Mudik pas lebaran selalu menjadi agenda besar bagi para perantau. Diantara segala angkutan umum, bagi saya, angkutan yang paling seru perjuangan mendapatkannya adalah kereta api.

Spoor van Java

Kereta api adalah angkutan favorit pengguna angkutan umum pas libur lebaran. Alasan saya mengklaim begitu adalah mengenai mendapatkan tiketnya. Kalo tidak favorit, mana mungkin ada orang yang rela bermalam di stasiun demi mendapatkannya, atau bagaimana tiket bisa terjual hanya dalam waktu 2 menit sejak dibuka, khususnya kereta api eksekutif/bisnis.

Mungkin harganya yang ‘miring’ dibandingkan dengan moda transportasi lain? Mungkin, tapi untuk waktu tempuh kayaknya nggak sebanding dengan pesawat. Misalnya, jalur Jakarta – Surabaya, tarif tertinggi KA Argo Bromo Anggrek saat lebaran Rp 650.000, itupun sudah habis terjual, sedangkan tiket pesawat masih tersedia dijual dengan kisaran harga mulai Rp 800.000. Selisihnya hanya sekitar Rp 150.000, namun selisih waktunya sekitar 10 jam. Kalo saya hitung kereta api masih menang soalnya gak ada airport tax, misalnya di Sukarno Hatta Rp 40.000, dan akses ke bandara yang hanya bisa ditempuh moda transportasi yang relatif mahal. Tapi di kereta api kemungkinan besar beli makan karena lamanya waktu tempuh. Kalo saya boleh berpendapat, kereta mempunyai konsumen sendiri yang loyal (contohnya lansia yang dapat potongan harga, atau orang yang takut terbang).

Mengenai tiket… saya nggak bisa ngomong deh. Pengalaman bila ‘bersentuhan langsung’ dengan PT KA waktu musim mudik begini, hasilnya adalah seperti ini pengalaman teman saya ini :

1. Menghubungi call centre untuk pemesanan online :

” Terimakasih telah menghubungi kami, silahkan menunggu dan kami akan segera membantu anda…. ”

Lalu menunggu selama 30 menit ya tetap begitu. Dihubungi kembali dari pagi sampai siang, hasilnya sama. Entah berapa pulsa terbuang.

2. Cara tradisional, antre langsung di loket :

– Antre di stasiun Gambir. Tiket dibuka jam 7 pagi.

Hari I, mulai antre jam 2 dinihari. Hasilnya : gagal. Sebab kegagalan :  mungkin terlalu jauh dari urutan depan

Hari II, mulai antre jam 11 malam. Hasilnya : gagal. Sebab kegagalan :  masih terlalu jauh dari urutan depan

Hari III, mulai antre jam 9 malam. Urutan ke-2 dari depan. Hasilnya : gagal. Belum sampai 2 menit login, tiket habis. Sebab kegagalan : (nggak bisa menganalisis lagi sebab kegagalan ini, cuma marah & mengumpat)

antre tiket di Gambir (foto Centro One)

Alasan PT KA karena tiket diberlakukan sistem online. Sehingga tak ada jaminan meskipun antrean awal, tapi ketika logon, secara bersamaan terjadi pembelian secara serentak (diseluruh tempat penjualan), sehingga wajar 2 menit sudah habis.

Nggak tahu ya… tapi dua tahun terakhir saya selalu bisa mendapatkan tiket tanpa mengantre. Caranya melalui agen, namun tentunya ada biaya tambahan untuk fee-nya (kayak calo ya, tapi resmi). Katanya dia sudah ada link ke tiket KA (jatah???). Dan juga saya heran kenapa kok banyak calo nawarin tiket, padahal antreannya seperti itu.

Kasihan juga bagi yang sudah antre (dan gak kapok sampai berjuang 3 hari), hasilnya gak dapat tiket. Gimana sih PT KA…

Lalu saya jadi bingung dengan berita bahwa kemungkinan ada penurunan jumlah penumpang :

http://nasional.vivanews.com/news/read/237154-pemudik-kereta-api-diperkirakan-menurun

Tiket laris terjual kok malah turun jumlah penumpangnya…. Dari sisi teknis mungkin PT KA punya banyak alasan, tapi dari sisi bisnis saya nggak ngerti deh jawaban yang pas untuk itu.

OK, kalo tiket sudah didapat, mari lanjut ke prakteknya.

Akses dari dan ke stasiun

Pengalaman saya tiga tahun mudik kemarin, akses menuju stasiun besar Gambir malah agak susah. Saat mendekati lebaran, KRL tidak boleh berhenti di Gambir, karena traffic kereta jarak jauh tinggi sekali. Jadi malah susah karena turun di Juanda atau Gondangdia, terus naik bajaj ke Gambir. Juga yang perlu diingat, ketika balik mudik, mencari taksi yang bener (yang pake argometer-lah) agak susah, kebanyakan taksi odong-odong. Tapi kabarnya di Gambir taksi bluebird sudah ada.

Suasana dalam gerbong

Kemudian, suasana dalam gerbong juga nggak nyaman, karena banyak penumpang (gelap) yang gak dapat duduk, berserakan di bordes dan kereta makan, bahkan sampai masuk di gerbong penumpang, tidur di koridornya. Sehingga jika ingin ke toilet atau ke kereta makan pasti susah sekali melangkah. Tak ada petugas yang (berani) menegur penumpang (gelap) tersebut.

Waktu tempuh

Karena banyaknya perjalanan kereta, maka banyak kress antar kereta. Maklum… lebih banyak jalur tunggal. Bahkan sang raja jalur utara pun, Argobromo Anggrek tak jarang berhenti untuk berbagi jalur.

Tapi… ya itu.. apapun kondisinya, tetap saja diserbu dan banyak penggemar setianya (termasuk saya).

Meskipun begitu, mbok ya jangan kebangeten dong PT KA. Jangan mentang-mentang gak ada saingan dan banyak penggemarnya lantas gak ada improvement. Tapi sebenarnya pemerintah ya jangan kebangetan sama PT KA juga… mentang-mentang pejabatnya gak pernah naik kereta  mbok ya jangan dipinggirkan terus kereta api itu.

Komentar
  1. ardiantono mengatakan:

    Kereta Api memang g akan pernah kehabisan penumpang di masa mudik…Saya sendiri sebagai pengguna loyal kereta api entah kenapa lebih baik naik kereta dibanding naik kendaraan lain.
    Tapi ya karena di anak tirikan pemerintah mungkin yang membuat Kereta Api Indonesia kurang nyaman…

    Semoga KAI cepat kembali ke masa Jayanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s