Setelah lama berdiam diri membaca berita mengenai Kopaja yang dibuat ber-AC, akhirnya saya tidak tahan juga untuk tidak menulisnya karena rutenya melewati hidung saya. Rute Kopaja S13 AC ini masih tetap sama dengan Kopaja S13 reguler, yaitu Ragunan – TB Simatupang – Lebak Bulus – Arteri Pondok Indah – Gandaria – Velbak – Pakubuwono – CSW – Ratu Plaza – Senayan – Slipi dan Grogol. Yang menarik adalah, tarifnya tetap sama dengan tarif kopaja biasa, yaitu Rp 2.000.

”]Dalam hati saya, antara setuju dan tidak setuju dengan tarif itu. Bukannya mau menghalangi agar mendapatkan pelayanan maksimal dengan harga minimal, namun realistis saja, saya kira kopaja sebagai perusahaan mungkin menghadapi dilema dengan tarif itu, yang ujung-ujungnya cuma dua : berhenti operasionalnya atau menaikkan harganya. Belakangan saya baca disini, ternyata tarif Rp 2.000 itu tarif promosi, dan ada niatan untuk  menaikkannya.

Yah, setidaknya itu upaya untuk menghindari berhenti operasi. Kejadian mengenai kondisi ferry penyeberangan Merak-Bakaheuni yang beroperasi setengah-setengah atau KA Ekonomi yang kembang-kempis karena pemerintah membatasi kenaikan tarif, namun dukungan nyata tidak signifikan, cukup menjadi pelajaran.

”]Berbicara mengenai kenyamanan, relatif juga. Meskipun dibekali pendingin udara, saya kira malah bisa masuk angin. Bayangkan, waktu tempuh dari Ragunan ke Grogol bisa sampai 3 jam, karena tidak punya jalur khusus seperti busway. Saya melihat jalur busway yang sering kosong, jadi punya ide, kenapa bis model gini kok nggak diberikan ijin saja masuk jalur busway, toh katanya bis ini akan dibikin tertib, dan berhentinya juga di harus di halte. Maklum awaknya digaji, jadi nggak kejar setoran lagi. Kapasitas bis yang cuma 27 orang (tidak menyediakan tempat berdiri? tapi kok ada tempat pengangan?), disatu sisi akan meningkatkan kenyamanan, namun disisi lain jelas menimbulkan rebutan antar calon penumpang, apalagi jumlah bis terbatas dan jarak tempuh yang jauh. Dengan kemacetan yang kian parah, bisa jadi jeda antar bis makin lama. Dengan kata lain, nyaman bagi penumpang, tidak nyaman bagi calon penumpang. Kenapa model kursinya tidak meniru BST di Solo yang bisa memuat lebih banyak penumpang dan juga memberikan sedikit kenyamanan pada yang berdiri?

Dalam sejarahnya, rute Kopaja S13 bersaing dengan angkutan lain. Kopaja S13 ternyata pernah diprotes oleh Koantas  Bima 102 dan Metromini 72. Kopaja S 13 kerap berbarengan dengan  Koantas  Bima 102 di hampir sepanjang rutenya, mulai dari poins square sampai Senayan. Sedangkan Kopaja S 13 berimpitan rutenya dengan Metromini 72 di T.B. Simatupang hingga Pondok Indah. Bila Kopaja AC S 13 mempunyai tarif lebih tinggi, konflik itu mungkin akan mereda. Namun apabila tidak, maka kehadirannya akan ‘membunuh’ angkutan lain yang berimpitan rutenya.

”]Soal pembunuhan itu, lagi-lagi saya berpikir dua sisi. Disatu sisi, hati kecil saya mengatakan “ Baguslah, biar mampus ! soalnya kau perlakukan aku seperti binatang ! Biar jadi contoh angkutan lain yang tidak manusiawi akan punah !”

Namun disisi lain saya berpikir mengenai monopoli. Bila angkutan lain punah, maka tak ada parameter bagi pelayanan angkutan, atau pilihan alternatif bagi penumpang.  Operator bisa menjadi tiran, lama-lama menjadi sewenang-wenang karena nggak ada saingan. Terus bagaimana juga nasib sopir dan kenek angkutan lainnya itu? Apa memang benar-benar sudah nggak bisa diatur lagi angkutan umum itu?

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya kemacetan di Jakarta memang sudah pada titik point of no return, sehingga pemikiran yang dikembangkan adalah cara ‘menikmati’ kemacetan itu, bukan cara mengatasinya atau menguranginya. Antara lain menambah kenyaman transportasi yang ditumpangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s