Ini bukan soal sinyal atau telekomunikasi, tapi integrasi antar moda angkutan. Karena tempat kerja saya sekarang tidak dilalui jalur KRL, lama saya baru bisa mencoba KRL ‘model baru’ (alias commuter line), karena ada tugas ke Slipi. Setelah saya pelajari, dengan jadwal baru ini, kebiasaan saya untuk mencapai Slipi dengan KRL tujuan tanahabang kayaknya harus diubah. Kalo dulu antara jam 6 pagi sampai jam 9 pagi ada 3 KRL Depok Ekspress (diluar KRL Pakuan yang melintas langsung Depok), 1 KRL Ekonomi AC dan 2 KRL Ekonomi, maka sekarang cuma ada 3 KRL commuter line (alias Ekonomi AC model baru) dari depok, dan 2 KRL commuter line dari Bogor, dan 1 KRL Ekonomi dari Bogor. Kelihatannya sama saja, enam KRL, tapi kenyataannya KRL commuter line dari Bogor sampai Depok sudah penuh banget. Logikanya dulu perjalanan Bogor/Depok ke Tanahabang ada 8 KRL, sekarang cuma 6 KRL (berkurang 2), tapi jumlah penumpang sama (dulu aja sudah penuh, apalagi ini dikurangi 2 KRL).

Jadi akhirnya saya pilih KRL yang ready dan memungkinkan dimasuki di stasiun. Akhirnya pilihan jatuh pada KRL ke Jakarta Kota, jadi saya harus turun Stasiun Cawang. Karena saya pikir Stasiun Cawang sudah ada busway, saya pikir busway efektif untuk menembus zona macet pancoran – semanggi – slipi. Saya pikir ide saya brilian, dan saya juga salut pada yang punya ide mengintegrasikan busway dengan KRL ini.

Tapi prakteknya ternyata nggak semudah itu. Dari arah stasiun Cawang, saya keluar dan melihat bahwa halte Cikoko Stasiun Cawang itu jembatan busway-nya putus (nggak nyambung dari sisi utara Jl. M.T. Haryono/ stasiun Cawang ke sisi selatan/seberangnya). Jadi kalo saya mau ke arah Slipi, ya balik lagi ke bawah, untuk menyeberang di bawah fly over di Cawang.

Sampai di halte yang dituju, ternyata saya mendapati kenyataan seperti ini :

Halte Busway Cikoko (St Cawang)

Antreannya mengular sampai ke penyeberangan, karena gak ada bus. Bis yang datang jedanya lumayan lama, dan juga sudah penuh. Ini yang namanya nggak nyambung. Pengguna KRL yang turun di Cawang benar-benar seperti pasukan koalisi yang menyerbu stasiun Cawang, jumlahnya nggak sebanding dengan daya tampung halte dan ketersediaan bis. Wah kok jadi seperti ini… padahal saya pikir saya sudah lewat peak hour, sudah diatas jam 9, ternyata sama saja (jadi gimana tadi yang jam 8-9 ya?). Informasi dari petugas di halte, sedang didatangkan bala bantuan 1 bis gandeng, yang memutuskan saya tetap bertahan menunggu (soalnya kalo nggak nunggu, mau pake apa? kondisi jalan non busway macet banget). Info lagi dari petugas, kejadian kelangkaan bis gini biasa terjadi karena bis Transjakarta juga terhambat macet. Halte selanjutnya setelah stasiun Cawang nggak terlalu banyak penumpang yang antre.

Biasa ya… walah, untung saja saya tidak kena potong gaji kalo telat masuk. Masak nggak bisa sih menyambung kan integrasi antara moda transportasi… kan sudah dari dulu tahu Stasiun Cawang itu tujuan para komuter (penglaju) daerah Bogor/Depok yang tentu saja sarat penumpang.

Akhirnya setelah menunggu setengah jam lebih, bis bantuan itu datang. Dengan kapasitasnya yang jumbo, antrean penumpang di halte itu langsung lenyap ditelannya. Nggak sia-sia juga nunggu, karena terbukti saya mencapai Slipi tidak sampai setengah jam dengan busway, membuktikan asumsi saya bahwa busway efektif menembus zona macet disana masih berlaku.

Komentar
  1. ima apriany mengatakan:

    Kalau kata temen saya sekarang malah mending sudah ada bis sapu bersih (bis bantuan yang kosong).. tidak seperti sebelumnya, berarti manajemen busway sudah memprediksi kalau halte cikoko st cawang ini akan dipenuhi sama penumpang yang nyambung dari KRL.

    Saya ke stasiun cawang sejak diberlakukan commuter line, karena jadwal kereta yang biasa saya naiki ke sudirman (pakuan 06.10 dari bogor, berhenti di bojongegede langsung sudirman) lenyap dari jadwal. Saya sekarang naik 05.50 dari bogor (di bojonggede 06.03 samapi cawang idealnya 6.45) di cawang masih dapat tiket busway yang 2000 rupiah … pernah juga antrian mengular sampai membentuk huruf U tapi masih bisa cair.. pagi ini pas sekali saya dapat bis kosong jadi bisa dapat duduk (baru sekali ini hehehe)

    Masalah jembatan penyebrangan yang putus..kasian orang yang gak tahu. Harus diberi tanda kalau misal mau naik busway ke arah slipi/semanggi kita harus lewat kolong dulu. Untung saya diberitahu suami terlebih dahulu, pertama kali ke cawang berniat nyambung busway dia langsung naik tangga dan terkecoh sama jembatan putus ini

    • andrefeb mengatakan:

      iya bis bantuan memang ganas, orang sehalte dilahap habis. Tapi ya itu… kasihan bisnya lambat sampe sasaran, kehambat macet kata petugasnya. jalurnya dimakan orang sih… Mungkin sebaiknya ada tempat bis yg standby ditengah khusus untuk bis bantuan, jadi bis bantuan gak jauh-jauh datang dari pool.

  2. ima apriany mengatakan:

    oya mas komuter, katanya sekarang ada kopaja AC loh nih beritanya http://metro.vivanews.com/news/read/236937-kopaja-ac-resmi-diluncurkan

    • andrefeb mengatakan:

      iya, tapi kok tarifnya tetap Rp 2.000 ya? bukannya apa, takut aja gak bisa bertahan lama. Sebenarnya bukan AC atau non AC yang bikin nggak nyaman, tapi perilaku kenek & sopirnya. Kapan-kapan nyobain yg AC deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s