image

Stasiun Tanahabang, jam pulang kantor hari I ujicoba loopline. Lebih banyak petugas (sebagai sasaran omelan). yang sabar ya pak...

Tanggal 1 Desember 2011 ini pas dengan ujicoba jalur loopline KRL. Pas juga saya ada tugas ke Slipi, jadi pulangnya bisa naik KRL dari Tanahabang. Sudah berbulan-bulan nggak naik KRL, jadi penasaran juga setelah “musim paceklik” KRL 40 hari perbaikan gardu listrik.
Sekilas melihat jadwal KRL dari Tanahabang per 5 Desember 2011, jalur Depok-Bogor jadi rame. Asyik juga nih, ada sekitar 8 kali yang ke Depok antara jam 16 sampe jam 20, dibandingkan dulu ketika biasa naik kereta tahun 2009 yang cuma sekitar 5 kali. Juga setelah jam 9 malam masih 3 kereta sampe jam 21.57, mengakomodasi orang lembur nih (atau pekerja malam). Kayaknya jalur KRL tambah meriah nih.

Jam 17.20 saya sampe stasiun Tanahabang, agak shock juga melihat banyaknya penumpang di peron di jalur 3 yang dipersiapkan untuk ke Depok/Bogor. Saya pikir karena gabung penumpang Bekasi yang mau transit di Manggarai (tapi nggak tahu juga, udah lama nggak naik dari Tanahabang).

Di jalur 6 standby KRL tujuan Serpong, yang rupanya menunggu KRL transitan Serpong. sesaat kemudian di jalur 2 datanglah KRL yang penuh berisi penumpang transitan Serpong. Pintu terbuka, keluarlah ratusan penumpang yang bermuka masam dan tergesa-gesa berjalan dan menaiki tangga menuju jalur 6. Saya sampe ketabrak-tabrak, tapi memaklumi nasib penumpang Serpong yang tak ‘senyaman’ saya sebagai penumpang Depok yang nggak perlu transit.

Kemudian datang KRL ekonomi jurusan Depok, yang saya lihat nggak pas jadwalnya. Apa ini karena masih ujicoba, atau ini KRL ekonomi 855/856 yang harusnya jadwalnya jam 15.56? nggak saya tanya, saya baru sadar juga setelah saya cek dengan jadwal di rumah.

Sekitar 5 menit, datanglah commuter line tujuan Bogor yang masih kosong blong. Karena datang dari arah utara, jadi nggak mampir di Stasiun Sudirman yang pasti keisi penuh. Setelah berangkat, KRL segera terisi penuh banget di Stasiun Sudirman. Lagi-lagi saya berpikir ini pasti gara-gara gabung dengan penumpang Bekasi yang transit di Manggarai.
Perkiraan saya kayaknya salah. Di Manggarai, hanya segelintir penumpang yang turun, jadi penumpang KRL ini memang penumpang ‘asli’, bukan penumpang ‘transitan’. Jadi apa penyebab banyak penumpang KRL yang ngomel-ngomel? Kalo penumpang Bekasi atau Serpong yang harus transit saya pikir wajarlah kalo ngomel. Ternyata banyak juga penumpang Depok/Bogor yang ikutan ngomel, katanya jalurnya kepanjangan, dari Jatinegara, jadi KRL-nya molor.

Ah, ndak tahulah kenapa logikanya gitu, ini kan masih ujicoba. Kalo soal jalur kepanjangan, apa sudah lupa kalo KRL yang ke Bogor/Depok kebanyakan KRL balik dari Bogor/Depok juga? bukan KRL yang muncul tiba-tiba dari Kota atau Tanahabang? bukankah jalur Bogor/Depok yang lama juga ada yang dari Serpong, lalu berubah jadi KRL tujuan Depok? atau ada juga yang dari Stasiun Duri? menurut saya yang bikin molor adalah kalo ada trouble, bukan panjangnya jalur. Menurut saya, keluhan dari penumpang Depok/Bogor itu datang dari penumpang di Stasiun Sudirman. Biasanya KRL-nya dari Bogor/Depok yang akan balik lagi, jadi masih bisa dapat KRL yang cukup kosong (istilahnya mencuri start). Biasanya sih alasannya klasik : hanya untuk sebuah tempat duduk. Nah, karena KRL Bogor/Depok yang lewat Tanahabang/Sudirman ini datangnya dari arah utara (Jatinegara) maka penumpang Stasiun Sudirman nggak bisa curi start lagi di Stasiun Sudirman (kalo mau ya ‘ngintir’ aja ke Tanahabang, atau sekalian ke Jatinegara, he..he..).

Kalo penumpang Serpong yang saya saksikan tadi memang kasihan juga sih naik turun tangga untuk transit, jadi agak maklum kalo ngomel-ngomel. Ya berdoa saja KRL makin banyak profitnya dengan loopline ini sehingga bisa bangun fasilitas yang memudahkan transit penumpang. Sebenarnya sih kalo masalah transit, di busway lebih ‘sehat’ lagi. Coba aja transit di Halte busway Semanggi, dijamin sama kayak ikut fitness. Sebenarnya sambil KRL mempersiapkan fasilitas dan layanan agar lebih baik, penumpangnya juga ikutan mempersiapkan mental agar tidak manja.

Keluhan lain dari penumpang transit, katanya juga waktu tempuh juga lebih lama karena harus transit dan nunggu KRL ‘asli’. Tapi sebenarnya jadwalnya jadi lebih banyak, sehingga lebih fleksibel. Waktu tempuh yang lebih lama dikompensasikan dengan waktu menunggu yang lebih sedikit karena banyaknya jadwal baru. Kalo waktu ujicoba jadwalnya banyak yang nggak pas/sesuai,  namanya juga ujicoba. Jadwal yang udah pasti aja dulu juga banyak melesetnya.

image

KRL-ku sayang, walau penuh sesak, bobrok dan penuh omelan tetap kurindu

Tapi kenapa ya, meskipun banyak yang ngomel bahkan sampai melabrak petugas, tetap makin penuh aja ini KRL (artinya makin banyak ‘penggemarnya’?).

image

Deborah, sabar menanti

Bagi pengguna bis (contoh kasus yang pas misalnya bis Deborah Lebak Bulus-Depok) anda akan bisa mengerti.

Dalam himpitan kemacetan, sambil bergantungan bertabur peluh kami selalu memandang iri pada tiap KRL commuter line yang melaju kencang;  “kapan ada jalur KRL ke tempat kami…”. Sama-sama berhimpitan (bahkan lebih ekstrim), sama-sama harus transit (nyeberang jalan, oper bis/angkot, keserempet motor segala), bayar sama besarnya. TAPI waktu tempuhnya lebih lama, nggak ada AC-nya, nggak safety (pintunya gak ditutup & ugal-ugalan), lebih banyak copetnya, udah gitu turun disuruh satu kaki, kaki kiri.

Wah, jadi ingat teman saya di Papua. Masih untung saya ada bis. Mereka malah membayangkan; ” kapan ada jalan di tempat kami…”. Atau nggak usah jauh-jauh, di daerah pinggiran sekitar kita saja.

Komentar
  1. liliana mengatakan:

    tapi seharusnya pejabat KA juga ikut melihat dan merasakan

  2. nbudianggoro mengatakan:

    yang saya amati, jalur tanah abang – bogor itu salah satu jalur terpadat dan pihak KCJ perhitungannya kurang tepat soal ini. proporsi bogor – jakarta kota mesti dikurangi buat nambahin bogor – jatinegara.

    faktor lainnya: distribusi penumpang terlalu padat di jam sibuk, dimana sebaiknya lebih menyebar di jam-jam kurang sibuk.

    • andrefeb mengatakan:

      bener mas. memang itu kelemahan KRL, jauh sebelum loopline ini. penumpukan penumpang, jangankan yang tiba-tiba, yang sudah menahun/rutin pun kelihatannya lama banget diantisipasi. Tak seperti busway yang memang didesain sebagai model transport metro yang mendekati MRT yang fleksibel, KRL lebih kearah pola KA biasa, kaku tergantung jadwal dan manajemen perlintasan KA.
      Pemisahan KCJ dari PT KA tidak dibarengi pemisahan jalur dan fasilitas. Idealnya KA jarak jauh berhenti sampai Manggarai saja. Dan Jalur Bekasi sampai Manggarai dibangun doble doble track. sementara masih wacana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s