lalu lintas kota cobaan besar di bulan puasa ini.

macet bertambah parah, sedang deadline masuk kantor atau buka di rumah sangat sempit.

seringkali tidak bisa berbuka dirumah, karena macet sudah sedemikian payah.

sementara sepeda motor saya melaju ditengah asap knalpot, dipepet mobil-mobil yang susah dibedakan ngawurnya dengan sepeda motor, yang juga menyalip tanpa perhitungan dan membuat kaget.

diperempatan, kendaraan saling serobot. Beberapa kali kaki terinjak dan tersenggol.

dongkol dalam hati… tapi apa yang bisa dilakukan selain merelakan, agar tak sesak jalan nafas ini.

memaafkan,  karena memang saya tidak mempunyai kengawuran atau kecepatan yang sepadan dengan mereka.

mungkin juga saya yang harus meminta maaf karena saya menjadi penghalang jalannya.

lalu lintas kota memang sudah begini ini.

dan saya juga mungkin harus meminta maaf kepada sopir angkot, ojek dan bis kota yang biasa saya tumpangi.

nafkah mereka saya kurangi dengan tidak memakai jasa mereka, nanti saja lain waktu, tidak sekarang ini.

maaf juga saya mintakan ketika berebut tempat duduk di KRL dan bis.

mungkin ada hak mereka yang terampas atas ‘kedudukan’ saya.

saya mungkin juga harus memberi maaf yang tulus pada pemimpin kita yang tak juga memberikan solusi bagi macetnya kota.

karena mungkin saya tak punya kekuasaan, kapabilitas dan pandangan yang sepadan dalam berlalu lintas.

di suatu perempatan, tak sengaja saya menginjak kaki pengendara lain.

segera saya meminta maaf, dan dia dengan mengangguk tersenyum.

baru terasa betapa leganya dimaafkan, selega dia memaafkan saya.

— Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin —

Komentar ditutup.