Arsip untuk Desember, 2011

Pasar dan stasiun atau terminal, sepertinya berhubungan erat. Kebanyakan pasar berdekatan dengan stasiun atau terminal. Mengenai asal mula pasar itu seperti mempertanyakan lebih dulu mana ayam dengan telur. Apakah karena stasiun/terminal itu banyak orang yang berlalu-lalang sehingga memancing pedagang membuka dagangan disana, ataukah karena pasar itu ramai sehingga banyak mengundang angkutan umum untuk menuju kesana? Yang jelas saya tidak akan membahas masalah itu. Disini hanya akan dibahas pasar (tradisional) yang berdekatan dengan Stasiun atau terminal di sekitaran Jabodetabek.

1. Pasar Tanah Abang

image

Siapa yang nggak tahu Pasar Tanah Abang? Pasar grosir yang menjual pakaian dan bahan pakaian ini pernah terkenal hingga ke manca negara. Pasar ini berdekatan dengan Stasiun Tanahabang (kode THB). Stasiun THB adalah stasiun besar KRL. Selain kereta komuter seperti KRL dan kereta Rangkasbitung, stasiun ini juga merupakan stasiun kereta api jarak jauh ke Jawa (tengah dan timur). Dulu stasiun THB ini bisa dijangkau langsung baik dari Bekasi, Serpong maupun Depok. Namun sejak era loopline penumpang Bekasi harus transit dulu di Manggarai. Untuk terminal bis atau angkot, kebanyakan armadanya ngetem di pinggir-pinggir jalan. Salah satu bis yang melayani rute Tanah Abang adalah bis Koantas Bima 102 (Ciputat – Tanah Abang) dan Patas AC BMP 102 (Depok – Tanah Abang).

Selain pasar grosir pakaian, di daerah Tanah Abang juga banyak agen pengiriman barang dan EMKL (ekspedisi muatan kapal laut), dimana sering truk-truk menurunkan atau menaikkan barang di pinggir jalan. Juga tentu saja banyak pedagang kaki lima tang menggelar dagangan di pinggir jalan. Tentu saja lalu lintas di sekitaran stasiun dan pasar sangat semrawut terutama di jam sibuk, yang diperparah banyaknya angkot dan bus yang ngetem dan sepeda motor yang melawan arah.

2. Pasar Asemka

Pasar Asemka juga cukup terkenal. Pasar ini menjual aneka macam barang, mulai dari alat tulis dan buku, pakaian, mainan dan lain-lain. Biasanya ramai ketika menjelang tahun ajaran baru, dimana barang keperluan sekolah dijual dengan harga miring (asal bisa menawar). Lokasinya tak jauh dari Stasiun Jakarta Kota dan Halte Busway Koridor 1.

Khusus penumpang KRL dari Serpong, harus transit di Stasiun Tanahabang ke Manggarai, baru bisa menuju Stasiun Kota. Dari Stasiun/halte busway, cukup menyeberang lewat lorong penyeberangan, disitu ada petunjuk ke arah Asemka. Kalo malas jalan kaki, disana banyak ojek sepeda. Pasar ini cukup besar dan semrawut. Saya bingung membedakan pasar ini ujungnya dimana, karena orang menggelar dagangan sampai di mulut lorong penyeberangan depan stasiun. Di jalan dekat Pasar Asemka, jalan kaki saja sulit, apalagi naik kendaraan, karena jalan juga dipenuhi dagangan dan penjualnya.

3. Pasar Kemiri

image

Bagi yang berdomisili di Depok, terutama yang naik KRL dari Stasiun Depok Baru tentu mengenal pasar ini. Pasar Kemiri berada sepanjang rel KRL mulai dari Stasiun Depok Baru sampai sekitar Mal Depok (D-Mall). Meskipun becek, jorok dan kacau, pasar ini digemari karena harganya diklaim paling murah santero Depok. Saking dekatnya dengan rel KRL, ketika KRL lewat, pembeli dan penjual harus minggir terlebih dahulu. Karena Stasiun Depok Baru bersebelahan dengan Terminal Depok, tentu saja akses ke pasar ini juga didukung oleh bis dan angkot.

4. Pasar Minggu

Tidak susah mencari Pasar di Pasar Minggu ini. Justru saya kesulitan mencari Stasiun Pasar Minggu, yang tersembunyi di balik lapak-lapak dagangan. Pasar Minggu dulu terkenal sebagai pasar yang berjualan buah-buahan. Meskipun pedagang buah masih banyak di Pasar Minggu, namun Pasar ini melebar sampai di jalan-jalan dan berjualan apa saja seperti pasar-pasar lain. Selain stasiun KRL, juga terdapat Terminal Pasar Minggu dengan armada angkot dan bis yang relatif banyak. Bis Damri Bandara juga menjadikan Pasar Minggu sebagai terminal, yang biasanya juga dinaiki orang Depok karena di Depok tak ada lagi bis bandara.

Selain Bis yang berterminal di Pasar Minggu, beberapa bis juga lewat Jalan Pasar Minggu (hanya lewat, tidak masuk terminal) seperti PPD 54 jurusan Depok – Grogol dan Mayasari PAC 81 jurusan Depok – Kalideres.

Sekian dulu deh, nanti dilanjutkan lagi. Masih banyak pasar yang belum dibahas.

Posted from WordPress for Android

Posted from WordPress for Android

pengamen di kopaja

Dalam sebuah Kopaja yang baru keluar dari Terminal Blok M, sesosok ‘satria bergitar’ masuk dan langsung berdendang menyanyikan lagu. Ya, dia adalah pengamen, profesi yang sangat akrab bagi angkutan umum khususnya bis kota. Barusan keluar seseorang yang mengamen, tapi nggak bawa alat musik, cuma teriak-teriak, nggak tahu apa maksudnya, baca puisi atau mengomel, atau malah mengancam. Sebab dalam kata-katanya diselingi “…  masih untung kami hanya mengamen mencari sesuap nasi. Kami tidak merampok, tidak membunuh ”. Ditambah lagi penampilan yang tidak sedap dipandang mata. Terus dilanjutkan lagi ” jangan paksa kami menjadi pencopet atau perampok…”.  Ada yang memberi (kebanyakan kaum hawa), ada juga yang nggak.

Setelah selesai menyayi, pengamen kedua ini mencoba peruntungan seperti ‘pembaca puisi gagal’ tadi. Tapi nasib, mungkin recehan penumpang sudah pada habis, tak serupiah pun didapat. Akhirnya jurus ngomel-ngomel disertai ancaman dikeluarkannya.

Begitulah… kejadian yang sudah lumrah dialami di Bis kota. Adanya pengamen, sebenarnya awalnya adalah mencoba menghibur penumpang, jika ada yang senang atau terhibur, maka recehan penumpang pun bisa mengalir keluar. Namun kemudian perkembangannya, uang bisa mengalir dari penumpang, nggak cuma bila merasa terhibur, namun juga apabila terpaksa. Maklum, nggak semua punya talenta yang bisa menghibur.

Dari model pengamen yang ada di angkutan umum, saya bagi menjadi 3 :

1. Pengamen asli

Inilah yang layak disebut pengamen. Jadi memang mengandalkan bakat seninya untuk menghibur penumpang. Kualitasnya bahkan banyak yang bagus, nggak kalah (cuma kalah nasib atau tampang mungkin) dengan artis ternama. Umumnya membawa alat musik, bahkan ada yang hanya memainkan alat musik saja, tidak menyanyi. Di KRL, khususnya KRL Ekonomi, atau KRL Commuter Line yang sedang ‘ngetem’ di stasiun, bahkan sudah seperti grup band. Mereka membawa drum, gitar, triangle dan alat musik lainnya. Beberapa pengamen bahkan jadi ‘pengamen khusus’ bis tertentu (biasanya bis Patas AC yang jarak jauh), sehingga sudah kenal dengan penumpang. Jadi disini penumpang kayaknya ikhlas mengeluarkan uangnya.

2. Pengamen yang memelas

Yang saya masukkan disini adalah pengamen yang mengandalkan belas kasihan penumpangnya. Mirip pengemis sih, tapi lebih dekat ke pengamen karena ada upaya ‘berseni’. Misalnya ada pengamen yang memaksa menyanyi, sementara ngomong aja nggak jelas (seperti orang bisu), coba  anda bayangkan gimana output audionya. Bahkan ada yang cuma bertepuk tangan saja sambil bergumam (saya nggak tahu model kesenian apa ini, yang jelas saya tidak merasa terhibur). Anak-anak kecil yang mengamen juga saya golongkan kesini, karena hanya bermodal ‘ecek-ecek’ nekat menyanyi, sementara ngomong saja masih belajar. Jadi kalo penumpang memberi recehan, saya kira karena kasihan.

3. Pengamen yang mengganggu

Ini yang diilustrasikan di awal tulisan ini. Agak susah membedakan dengan pengamen asli, namun kayaknya bisa dilihat di modalnya. Kalo pengamen asli  biasanya bermodal alat musik atau suaranya yang menghibur, pengganggu ini biasanya nggak punya modal itu. Entah apa yang dibawakannya, apakah seni alternatif atau apa, yang jelas dari raut muka penumpang tidak bisa menerima aliran kesenian seperti itu. Namun seperti yang saya bilang tadi, susah juga membedakannya. Ada juga pengamen ‘asli’ yang juga menyanyi bener, namun kemudian ditambahi ‘ancaman’ atau omelan sehingga maunya terhibur malah jadi terganggu. Sepertinya keikhlasan penumpang untuk memberi uang pengamen ini patut dipertanyakan.

Kesimpulan

Namun pendapat saya pribadi, semua pengamen substansinya adalah pengganggu dalam tranportasi umum. Pertama dari sisi tempat, dia menempati tempat (biasanya di koridor), sehingga mengganggu lalu lalang penumpang, atau penumpang yang berdiri. Alat musiknya juga bisa menjadi pengganggu (saya pernah kesodok gagang gitar). Kemudian juga dalam menyanyi dia bisa membangunkan orang tidur di bis. Atau selera musiknya nggak sama. Atau ketika menerima telepon dari hape, terganggu karena berisik. Atau mengganggu nurani ketika melihat pemandangan memelas sementara tak punya recehan. Kadang juga memaksa masuk bis, bahkan saat bis sedang penuh. Yang jelas, peran pengamen sebagai pengganggu telah diamini oleh banyak pihak. Antara lain larangan mengamen di lampu merah, atau di KRL AC dan busway, atau Kopaja AC. Dan juga oleh penumpang sendiri dan awak bis. Jadi pengamen disejajarkan dengan pengemis dan asongan, sama-sama penganggu.

Namun setidaknya ini membuktikan bahwa sektor angkutan umum masih menjadi tumpuan banyak orang-orang (marjinal) untuk mencari nafkah.

Posted from WordPress for Android

Yang sering menjadi menjadi ganjalan dalam naik angkutan umum, ya masalah kejahatan ini. Meskipun frekuensinya jarang, namun sekali terkena akibatnya fatal. Paling tidak secara mental trauma, bahkan nyawa bisa jadi taruhannya. Baru-baru ini ada seorang pedagang sayur yang diperkosa di angkot M26 jurusan Melayu-Bekas (tapi operasi kriminalnya di depok). Kejadian ini tidak berselang jauh dengan kasus pemerkosaan di Angkot D-02 jurusan Ciputat-Pondok labu. Citra angkot sebagai pemerkosa semakin melekat.

angkot... wajahmu sungguh kriminal...

Sebenarnya nggak cuma pemerkosa saja, masih banyak jenis kejahatan yang sering terjadi di angkutan umum, beberapa yang terdeteksi adalah :

1. Pencopetan

Ini kejahatan paling sering (dan paling klasik), terutama ketika kendaraan dalam kondisi sesak. Moda angkutan umum yang paling rawan terhadap pencopetan ini adalah KRL (terutama KRL ekonomi) dan bis kota (terutama bis kecil seperti kopaja/metromini dan bis kota non AC). Bis kota AC kayaknya jarang, karena penumpangnya rata-rata penumpang batu, jadi jarang ada yang naik-turun jarak dekat.

a. Pencopetan ketika naik/turun

Yang saya amati pada kejadian yang menimpa teman saya di KRL ekonomi, pencopetan terjadi ketika naik/turun penumpang di stasiun. Kondisi saling berdesakan, namun ada gerakan (meskipun ruang geraknya sempit). Saat naik/turun itu perhatian terpecah dengan adanya penumpang yang bertabrakan maupun yang mendorong-dorong. Waspadalah, sebab pencopet tidak hanya seorang, melainkan banyak orang, jadi ada yang bertugas menghambat laju penumpang, ada yang mengambil barang, dan juga ada yang menunggu serta menerima operan barang copetan. Pola KRL loopline yang pakai acara transit dan semakin berdesakannya penumpang memperbesar risiko pencopetan model begini.

b. Pencopetan ketika sedang berdiri

Ini sering terjadi di Bis. Berbeda dengan KRL yang hanya berhenti di stasiun, di bis pencopetnya bisa langsung turun dan kabur. Sama dengan pencopetan saat naik/turun, pencopet disini juga biasanya lebih dari satu. Ada yang bertugas mengalihkan perhatian, ada juga yang menjalankan aktivitas utama, mencopet. Yang disasar adalah isi saku celana atau tas.

c. Pencopetan ketika duduk

Jangan dikira ketika duduk tidak bisa dicopet. Selalu ada saja jalan untuk dicopet. Di angkot, dimana umumnya penumpangnya semua duduk, pencopetnya juga nggak selalu satu orang. Mereka biasanya juga berkomplot, meskipun naiknya tidak bersamaan. Biasanya modusnya ada yang mengalihkan perhatian (misalnya muntah, atau bertingkah tidak wajar), sedangkan yang lain mencopet. Jika di bis, hati-hati kalo ketiduran, sebab penumpang disebelah bisa jadi copet. Kata Bang Napi, kejahatan ada karena kesempatan. Teman saya dua kali hilang hapenya gara-gara tidur di bis, tak menaruh curiga karena penumpang di sebelahnya adalah wanita.

2. Penipuan, pembiusan dan penggendaman

Penipuan ini justru terjadi ketika penumpang tidak terlalu ramai. Bisa berkomplot atau dilakukan seorang diri. Saya pernah menyaksikan ada orang yang membawa burung (dalam wadah kertas) yang suaranya bagus & nyaring, kemudian penumpang yang lain memuji-mujinya. Lalu ada penumpang lain yang tanya harga dan menawar… jadi prosesnya agak lama, namun intinya adalah ada penumpang (asli) yang tertarik seakan-akan itu kesempatan langka, kemudian membeli burung itu, yang ternyata tak seindah bayangan. Saya baru sadar bahwa itu penipuan ketika saya bertemu lagi orang-orang yang sama, yang menawarkan burung itu di saat yang lain kepada penumpang lain. Kalau masalah pembiusan dan gendam itu biasanya juga ketika penumpang sebelah kita menjadi ramah dan  mengajak ngobrol serta menawarkan makanan atau minuman. Jika menjumpai ‘keramahan’ itu tidak biasa, waspadalah. Mungkin ada baiknya juga jadi penumpang bisu.

3. Penodongan/perampokan

Sama dengan penipuan, umumnya dilakukan ketika kondisi angkutan sepi, atau kebanyakan wanita. Umumnya dilakukan dalam Angkot. Bisa dilakukan secara kolektif, dimana penumpangnya tidak naik secara bersamaan. Yang mengherankan, sopir angkotnya kayaknya cuek saja dengan kejadian begini, meskipun sebenarnya mungkin mengenal pelaku. Mungkin takut diancam. Namun kejadian di taksi, yang sering menjadi korban adalah sopir taksinya yang dirampok penumpang gadungan.

4. Pemerkosaan

Ini yang dibahas di awal tulisan, dan juga di tulisan sebelumnya. Jadi nggak banyak yang dibahas, cuma menambahkan bahwa korbannya selalu wanita (belum pernah laki-laki jadi korban), dan kelihatannya pemerkosaan ini sebagai ‘aksi tambahan’ setelah perampokan, merujuk dari pemberitaan yang ada. Moda angkutannya juga saat ini masih terlokalisir di angkot, belum terdengar ada kejadian di angkutan umum yang tersistem seperti busway atau KRL.

5. Pembunuhan

Merujuk pemberitaan, aksi ini bukan tujuan utama, melainkan aksi ‘tutup mulut’ bagi korban, terutama jika melakukan perlawanan. Aksi utamanya ya perampokan/penodongan, mungkin ditambah aksi ‘tambahan’ yaitu pemerkosaan. Jarang terdengar ada pembunuhan politik, misalnya, di dalam angkot (mungkin karena pejabat nggak ada yang naik angkot). Kasus pembunuhan yang terkenal dalam angkutan umum yang pernah saya dengar yaitu Munir Kontras dibunuh dalam pesawat udara.

6. Pelecehan seksual

Kasus ini saya banyak mendengar di busway. Mungkin karena itu sekarang di busway dipisah antara laki-laki dan perempuan, jadi perempuan di bagian depan, laki-laki di belakang. Kalau di KRL malah ada gerbong khusus wanita di ujung-ujung rangkaian. Sama seperti pemerkosaan, korbannya selalu wanita, namun ini bukan berarti laki-laki nggak bisa dilecehkan lho. Peristiwa pelecehan ini biasanya terjadi ketika kondisi penuh sesak, jadi pelaku berdesak-desakan sekaligus mencari-cari ‘tempat pegangan’ yang pas.

busway, sekarang pisah laki-perempuan

Dalam kasus perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi belakangan ini, sopir angkot justru merupakan anggota pelakunya. Sopir tembak dituding sebagai biang keladi kriminalitas di angkutan umum ini. Jadi kemudian muncul tindakan mewajibkan seragam kepada sopir. Yah, sekali lagi langkah yang bersifat tambal sulam. Selama angkutan umum tidak tersistem, harapan cuma pada akhlak dan moral personalnya….

Masih ingat KRL Ekspres di era sekitar tahun 2007/2008 ?  saat itu apabila beli tiket, ada yang mempunyai nomor tempat duduk (bila masih ada tempat duduk kosong). Dengan pembelian tiket seperti itu, maka perebutan tempat duduk tidak seperti sekarang ini. Meskipun hanya di gerbong tertentu, tiket dengan tempat duduk itu selalu diincar penumpang, bahkan dengan cara-cara ‘tidak lazim’. Dalam menagih hak tempat duduk, penumpang tak segan mengusir ‘penduduk liar’. Saya sering diusir karena menempati tempat duduk yang udah dibooking. Seiring dengan makin penuhnya KRL (artinya peminatnya makin banyak), maka sekitar tahun 2009 jatah tempat duduk dihapuskan. Sama nasibnya dengan KRL Ekspres yang kemudian dihapuskan, untuk jenis angkutan metro (perkotaan) atau MRT, model ekspres dan nomor tempat duduk tidak sesuai. Wajar saja, karena dulu KRL dioperasikan semua oleh PT KA yang notabene lebih banyak beroperasi dalam kereta jarak jauh/kereta transit, sehingga sering campur aduk dalam menerapkan pola KA dalam KRL.

tempat duduk prioritas dan pengguna KRL

Namun ada yang seharusnya tidak berubah, yaitu courtesy seat, atau tempat duduk prioritas. Dalam KRL ber-AC (ekspres maupun dulu ekonomi AC yang sekarang menjadi commuter line)  selalu ada tempat duduk prioritas. Sebenarnya bukan ide PT KA atau KCJ yang menerapkan tempat duduk prioritas bagi manula, ibu hamil/menyusui, balita dan orang cacat tersebut, melainkan sudah given, alias bawaan dari awal. Maklum, itu KRL kan kereta bekas eks Jepang.

stiker di tempat duduk prioritas, masih berupa himbauan?

Karena sudah tersedia, jadi seharusnya KCJ konsisten dan mengoptimalkan. Saat ini stiker yang tertempel di jendela dekat  tempat duduk prioritas mengenai penggunanya yang berhak adalah dari KRLmania, jadi seakan-akan bukan resmi dari KCJ. Namun kali ini bukan masalah stiker yang saya bahas. Kembali ke masalah ‘nostalgia’ era 2008 dimana ada tiket tempat duduk, saya jadi punya ide bagaimana kalau khusus untuk manula, ibu hamil/menyusui, balita dan orang cacat (pokoknya yang berhak duduk di  tempat duduk prioritas) mempunyai loket karcis tersendiri, dan disitu dijual dengan nomor tempat duduk (tempatnya ya di  tempat duduk prioritas tadi). Tiketnya juga sebaiknya beda dengan tiket biasa, dengan jelas menampilkan sebagai tiket tempat duduk prioritas. Hal ini juga agar para manula, ibu hamil/menyusui, balita dan orang cacat juga tidak berdesakan, gencet-gencetan atau disela dalam mengantri tiket. Pelayanan dan perlindungan bagi kaum lemah sudah sejak membeli tiket.

Loket di Tanahabang. Kalo buka 1 loket khusus pengguna prioritas gak apa-apa khan?

Soalnya kalo berupa imbauan, kayaknya kok nggak efektif ya. Nah kalo tiketnya dijual terpisah, kan enak bagi petugas pemeriksa karcis untuk mensterilkan dari ‘penduduk liar’ di tempat duduk prioritas. Juga penggunanya sendiri tidak sungkan untuk meminta haknya, lha kan sesuai dengan tiket. Saya kira seharusnya KCJ bisa, ini kan lebih mudah daripada membuat gerbong khusus prioritas (kan membuat gerbong khusus wanita aja bisa).

Dan sebagai orang sehat dan merasa mampu berdiri (walaupun capek), kita seharusnya legowo untuk tidak memaksakan diri duduk di kursi prioritas (maksudnya nggak ngaku-ngaku untuk sekadar dapat tempat duduk). Kalo gitu, apa perlu kategori tempat duduk prioritas perlu ditambah satu : orang yang lemah mental (merasa lemah walau sehat)?

image

Dalam satu perjalanan KRL era loopline, iseng-iseng saya memotret penumpangnya :

1. Lesehan dan Kursi Lipat

KRL jurusan Kota tujuan Bogor. Mentang-mentang disisi kiri, lupa kalo Manggarai, Depok lama pintu ini bakal kebuka?

KRL (kereta rel lesehan)

Saya kira beli koran (baru) untuk dibaca dalam perjalanan, tapi ternyata gak dibaca sama sekali, hanya dijadikan alas duduk. Sebenarnya masalah duduk lesehan maupun memakai kuli (kursi lipat) ini masalah klasik di KRL, dan menjadi perdebatan sengit di facebook KRL mania (solidaritas untuk KRL yang lebih baik), dalam suatu topik yang saya lontarkan, yaitu “duduk di tempat berdiri”. Saya malas membahasnya lagi, karena sudah jelas ada larangannya di KRL (walau nggak jelas apa ada sanksi bagi pelanggarnya).

2. Courtesy Seat

Lha masih kosong, ya diduduki saja. Kalo nanti penuh, ada yang berhak, moga-moga nanti ketiduran jadi bisa cuek… hehehe…

mumpung masih lowong

 
Courtesy seat adalah kursi yang didedikasikan khusus untuk ibu hamil, manula, orang cacat, ibu yang menggendong balita. Kelihatannya sah-sah aja kan diduduki kalo kosong? tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal, kalo gitu buat apa ada courtesy seat? sama aja dengan kursi lainnya kali gitu. Di Jepang, penumpang KRL malu duduk di courtesy seat kalo bukan golongan yang berhak, meskipun koong. Alasannya kalo nanti di tengah jalan ada ibu hamil misalnya, kasihan kan kalo harus menegur lagi untuk minta haknya. Mikirnya sudah jauh ke depan dalam berempati.

3. Perintang Jalan

Mungkin dendam sama petugas yang narik karcis ya? jegal aja bleh !

sang penjegal

Meluruskan kaki sih sah-sah saja. Tapi kalo terus-terusan kok nggak pantes ya. Banyak orang berlalu-lalang yang bakal keganggu jalannya. Kalo ada yang kesandung, yang marah yang kesandung atau disandung ya?

4. Keluar garis

Garis kuning itu apa ya artinya? tempat nunggu KRL? Kalo gitu pas dong, tuh KRL nya mau datang.

Priitt !!! lewat garis

Kalo dalam lomba ini namanya mencuri start. Bisa didiskualifikasi. Nah kalo kasus ini ya risikonya kesamber KRL.

5. Jalan pintas

Stasiun Tanahabang. Daripada naik turun tangga,  mendingan terobos aja langsung.

lebih cepet, lebih baik?

 
Klasik banget, khas Indonesia deh… entah malas, maunya enak, ndak disiplin atau terlalu toleran.

Akhirul kata, kayaknya ‘penumpang’ KRL lebih pantas disebut “penduduk”. Sebuah tempat duduk menjadi sangat bernilai. Rela mengambil risiko dalam ‘mencuri start’ melewati garis kuning dan menerobos jalur kereta. Atau mengeluarkan duit lebih untuk beli koran atau kuli sebagai alas/tempat duduk. Atau melepas rasa malu (mau saya tulis ‘kemaluan’ tapi nggak pas) menduduki courtesy seat yang bukan haknya, atau tanpa rasa bersalah duduk dengan kuli dan lesehan.

Dan kalo sudah duduk atau dapat tempat duduk… alamak, kelakuannya bak raja (atau pejabat?). Seenaknya, pekak lingkungan, atau jadi penjegal. Cuek, tidur (atau pura-pura tidur) dan mematikan rasa terhadap sesama.

Tempat duduk hanya sementara, paling cuma satu jam saja (setelah seharian juga duduk di kantor). Tapi perebutan kursinya seakan-akan selamanya duduk disitu.

image

Stasiun Tanahabang, jam pulang kantor hari I ujicoba loopline. Lebih banyak petugas (sebagai sasaran omelan). yang sabar ya pak...

Tanggal 1 Desember 2011 ini pas dengan ujicoba jalur loopline KRL. Pas juga saya ada tugas ke Slipi, jadi pulangnya bisa naik KRL dari Tanahabang. Sudah berbulan-bulan nggak naik KRL, jadi penasaran juga setelah “musim paceklik” KRL 40 hari perbaikan gardu listrik.
Sekilas melihat jadwal KRL dari Tanahabang per 5 Desember 2011, jalur Depok-Bogor jadi rame. Asyik juga nih, ada sekitar 8 kali yang ke Depok antara jam 16 sampe jam 20, dibandingkan dulu ketika biasa naik kereta tahun 2009 yang cuma sekitar 5 kali. Juga setelah jam 9 malam masih 3 kereta sampe jam 21.57, mengakomodasi orang lembur nih (atau pekerja malam). Kayaknya jalur KRL tambah meriah nih.

Jam 17.20 saya sampe stasiun Tanahabang, agak shock juga melihat banyaknya penumpang di peron di jalur 3 yang dipersiapkan untuk ke Depok/Bogor. Saya pikir karena gabung penumpang Bekasi yang mau transit di Manggarai (tapi nggak tahu juga, udah lama nggak naik dari Tanahabang).

Di jalur 6 standby KRL tujuan Serpong, yang rupanya menunggu KRL transitan Serpong. sesaat kemudian di jalur 2 datanglah KRL yang penuh berisi penumpang transitan Serpong. Pintu terbuka, keluarlah ratusan penumpang yang bermuka masam dan tergesa-gesa berjalan dan menaiki tangga menuju jalur 6. Saya sampe ketabrak-tabrak, tapi memaklumi nasib penumpang Serpong yang tak ‘senyaman’ saya sebagai penumpang Depok yang nggak perlu transit.

Kemudian datang KRL ekonomi jurusan Depok, yang saya lihat nggak pas jadwalnya. Apa ini karena masih ujicoba, atau ini KRL ekonomi 855/856 yang harusnya jadwalnya jam 15.56? nggak saya tanya, saya baru sadar juga setelah saya cek dengan jadwal di rumah.

Sekitar 5 menit, datanglah commuter line tujuan Bogor yang masih kosong blong. Karena datang dari arah utara, jadi nggak mampir di Stasiun Sudirman yang pasti keisi penuh. Setelah berangkat, KRL segera terisi penuh banget di Stasiun Sudirman. Lagi-lagi saya berpikir ini pasti gara-gara gabung dengan penumpang Bekasi yang transit di Manggarai.
Perkiraan saya kayaknya salah. Di Manggarai, hanya segelintir penumpang yang turun, jadi penumpang KRL ini memang penumpang ‘asli’, bukan penumpang ‘transitan’. Jadi apa penyebab banyak penumpang KRL yang ngomel-ngomel? Kalo penumpang Bekasi atau Serpong yang harus transit saya pikir wajarlah kalo ngomel. Ternyata banyak juga penumpang Depok/Bogor yang ikutan ngomel, katanya jalurnya kepanjangan, dari Jatinegara, jadi KRL-nya molor.

Ah, ndak tahulah kenapa logikanya gitu, ini kan masih ujicoba. Kalo soal jalur kepanjangan, apa sudah lupa kalo KRL yang ke Bogor/Depok kebanyakan KRL balik dari Bogor/Depok juga? bukan KRL yang muncul tiba-tiba dari Kota atau Tanahabang? bukankah jalur Bogor/Depok yang lama juga ada yang dari Serpong, lalu berubah jadi KRL tujuan Depok? atau ada juga yang dari Stasiun Duri? menurut saya yang bikin molor adalah kalo ada trouble, bukan panjangnya jalur. Menurut saya, keluhan dari penumpang Depok/Bogor itu datang dari penumpang di Stasiun Sudirman. Biasanya KRL-nya dari Bogor/Depok yang akan balik lagi, jadi masih bisa dapat KRL yang cukup kosong (istilahnya mencuri start). Biasanya sih alasannya klasik : hanya untuk sebuah tempat duduk. Nah, karena KRL Bogor/Depok yang lewat Tanahabang/Sudirman ini datangnya dari arah utara (Jatinegara) maka penumpang Stasiun Sudirman nggak bisa curi start lagi di Stasiun Sudirman (kalo mau ya ‘ngintir’ aja ke Tanahabang, atau sekalian ke Jatinegara, he..he..).

Kalo penumpang Serpong yang saya saksikan tadi memang kasihan juga sih naik turun tangga untuk transit, jadi agak maklum kalo ngomel-ngomel. Ya berdoa saja KRL makin banyak profitnya dengan loopline ini sehingga bisa bangun fasilitas yang memudahkan transit penumpang. Sebenarnya sih kalo masalah transit, di busway lebih ‘sehat’ lagi. Coba aja transit di Halte busway Semanggi, dijamin sama kayak ikut fitness. Sebenarnya sambil KRL mempersiapkan fasilitas dan layanan agar lebih baik, penumpangnya juga ikutan mempersiapkan mental agar tidak manja.

Keluhan lain dari penumpang transit, katanya juga waktu tempuh juga lebih lama karena harus transit dan nunggu KRL ‘asli’. Tapi sebenarnya jadwalnya jadi lebih banyak, sehingga lebih fleksibel. Waktu tempuh yang lebih lama dikompensasikan dengan waktu menunggu yang lebih sedikit karena banyaknya jadwal baru. Kalo waktu ujicoba jadwalnya banyak yang nggak pas/sesuai,  namanya juga ujicoba. Jadwal yang udah pasti aja dulu juga banyak melesetnya.

image

KRL-ku sayang, walau penuh sesak, bobrok dan penuh omelan tetap kurindu

Tapi kenapa ya, meskipun banyak yang ngomel bahkan sampai melabrak petugas, tetap makin penuh aja ini KRL (artinya makin banyak ‘penggemarnya’?).

image

Deborah, sabar menanti

Bagi pengguna bis (contoh kasus yang pas misalnya bis Deborah Lebak Bulus-Depok) anda akan bisa mengerti.

Dalam himpitan kemacetan, sambil bergantungan bertabur peluh kami selalu memandang iri pada tiap KRL commuter line yang melaju kencang;  “kapan ada jalur KRL ke tempat kami…”. Sama-sama berhimpitan (bahkan lebih ekstrim), sama-sama harus transit (nyeberang jalan, oper bis/angkot, keserempet motor segala), bayar sama besarnya. TAPI waktu tempuhnya lebih lama, nggak ada AC-nya, nggak safety (pintunya gak ditutup & ugal-ugalan), lebih banyak copetnya, udah gitu turun disuruh satu kaki, kaki kiri.

Wah, jadi ingat teman saya di Papua. Masih untung saya ada bis. Mereka malah membayangkan; ” kapan ada jalan di tempat kami…”. Atau nggak usah jauh-jauh, di daerah pinggiran sekitar kita saja.