image

image

Sekitar bulan Agustus-September ini ada dua peristiwa kejahatan dalam angkot, yaitu pemerkosaan dan pembunuhan dalam angkot M24 jurusan slipi-kebonjeruk dan pemerkosaan dalam angkot D02 jurusan Ciputat-Pondok Labu.

Jelas saja hal ini menambah jelek wajah perangkotan yang sebelumnya sudah jelek. Sudah sering ngetem, ugal-ugalan, sekarang ditambah lagi dengan menjadi tempat penyaluran nafsu mesum. Akhirnya pemerintah baru bereaksi. Ada pernyataan bahwa sopir tembak akan ditertibkan (kebetulan pelaku pemerkosaan sopir tembak), ada wacana akan ada baju seragam sopir, dan penertiban terhadap kaca filem di angkot.

Lagi-lagi cuma aksi reaktif setelah ada kejadian, dan biasanya ‘anget-anget tai ayam’. Tidak menuntaskan masalah dan cuma biar kelihatan ada aksi (pencitraan lagi).

Angkot, seperti halnya bis-bis kota di Jakarta, sistemnya setoran kepada pemilik kendaraan. Jelas di sini tak ada standar dan seleksi yang memadai untuk sopirnya, apalagi sopir tembak yang tidak berhubungan langsung dengan pemilik. Masalah operasional, seakan-akan bukan tanggung jawab pemilik, termasuk bila ada ‘penyimpangan’, termasuk kriminalitas. Padahal bila ada kejadian pemilik angkutan bisa dijerat juga.

Dengan pola manajemen seperti itu, memang memunculkan risiko kejahatan, seperti juga kejahatan di taksi yang dilakukan oleh sopir tembak. Statemen bahwa semua tergantung pada akhlak individu yang bersangkutan, atau justru menyalahkan korban atas busana yang dikenakan, saya pikir tidak pas untuk dijadikan jawaban atas kasus ini. Ini menyangkut sistem transportasi umum. Transportasi yang tersistem seperti busway dan KRL setidaknya lebih memberikan rasa aman kepada penggunanya dalam kasus seperti diatas.

Karena kejadian pemerkosaan di angkot di waktu larut malam, satu hal yang perlu diingat, khususnya untuk pekerja wanita, bahwa sebenarnya dalam UU no 13 tahun 2003 pasal 76, pemerintah telah memberikan perlindungan apabila perusahaan mempekerjakan wanita antara jam 11 malam sampai 5 pagi wajib disediakan angkutan antar jemput. Silakan baca di sini. Yaitu perusahaan wajib menyediakan angkutan dari atau sampai rumah, atau bila tak punya fasilitas tersebut bisa memakai jasa angkutan yang layak seperti Taksi. Tentu saja taksi disini yang terpercaya, dan kalau perlu dicatat nomor lambungnya. Sehingga kejadian ada wanita pulang kerja dan terlantar di jalan bisa dihindarkan.

Tapi gimana kalo pulang larut malam bukan karena tugas lembur dari perusahaan? Artinya risiko ya ditanggung sendiri kalo nekat mau naik angkutan yang tak terjamin.

Lagipula, bagi kaum hawa, kalau hanya sekadar main baru pulang sampai larut malam, norma ketimuran dan norma agama nggak menerima. Tanpa menyangkut norma, hal itu (terutama bagi wanita) memang berisiko tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s