Sebagai seorang komuter sejak jaman sekolah, yang harus menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah/kampus/kantor pulang pergi, yang sebagian besar ditempuh memakai kendaraan umum, tentunya ditengah banyaknya kelemahan pada moda angkutan umum yang ada, kendaraan pribadi menjadi back up yang setia mengantar pada kondisi-kondisi tertentu.  Mereka adalah tunggangan-tunggangan yang setia. Jelas, soalnya mereka bukan transformer, nggak punya pikiran, jadi nurut aja saya suruh kemana. Mayoritas adalah roda dua, karena memang itu yang mampu dibeli. Kendaraan ini malah menjadi kendaraan utama disaat angkutan umum susah didapatkan, seperti di Banjarmasin atau di pedesaan Gresik.

Ok, meskipun agak bersifat pribadi, saya perkenalkan tunggangan-tunggangan setia saya (banyak yang sudah mantan). Saya susun berdasarkan keseringan pemakaian sampai saat tulisan ini saya buat :

1. Honda Astrea Grand

Ini motor ‘enak’ pertama yang saya punya. Honda astrea grand pertama saya beli second, edisi tahun93. Ini sering saya bawa kerja yang berjarak 15 km, maupun ke rumah calon istri yang berjarak 20 km (kalo malam minggu jadi total 35 km) p.p. Pertimbangannya saya sering memakai motor ini daripada angkutan umum, karena angkutan ke kantor susah sekali (maklum lokasi tempat kerja di desa), dan juga untuk pacaran (waktu kuliah). Namun seringnya juga nggak tiap hari, karena bergantian dengan adik untuk dipakai kuliah. Astrea grand yang kedua saya beli second juga, edisi tahun 97, di Banjarmasin, karena di Banjarmasin tidak ada rute angkot ke kantor. Spek kedua grand itu nggak beda, kapasitas mesin sama 100 cc, sama-sama hitam mesinnya, 4 tak. Bedanya cuma di lampu belakang. Yang edisi 97 punya tambahan lampu rem ‘kuncung’

2. Yamaha Mio Sporty

Kendaraan yang saya pilih karena daya angkutnya. Waktu saya beli termasuk generasi pertama, masih langka di Banjarmasin. Meskipun kecil, mempunyai dek  yang bisa mengangkut semen, elpiji, galon, anak dan macam-macam barang. Tidak terlalu irit, namun inilah solusi atas kelangkaan angkutan di Banjarmasin. Hanya menempuh jarak dekat, 14 km tiap harinya, motor ini sudah berkelana ke Banjarmasin, Surabaya dan Depok. Kendaraan baru (bukan second) pertama yang saya beli, karena maraknya kredit motor. Motor matic 113 cc ini mudah dioperasikan, sehingga istri saya bisa memakainya.

3. Kawasaki Kaze VR

Motor yang paling enak handling-nya. Mesinnya besar, sasisnya berat, tahan banjir. Meskipun pemakaian dibawah honda grand, motor ini juga menempuh perjalanan harian yang lumayan jauh. Dipakai bergantian dengan grand pertama, motor ini juga menjadi andalan karena tempat saya kerja ada 3 (dan harus dikunjungi semua dalam satu hari). Karena enak dikendarai itu, jadi terlalu pede (kurang perhitungan), sehingga saya kecelakaan lumayan parah pake motor ini. Tapi sasisnya tidak bengkok sama sekali (saya yang bonyok).

4. Toyota Yaris

Ini mobil pertama yang saya punyai, dan secara tunai. Karena gak punya pengalaman bermobil, jadi terpaksa (lho kok terpaksa?) beli baru. Dipilih karena dimensinya yang pendek, halaman rumah dengan teliti saya ukur dan membeli banyak majalah mobil untuk mengetahui dimensinya. Meskipun dalam literatur digolongkan mobil irit, hatchback 1500 cc ini kalo di bengkel selalu keluhan saya adalah : boros. Maklum, selama ini selalu pegang motor, acuannya masih motor. Sangat jarang dipakai ke kantor (20 km), lebih sering dipakai bersama keluarga.

5. Kawasaki Athlete

Motor yang jarang dijumpai dijalanan. Handlingnya khas Kawasaki, mantap, untuk mengatasi jalanan rusak. Desainnya unik, dengan tangki di tengah. Karena mesinnya cuma 125 cc, cukup irit dan lebih bisa diandalkan dalam menempuh jarak yang lebih jauh dibandingkan motor matic yang bannya kecil. Mulai sering tampil dalam perjalananan ke kantor bila waktunya mepet untuk naik angkutan umum, atau ada kejadian luar biasa seperti pembetonan jalan yang mengakibatkan macet parah.

6. Yamaha Crypton

Ini motor 4 tak yamaha pertama. Motor pertama yang saya coba beli pake duit sendiri. Cukup irit, tapi kasar mesinnya. Saya nggak mau bicara banyak, karena ini pengalaman buruk, motor ini saya beli second, mesinnya ancur, disinyalir pernah jadi korban curanmor. Saya membeli ini supaya nggak rebutan dengan adik.

7. Suzuki FR 80

Ini motor pertama, tempat saya belajar menimba ilmu (maksudnya belajar motor). Pertama kali saya dibonceng ayah, naik motor ini berempat bersama ibu dan kakak. Kendaraan ini baru saya pakai sendiri 12 tahun kemudian, tapi sangat jarang memakainya, hanya sesekali di hari minggu, latihan silat di sekolah (yang berjarak 10 km). Diproduksi Suzuki pada periode 70-80an. Kapasitas mesin 80 cc, 2 tak, berpendingin udara, satu silinder. Mempunyai oli samping, dengan hanya kick starter (tak ada electric starter) untuk menyalakan mesin. Tenaga yang dihasilkan 6.8 tenaga kuda pada 5.500 rpm. Mempunyai transmisi semi otomatis dengan 3 kecepatan.

 

8. Suzuki ST 20

Ini mobil pertama yang mengantar saya, tapi saya tak pernah ‘menimba ilmu’ disini, dan gak pernah menyetiri sendiri. Kenangan yang ada adalah lebih banyak mendorong mobil ini, karena saat mobil ini dibeli ayah saya, usianya sudah lebih dari 10 tahun. Mobil ini mempunyai suara khas, karena dua tak, dengan kapasitas sekitar 500 cc. Sesekali saya menumpang mobil ini kesekolah. Saat itupun sudah ketinggalan lebih dari 2 generasi dengan angkot yang sudah memakai Suzuki super carry extra, atau suzuki futura.

9. Bimantara Nenggala

Ini mobil kantor di Banjarmasin, dijadikan mobil dinas saya. Karena itu saya belajar mobil memakai ini, jadi banyak baret-baret nggak pengaruh, karena asalnya mobil ini juga pernah terguling di jurang (bukan saya lho). Karena fasilitas kantor, jadi dipakai saja meskipun jarak ke kantor cuma 3 km.

Nah, itulah tunggangan-tunggangan saya.

Ada banyak faktor kenapa kendaraan pribadi ini begitu mendominasi lalu-lintas, terutama di Jabodetabek, meskipun fasilitas angkutan umum lebih banyak daripada di daerah. Faktor pertama mungkin kenyamanan. Orang tidak nyaman naik angkutan umum, meskipun ‘nyaman’ itu sangat relatif dan kabar ‘ketidaknyamanan’ angkutan umum cuma didengar saja (belum dialami). Faktor kedua, ekonomi, kendaraan pribadi dianggap ‘lebih murah’ daripada angkutan umum. Padahal seringkali itu hanya perasaan saja saat membayar kas untuk karcis bis tanpa perhitungan yang detail. Faktor ketiga, adalah parahnya kemacetan. Beberapa angkutan umum, terutama yang tersistem, bisa menembus kemacetan, namun kebanyakan tidak. Sehingga motor menjadi salah satu cara alternatif untuk menembus macet. Namun dengan kemacetan yang main parah, naik motor hanya menjadi salah satu cara agar lebih cepat dari naik mobil, bukan untuk menembus macet (motor kena macet juga, dan lebih capek kalo sudah begitu).

Oh ya, kalo pembaca mau menebak, kendaraan apa saja yang masih saya gunakan? apa ciri khasnya?

Komentar
  1. nick mengatakan:

    yang masih digunakan adlah yang berwarna fotonya gan😀

  2. harmoko mengatakan:

    kendaraan yang masih digunakan adalah yang fotonya berwarna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s