image

Dalam satu perjalanan KRL era loopline, iseng-iseng saya memotret penumpangnya :

1. Lesehan dan Kursi Lipat

KRL jurusan Kota tujuan Bogor. Mentang-mentang disisi kiri, lupa kalo Manggarai, Depok lama pintu ini bakal kebuka?

KRL (kereta rel lesehan)

Saya kira beli koran (baru) untuk dibaca dalam perjalanan, tapi ternyata gak dibaca sama sekali, hanya dijadikan alas duduk. Sebenarnya masalah duduk lesehan maupun memakai kuli (kursi lipat) ini masalah klasik di KRL, dan menjadi perdebatan sengit di facebook KRL mania (solidaritas untuk KRL yang lebih baik), dalam suatu topik yang saya lontarkan, yaitu “duduk di tempat berdiri”. Saya malas membahasnya lagi, karena sudah jelas ada larangannya di KRL (walau nggak jelas apa ada sanksi bagi pelanggarnya).

2. Courtesy Seat

Lha masih kosong, ya diduduki saja. Kalo nanti penuh, ada yang berhak, moga-moga nanti ketiduran jadi bisa cuek… hehehe…

mumpung masih lowong

 
Courtesy seat adalah kursi yang didedikasikan khusus untuk ibu hamil, manula, orang cacat, ibu yang menggendong balita. Kelihatannya sah-sah aja kan diduduki kalo kosong? tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal, kalo gitu buat apa ada courtesy seat? sama aja dengan kursi lainnya kali gitu. Di Jepang, penumpang KRL malu duduk di courtesy seat kalo bukan golongan yang berhak, meskipun koong. Alasannya kalo nanti di tengah jalan ada ibu hamil misalnya, kasihan kan kalo harus menegur lagi untuk minta haknya. Mikirnya sudah jauh ke depan dalam berempati.

3. Perintang Jalan

Mungkin dendam sama petugas yang narik karcis ya? jegal aja bleh !

sang penjegal

Meluruskan kaki sih sah-sah saja. Tapi kalo terus-terusan kok nggak pantes ya. Banyak orang berlalu-lalang yang bakal keganggu jalannya. Kalo ada yang kesandung, yang marah yang kesandung atau disandung ya?

4. Keluar garis

Garis kuning itu apa ya artinya? tempat nunggu KRL? Kalo gitu pas dong, tuh KRL nya mau datang.

Priitt !!! lewat garis

Kalo dalam lomba ini namanya mencuri start. Bisa didiskualifikasi. Nah kalo kasus ini ya risikonya kesamber KRL.

5. Jalan pintas

Stasiun Tanahabang. Daripada naik turun tangga,  mendingan terobos aja langsung.

lebih cepet, lebih baik?

 
Klasik banget, khas Indonesia deh… entah malas, maunya enak, ndak disiplin atau terlalu toleran.

Akhirul kata, kayaknya ‘penumpang’ KRL lebih pantas disebut “penduduk”. Sebuah tempat duduk menjadi sangat bernilai. Rela mengambil risiko dalam ‘mencuri start’ melewati garis kuning dan menerobos jalur kereta. Atau mengeluarkan duit lebih untuk beli koran atau kuli sebagai alas/tempat duduk. Atau melepas rasa malu (mau saya tulis ‘kemaluan’ tapi nggak pas) menduduki courtesy seat yang bukan haknya, atau tanpa rasa bersalah duduk dengan kuli dan lesehan.

Dan kalo sudah duduk atau dapat tempat duduk… alamak, kelakuannya bak raja (atau pejabat?). Seenaknya, pekak lingkungan, atau jadi penjegal. Cuek, tidur (atau pura-pura tidur) dan mematikan rasa terhadap sesama.

Tempat duduk hanya sementara, paling cuma satu jam saja (setelah seharian juga duduk di kantor). Tapi perebutan kursinya seakan-akan selamanya duduk disitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s