Arsip untuk Oktober, 2011

Musim hujan telah tiba. Artinya harus siap menghadapi guyuran air deras, angin dan pohon/baliho tumbang serta banjir. Kesemuanya tentu bisa berimbas pada kemacetan parah. Tapi musim hujan harus dihadapi dan ditembus agar bisa berangkat kerja dan pulang ke rumah. Bagi yang berkendaraan umum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, jadi seperti tips menghadapi hujan dalam angkutan umum :

1. Tempat menunggu angkutan

Tempat menunggu idealnya semacam halte atau stasiun dimana bisa berteduh dari guyuran air. Tapi apa daya kalo tidak tersedia, apalagi kadang halte sering penuh jadi tempat berteduh para biker. Terpaksa emperan toko atau rumah bisa dimanfaatkan sejenak. Ada yang perlu dihindari yaitu berteduh dibawah pohon. Selain berisiko tumbang bila kena angin kencang, risiko lain yang fatal adalah sambaran petir. Kalau perlu, datangi saja terminal terdekat agar bisa langsung menaiki angkutan.

2. Perlengkapan

Umumnya supaya praktis membawa payung lipat kecil yang bisa dimasukkan dalam tas. Ini berguna saat transit, berpindah angkutan dan saat menunggu bila tak ada tempat berteduh yang layak. Yang lebih bagus lagi bila membawa bungkus/sarung payungnya juga, sehingga kalo dilipat, airnya tidak membasahi penumpang lain karena bisa langsung dimasukkan tas. Kelemahan payung ini adalah ringkih, gampang rusak kena angin, sehingga gak bisa kalo dibuat naik ojek.

Alternatif lain adalah memakai jas hujan/jaket parasut, yang lebih handal, kalau perlu beserta celananya, jadi bisa dipakai naik ojek juga. Tapi penumpang lain bisa kebasahan.

3. Pahami karakter model angkutan

Tiap moda angkutan berbeda dalam menghadapi hujan. Contoh gampangnya kalo naik ojek ya risiko kebasahan jelas ada, namun fleksibel cari jalan dalam menembus macet. Untuk moda angkutan KRL tidak terpengaruh hujan dan jalurnya biasanya relatif tinggi, jadi lebih aman banjir, tapi kalo bicara angin jelas ada risiko di sistem LAA dan pantografnya. Angkot, selain risiko basah bagi penumpang di dekat pintu terbuka, karena rendah lebih berisiko kebanjiran daripada bis kota. Bis kota non AC, risiko kebasahan (terutama bagi yang bergelantungan) dan kalau ventilasi di atap bis rusak (gak bisa ditutup).

4. Lindungi barang yang mudah rusak

Kalau terpaksa hujan-hujanan, cari atau selalu sedia kantong plastik. Itu bukan hanya untuk muntah karena mabuk perjalanan, tapi tempat aman bagi barang-barang yang rentan rusak. Jadi kalo bawa Hape, laptop, buku, masukkan aja ke kantong plastik baru dimasukkan tas. Biar badan basah kuyup, yang penting harta kita aman. Kalau mau juga masukkan sepatu kedalam kantong plastik, dan bersandal jepit, biar penampilan tetap OK. Kalau mau juga sekalian baju dan celana/rok (eh, tapi masa cuma pake kolor dan kaos saja?).

5. Memahami daerah rawan banjir

Rajin mencari info. Contohnya dari BMKG mengenai potensi banjir di bulan November dan Desember 2011

potensi banjir DKI Nov 2011

potensi banjir DKI 2011

Dengan mengetahui potensi kebanjiran di suatu daerah, minimal kita siap bila terjebak banjir. Sebaiknya sih mengambil rute yang menghindari daerah banjir. Kecuali kantor kita atau rumah kita memang di daerah itu…

6. Fleksibel

Tingkat gangguan relatif tinggi di musim hujan ini. Contohnya kerusakan LAA di KRL, atau kemacetan akibat pohon/baliho tumbang atau banjir. Jangan ragu berganti angkutan. Keuntungan bagi yang berkendaraan umum begini adalah bila jalan depan terhadang banjir, kita bisa jalan terus, karena gak punya kendaraan yang wajib dijaga dan disayang-sayang. Saya pernah harus berjalan kaki menembus banjir agar bisa melanjutkan perjalanan, sementara mobil dan motor berhenti semua. Sampai diseberang banjir, lanjut lagi dengan angkot yang menunggu disana.

7. Jaga kesehatan

Tentu saja banyak yang sakit di musim hujan ini. Risikonya bagi yang naik angkutan umum adalah penularan penyakit sesama penumpang. Jadi jaga kesehatan, dan jangan lupa cuci tangan pakai sabun ketika sampai di rumah/kantor. Kalo perlu juga bawa masker atau pembersih antiseptik.

8. Persiapan dan bekal lebih banyak

Siapkan uang yang lebih banyak, untuk berpindah angkutan atau beli makanan/minuman di tengah kemacetan. Kalo perlu bawa bekal makanan/minum, mengingat waktu banjir besar pedagang makanan dan minuman kehabisan stok gara-gara diborong komuter yang terjebak banjir.

Iklan

Perkenalan saya dengan WWF (World Wide Fund for Nature) – Indonesia adalah ketika saya melintas di halte busway Dukuh Atas. Sejak itu saya menjadi lebih sering mengintip milis supporter WWF-Indonesia maupun website-nya , dan ternyata memang ada nilai lebih kalo kita memakai angkutan umum. Kesadaran (atau keterpaksaan karena tak ada pilihan) untuk memilih menggunakan angkutan umum ternyata bisa membuat bumi lebih hijau. Jadi kayaknya naik angkutan umum itu berpahala, karena mencegah bumi jadi lebih rusak. Soal pahala, mestinya lumayan gede, karena naik angkutan umum di Indonesia ternyata nggak gampang dan tidak nyaman. Semoga ini menjadi penghibur bagi para komuter yang berhimpitan di bis, KRL dan angkutan umum lainnya. Setiap tetesan keringatnya berarti bagi bumi.

Berikut yang saya kutip dari WWF-Indonesia :

Menjadi Peduli Transportasi

  1. Hindari bepergian dengan pesawat terbang apabila jarak tempuh kurang dari 500 km.
  2. Tinggalkan mobil di rumah apabila melakukan perjalanan yang tidak jauh.
  3. Gunakan sepeda untuk perjalanan pendek, selain hemat energi, itu akan membuat Anda bugar!
  4. Gunakan kendaraan umum untuk perjalanan yang jauh. Transport umum merupakan cara terbaik untuk mengurangi emisi karbondioksida dari kendaraan.
  5. Lebih suka pakai mobil? Ajak rekan-rekan sejurusan untuk pergi bersama-sama.
  6. Bila Anda hendak membeli mobil, pertimbangkan untuk membeli kendaraan hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Selain menghemat uang, Anda turut berpartisipasi menyelamatkan Bumi dari CO2.
  7. Gunakan bahan bakar bebas timbal.
  8. Usulkan kepada Pemda untuk menyediakan kendaraan umum yang cepat, nyaman, dan ekonomis.
  9. Apabila harus menggunakan mobil, perhatikan hal-hal berikut:
  • Matikan mobil apabila menunggu lebih dari 30 detik
  • Cek tekanan ban mobil, karena apabila tekanan kurang 0,5 bar dari normal akan meningkatkan penggunaan bahan bakar sebesar 5%
  • Usahakan untuk tidak memanaskan mobil dalam posisi berhenti. Mobil akan lebih cepat panas apabila dikendarai, sehingga Anda akan menghemat bahan bakar
  • Hindari menggunakan rem secara mendadak karena mengonsumsi bahan bakar dengan cepat.
  • Turunkan bagasi apabila Anda tidak membutuhkannya lagi, karena 100 kilo beban akan menambah penggunaan 1 liter bahan bakar lebih banyak dalam jarak 100 km
  • Coba mengurangi jarak tempuh perjalanan kendaraan Anda tiap minggunya. Semisal, gunakan kendaraan antar jemput bersama untuk ke kantor atau ke sekolah.
Cukup dengan menggunakan transportasi umum, anda tidak perlu ribet seperti poin no 9 ketika menggunakan mobil, agar bisa berwawasan lingkungan. Sayang sekali di Indonesia, urusan angkutan umum tidak dipandang secara komprehensif. Seakan-akan cuma urusan Departemen Perhubungan dan Kepolisian. Padahal transportasi menyangkut juga masalah subsidi BBM dan alokasinya yang gak beres, menyangkut kemacetan dan dampak yang ditimbulkan,  menyangkut perekonomian rakyat, nilai-nilai kebersamaan dan sosial budaya.
Coba lihat betapa susah melaksanakan poin-poin diatas. Menghindari bepergian dengan pesawat terbang, disaat moda Kereta Api, Bis Antarkota dan Kapal Laut terpinggirkan (atau sengaja dipinggirkan). Menggunakan sepeda, disaat prasarana yang ada tak mendukung, bahkan menjadi berisiko. Menggunakan BBM bebas timbal, sedangkan BBM jenis itu tak ada subsidi khusus. Dan mengenai transportasi umum? hmmm silakan baca deh tulisan-tulisan di blog ini.
Tapi don’t be sad. Semakin keras dan susah upaya kita, pahalanya juga semakin besar.
Do better for earth

 

Mulai hari Rabu, 19 Oktober 2011 sampai dengan 29 November 2011, KRL punya gawe, yaitu penambahan pasokan listrik atas (LAA) dan pembangunan gardu LAA. Kegiatan itu berakibat batalnya 20 perjalanan KRL (tapi di posternya ada 29 perjalanan) terutama jalur Bogor/Depok, karena  sebanyak tiga gardu LAA harus dipadamkan yakni gardu Citayam, Cilebut dan Kedungbadak.

Poster Pembatalan KRL

Alasannya sih untuk peningkatan, baik peningkatan perjalanan KRL karena bertambahnya pasokan LAA dan peningkatan kualitas (biar tegangan gak naik turun). Seperti halnya kalo punya hajatan/gawe, tentu saja ada yang akan ‘terganggu’, dalam kasus ini kebetulan sekali yang terganggu adalah pelanggan KRL sendiri. Batalnya perjalanan KRL itu diprediksi akan akan menambah volume kendaraan yang masuk ke Jakarta. Entah apakah prediksi itu benar, yang jelas hari Kamis, 20 oktober 2011 ini saya mengalami kemacetan yang parah banget sampe saya telat masuk kantor.

Karena saya sekarang bukan pengguna KRL, saya ucapkan yang sabar ya bagi para roker (rombongan kereta). Bersabar satu setengah bulan demi peningkatan pelayanan. Perbaikan dan peningkatan tidak bisa disulap, diambil positifnya saja, berarti masih ada upaya perbaikan untuk KRL (sekali lagi, saya masih bisa ngomong santai gini soalnya saya sudah bukan lagi roker). Saya juga ambil positifnya nggak jalan-jalan dulu pake KRL, atau ngeles waktu ditugaskan ke kantor di pusat kota yang biasanya saya naik KRL.

Oleh-oleh dari perjalanan mudik kemarin, karena pulang sendirian, jadi lebih banyak memperhatikan interior KA Sembrani yang saya tumpangi. Karena perjalanan dengan KA sangat jarang saya lakukan (paling setahun sekali), mungkin informasi ini tak banyak berarti bagi ‘Asep’ (alias arek sepur) atau penglaju yang sangat berpengalaman karena tiap minggu p.p. naik kereta api.

1. Colokan listrik dan meja kecil

Jangan khawatir kehabisan batere hape, karena colokan listrik sudah ada dalam gerbongnya. Letaknya nempel di dinding gerbong, tepatnya dibawah meja kecil dibawah jendela. Jadi kalo mau kursi yang strategis memang kursi di dekat jendela, bisa ngecharge sekaligus ada meja kecil tempat naruh hape (sebenarnya tempat naruh botol/gelas)

2. Bagasi model pesawat

Penampilannya sudah keren, mirip pesawat, ada tutupnya. Memang tidak semua gerbong, cuma gerbong-gerbong yang sudah dipermak saja. Jadi kalo ada orang ngambil bagasi lumayan ketahuan karena harus buka tutupnya.

3. Televisi

Seperti terlihat di gambar sebelumnya, ada televisi di arah depan gerbong sebelah kiri. Tapi TV ini tidak untuk menyetel siaran TV, cuma untuk filem.

4. Pintu otomatis

Ini kadang sering orang bingung bukanya. Ada yang memaksa didorong sekuat tenaga. Padahal ada tombol dan tulisan yang jelas terbaca. Maklum… kadang orang gak membayangkan kereta api bisa canggih.

5. Pengubah arah hadap kursi

Kalau kebetulan punya empat tiket dalam satu gerbong yang urutannya seri, bisa dibuat berhadapan. Caranya injak aja tuas dibawah kursi, dan putar sampai berhadapan dan berbunyi klik. Jika memilih berhadapan, fasilitas pijakan kaki menjadi hilang. Juga rebahan kursi menjadi kurang landai karena terhambat kursi di belakang.

6. Reclining seat, pijakan kaki dan meja tatakan makan

Reclining seat artinya kursi buat berbaring. Jadi kursi ini bisa direbahkan sampai landai, dengan menekan tombol di sandaran tangan. Sandaran tangan itu sendiri juga bisa dibuka, maka didalamnya ada semacam meja untuk tatakan makan (kalau di pesawat, tatakan itu ada di sandaran kursi depan kita). Tarik keluar, jadilah meja. Pijakan kaki ada di bagian bawah kursi depan kita. Dudukannya bisa disesuaikan.

7. Lampu baca

Lampu baca ini dihidupkan cukup menekan saklarnya, dan cahayanya cukup diarahkan untuk menerangi bacaan. Semoga tidak rusak seperti yang saya alami.

8. Toilet

Maaf fotonya kabur, soalnya goyang terus. Toilet disini lumayan bersih (kalo dibersihkan). Ada wastafel dan WC disini, yang terbuat dari stainless stell/alumunium. Airnya lumayan (maksudnya masih ada selama perjalanan). Ada anjuran untuk mempergunakannya ketika kereta berjalan. Kenapa hayo?? sebabnya… saluran pembuangannya langsung ke rel, nggak ditampung. Jadi kalo kereta berhenti, dan ada yang BAB, pasti tercipta ‘gunung’ di bawah toilet. Kalau berhenti di stasiun, pasti nggak enak dilihat (dan dicium).

Sebenarnya sih lumayan nyaman dengan fasilitas seperti itu, cuma kalo menurut saya ada satu kekurangan, yaitu AC nya terlalu dingin. Entah karena saya yang udik, mata dan muka saya sampai kering dan badan menggigil. Namun dengan interior seperti itu, rupanya masih ada kemunduran bila dibandingkan dengan kereta tempo doeloe, yaitu kereta Bima (doeloe) yang mempunyai kompartemen untuk tidur.

Penutup, saya tampilkan foto jadul interior kereta eksekutif Jakarta-Surabaya tahun 80-an, yaitu KA Mutiara (lupa, mutiara selatan atau utara), sebagai perbandingan.

interior KA Mutiara jadul

Ada kenangan dengan Marina, yang tak terlupakan sampai sekarang. Mengingat Marina, jadi teringat dengan hari-hari pertama pernikahan saya. Bukan, Marina bukan istri saya, juga bukan kekasih gelap saya.

KM Marina Nusantara semasa jaya

Dia adalah KM Marina Nusantara, kapal ro-ro trayek Surabaya-Banjarmasin milik PT Prima Vista. Kapal itu yang mengantarkan saya dan istri saya ke Banjarmasin beberapa hari setelah pernikahan kami. Jadi kami ‘berbulan madu’ di kamar VIP kapal itu. Itulah pengalaman pertama kami naik kapal antar pulau lebih dari 12 jam. Selama perjalanannya 20 jam ke Banjarmasin, kami merasakan sendiri begitu jauhnya jarak antara kampung halaman menuju tanah perantauan (beda ketika naik pesawat yang cuma 1 jam).

Kini Marina tinggal kenangan. Senin, 26 September 2011, KM Marina Nusantara terbakar setelah bertabrakan dengan tongkang batubara. Kejadian ini saya menjadi ingin menangis, bukan semata untuk kenangan masa lalu, tapi mengenai jeleknya transportasi di Indonesia, khususnya transportasi laut.

KM Marina ketabrak tongkang batubara

KM Marina Nusantara on fire

KM Marina Nusantara setelah 'dipanggang'

Negeri ini kepulauan…

nenek moyang kita pelaut…

Tapi semua sepertinya tinggal kenangan, seperti KM Marina Nusantara yang pelan-pelan akan terhapus kenangannya.

"terminal" pondok labu

"terminal" pondok labu

Satu hal yang bikin saya surprise adalah banyaknya angkutan umum di jabodetabek. Banyak sekali angkot, kopaja maupun metromini yang berkeliaran, bahkan di jalan-jalan sempit di perkampungan. Tentu saja ini cukup menyenangkan karena akses ke banyak tempat makin mudah dengan angkutan umum. Namun dibalik itu, ada hal yang dibenci oleh pengguna jalan lainnya, yaitu kemacetan. Lho, apa kaitannya?

Ngetem. Nunggu mencari penumpang. Sebenarnya nggak salah dengan mencari penumpang itu, wong mencari nafkah. Cuma masalahnya adalah tempatnya. Satu hal lagi yang bikin surprise adalah dengan banyaknya trayek dan jumlah angkot, terminalnya sangat minim. Apa yang disebut ‘terminal’ kebanyakan imajiner, yang dimaksud sebagai terminal kebanyakan berupa perempatan jalan, emperan pasar atau sekadar bahu jalan. Jelas berpotensi bikin macet bila ngetem disaat jam sibuk.

'terminal' pondok kopi

Saya nggak tahu, apakah dalam membuat suatu trayek, titik tujuan awal dan akhir trayek itu apakah dipikirkan memiliki fasilitas terminal, tapi kok kayaknya dilempar saja tanpa peduli titik pemberhentian trayek itu ada atau tidak. Belum mengenai jumlah angkutan yang beroperasi, beberapa angkot seperti kereta api, berderet-deret dijalanan. Banyak juga yang kosong. Kayaknya nggak sepadan jumlah angkot dengan jumlah penumpang, apalagi dengan tren kenaikan kendaraan pribadi.

Kembali ke masalah terminal… sebenarnya menurut saya jelas tanggung jawab pemerintah.

Logikanya begini :

Sudah memberikan ijin trayek, maka jelas ada titik-titik ujung trayek itu. Misalnya Angkot D110 tujuan Cinere-Depok. Di Depok memang ada terminalnya, tapi di Cinere? jelas saja D110 jadi banyak yang ngetem di pinggir jalan. Bisa saja beralasan, kan bisa langsung jalan, nggak usah ngetem, tapi prakteknya Cinere kan ditentukan sebagai titik tujuan, jadi harus berhenti dong, kalau ada penumpang turun/naik disitu masa nggak diangkut? kan sudah ditulis tujuannya Cinere ? (kalau nggak berhenti disitu, namanya bohong kan?) berhenti menaik-turunkan penumpang sendiri walau sebentar sudah bisa menyebabkan kemacetan di jam sibuk.

Terus yang kedua, dengan memberikan ijin operasi yang terlalu banyak dibandingkan dengan penumpangnya, membuat pilihan ngetem menjadi paling rasional. Memang ada yang mau disuruh jalan tak ada penumpang, hari gini, siapa mau beramal tanpa ada laba?

Nanti ada yang berkilah pula, sudah dikasih terminal, masih juga suka ngetem di luar. Oalah pak…pak… penumpang dan angkot kan gak bisa mengatur dirinya sendiri, makanya diciptakan aturan dan penegak hukumnya. Kalo bisa ngatur sendiri ya gak usah ada negara (memang manusia itu semut/lebah?). Ya tolong jalankan aturan (yang tidak anget-anget tai ayam doang) agar angkot dan penumpang lebih nyaman naik di terminal.

Angkutan umum dituding menyebabkan macet, karena jumlahnya terlalu banyak dan banyak yang ngetem. Seringkali timbul konflik di jalan masalah itu.

Lha terus yang tidak menyediakan fasilitas terminal dan menciptakan regulasi yang mendorong orang naik kendaraan pribadi malah lolos dari tudingan, karena bersembunyi dari kenyataan dengan kawalan voorijder.

Paling sering kita mendengar dan melihat kendaraan lain masuk jalur busway (menyerobot), yang membuat sewot masyarakat pengguna busway. Namun bagaimana bila sebaliknya? ternyata prakteknya juga sering terjadi. Saya nggak tahu apakah ada sanksi/larangannya bahwa bis transjakarta harus tetap di jalurnya, kecuali kondisi darurat. Kondisi darurat itu contohnya ada kerusakan jalur busway, atau ada halangan di jalur busway (kendaraan mogok atau halangan lain). Jika bis transjakarta bisa seenaknya turun kejalur non busway tanpa alasan yang jelas, ya jangan disalahkan kalo kendaraan pribadi juga tetap cuek nyerobot jalur busway. Sama-sama seenak udelnya, eh sopirnya.

Akhirnya saya mendapati sendiri beberapa ‘anomali’ yaitu bis transjakarta yang tidak pada jalurnya, dan sebagian saya jepret pakai hape saya.

Saling mendahului, memenuhi jalur

Seluruh lajur di Jl. Gatot Subroto, sekitar TL Mampang Prapatan dipenuhi Bis Transjakarta Koridor 9

Saya nggak tahu apakah memang gara-gara gak ada separatornya, jadi bis transjakarta boleh berkeliaran ke kemana-mana. Ataukah bis transjakarta yang di sebelah kiri/tengah jalur itu sedang ‘bebas tugas’?

Jalur di halte penuh?

Jalur busway di halte harmoni ada 2, namun masih belum cukup juga? ada bis yang diluar (sebelah kiri) jalur, termasuk bis saya ini (koridor 8)

Apakah memang begini pengaturan jalurnya? tapi kok gak ada tanda seperti jalur busway non separator? (itu lho yang dicat merah).

eh, mau kemana sih?

Bis transjakarta berjalan di luar jalurnya, lokasi sekitar pejompongan. Foto diambil dari bis transjakarta koridor 8 yang juga menyalip bis tersebut.

Saya sendiri bingung dengan jalur bis koridor 8 itu. Kok bisa jalan-jalan dan salip-salipan begitu? terus jalurnya mana? gak ada tanda khusus, jelas ini membingungkan pengendara lain.

Akhirnya iseng-iseng saya ambil gambar sang sopir. Eh, pas banget. Ternyata sedang asyik berhape ria. Saya nggak tahu, apakah ada larangan sopir bis transjakarta menggunakan telepon/hape selama bertugas, tapi saya tahu bahwa UU lalu lintas melarang menggunakan hape ketika sedang mengemudikan kendaraan.

menelepon siapa?

Apalagi ini kendaraan umum, yang pengemudinya harus mengantongi SIM umum. Tanggung jawabnya lebih besar daripada pengemudi kendaraan pribadi. Jadi, apa kata dunia, eh pengguna?