Tulisan ini saya persembahkan untuk masyarakat pengguna angkutan umum di daerah-daerah, terutama daerah pinggiran yang seakan terlupakan atau daerah pedesaan yang tidak masuk hitungan.

Ketika saya sering ke desa, terutama saat saya baru lulus kuliah dan terlibat dalam proyek-proyek di pedesaan yang terpencil, kesulitan yang sering saya alami adalah langkanya angkutan pedesaan. Kalaupun ada, kelihatannya tidak di atur masalah keamanan atau kenyamanannya. Pasti ada yang berkomentar, ” di Jakarta juga sama, coba lihat kopaja atau metromini !”.  Hee… jangan salah, sekarang kopaja ada yang pake AC.

Tapi bener… bener-bener deh, angkutan pedesaan itu sudah melebihi fear factor. Mungkin hanya bisa bisa disamai oleh para atapers KRL ekonomi panas.

foto dari matanews

Untuk jalanan yang naik turun ektrem, banyak penumpang nggandol (bergelantungan) di belakang dan sisi-sisi angkutan. Bahkan ada yang juga diatas jadi atapers. Saya sendiri nyaris jatuh karena nggak kuat berpegangan besi bergelantungan dibelakang, sementara kendaraan mendaki kemiringan lebih dari 40 derajat. Hebatnya, penumpang lain, bahkan yang sudah sepuh umurnya, tenang saja sambil membawa barang. Keadaan itu juga pasti terjadi pada saat jam sekolah. Dimana anak sekolah masuk atau pulang pada jam yang sama, angkutan yang tersedia sangat terbatas. Sehingga… yah… silakan gambar saja yang bicara

foto dari suara merdeka

Keadaan seperti itu kerap dijumpai di daerah-daerah pinggiran. Ketika saya di Kalimantan, meskipun masih dekat dengan kota juga banyak yang menumpang dengan cara seperti itu. Kenapa sih penumpangnya mau membahayakan diri seperti itu?

Jawabannya (karena saya juga pernah jadi penumpangnya) adalah : karena memang seperti itu keadaannya. Sopir angkutan hanya mau berangkat kalo penumpang sudah penuh. Penumpang yang nggak mau ikut, kalo mau nunggu angkutan berikutnya sangat lama berangkatnya. Jam operasional angkutan itu sangat terbatas. Bahkan kalo memang sepi, sopirnya bener-bener nggak narik.

 

angdes tulakan (thank's to nina for this photo)

Tampaknya sudah susah dibedakan dengan angkutan barang. Saya jadi teringat pelajaran ekonomi dasar, bahwa memang tujuan manusia mencari keuntungan sebesar-besarnya. Bila tak ada regulasi, segala cara dihalalkan. Wong mereka juga cari uang, masak disalahkan. Dan kayaknya mereka lebih diatas angin. Kalo dilarang ngangkut orang, ngangkut barang ke pasar juga lebih untung, pikirnya. Masih untung ada yang mau buka usaha angkutan di desa yang sepi dan bayarnya minta murah gitu. Ini belum termasuk kondisi jalan dan jembatan yang ancur-ancuran. Wajar kalo sedikit yang mau berinvestasi pada angkutan pedesaan.

Sedangkan penggunanya, mau berbuat apa? mau memboikot, namanya juga perlu, wong nggak punya kendaraan. Jalan kaki juga nggak dilarang. Tapi mereka tak pernah mengeluh, tiap hari juga dilakoni. Mereka menjadi (dipaksa) tangguh karena ditempa keadaan. Ada yang celaka, satu-dua, juga dimaklumi karena apes.

Atau mungkin juga mau mengeluh, tapi kemana? siapa yang mendengar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s