Akhirnya kesempatan mencoba Kopaja AC tercapai juga. Setiap ada moda transportasi baru yang diberitakan ‘heboh’, saya penasaran selalu ingin mencobanya. Saat itu perjumpaan dengan Kopaja AC S13 juga tidak sengaja. Seperti biasa saya terjebak macet dalam bis di TB Simatupang, Perempatan Poin Square.

Saat itu pandangan tertuju pada bis yang jaraknya sekitar 50 meter di depan yang ‘tidak biasanya’, dari belakang terlihat tulisan ‘KOPAJA’ besar, dan buritannya berwarna kuning. Apa itu ya Kopaja AC? katanya warnanya ijo? Segera saya turun dan menyeberang ke sisi jalan Arteri Pondok Indah. Sepeda motor dan mobil yang berhimpitan di perempatan menyebabkan saya agak sulit menyeberang. Saya pikir mungkin bisa ketinggalan Kopaja AC itu, namun untunglah ‘manuver’ Kopaja AC itu tidak brutal seperti saudara lamanya, kopaja reguler. Bahkan bisa dikategorikan ‘lelet’ untuk ukuran lalu lintas Jakarta yang srudak-sruduk.

Saya pikir jam kerja segitu penuh banget, mengingat Kopaja dengan jalur yang mirip (Kopaja 86 tujuan Kota), biasanya penuh banget. Tapi ketika saya masuk, saya kaget karena sangat sepi, hanya berisi 9 penumpang. Kesan pertama, pintu putarnya menyulitkan saya masuk.  Ongkosnya masih murah, Rp 2.000, yang ditagih oleh kondektur dengan ketawa-ketawa (katanya “murah khan !”). Kondekturnya ramah bener, tapi kelihatannya pengetahuannya belum expert mengenai jalurnya, soalnya agak bingung ketika ditanyai penumpang mengenai apakah lewat gedung tertentu di daerah Sudirman.

Tidak seperti yang diberitakan, Kopaja AC ini juga mau mengambil penumpang tidak di halte. Mungkin kasihan melihat penumpang yang sudah mencegat di tengah jalan.

Maaf Penuh (maksudnya jalan di depan yang penuh)

Akhirnya saya sampai di tujuan, jarak pendek saja.  Bener… lelet. Karena keleletan Kopaja AC itu, saya terlambat masuk kantor. Kelihatannya ini yang dihindari oleh penumpang kopaja. Bila penumpang jarak pendek, mungkin kopaja citra lama yang diharapkan. Kebanyakan ‘Kopajaers’ menginginkan kopaja yang srudak-sruduk, bermanuver menembus macetnya Jakarta.

AC yang sejuk (maklum baru)

Apalagi bila tarifnya dinaikkan, Kopaja AC itu mungkin hanya efektif untuk penumpang ‘batu’ alias jarak jauh, dari ujung ke ujung, jadi nggak rugi dengan jauhnya perjalanan.

Ada hal yang berkesan, yang tidak pernah saya alami selama naik Kopaja. Ketika turun, kondekturnya mengucapkan, ” terima kasih !”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s