image

Tulisan ini terpaksa saya buat karena kejadian sore tadi yang saya alami. Sebenarnya nggak enak mengkritisi diri sendiri, tapi harus saya tulis pengalaman ini. Sore itu dari arah Pancoran saya naik metromini 62 (Manggarai-Pasar Minggu) ke arah Pasar Minggu. Cuaca sangat panas dengan sinar matahari menyorot dari arah kanan, sementara bis terisi lumayan penuh. Sekitar 2 Km menjelang Pasar Minggu, sang metromini mendadak mati mesin dan susah distarter (biasa, akinya soak). Jelas dalam situasi ini solusinya cuma didorong biar hidup lagi mesinnya.

Karena memang kepanasan sejak tadi, segera saya turun bersama beberapa penumpang mendorong bis bobrok itu. Tapi, kok berat banget bis ini, didorong sampe ngeden juga cuma gerak sedikit. Akhirnya setelah mesinnya nyala, saya baru sadar kalo banyak penumpang yang masih di bis, nggak mau turun. Pantes aja berat, ndorong bis sekaligus penumpangnya. Weleh-weleh kok nggak ada empatinya sih, yang lain ndorong kok malah enak-enak duduk di bis. Apa takut nggak bisa dapat duduk? wong tujuan sudah tinggal 5 menit lagi.

Lalu saya terbayang kejadian serupa di Slipi, yang menimpa bis PAC Mayasari Bhakti. Saya bisa membayangkan betapa berat bis itu dengan penumpang yang penuh. Waktu itu saya nggak bisa turun karena posisinya berdiri di tengah, mau turun terhalang penumpang yang lain (alasan saja ini sebenarnya, he… he…).

Ketika naik atau turun juga tidak mau repot. Ada halte, tapi kayaknya cuma jadi asesoris atau tempat berteduh, lebih sering naik atau turun di tempat terdekat yang paling pendek jarak tempuh jalan kakinya. Memang ini bisa dikarenakan halte banyak yang tidak strategis penempatannya, atau dijajah pedagang kakilima, tapi apakah tidak bisa naik turun di halte tanpa dipaksa seperti busway? Saya pernah melihat ada penumpang minta turun hanya 20 meter setelah bis berhenti di halte, hanya karena ingin berhenti pas didepan kantornya! padahal dia masih muda, sehat dan tidak cacat dan bisa berjalan normal.

Dalam hal berbagi tempat duduk juga nggak bisa diharapkan kerelaannya. Banyak orang tua, ibu yang menggendong bayi dan anak kecil yang terpaksa berdiri. Memang hal ini didukung tak adanya courtesy seat, atau kenek yang menegur, namun masalahnya adalah : apakah tak ada etika penumpang, khususnya bis kota di Jakarta?

Banyak yang mengeluh kelakuan sopir bis atau kenek yang ugal-ugalan, seenaknya atau tak tahu aturan. Namun tenyata penumpangnya juga mampu mengimbanginya, nggak beda-beda jauhlah kelakuannya. Atau budaya angkutan umum kita memang seperti itu?

Dibalik itu semua, saya masih berpikir tentang suatu pembelaan diri sebagai penumpang. Bicara tentang etika, apakah ada pernah diajarkan di sekolah atau di rumah mengenai etika penumpang umum? atau dipampangkan secara jelas dan diinformasikan secara luas? Bicara tentang aturan, apakah ada aturannya dan ada sanksinya? dalam KRL dan busway saja yang ada larangan makan-minum, memakai kuli atau courtesy seat saja nggak sanksinya. Kalo penumpang mencegat bis di areal S dicoret saja yang ditilang sopir bisnya.

Jangan-jangan penumpang tak beretika dan tak tahu aturan itu memang karena benar-benar nggak tahu. Ah, masak sih… kan masih bisa berempati. Minimal masih punya hati, kan ada perasaan nggak enak kalo duduk dalam bis, sementara ada yang ndorong. Akibatnya, malam ini saya harus cari tukang pijat.

Komentar
  1. dearKUR mengatakan:

    waah, kritik yang dengan dalam meyindir inih…:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s