Arsip untuk November, 2011

Kramat Djati (bisnis) tujuan Palembang - Rawamangun-Lebakbulus

Melanjutkan tulisan sebelumnya, dengan ojek saya meninggalkan Palembang menuju terminal Karya Jaya. Tapi sebelum sampai terminal, terlihat Bis Kramat Djati (KD) yang ada di poolnya (lebih mirip lapo tuak), jadi saya tanyakan apa bener ini bis yang ke Lebak Bulus. Ternyata bener, jadi saya berhenti di pool KD saja, nggak usah menunggu di terminal Karya Jaya. Sialnya, keputusan ini kayaknya nggak pas. Rencana saya mau makan, apa daya di pool ‘lapo tuak’ ini nggak ada tempat makan yang layak. Mendingan saya ke terminal saja.

'lapo tuak', eh pool KD Palembang

Menjelang Pukul 13.00, Bis  berangkat menuju terminal. Terminal Karya Jaya tampak lengang, dengan genangan air disana-sini habis hujan. Karena sulit mencari warung, akhirnya ketemu asongan yang berjualan pempek, harganya cuma seribuan. Bedanya dengan di Jakarta yang digoreng garing, di sini cenderung masih ‘basah’. Jadilah makan siang dengan pempek saja dalam bis.

Kramat Djati tujuan Palembang - Bandung

Serombongan bis berangkat hampir bersamaan. Bis KD ini tipenya bisnis, tempat duduknya 38, beda dengan eksekutif yang 32 seat. Saya memandang iri pada bis KD eksekutif yang jurusan Bandung (agen KD Jl, Atmo bilang tujuan Jakarta gak punya kelas eksekutif). Namun info yang saya dapat, KD Bandung ini beda manajemen walaupun masih satu bagian perusahaan.

interior Kramat Djati klas Bisnis

Baru ketika masuk bis saya sadar kalo kursi saya gak seperti yang saya inginkan. Saya sebenarnya mau di sebelah kiri, tapi malah dapat yang kanan. Jadi berpapasan kendaraan dari arah sebaliknya. Saya agak ngeri, juga ketika malam, kena sorot lampu kendaraan dari depan. Jadi susah tidur deh.

Selama perjalanan lancar saja. Di Ogan Ilir, dua orang Sarkawi masuk. Jadi semua kursi bis terisi penuh.

dalam naungan gerimis pada sebuah perhentian di Ogan Ilir

Dihitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh tahun saya nggak naik bis jarak jauh. Bis ini dilengkapi TV (yang nggak pernah nyala), AC, kursi kelas bis Patas AC, selimut, bantal kecil dan tersedia toilet. Untung saja AC nya nggak seberapa ‘menggigit’. Selama perjalanan, mampir hanya 2 x di restoran Padang, sekali di Ogan ilir, jam 15.00 (waktu yang nanggung) dan kedua di Lampung, malam atau dinihari (saya nggak tahu jam berapa, soalnya ngantuk banget). Makanannya bayar sendiri, jadi nggak ditanggung bis. Selama perjalanan saya nggak ke toilet sama sekali, jadi nggak tahu kebersihannya. Bis berhenti sebentar di mengisi solar yang dimanfaatkan beberapa penumpang untuk buang air.

Kelihatannya semua PO bersatu melawan hegemoni si ijo

Selama perjalanan, hampir berbarengan dan sering saling ngeblong dengan PO lain seperti Pahala Kencana (PK), Maju Lancar (ML), Ladju Prima (LP), Sari Harum (SH), dan Handoyo, tapi anehnya saya nggak lihat genk ijo yang mendominasi (Lorena), atau saya yang silap ya?

Sampai Bakeheuni, lancar-lancar saja, tak ada antrean yang berarti. Pukul 04.00 bis sudah siap dalam KMP Duta Banten. Bis dimatikan mesin dan AC nya, dan penumpang ‘diusir’ keluar bis. Ini juga sesuai dengan anjuran keselamatan dari perhubungan. Ada kisah ‘horor’ dimana ada ferry tenggelam, ada satu bis yang tewas tenggelam gara-gara malas keluar bis ketika dalam kapal.

kelas lesehan KM Duta Banten

Saya memilih kamar lesehan, sambil menonton TV, maklum berjam-jam duduk terus. Jadi karcis ‘upgrading’ dari kelas III ke kelas lesehan Rp 8.000 saya tebus (ditarik ketika saya sedang enak-enak tidur), karena jatah penumpang bis adalah kelas III. Peluit berbunyi 3 kali, dan kapal mulai berlayar (padahal gak ada layarnya).

Subuh di Pelabuhan Merak

Subuh di Pelabuhan Merak

Pukul 6 pagi, kapal merapat di pelabuhan Merak, menandai akhir perjalanan pertama saya ke Sumatera. Lepas Merak, memasuki tol menuju Jakarta dan disuguhi suasana yang tak asing lagi : MACET. Setelah melepas penumpang di Terminal Rawamangun, bis berhenti di Terminal Lebak Bulus pukul 10 lebih. Alhasil, saya baru sampai rumah pukul 12 siang. Jadi total perjalanan adalah 24 jam dari pool KD ke rumah saya.

— tribute to my wife, teman ‘tidur’ selama perjalanan —

Melanjutkan tulisan di Part-1, setelah bermalam di Jambi, dan perjalanan yang melelahkan dengan mobil travel, perjalanan lintas Sumatera dilanjutkan di kota Palembang. Baru sampai jam 14.00. Kota ini tidak akan saya lewatkan karena ada even Sea Games. Karena kesalahan prediksi waktu perjalanan (yang ternyata lebih lama), saya tidak sempat menjelajahi kota ini lebih jauh. Sebenarnya saya rencana tidak menginap, langsung naik KA Limeks yang berangkat jam 21.00 dari Palembang menuju Lampung, dan menginap di Lampung karena hotel yang layak di Palembang sudah full booked karena even Sea Games.

Pertama kali yang saya cari adalah tiket bis. Saya datangi pool Lorena di KM 9, yang ternyata kehabisan tiket untuk bis Executive tujuan Jakarta atau Bogor. Segera saya menuju Jl. Kolonel Atmo, dimana banyak agen PO bis, ternyata saya nggak keburu karena sudah tutup semua. Saya coba ke Stasiun Kertapati, menyeberangi Jembatan Ampera. Dibandingkan Jambi, Palembang adalah kota besar (metropolitan), dan saya segera mendapatkan aura kota besar, yaitu MACET. Macetnya cukup parah karena dengan menggunakan motor juga susah jalan. Sampai stasiun, tiket baru buka jam 18.00, dengan antrean yang panjang, dengan pertimbangan waktu saya urungkan naik KA, dan mencoba cari tiket bis besok pagi.

Melintas Jembatan Ampera yang mulai macet

Karena banyak yang full booked, akhirnya saya terpaksa menginap di hotel kelas melati di daerah Sudirman, yang menurut saya terlalu mahal (337 ribu untuk fasilitas dan kebersihannya yang nggak bagus). Pertimbangannya hanya karena di tengah kota, sehingga gampang kemana-mana. Agak susah tidur karena tempat tidur yang keras dan AC yang berangin kencang tanpa remote juga ramenya kendaraan terdengar jelas sampai dini hari. Setelah mandi pagi (air panasnya gak berfungsi), saya berjalan ke arah jembatan Ampera. Masih terlalu pagi, Pasar 16 ilir (bagi yang mau cari songket), masih tutup. Di bawah Jembatan Ampera, banyak yang menawari naik ketek (perahu motor kecil) ke Pulau Kemaro. Karena pertimbangan waktu juga, saya hanya berjalan ke Benteng Kuto Besak, sekitar 300 meter dari Jembatan Ampera.

Trans Musi

interior Trans Musi

Yang menarik dari kota Palembang ini adalah Bis Trans Musi. Seperti halnya Bis Trans Jakarta, bis ini punya halte khusus yang lebih tinggi. Lebih mirip Bis Trans Solo (Batik Trans) yang berukuran kecil dan tak punya jalur khusus, bis ini mengantar kemana-mana meski banyak yang harus transit. Namun biarpun transit tetap tarifnya Rp 3.000. Karcis ditarik ketika dalam bis, jadi halte tak menyediakan penjualan karcis. Haltenya ada yang berbentuk ruangan kaca, namun banyak yang menggunakan halte bis biasa dengan tambahan undak-undakan tangga untuk naiknya penumpang. Jadi sepertinya orang cacat masih kesulitan naik bis Trans Musi ini.

Saya coba naik di Halte di bawah Jembatan Ampera, mau coba ke Jakabaring, venue Sea Games 2011. Benar saja, harus transit-transit, namun petugasnya menginformasikan kita harus transit dimana. Mengenai rutenya, dapat dilihat disini. Bis ini cukup nyaman, namun kayaknya lebih lambat karena berjalan pelan dan harus transit. Sebenarnya banyak bis kota atau angkutan kota lain, namun bagi saya yang pertama kali ke Palembang, naik moda ini terasa lebih aman dan murah, tanpa khawatir tersesat atau disesatkan atau ketipu.

suasana di Halte Trans Musi

Respon petugasnya cukup baik. Mereka tak segan menjelaskan kita harus transit dimana. Juga tanggap dengan keadaan. Saat itu banyak penumpang yang hendak menuju stadion di Jakabaring (maklum, Sea Games), namun bis Trans Musi yang menuju kesana tak datang jua. Kemudian bis Trans Musi yang kearah Plaju, menjadi bis penolong yang berganti arah ke Jakabaring, sehingga penumpukan penumpang bisa teratasi.

Becak, angkutan untuk atlit di Jakabaring venue

Persiapan pulang, Bis AKAP

Sampai di Jakabaring dan membeli masuk ke arena stadion, mengambil gambar dan membeli souvenir, saya ingat harus balik lagi ke Jalan Kol. Atmo untuk cari tiket bis ke Jakarta. Naiknya tetap sama, Trans Musi, saya turun di Ampera lagi. Tiket PO Lorena sudah habis, jadi saya cari Pahala Kencana. Tiket ke Jakarta Rp 160.000, lebih murah dari Lorena yang Rp 225.000 (karena katanya beda kelas, Pahala Kencana Bisnis, Lorena Eksekutif). Tapi, lho, kok berangkat jam 15.00? terpaksa saya cancel dan cari PO Kramat Jati di seberangnya. Sebenarnya ada juga PO lain seperti Laju Prima, Maju Lancar atau Sari Harum, namun saya cari yang tujuan Lebak Bulus yang lebih dekat ke Depok.

Jalan Kol. Atmo, Palembang. banyak agen PO Bis malam dan travel

Tiket Kramat Jati juga sudah hampir habis terjual, jadi saya kebagian tempat duduk di sebelah kanan bagian belakang, yang tidak saya sukai. Tapi daripada menunggu Pahala Kencana yang berangkat jam 15.00, saya tebus saya tiket bisnis Kramat Jati seharga Rp 180.000, berangkat jam 13.00 dari Terminal Karya Jaya. Dengan waktu yang semakin mepet, saya sempatkan mandi, makan martabak Har dan belanja sebentar, kemudian check out dan mencoba mencari Taksi, karena waktunya mepet jika naik bis atau angkot.

Bis Kota biaso di Palembang

Karena Taksi bluebird susah sekali ditelpon, maka saya coba tanya Taksi Kopatas yang mangkal dekat Pertokoan IP, jalan Sudirman. Tanpa Argometer, sopirnya menawarkan tarif Rp 100.000 yang langsung saya tolak. Melihat kemacetan parah, akhirnya pilihan jatuh pada Ojek yang sedari tadi merayu-rayu. Permintaan mereka Rp 25.000 tidak saya tawar sama sekali, karena saya memang tidak tahu jaraknya berapa jauh, dan miris melihat kemacetan jalan.

Ditengah gerimis ojek kemudian melaju menembus kemacetan di sekitar Jembatan Ampera. Kayaknya macet itu karena banyak yang ke Jakabaring. Sepanjang jalan tukang Ojek bercerita tentang perkembangan Kota Palembang yang semakin pesat, sejak adanya PON. Dia juga menunjuk ke arah Sungai Musi, berkata bahwa sebentar lagi dibangun Jembatan Musi III. Sayang sekali Bis Kramat Jati ini tidak seperti Lorena yang pool nya di terminal KM 9, atau Pahala Kencana di KM 11, jadi rencana saya mau beli Pempek di KM 12 tidak terlaksana.

Palembang, wong kito galo

Selamat tinggal, Palembang. Sayang kito ndak kate banyak waktu disini.

— special thanks to Om Masri, Tante Bet, Aldi, Rian, dan Rini —

image

Latar belakang Sungai Batanghari, GA 130 persiapan mendarat

Inilah perjalanan yang sudah lama sekali saya rencanakan, tapi baru terlaksana sekarang. Sebenarnya saya merencanakan ke Padang, namun ada dua kota yang ‘wajib’ saya singgahi yaitu Jambi dan Palembang, dan setelah berhitung dengan jarak, waktu dan kemampuan tubuh saya putuskan hanya ke Jambi dan Palembang (yang kebetulan berlangsung Sea Games).

Perjalanan ke Jambi dari Jakarta tak banyak yang perlu diceritakan karena menggunakan pesawat terbang sekitar 1 jam. Dari udara terlihat Sungai Batanghari yang berkelok, dan hamparan sawit. Bandara Sultan Thaha di kota Jambi (kode DJB) relatif kecil dan tak jauh dari kota. Kota Jambi cukup besar namun tidak ramai. Angkutan kota relatif banyak namun kayaknya jalan di Jambi ini kebanyakan berputar-putar saja. Sayang saya tidak banyak menjelajahi kota ini karena singkatnya waktu. Waktu satu hari hanya habis untuk mengunjungi situs komplek candi di Muaro Jambi, yang menarik perhatian saya karena baru dikunjungi presiden.

sepinya jalan di Muaro Jambi

image

Situs Candi Muaro Jambi, tampak guest house di latar belakang

Komplek candi Muaro Jambi sekitar 30 km dari kota Jambi, melewati jalur lintas timur Sumatera, yang kemudian bersimpang jalan. Dari simpang jalan itu, tak ada kendaraan umum menuju candi, jadi harus pakai ojek atau sewa mobil. Di lokasi, karena arealnya luas, disediakan sewa motor atau sepeda bila merasa berjalan kaki mengelilingi komplek candi terlalu jauh. Memang komplek candi ini cukup luas. Bahkan ditemukan candi baru yang lokasinya di luar komplek. Jadi ada kemungkinan komplek candi akan semakin luas.

image

Candi Astano di situs Muaro Jambi

Setelah itu mencari oleh-oleh. Sebenarnya makanan khas Jambi yang terkenal adalah tempoyak durian, tapi tidak saya jumpai, mungkin karena belum musim durian. Akhirnya cuma terbawa kopi AAA (kopi kesenangan masyarakat Jambi), lempok durian, dodol kentang dan sirup kayumanis. Barang-barang itu saya beli di toko cindera mata (nama tokonya thempoyak) dan sebagian di supermarket setempat. Sempat saya lihat di Jalan Sultan Agung ada toko yang menjual batik Jambi dan roti kacang khas Jambi, namun saat itu sudah tutup karena terlalu malam.

DJB, sepucuk Jambi sembilan lurah - motif kaos oleh-oleh dari Jambi

Setelah sempat tersesat di pasar angso duo, saya akhirnya memesan travel untuk tujuan ke Jambi. Travel yang lagi naik daun adalah Ratu Intan (kabarnya sebagian armadanya memakai fortuner) namun saya cukup memakai travel Jaya Mandiri dengan mobil Avanza. Kedua travel itu ada di Jl. M. Yamin.

Esok hari saya dijemput travel ini. Mobil Avanza yang kecil diisi 5 penumpang. Untung saya tidak duduk di belakang yang sempit. Saking kecilnya, beberapa barang bawaan penumpang diiikat di atap mobil. Saya hanya membawa ransel jadi masih cukup ditaruh dalam mobil. Saya nggak bisa bayangkan kalo hujan pasti basah kuyup itu bawaan diatap mobil, kalo nggak ditutup terpal/plastik. Tarif travel Rp 110.000, dengan lama perjalanan sekitar 6 jam. Penumpang (cuma) mendapat air minum botolan plastik dan kotak snack (dibuka isinya cuma 1 roti) Penumpang diantar sampai loket, tapi bisa juga sampai tujuan bila masih dalam jangkauan. Singgah di Sungai Lilin untuk makan siang (rumah makan padang Pagi Sore). Kondisi jalan lumayan bagus sehingga bisa ngebut, namun ngeri juga dengan truk-truk yang memadati Jalur lintas timur (jalintim) Sumatera ini. Truk-truk besar, beberapa kali terlihat membawa trailer dengan muatan besar seperti alat berat berjalan bagai iring-iringan gajah yang lambat. Jalan berkelok dan naik turun membuat susah untuk menyalip. Dua kali saya melihat truk kecelakaan. “Tiap hari selalu ada kecelakaan”, kata sopir travel yang urang awak itu. Sebenarnya ada bis Jambi-Palembang, namun waktu tempuhnya bisa dapat bonus 1-3 jam daripada travel.

image

Avanza milik Jaya Mandiri Travel, persiapan berangkat dari loketnya di Jambi

laju kendaraan travel bisa lebih dari 100 kpj. bikin ndak biso tidur

Setelah perjalanan 6 jam dengan kemacetan di KM 12 (terminal) menjelang Palembang, saya memasuki Palembang yang diguyur hujan deras. Berakhir sudah part 1, kota Jambi, yang akan disusul part 2, Palembang.

— special thanks to Om Syam & tante Yur, Abi, Dedi dan Dian —

image

Tulisan ini terpaksa saya buat karena kejadian sore tadi yang saya alami. Sebenarnya nggak enak mengkritisi diri sendiri, tapi harus saya tulis pengalaman ini. Sore itu dari arah Pancoran saya naik metromini 62 (Manggarai-Pasar Minggu) ke arah Pasar Minggu. Cuaca sangat panas dengan sinar matahari menyorot dari arah kanan, sementara bis terisi lumayan penuh. Sekitar 2 Km menjelang Pasar Minggu, sang metromini mendadak mati mesin dan susah distarter (biasa, akinya soak). Jelas dalam situasi ini solusinya cuma didorong biar hidup lagi mesinnya.

Karena memang kepanasan sejak tadi, segera saya turun bersama beberapa penumpang mendorong bis bobrok itu. Tapi, kok berat banget bis ini, didorong sampe ngeden juga cuma gerak sedikit. Akhirnya setelah mesinnya nyala, saya baru sadar kalo banyak penumpang yang masih di bis, nggak mau turun. Pantes aja berat, ndorong bis sekaligus penumpangnya. Weleh-weleh kok nggak ada empatinya sih, yang lain ndorong kok malah enak-enak duduk di bis. Apa takut nggak bisa dapat duduk? wong tujuan sudah tinggal 5 menit lagi.

Lalu saya terbayang kejadian serupa di Slipi, yang menimpa bis PAC Mayasari Bhakti. Saya bisa membayangkan betapa berat bis itu dengan penumpang yang penuh. Waktu itu saya nggak bisa turun karena posisinya berdiri di tengah, mau turun terhalang penumpang yang lain (alasan saja ini sebenarnya, he… he…).

Ketika naik atau turun juga tidak mau repot. Ada halte, tapi kayaknya cuma jadi asesoris atau tempat berteduh, lebih sering naik atau turun di tempat terdekat yang paling pendek jarak tempuh jalan kakinya. Memang ini bisa dikarenakan halte banyak yang tidak strategis penempatannya, atau dijajah pedagang kakilima, tapi apakah tidak bisa naik turun di halte tanpa dipaksa seperti busway? Saya pernah melihat ada penumpang minta turun hanya 20 meter setelah bis berhenti di halte, hanya karena ingin berhenti pas didepan kantornya! padahal dia masih muda, sehat dan tidak cacat dan bisa berjalan normal.

Dalam hal berbagi tempat duduk juga nggak bisa diharapkan kerelaannya. Banyak orang tua, ibu yang menggendong bayi dan anak kecil yang terpaksa berdiri. Memang hal ini didukung tak adanya courtesy seat, atau kenek yang menegur, namun masalahnya adalah : apakah tak ada etika penumpang, khususnya bis kota di Jakarta?

Banyak yang mengeluh kelakuan sopir bis atau kenek yang ugal-ugalan, seenaknya atau tak tahu aturan. Namun tenyata penumpangnya juga mampu mengimbanginya, nggak beda-beda jauhlah kelakuannya. Atau budaya angkutan umum kita memang seperti itu?

Dibalik itu semua, saya masih berpikir tentang suatu pembelaan diri sebagai penumpang. Bicara tentang etika, apakah ada pernah diajarkan di sekolah atau di rumah mengenai etika penumpang umum? atau dipampangkan secara jelas dan diinformasikan secara luas? Bicara tentang aturan, apakah ada aturannya dan ada sanksinya? dalam KRL dan busway saja yang ada larangan makan-minum, memakai kuli atau courtesy seat saja nggak sanksinya. Kalo penumpang mencegat bis di areal S dicoret saja yang ditilang sopir bisnya.

Jangan-jangan penumpang tak beretika dan tak tahu aturan itu memang karena benar-benar nggak tahu. Ah, masak sih… kan masih bisa berempati. Minimal masih punya hati, kan ada perasaan nggak enak kalo duduk dalam bis, sementara ada yang ndorong. Akibatnya, malam ini saya harus cari tukang pijat.

Mengeluh

Posted: 4 November 2011 in Bis, bus kota, Transport Jakarta
Tag:,

Dalam survei yang dilakukan oleh YLKI, ada tujuh poin yang dikeluhkan oleh pengguna busway transjakarta, yaitu :

(1) waktu tunggu yang lama

(2) jarak tempuh yang panjang

(3) keselamatan dan keamanan

(4) kenyamanan

(5) sistem informasi seperti jadwal dan tiket

(6) aksesibilitas halte yang belum optimal, seperti untuk penyandang cacat, jembatan penyeberangan orang (JPO) yang rusak dan panjang

(7) kebersihan di halte, JPO dan di dalam bus.

Dari sisi regulator, Pemprov (seperti sudah bisa dilihat) memang tidak serius menggarap transjakarta. Pelayanannya tidak naik-naik, juga gaji sopirnya (tapi ada isu mau dinaikkan). Padahal dibalik semua keluhan ini, ternyata  busway semakin diminati.

Akhirnya YLKI menyimpulkan bahwa pelayanan busway di Indonesia adalah yang terburuk di dunia. Satu lagi rekor dunia pecah.

Wah jadinya kok cemen gini ya. Bisanya mengeluh saja. Padahal sebagai penumpang, etika saya juga rendah. Tapi, tunggu dulu, bukannya mau membela diri. Etika di busway itu apa sih? Kok berebut naik bis yang langka karena takut telat karena tak ada jaminan bis belakang bisa dimasuki lagi disebut tak beretika? kok pake standar etika barat untuk kondisi Indonesia? Kan gak match kalo pelayanan busway terburuk di dunia penumpangnya punya etika terbaik. Njomplang gitu lho.

Tapi, sebagai pengguna setia bis non busway, saya merasa gimana gitu lho… busway itu sesuatu banget di Jakarta ini. Bila ada jalur busway dan kendaraan umum lain (non KRL atau Taksi) saya masih lebih memilih naik busway. Bukannya apa, namun saya pengguna bis non busway seperti metromini nggak pernah disurvei. Kok kayaknya dianaktirikan, padahal saya kan juga berhak mendapatkan hak sebagai penumpang, dan operator bis juga berhak mencari nafkah. Apa mau dibiarkan mati sendiri bis-bis non busway, seperti PPD, Kopaja, Metromini dan PO bis lain? Jangan sampai busway hanya menjadi pemain tunggal yang memonopoli sehingga tak punya alternatif. Jadinya seperti dalam draconian era. Jadi kayaknya busway harus punya saingan (dibaca : angkutan selain busway juga harus ditingkatkan pelayanan dan kelangsungan hidup operatornya).