image

Latar belakang Sungai Batanghari, GA 130 persiapan mendarat

Inilah perjalanan yang sudah lama sekali saya rencanakan, tapi baru terlaksana sekarang. Sebenarnya saya merencanakan ke Padang, namun ada dua kota yang ‘wajib’ saya singgahi yaitu Jambi dan Palembang, dan setelah berhitung dengan jarak, waktu dan kemampuan tubuh saya putuskan hanya ke Jambi dan Palembang (yang kebetulan berlangsung Sea Games).

Perjalanan ke Jambi dari Jakarta tak banyak yang perlu diceritakan karena menggunakan pesawat terbang sekitar 1 jam. Dari udara terlihat Sungai Batanghari yang berkelok, dan hamparan sawit. Bandara Sultan Thaha di kota Jambi (kode DJB) relatif kecil dan tak jauh dari kota. Kota Jambi cukup besar namun tidak ramai. Angkutan kota relatif banyak namun kayaknya jalan di Jambi ini kebanyakan berputar-putar saja. Sayang saya tidak banyak menjelajahi kota ini karena singkatnya waktu. Waktu satu hari hanya habis untuk mengunjungi situs komplek candi di Muaro Jambi, yang menarik perhatian saya karena baru dikunjungi presiden.

sepinya jalan di Muaro Jambi

image

Situs Candi Muaro Jambi, tampak guest house di latar belakang

Komplek candi Muaro Jambi sekitar 30 km dari kota Jambi, melewati jalur lintas timur Sumatera, yang kemudian bersimpang jalan. Dari simpang jalan itu, tak ada kendaraan umum menuju candi, jadi harus pakai ojek atau sewa mobil. Di lokasi, karena arealnya luas, disediakan sewa motor atau sepeda bila merasa berjalan kaki mengelilingi komplek candi terlalu jauh. Memang komplek candi ini cukup luas. Bahkan ditemukan candi baru yang lokasinya di luar komplek. Jadi ada kemungkinan komplek candi akan semakin luas.

image

Candi Astano di situs Muaro Jambi

Setelah itu mencari oleh-oleh. Sebenarnya makanan khas Jambi yang terkenal adalah tempoyak durian, tapi tidak saya jumpai, mungkin karena belum musim durian. Akhirnya cuma terbawa kopi AAA (kopi kesenangan masyarakat Jambi), lempok durian, dodol kentang dan sirup kayumanis. Barang-barang itu saya beli di toko cindera mata (nama tokonya thempoyak) dan sebagian di supermarket setempat. Sempat saya lihat di Jalan Sultan Agung ada toko yang menjual batik Jambi dan roti kacang khas Jambi, namun saat itu sudah tutup karena terlalu malam.

DJB, sepucuk Jambi sembilan lurah - motif kaos oleh-oleh dari Jambi

Setelah sempat tersesat di pasar angso duo, saya akhirnya memesan travel untuk tujuan ke Jambi. Travel yang lagi naik daun adalah Ratu Intan (kabarnya sebagian armadanya memakai fortuner) namun saya cukup memakai travel Jaya Mandiri dengan mobil Avanza. Kedua travel itu ada di Jl. M. Yamin.

Esok hari saya dijemput travel ini. Mobil Avanza yang kecil diisi 5 penumpang. Untung saya tidak duduk di belakang yang sempit. Saking kecilnya, beberapa barang bawaan penumpang diiikat di atap mobil. Saya hanya membawa ransel jadi masih cukup ditaruh dalam mobil. Saya nggak bisa bayangkan kalo hujan pasti basah kuyup itu bawaan diatap mobil, kalo nggak ditutup terpal/plastik. Tarif travel Rp 110.000, dengan lama perjalanan sekitar 6 jam. Penumpang (cuma) mendapat air minum botolan plastik dan kotak snack (dibuka isinya cuma 1 roti) Penumpang diantar sampai loket, tapi bisa juga sampai tujuan bila masih dalam jangkauan. Singgah di Sungai Lilin untuk makan siang (rumah makan padang Pagi Sore). Kondisi jalan lumayan bagus sehingga bisa ngebut, namun ngeri juga dengan truk-truk yang memadati Jalur lintas timur (jalintim) Sumatera ini. Truk-truk besar, beberapa kali terlihat membawa trailer dengan muatan besar seperti alat berat berjalan bagai iring-iringan gajah yang lambat. Jalan berkelok dan naik turun membuat susah untuk menyalip. Dua kali saya melihat truk kecelakaan. “Tiap hari selalu ada kecelakaan”, kata sopir travel yang urang awak itu. Sebenarnya ada bis Jambi-Palembang, namun waktu tempuhnya bisa dapat bonus 1-3 jam daripada travel.

image

Avanza milik Jaya Mandiri Travel, persiapan berangkat dari loketnya di Jambi

laju kendaraan travel bisa lebih dari 100 kpj. bikin ndak biso tidur

Setelah perjalanan 6 jam dengan kemacetan di KM 12 (terminal) menjelang Palembang, saya memasuki Palembang yang diguyur hujan deras. Berakhir sudah part 1, kota Jambi, yang akan disusul part 2, Palembang.

— special thanks to Om Syam & tante Yur, Abi, Dedi dan Dian —

Komentar
  1. liliana mengatakan:

    apa arti sepucuk jambi sembilan lurah?

    • andrefeb mengatakan:

      logo daerah jambi, diambil dari naskah kuno piagam pencacahan dan kisah negeri jambi. Sepucuk melambangkan kesatuan wilayah kekuasaan kerajaan melayu jambi. 9 lurah melambangkan DAS Batanghari dengan sembilan anak sungainyo.

  2. Chloe Pasagrante mengatakan:

    Ya nama belakang penyanyi dari negeri Jiran itu diambil dari nama wilayah di Malaysia.

  3. Irea Backer mengatakan:

    Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s