Masih ingat KRL Ekspres di era sekitar tahun 2007/2008 ?  saat itu apabila beli tiket, ada yang mempunyai nomor tempat duduk (bila masih ada tempat duduk kosong). Dengan pembelian tiket seperti itu, maka perebutan tempat duduk tidak seperti sekarang ini. Meskipun hanya di gerbong tertentu, tiket dengan tempat duduk itu selalu diincar penumpang, bahkan dengan cara-cara ‘tidak lazim’. Dalam menagih hak tempat duduk, penumpang tak segan mengusir ‘penduduk liar’. Saya sering diusir karena menempati tempat duduk yang udah dibooking. Seiring dengan makin penuhnya KRL (artinya peminatnya makin banyak), maka sekitar tahun 2009 jatah tempat duduk dihapuskan. Sama nasibnya dengan KRL Ekspres yang kemudian dihapuskan, untuk jenis angkutan metro (perkotaan) atau MRT, model ekspres dan nomor tempat duduk tidak sesuai. Wajar saja, karena dulu KRL dioperasikan semua oleh PT KA yang notabene lebih banyak beroperasi dalam kereta jarak jauh/kereta transit, sehingga sering campur aduk dalam menerapkan pola KA dalam KRL.

tempat duduk prioritas dan pengguna KRL

Namun ada yang seharusnya tidak berubah, yaitu courtesy seat, atau tempat duduk prioritas. Dalam KRL ber-AC (ekspres maupun dulu ekonomi AC yang sekarang menjadi commuter line)  selalu ada tempat duduk prioritas. Sebenarnya bukan ide PT KA atau KCJ yang menerapkan tempat duduk prioritas bagi manula, ibu hamil/menyusui, balita dan orang cacat tersebut, melainkan sudah given, alias bawaan dari awal. Maklum, itu KRL kan kereta bekas eks Jepang.

stiker di tempat duduk prioritas, masih berupa himbauan?

Karena sudah tersedia, jadi seharusnya KCJ konsisten dan mengoptimalkan. Saat ini stiker yang tertempel di jendela dekat  tempat duduk prioritas mengenai penggunanya yang berhak adalah dari KRLmania, jadi seakan-akan bukan resmi dari KCJ. Namun kali ini bukan masalah stiker yang saya bahas. Kembali ke masalah ‘nostalgia’ era 2008 dimana ada tiket tempat duduk, saya jadi punya ide bagaimana kalau khusus untuk manula, ibu hamil/menyusui, balita dan orang cacat (pokoknya yang berhak duduk di  tempat duduk prioritas) mempunyai loket karcis tersendiri, dan disitu dijual dengan nomor tempat duduk (tempatnya ya di  tempat duduk prioritas tadi). Tiketnya juga sebaiknya beda dengan tiket biasa, dengan jelas menampilkan sebagai tiket tempat duduk prioritas. Hal ini juga agar para manula, ibu hamil/menyusui, balita dan orang cacat juga tidak berdesakan, gencet-gencetan atau disela dalam mengantri tiket. Pelayanan dan perlindungan bagi kaum lemah sudah sejak membeli tiket.

Loket di Tanahabang. Kalo buka 1 loket khusus pengguna prioritas gak apa-apa khan?

Soalnya kalo berupa imbauan, kayaknya kok nggak efektif ya. Nah kalo tiketnya dijual terpisah, kan enak bagi petugas pemeriksa karcis untuk mensterilkan dari ‘penduduk liar’ di tempat duduk prioritas. Juga penggunanya sendiri tidak sungkan untuk meminta haknya, lha kan sesuai dengan tiket. Saya kira seharusnya KCJ bisa, ini kan lebih mudah daripada membuat gerbong khusus prioritas (kan membuat gerbong khusus wanita aja bisa).

Dan sebagai orang sehat dan merasa mampu berdiri (walaupun capek), kita seharusnya legowo untuk tidak memaksakan diri duduk di kursi prioritas (maksudnya nggak ngaku-ngaku untuk sekadar dapat tempat duduk). Kalo gitu, apa perlu kategori tempat duduk prioritas perlu ditambah satu : orang yang lemah mental (merasa lemah walau sehat)?

Komentar
  1. sandrosirait mengatakan:

    ide yang bagus mbak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s