"terminal" pondok labu

"terminal" pondok labu

Satu hal yang bikin saya surprise adalah banyaknya angkutan umum di jabodetabek. Banyak sekali angkot, kopaja maupun metromini yang berkeliaran, bahkan di jalan-jalan sempit di perkampungan. Tentu saja ini cukup menyenangkan karena akses ke banyak tempat makin mudah dengan angkutan umum. Namun dibalik itu, ada hal yang dibenci oleh pengguna jalan lainnya, yaitu kemacetan. Lho, apa kaitannya?

Ngetem. Nunggu mencari penumpang. Sebenarnya nggak salah dengan mencari penumpang itu, wong mencari nafkah. Cuma masalahnya adalah tempatnya. Satu hal lagi yang bikin surprise adalah dengan banyaknya trayek dan jumlah angkot, terminalnya sangat minim. Apa yang disebut ‘terminal’ kebanyakan imajiner, yang dimaksud sebagai terminal kebanyakan berupa perempatan jalan, emperan pasar atau sekadar bahu jalan. Jelas berpotensi bikin macet bila ngetem disaat jam sibuk.

'terminal' pondok kopi

Saya nggak tahu, apakah dalam membuat suatu trayek, titik tujuan awal dan akhir trayek itu apakah dipikirkan memiliki fasilitas terminal, tapi kok kayaknya dilempar saja tanpa peduli titik pemberhentian trayek itu ada atau tidak. Belum mengenai jumlah angkutan yang beroperasi, beberapa angkot seperti kereta api, berderet-deret dijalanan. Banyak juga yang kosong. Kayaknya nggak sepadan jumlah angkot dengan jumlah penumpang, apalagi dengan tren kenaikan kendaraan pribadi.

Kembali ke masalah terminal… sebenarnya menurut saya jelas tanggung jawab pemerintah.

Logikanya begini :

Sudah memberikan ijin trayek, maka jelas ada titik-titik ujung trayek itu. Misalnya Angkot D110 tujuan Cinere-Depok. Di Depok memang ada terminalnya, tapi di Cinere? jelas saja D110 jadi banyak yang ngetem di pinggir jalan. Bisa saja beralasan, kan bisa langsung jalan, nggak usah ngetem, tapi prakteknya Cinere kan ditentukan sebagai titik tujuan, jadi harus berhenti dong, kalau ada penumpang turun/naik disitu masa nggak diangkut? kan sudah ditulis tujuannya Cinere ? (kalau nggak berhenti disitu, namanya bohong kan?) berhenti menaik-turunkan penumpang sendiri walau sebentar sudah bisa menyebabkan kemacetan di jam sibuk.

Terus yang kedua, dengan memberikan ijin operasi yang terlalu banyak dibandingkan dengan penumpangnya, membuat pilihan ngetem menjadi paling rasional. Memang ada yang mau disuruh jalan tak ada penumpang, hari gini, siapa mau beramal tanpa ada laba?

Nanti ada yang berkilah pula, sudah dikasih terminal, masih juga suka ngetem di luar. Oalah pak…pak… penumpang dan angkot kan gak bisa mengatur dirinya sendiri, makanya diciptakan aturan dan penegak hukumnya. Kalo bisa ngatur sendiri ya gak usah ada negara (memang manusia itu semut/lebah?). Ya tolong jalankan aturan (yang tidak anget-anget tai ayam doang) agar angkot dan penumpang lebih nyaman naik di terminal.

Angkutan umum dituding menyebabkan macet, karena jumlahnya terlalu banyak dan banyak yang ngetem. Seringkali timbul konflik di jalan masalah itu.

Lha terus yang tidak menyediakan fasilitas terminal dan menciptakan regulasi yang mendorong orang naik kendaraan pribadi malah lolos dari tudingan, karena bersembunyi dari kenyataan dengan kawalan voorijder.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s