dengan jalur yang mirip (Kopaja 86 tujuan Kota), biasanya penuh banget. Tapi ketika saya masuk, saya kaget karena sangat sepi, hanya berisi 9 penumpang. Kesan pertama, pintu putarnya menyulitkan saya masuk.  Ongkosnya masih murah, Rp 2.000, yang ditagih oleh kondektur dengan ketawa-ketawa (katanya “murah khan !”). Kondekturnya ramah bener, tapi kelihatannya pengetahuannya belum expert mengenai jalurnya, soalnya agak bingung ketika ditanyai penumpang mengenai apakah lewat gedung tertentu di daerah Sudirman.

Tidak seperti yang diberitakan, Kopaja AC ini juga mau mengambil penumpang tidak di halte. Mungkin kasihan melihat penumpang yang sudah mencegat di tengah jalan.

Maaf Penuh (maksudnya jalan di depan yang penuh)

Akhirnya saya sampai di tujuan, jarak pendek saja.  Bener… lelet. Karena keleletan Kopaja AC itu, saya terlambat masuk kantor. Kelihatannya ini yang dihindari oleh penumpang kopaja. Bila penumpang jarak pendek, mungkin kopaja citra lama yang diharapkan. Kebanyakan ‘Kopajaers’ menginginkan kopaja yang srudak-sruduk, bermanuver menembus macetnya Jakarta.

AC yang sejuk (maklum baru)

Apalagi bila tarifnya dinaikkan, Kopaja AC itu mungkin hanya efektif untuk penumpang ‘batu’ alias jarak jauh, dari ujung ke ujung, jadi nggak rugi dengan jauhnya perjalanan.

Ada hal yang berkesan, yang tidak pernah saya alami selama naik Kopaja. Ketika turun, kondekturnya mengucapkan, ” terima kasih !”