Sebenarnya agak malas menulis ini, karena bagi saya nggak ada seninya. Tapi kalo ada ‘seninya’ misalnya ada turbulence, atau rodanya nggak bisa keluar, ngeri juga lho. Saya sendiri hanya bisa menikmati naik pesawat kalo cuaca cerah dan tenang, sehingga bisa menikmati pemandangan, karena sebenarnya saya takut terbang.

B-737 menurunkan landing gear, final position, Juanda, SUB. Foto diambil dari kawasan Aloha

Jadi saya hanya memakai pesawat terbang waktu mudik hanya ketika di Banjarmasin. Ketika pindah ke Jakarta, banyak alternatif angkutan darat yang lebih sering saya pakai.

Tiket pesawat terbang sebenarnya juga nggak mahal-mahal amat, bahkan jauh lebih murah daripada kereta api eksekutif, kalo pesan jauh hari, eh jauh bulan sebelumnya. Tiket pesawat yang murah itu tiket promo, yang bersifat mengikat dan non refundable.  Biasanya kelas harga tiket pesawat terbagi menjadi 2 kelas yaitu kelas bisnis dan kelas ekonomi. Kelas ekonomi terbagi lagi menjadi beberapa sub kelas. Misalnya tiket sub kelas terbawah (harga promo) seperti kelas V atau X untuk Lion Air, kelas Z atau W untuk Batavia Air, kelas P atau R untuk Sriwijaya Air. Namun jumlahnya terbatas, apalagi pada saat puncak (peak season), makanya memesannya jauh-jauh hari. Ada juga triknya memesan tiket malah pada saat mepet, tapi ini biasanya malah dapat tiket murah. Cuma ini efektif kalo sendirian. Kalo berombongan, gambling juga.

Dari jendela kabin, tampak flap pesawat turun maksimal, posisi pesawat dalam final approach untuk mendarat. Landing gear sudah diturunkan, menimbulkan hentakan halus yang terasa oleh penumpang. Ujung sayap meninggalkan kabut garis tipis akibat gesekan udara. Pilot mengumumkan prepare position for landing ke awak pesawat.

Bahkan, pernah juga teman saya naik pesawat TNI AU, jenisnya sama dengan pesawat komersil, dan bayarnya juga sama. Pertama kali saya selalu pakai taksi bandara, tapi belakangan saya tahu bahwa banyak angkutan lain di bandara. Contohnya di Sukarno-Hatta, CGK, banyak bis (DAMRI) bandara, travel, ojek, taksi lain, bahkan kendaraan lain (termasuk kendaraan angkutan maskapai) yang ngompreng. Di Juanda, SUB, ada bis DAMRI, taksi lain, dan ojek.

Pemilihan tempat duduk sebenarnya tergantung selera. Ada yang suka duduk di dekat jendela, biar bisa melihat pemandangan. Ada yang lebih suka di koridor, biar lebih gampang keluar atau ke toilet. Ada yang suka di dekat pintu darurat, karena kaki lebih luas.

Yang perlu diingat, ada tambahan biaya kalo naik pesawat. Umumnya jarak Bandara jauh dari kota, sehingga transport kesana lumayan mahal. Bahkan bis Bandara pun mempunyai tarif yang berbeda, jauh lebih mahal daripada bis lain. Selain itu ada airport tax yang besarnya tidak sama di tiap Bandara. Selain itu, kadang ada Pemda yang memungut retribusi di Bandara, selain airport tax.

Angkutan Pesawat Udara adalah angkutan umum yang mendapat perhatian paling besar dari media massa dan pembuat kebijakan. Saya tebak jawabannya karena mereka juga penggunanya, soalnya nggak mungkin naik mobil dinas atau mobil pribadi menyeberang lautan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s