Melanjutkan tulisan di Part-1, setelah bermalam di Jambi, dan perjalanan yang melelahkan dengan mobil travel, perjalanan lintas Sumatera dilanjutkan di kota Palembang. Baru sampai jam 14.00. Kota ini tidak akan saya lewatkan karena ada even Sea Games. Karena kesalahan prediksi waktu perjalanan (yang ternyata lebih lama), saya tidak sempat menjelajahi kota ini lebih jauh. Sebenarnya saya rencana tidak menginap, langsung naik KA Limeks yang berangkat jam 21.00 dari Palembang menuju Lampung, dan menginap di Lampung karena hotel yang layak di Palembang sudah full booked karena even Sea Games.

Pertama kali yang saya cari adalah tiket bis. Saya datangi pool Lorena di KM 9, yang ternyata kehabisan tiket untuk bis Executive tujuan Jakarta atau Bogor. Segera saya menuju Jl. Kolonel Atmo, dimana banyak agen PO bis, ternyata saya nggak keburu karena sudah tutup semua. Saya coba ke Stasiun Kertapati, menyeberangi Jembatan Ampera. Dibandingkan Jambi, Palembang adalah kota besar (metropolitan), dan saya segera mendapatkan aura kota besar, yaitu MACET. Macetnya cukup parah karena dengan menggunakan motor juga susah jalan. Sampai stasiun, tiket baru buka jam 18.00, dengan antrean yang panjang, dengan pertimbangan waktu saya urungkan naik KA, dan mencoba cari tiket bis besok pagi.

Melintas Jembatan Ampera yang mulai macet

Karena banyak yang full booked, akhirnya saya terpaksa menginap di hotel kelas melati di daerah Sudirman, yang menurut saya terlalu mahal (337 ribu untuk fasilitas dan kebersihannya yang nggak bagus). Pertimbangannya hanya karena di tengah kota, sehingga gampang kemana-mana. Agak susah tidur karena tempat tidur yang keras dan AC yang berangin kencang tanpa remote juga ramenya kendaraan terdengar jelas sampai dini hari. Setelah mandi pagi (air panasnya gak berfungsi), saya berjalan ke arah jembatan Ampera. Masih terlalu pagi, Pasar 16 ilir (bagi yang mau cari songket), masih tutup. Di bawah Jembatan Ampera, banyak yang menawari naik ketek (perahu motor kecil) ke Pulau Kemaro. Karena pertimbangan waktu juga, saya hanya berjalan ke Benteng Kuto Besak, sekitar 300 meter dari Jembatan Ampera.

Trans Musi

interior Trans Musi

Yang menarik dari kota Palembang ini adalah Bis Trans Musi. Seperti halnya Bis Trans Jakarta, bis ini punya halte khusus yang lebih tinggi. Lebih mirip Bis Trans Solo (Batik Trans) yang berukuran kecil dan tak punya jalur khusus, bis ini mengantar kemana-mana meski banyak yang harus transit. Namun biarpun transit tetap tarifnya Rp 3.000. Karcis ditarik ketika dalam bis, jadi halte tak menyediakan penjualan karcis. Haltenya ada yang berbentuk ruangan kaca, namun banyak yang menggunakan halte bis biasa dengan tambahan undak-undakan tangga untuk naiknya penumpang. Jadi sepertinya orang cacat masih kesulitan naik bis Trans Musi ini.

Saya coba naik di Halte di bawah Jembatan Ampera, mau coba ke Jakabaring, venue Sea Games 2011. Benar saja, harus transit-transit, namun petugasnya menginformasikan kita harus transit dimana. Mengenai rutenya, dapat dilihat disini. Bis ini cukup nyaman, namun kayaknya lebih lambat karena berjalan pelan dan harus transit. Sebenarnya banyak bis kota atau angkutan kota lain, namun bagi saya yang pertama kali ke Palembang, naik moda ini terasa lebih aman dan murah, tanpa khawatir tersesat atau disesatkan atau ketipu.

suasana di Halte Trans Musi

Respon petugasnya cukup baik. Mereka tak segan menjelaskan kita harus transit dimana. Juga tanggap dengan keadaan. Saat itu banyak penumpang yang hendak menuju stadion di Jakabaring (maklum, Sea Games), namun bis Trans Musi yang menuju kesana tak datang jua. Kemudian bis Trans Musi yang kearah Plaju, menjadi bis penolong yang berganti arah ke Jakabaring, sehingga penumpukan penumpang bisa teratasi.

Becak, angkutan untuk atlit di Jakabaring venue

Persiapan pulang, Bis AKAP

Sampai di Jakabaring dan membeli masuk ke arena stadion, mengambil gambar dan membeli souvenir, saya ingat harus balik lagi ke Jalan Kol. Atmo untuk cari tiket bis ke Jakarta. Naiknya tetap sama, Trans Musi, saya turun di Ampera lagi. Tiket PO Lorena sudah habis, jadi saya cari Pahala Kencana. Tiket ke Jakarta Rp 160.000, lebih murah dari Lorena yang Rp 225.000 (karena katanya beda kelas, Pahala Kencana Bisnis, Lorena Eksekutif). Tapi, lho, kok berangkat jam 15.00? terpaksa saya cancel dan cari PO Kramat Jati di seberangnya. Sebenarnya ada juga PO lain seperti Laju Prima, Maju Lancar atau Sari Harum, namun saya cari yang tujuan Lebak Bulus yang lebih dekat ke Depok.

Jalan Kol. Atmo, Palembang. banyak agen PO Bis malam dan travel

Tiket Kramat Jati juga sudah hampir habis terjual, jadi saya kebagian tempat duduk di sebelah kanan bagian belakang, yang tidak saya sukai. Tapi daripada menunggu Pahala Kencana yang berangkat jam 15.00, saya tebus saya tiket bisnis Kramat Jati seharga Rp 180.000, berangkat jam 13.00 dari Terminal Karya Jaya. Dengan waktu yang semakin mepet, saya sempatkan mandi, makan martabak Har dan belanja sebentar, kemudian check out dan mencoba mencari Taksi, karena waktunya mepet jika naik bis atau angkot.

Bis Kota biaso di Palembang

Karena Taksi bluebird susah sekali ditelpon, maka saya coba tanya Taksi Kopatas yang mangkal dekat Pertokoan IP, jalan Sudirman. Tanpa Argometer, sopirnya menawarkan tarif Rp 100.000 yang langsung saya tolak. Melihat kemacetan parah, akhirnya pilihan jatuh pada Ojek yang sedari tadi merayu-rayu. Permintaan mereka Rp 25.000 tidak saya tawar sama sekali, karena saya memang tidak tahu jaraknya berapa jauh, dan miris melihat kemacetan jalan.

Ditengah gerimis ojek kemudian melaju menembus kemacetan di sekitar Jembatan Ampera. Kayaknya macet itu karena banyak yang ke Jakabaring. Sepanjang jalan tukang Ojek bercerita tentang perkembangan Kota Palembang yang semakin pesat, sejak adanya PON. Dia juga menunjuk ke arah Sungai Musi, berkata bahwa sebentar lagi dibangun Jembatan Musi III. Sayang sekali Bis Kramat Jati ini tidak seperti Lorena yang pool nya di terminal KM 9, atau Pahala Kencana di KM 11, jadi rencana saya mau beli Pempek di KM 12 tidak terlaksana.

Palembang, wong kito galo

Selamat tinggal, Palembang. Sayang kito ndak kate banyak waktu disini.

— special thanks to Om Masri, Tante Bet, Aldi, Rian, dan Rini —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s