Wacana ERP (electronic road pricing), yaitu membayar retribusi untuk memasuki jalan-jalan tertentu terus menguat. Tujuannya untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Saya tidak mau membahas banyak mengenai ERP ini, namun cuma ingin memberikan gambaran dari sudut pandang saya mengenai model bayar-membayar untuk masuk jalan.

Sebenarnya sudah ada jalan tol. Saya juga tidak mau membahas banyak mengenai tol ini, termasuk tol dalam kota dan rencana pembangunan enam ruas tol sejenis di Jakarta.

Ok, mari kita beralih sebentar ke Busway. Saya sudah sangat sering membaca mengenai komentar (terutama dari pemakai kendaraan pribadi) bahwa jalur Busway merampas hak pengguna kendaraan lain, disamping itu juga mubazir, karena bis Transjakarta jarang-jarang lewat.

Nah, mari kita nikmati dulu hasil bidikan kamera saya dari gedung di daerah Slipi (Jl. Letjend. S. Parman), yang kebetulan memiliki jalur busway, tol dalam kota dan jalur biasa (arteri).

Jl. S. Parman, suatu siang di bulan Juli

Sebenarnya kalau mata dan benak tidak salah, terlihat yang masih longgar itu adalah jalur tol dalam kota (masing-masing sebanyak 3 lajur). Jalur busway satu lajur (prakteknya juga sering berbagi dengan kendaraan pribadi), sedangkan jalur arteri 2 lajur, yang dipakai kendaraan selain busway. Namun di media massa selalu yang dipersalahkan adalah kemacetan di Slipi sejak ada jalur busway. Coba saja misalnya dua busway dalam foto diatas (1 bis gandeng & 1 bis biasa) dihilangkan, apakah lantas kemacetan juga sirna? toh nyatanya jalur busway juga prakteknya sering dibajak (seperti gambar diatas). Bis Transjakarta cuma kurang banyak aja headway-nya biar nggak mubazir.

Lalu, kenapa nggak protes dengan pengguna tol dalam kota? atau sekalian aja protes yang buat kebijakan tol dalam kota itu? Karena mayoritas penggunanya adalah kelas menengah (keatas), yang merupakan kelas penting dalam politik negeri ini. Yang juga termasuk dalam kelas itu para pengambil kebijakan. Itu tuduhan saya. Korbannya sudah ada, baru-baru ini truk barang kena imbasnya, mereka dibatasi masuk ke tol dalam kota, demi memperlancar perjalanan kelas menengah itu, setelah sebelumnya pernah dilarang masuk. Jadi dalam mempergunakan tol, ada diskriminasi hak. Di luar negeri, highway biasanya menghubungkan antarkota. Namun di Jakarta, tol dalam kota lebih sebagai prasarana anti macet (padahal sering macet juga). Penggunanya cuma kendaraan roda empat. Lha justru kendaraan roda dua sebagai mayoritas malah gak punya fasilitas. Bahkan sekadar jalur khusus pun gak ada. Katanya negara demokrasi? Lha kok mayoritas selalu tertindas?

Layang Mayangkara, Surabaya

Saya kemudian mengenang mengenai masa lalu di Surabaya, yaitu jalan layang Mayangkara. Dulu untuk melalui jalan itu harus membayar tol. Jalan layang itu untuk menghindari lintasan kereta api dan arus ke pasar dibawahnya. Jadi kalo mau lancar, bayar dulu. Itu dulu, sekarang jalan layang Mayangkara telah berfungsi selayaknya. Bagi yang mau terus ke arah selatan atau ke Sidoarjo ya memakai jalan layang. Bagi yang mau belok-belok atau mau lihat kereta api ya lewat bawahnya.

Kemudian pandangan saya beralih lagi ke perbaikan jalan di Cinere raya. Waktu itu mobil yang lewat jalan kampung, ditarik ‘sumbangan’ oleh warga. Yang membuat terenyuh, motor disuruh lewat jalan lain, soalnya motor mana pernah bayar.

polisi cepek

Lalu penampakan ‘polisi cepek’ atau ‘pak ogah’. Udah jelas siapa yang bayar didahulukan, walau hanya sekadar ‘cepek’ (eh tapi sekarang minimal gopek).

Nggak tahu ya (semoga saya salah), dalam sudut pandang saya antara ERP, Tol, sumbangan jalan, polisi cepek,  kok nggak beda jauh. Mementingkan yang bayar. Menyamankan yang sudah nyaman, karena yang tak berpunya sudah biasa susah.

Anjing menggonggong, kafilah berlalu setelah memberi recehan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s