Arsip untuk September, 2011

image

image

Sekitar bulan Agustus-September ini ada dua peristiwa kejahatan dalam angkot, yaitu pemerkosaan dan pembunuhan dalam angkot M24 jurusan slipi-kebonjeruk dan pemerkosaan dalam angkot D02 jurusan Ciputat-Pondok Labu.

Jelas saja hal ini menambah jelek wajah perangkotan yang sebelumnya sudah jelek. Sudah sering ngetem, ugal-ugalan, sekarang ditambah lagi dengan menjadi tempat penyaluran nafsu mesum. Akhirnya pemerintah baru bereaksi. Ada pernyataan bahwa sopir tembak akan ditertibkan (kebetulan pelaku pemerkosaan sopir tembak), ada wacana akan ada baju seragam sopir, dan penertiban terhadap kaca filem di angkot.

Lagi-lagi cuma aksi reaktif setelah ada kejadian, dan biasanya ‘anget-anget tai ayam’. Tidak menuntaskan masalah dan cuma biar kelihatan ada aksi (pencitraan lagi).

Angkot, seperti halnya bis-bis kota di Jakarta, sistemnya setoran kepada pemilik kendaraan. Jelas di sini tak ada standar dan seleksi yang memadai untuk sopirnya, apalagi sopir tembak yang tidak berhubungan langsung dengan pemilik. Masalah operasional, seakan-akan bukan tanggung jawab pemilik, termasuk bila ada ‘penyimpangan’, termasuk kriminalitas. Padahal bila ada kejadian pemilik angkutan bisa dijerat juga.

Dengan pola manajemen seperti itu, memang memunculkan risiko kejahatan, seperti juga kejahatan di taksi yang dilakukan oleh sopir tembak. Statemen bahwa semua tergantung pada akhlak individu yang bersangkutan, atau justru menyalahkan korban atas busana yang dikenakan, saya pikir tidak pas untuk dijadikan jawaban atas kasus ini. Ini menyangkut sistem transportasi umum. Transportasi yang tersistem seperti busway dan KRL setidaknya lebih memberikan rasa aman kepada penggunanya dalam kasus seperti diatas.

Karena kejadian pemerkosaan di angkot di waktu larut malam, satu hal yang perlu diingat, khususnya untuk pekerja wanita, bahwa sebenarnya dalam UU no 13 tahun 2003 pasal 76, pemerintah telah memberikan perlindungan apabila perusahaan mempekerjakan wanita antara jam 11 malam sampai 5 pagi wajib disediakan angkutan antar jemput. Silakan baca di sini. Yaitu perusahaan wajib menyediakan angkutan dari atau sampai rumah, atau bila tak punya fasilitas tersebut bisa memakai jasa angkutan yang layak seperti Taksi. Tentu saja taksi disini yang terpercaya, dan kalau perlu dicatat nomor lambungnya. Sehingga kejadian ada wanita pulang kerja dan terlantar di jalan bisa dihindarkan.

Tapi gimana kalo pulang larut malam bukan karena tugas lembur dari perusahaan? Artinya risiko ya ditanggung sendiri kalo nekat mau naik angkutan yang tak terjamin.

Lagipula, bagi kaum hawa, kalau hanya sekadar main baru pulang sampai larut malam, norma ketimuran dan norma agama nggak menerima. Tanpa menyangkut norma, hal itu (terutama bagi wanita) memang berisiko tinggi.

image

Pekan ini Kopaja AC S13 berhenti beroperasi, demikian berita di fokus pagi hari ini. Alasan berhentinya operasi S13 itu karena manajemen akan memeriksa seluruh unit Kopaja AC dan menunggu berlakunya SK mengenai tarif yang baru.
Sebagai pengguna angkutan umum, saya berkesimpulan bahwa ini adalah awal yang gak beres untuk track record kopaja AC S13. Fenomena kemunculannya heboh, namun sebulan setelah itu saya menemukan ketidakberesan dalam operasionalnya.
Jelas pemberhentian operasional Kopaja AC S13 tanpa informasi dan tanpa alternatif penggantinya merugikan konsumen. Kelihatannya mental operator masih sama, tidak melihat dari sisi pengguna. Banyak calon penumpang yang sudah telanjur ke terminal atau halte akhirnya kecewa karena tidak ada bis Kopaja S13, padahal di Jakarta pindah jalur/trayek adalah bukan masalah sepele, karena menyangkut waktu dan biaya. Apalagi tak ada informasi, bagaimana kalau sudah telanjur menunggu? Masa seluruh unit harus berhenti beroperasi.
Sebenarnya ketidakberesan Kopaja S13 sudah saya cium sejak pasca lebaran 1432 H. Saya dengar kabar bahwa Kopaja AC menaikkan tarif (secara diam-diam). Akhirnya saya membuktikan sendiri bahwa memang tarif telah naik. Selasa tanggal 6 September 2011 saya naik Kopaja S13 dan ditarik ongkos Rp 5.000. Waktu saya tanyakan, kondekturnya hanya menjawab singkat; sudah naik!
Saya amati lagi, ternyata ada ‘perubahan’, yaitu di pintu putar depan, ternyata sudah tak ada palangnya (tampak dalam foto). Dulu saya turun harus di pintu belakang, sekarang bisa dari pintu depan. Naik turunnya penumpang juga tidak di halte, bisa sembarangan seperti Kopaja ‘asli’.
Bukan kenaikan tarif yang saya masalahkan, melainkan informasi dan transparansinya. Saya lihat kalau sistemnya belum bisa mengontrol karcis, bisa bangkrut Kopaja AC itu. Ujung-ujungnya bisa kembali ke sistem setoran.
Kayaknya, masyarakat Jakarta berharap terlalu banyak pada Kopaja AC ini, sementara Kopaja AC itu tidak banyak membawa perubahan.

Lebaran tahun ini saya tidak mudik. Tapi bukan berarti saya tidak pulang ke tanah kelahiran. Ini semua cuma masalah waktu, dan waktu adalah uang.

Ketika tiket Kereta Api sudah menyamai harga tiket pesawat, maka orang akan berpikir dua kali untuk membeli tiket kereta api. Seperti yang pernah saya tulis, ada sedikit ‘keajaiban’ pada tiket kereta api. Pada saat hari H, tiket kereta api tersedia dengan harga tidak sampai separuhnya, atau ada di batas bawah. Pemesanan pun menjadi mudah. Bisa langsung, bisa lewat call centre, atau lewat agen. Jadi perjuangannya nggak seperti di tulisansaya terdahulu. Apa mungkin gara-gara sentilan Menteri Perhubungan terkait penjualan tiket KA?

lho kok kosong?

Contohnya Argo Bromo Anggrek dari Jakarta ke Surabaya, tiketnya waktu sebelum lebaran bisa mencapai Rp 650 ribu, setelah lebaran cuma Rp 250 ribu. Kata petugas KA, harga tiket menyesuaikan dengan pasar. Benar saja, memang kereta api ke Surabaya kosong. Kakak ipar saya yang ke Surabaya tanggal 31 Agustus, cuma ditemani 7 orang dalam satu gerbongnya.

Tapi sebelum melakukan transaksi pemesanan tiket, sebaiknya cek dulu jadwal dan tarif kereta api di situs resminya. Soalnya waktu istri saya pesan tiket di stasiun, entah petugasnya salah atau gimana, harganya beda. Lalu saya telpon call centre, kok  juga masih harga batas atas. Saya langsung saja bilang aja harga di situsnya cuma Rp 300 ribuan, kemudian dilihat lagi dan diralat, harganya sesuai dengan situs resmi.

Mungkin ada yang bilang, waktu lebaran itu momennya yang tak bisa dibeli. Namun bagi yang mengutamakan budget, tanpa harus tidak pulang ke kampung halaman, bisa dengan cara melawan arus (mudik). Contohnya seperti diatas, penghematan yang bisa dilakukan melebihi budget bila mudik mengikuti arus. Mungkin yang perlu diperhitungkan adalah cuti. Bila tak bersamaan dengan libur lebaran, cuti yang diperlukan lebih banyak lagi diambil. Kalau tidak, waktu mudik jadi lebih sedikit. Bagi sebagian orang, no problem, sebab bukan kuantitas, tapi kualitas yang utama.

gambir stat

Dengan melawan arus mudik, perjalanan menjadi lebih nyaman, biaya lebih rendah, tanpa kehilangan makna hari raya. Jangan lupa, di Jawa, hari raya masih bisa dirayakan seminggu setelah lebaran, yaitu Hari Raya Ketupat, alias “kupatan”. Jadi mudik setelah lebaran toh masih tetap berhari raya (ketupat) di kampung halaman (di Jawa). Kalau dibilang hari raya ketupat kan tradisi, jawabannya ya sama saja; mudik juga tradisi. Dalam agama tidak ada dosa bila mudik setelah lebaran dan gak ada kewajiban juga untuk mudik. Malahan terasa lebih tenang menjalankan ibadah di bulan ramadhan sampai tuntas, tak terganggu perjalanan mudik dan urusan tetek bengeknya.

Bagi saya sih… sekali-sekali melawan arus, menjadi orang yang tidak biasa (alias luar biasa).