Lebaran tahun ini saya tidak mudik. Tapi bukan berarti saya tidak pulang ke tanah kelahiran. Ini semua cuma masalah waktu, dan waktu adalah uang.

Ketika tiket Kereta Api sudah menyamai harga tiket pesawat, maka orang akan berpikir dua kali untuk membeli tiket kereta api. Seperti yang pernah saya tulis, ada sedikit ‘keajaiban’ pada tiket kereta api. Pada saat hari H, tiket kereta api tersedia dengan harga tidak sampai separuhnya, atau ada di batas bawah. Pemesanan pun menjadi mudah. Bisa langsung, bisa lewat call centre, atau lewat agen. Jadi perjuangannya nggak seperti di tulisansaya terdahulu. Apa mungkin gara-gara sentilan Menteri Perhubungan terkait penjualan tiket KA?

lho kok kosong?

Contohnya Argo Bromo Anggrek dari Jakarta ke Surabaya, tiketnya waktu sebelum lebaran bisa mencapai Rp 650 ribu, setelah lebaran cuma Rp 250 ribu. Kata petugas KA, harga tiket menyesuaikan dengan pasar. Benar saja, memang kereta api ke Surabaya kosong. Kakak ipar saya yang ke Surabaya tanggal 31 Agustus, cuma ditemani 7 orang dalam satu gerbongnya.

Tapi sebelum melakukan transaksi pemesanan tiket, sebaiknya cek dulu jadwal dan tarif kereta api di situs resminya. Soalnya waktu istri saya pesan tiket di stasiun, entah petugasnya salah atau gimana, harganya beda. Lalu saya telpon call centre, kok  juga masih harga batas atas. Saya langsung saja bilang aja harga di situsnya cuma Rp 300 ribuan, kemudian dilihat lagi dan diralat, harganya sesuai dengan situs resmi.

Mungkin ada yang bilang, waktu lebaran itu momennya yang tak bisa dibeli. Namun bagi yang mengutamakan budget, tanpa harus tidak pulang ke kampung halaman, bisa dengan cara melawan arus (mudik). Contohnya seperti diatas, penghematan yang bisa dilakukan melebihi budget bila mudik mengikuti arus. Mungkin yang perlu diperhitungkan adalah cuti. Bila tak bersamaan dengan libur lebaran, cuti yang diperlukan lebih banyak lagi diambil. Kalau tidak, waktu mudik jadi lebih sedikit. Bagi sebagian orang, no problem, sebab bukan kuantitas, tapi kualitas yang utama.

gambir stat

Dengan melawan arus mudik, perjalanan menjadi lebih nyaman, biaya lebih rendah, tanpa kehilangan makna hari raya. Jangan lupa, di Jawa, hari raya masih bisa dirayakan seminggu setelah lebaran, yaitu Hari Raya Ketupat, alias “kupatan”. Jadi mudik setelah lebaran toh masih tetap berhari raya (ketupat) di kampung halaman (di Jawa). Kalau dibilang hari raya ketupat kan tradisi, jawabannya ya sama saja; mudik juga tradisi. Dalam agama tidak ada dosa bila mudik setelah lebaran dan gak ada kewajiban juga untuk mudik. Malahan terasa lebih tenang menjalankan ibadah di bulan ramadhan sampai tuntas, tak terganggu perjalanan mudik dan urusan tetek bengeknya.

Bagi saya sih… sekali-sekali melawan arus, menjadi orang yang tidak biasa (alias luar biasa).

Komentar
  1. PANGERAN ompiq mengatakan:

    bakdo kupat pake nunggu sidang isbat ndak ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s