Dari segala jenis angkutan lebaran yang pernah saya tumpangi, yang paling ‘berasa’ adalah kapal laut. Kapal laut disini bukan kategori penyeberangan selat, tapi kapal antar pulau. Jelas berasa karena waktu tempuhnya biasanya diatas sehari (12 jam), bahkan saya pernah 25 jam dengan kapal cadangan. Jadi bebar-benar terasa pulang dari rantau. Kapal laut satu-satunya angkutan dimana saya bisa tidur dengan nyenyak.

KM Kumala persiapan sandar, Bandarmasih

Seperti halnya kereta api di Jawa, kapal laut juga favorit untuk masyarakat dimasa lebaran ini, mungkin karena tarifnya yang murah. Meskipun sejak booming maskapai penerbangan, popularitas kapal laut mulai pudar, dan pada low season lebih banyak dipakai sebagai angkutan barang (penyeberangan truk).

Namun bagi saya, kapal laut memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh pesawat terbang, yaitu daya angkutnya. Jika kita naik pesawat, extra bagasi mungkin akan di-charge mahal. Namun di kapal, asalkan mampu dibawa tidak ada charge. Yang paling asyik, kalo berangkat sendiri atau berdua, saya bisa membawa motor saya ikut menumpang kapal, dengan ongkosnya sama dengan penumpang kelas III. Sebelumnya lapor ke kantor polisi di pelabuhan untuk legalisir STNK. Kalau membawa mobil, tarifnya bisa mahal banget, jutaan rupiah (mendingan nyarter ya?).

Trisakti Banjarmasin, ready to board

Disinilah pengkastaan manusia terasa begitu menyengat. Kalo kita memilih kelas ekonomi, maka disinilah perjuangan hidup dimulai. Biasanya di musim mudik lebaran, kapal penuh sesak, untuk sekadar berbaring lurus sangat susah. Penumpang kelas ekonomi bertebaran mulai dari dek yang bertiupkan angin laut (bukan angin sepoi-sepoi lho!) sampai lorong-lorong. Mau jalan ke toilet, mushola, restoran atau sekadar cari angin susah karena tiap jengkal bertebaran penumpang. Namun ada batas dimana penumpang ekonomi tidak bisa masuk ke area penumpang kelas.

Kabin VIP KM Kumala

Jika memilih tiket VIP, maka tidak perlu berebutan untuk memilih tempat karena sudah ditentukan. Kalau kita memilih kamar, maka kita lapor dulu ke petugas untuk dipilihkan kamarnya. SOP-nya adalah penumpang dikelompokkan sesuai jenis kelamin, namun prakteknya tidak seperti itu terutama untuk keluarga, yang biasanya berkumpul dalam satu kamar. Di lemari kamar VIP ada pelampung, TV, kasur, AC, kasur dan bantal yang empuk, diberikan welcome snack & drink, makanan diantarkan, toilet yang lumayan (bahkan di Kapal Pelni mempunyai kamar mandi dalam) dan akses ke sekoci penyelamat yang dekat.

geladak (deck) kapal, tempat ideal masuk angin

Surabaya-Banjarmasin saat ini hanya dilalui oleh kapal jenis ro-ro, dengan operator perusahaan swasta. Pelni sudah tidak mengambil rute ini sekarang, seiring dengan makin surutnya penumpang kapal laut. Namun saya ada pengalaman yang menyenangkan dengan kapal Pelni, yaitu ketika menumpang KM Pangrango. Kapal ini tidak mempunyai dek untuk kendaraan, jadi cuma mengangkut penumpang saja (kapal beneran, bukan ro-ro). Saya beli tiket kelas II, berdua dengan istri saya yang hamil tua. Ketika naik di kapal, awak kapal bingung karena kamar kelas II (yang diisi 4 orang) sudah terisi dengan keluarga-keluarga, jadi artinya saya beda kamar dengan istri saya karena harus ‘nyempil’ di tempat tidur yang sisa. Lalu kemudian kapten kapal membuat keputusan, memerintahkan awak kapal untuk menempatkan saya dan istri saya di kamar kelas I, tanpa perlu bayar tambahan biaya lagi. Setelah membayar jaminan kunci, langsung saya check-in di hotel terapung ini. Kamar kelas I benar-benar seperti hotel, dengan tempat tidur, TV, kamar mandi dalam yang bersih. Makanan di kapal ini termasuk enak, dibandingkan masakan di kapal ro-ro.

KM Pangrango, sekarang melayani Indonesia bagian timur

Yang perlu dipersiapkan bila naik kapal tentu saja yang pertama adalah berdoa, karena dengan musim yang tak menentu sekarang ini, ombak di lautan bisa tiba-tiba membesar, dipadukan dengan pemeliharaan kapal yang tidak maksimal. Yang kedua obat anti mabuk, karena goyangan kapal benar-benar bisa hot sekali. Yang ketiga, hapalkan letak sekoci dan cara-cara evakuasi, termasuk pemakaian pelampung penyelemat. Yang keempat, bila di ekonomi, jika terpaksa tidur di dek terbuka, siapkan jaket dan segala pakaian pelindung, atau lebih baik masuk karena angin laut benar-benar tanpa kompromi. Kalau di kamar, jika nggak tahan AC jangan tidur di tempat tidur atas, karena dekat dengan lubang semburan AC (sentral). Kalo membawa motor, perhatikan posisinya agar jangan sampai roboh karena goyangan kapal, dan siap-siap di kendaraan sebelum sandar, kalau nggak mau kedahuluan penumpang atau kendaraan lain yang lebih besar. Yang kelima, kapal rentan dengan cuaca. Jadwal sandar dan labuh kapal bisa berjam-jam bedanya dengan kenyataan. Jadi kalo mau nggak nunggu lama di pelabuhan, tanyakan informasi posisi kapal pada perusahaan kapal.

Komentar
  1. ridwan mengatakan:

    mau tanya apa ada kapal laut dari tanjung priok menuju banjarmasin ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s