pengamen di kopaja

Dalam sebuah Kopaja yang baru keluar dari Terminal Blok M, sesosok ‘satria bergitar’ masuk dan langsung berdendang menyanyikan lagu. Ya, dia adalah pengamen, profesi yang sangat akrab bagi angkutan umum khususnya bis kota. Barusan keluar seseorang yang mengamen, tapi nggak bawa alat musik, cuma teriak-teriak, nggak tahu apa maksudnya, baca puisi atau mengomel, atau malah mengancam. Sebab dalam kata-katanya diselingi “…  masih untung kami hanya mengamen mencari sesuap nasi. Kami tidak merampok, tidak membunuh ”. Ditambah lagi penampilan yang tidak sedap dipandang mata. Terus dilanjutkan lagi ” jangan paksa kami menjadi pencopet atau perampok…”.  Ada yang memberi (kebanyakan kaum hawa), ada juga yang nggak.

Setelah selesai menyayi, pengamen kedua ini mencoba peruntungan seperti ‘pembaca puisi gagal’ tadi. Tapi nasib, mungkin recehan penumpang sudah pada habis, tak serupiah pun didapat. Akhirnya jurus ngomel-ngomel disertai ancaman dikeluarkannya.

Begitulah… kejadian yang sudah lumrah dialami di Bis kota. Adanya pengamen, sebenarnya awalnya adalah mencoba menghibur penumpang, jika ada yang senang atau terhibur, maka recehan penumpang pun bisa mengalir keluar. Namun kemudian perkembangannya, uang bisa mengalir dari penumpang, nggak cuma bila merasa terhibur, namun juga apabila terpaksa. Maklum, nggak semua punya talenta yang bisa menghibur.

Dari model pengamen yang ada di angkutan umum, saya bagi menjadi 3 :

1. Pengamen asli

Inilah yang layak disebut pengamen. Jadi memang mengandalkan bakat seninya untuk menghibur penumpang. Kualitasnya bahkan banyak yang bagus, nggak kalah (cuma kalah nasib atau tampang mungkin) dengan artis ternama. Umumnya membawa alat musik, bahkan ada yang hanya memainkan alat musik saja, tidak menyanyi. Di KRL, khususnya KRL Ekonomi, atau KRL Commuter Line yang sedang ‘ngetem’ di stasiun, bahkan sudah seperti grup band. Mereka membawa drum, gitar, triangle dan alat musik lainnya. Beberapa pengamen bahkan jadi ‘pengamen khusus’ bis tertentu (biasanya bis Patas AC yang jarak jauh), sehingga sudah kenal dengan penumpang. Jadi disini penumpang kayaknya ikhlas mengeluarkan uangnya.

2. Pengamen yang memelas

Yang saya masukkan disini adalah pengamen yang mengandalkan belas kasihan penumpangnya. Mirip pengemis sih, tapi lebih dekat ke pengamen karena ada upaya ‘berseni’. Misalnya ada pengamen yang memaksa menyanyi, sementara ngomong aja nggak jelas (seperti orang bisu), coba  anda bayangkan gimana output audionya. Bahkan ada yang cuma bertepuk tangan saja sambil bergumam (saya nggak tahu model kesenian apa ini, yang jelas saya tidak merasa terhibur). Anak-anak kecil yang mengamen juga saya golongkan kesini, karena hanya bermodal ‘ecek-ecek’ nekat menyanyi, sementara ngomong saja masih belajar. Jadi kalo penumpang memberi recehan, saya kira karena kasihan.

3. Pengamen yang mengganggu

Ini yang diilustrasikan di awal tulisan ini. Agak susah membedakan dengan pengamen asli, namun kayaknya bisa dilihat di modalnya. Kalo pengamen asli  biasanya bermodal alat musik atau suaranya yang menghibur, pengganggu ini biasanya nggak punya modal itu. Entah apa yang dibawakannya, apakah seni alternatif atau apa, yang jelas dari raut muka penumpang tidak bisa menerima aliran kesenian seperti itu. Namun seperti yang saya bilang tadi, susah juga membedakannya. Ada juga pengamen ‘asli’ yang juga menyanyi bener, namun kemudian ditambahi ‘ancaman’ atau omelan sehingga maunya terhibur malah jadi terganggu. Sepertinya keikhlasan penumpang untuk memberi uang pengamen ini patut dipertanyakan.

Kesimpulan

Namun pendapat saya pribadi, semua pengamen substansinya adalah pengganggu dalam tranportasi umum. Pertama dari sisi tempat, dia menempati tempat (biasanya di koridor), sehingga mengganggu lalu lalang penumpang, atau penumpang yang berdiri. Alat musiknya juga bisa menjadi pengganggu (saya pernah kesodok gagang gitar). Kemudian juga dalam menyanyi dia bisa membangunkan orang tidur di bis. Atau selera musiknya nggak sama. Atau ketika menerima telepon dari hape, terganggu karena berisik. Atau mengganggu nurani ketika melihat pemandangan memelas sementara tak punya recehan. Kadang juga memaksa masuk bis, bahkan saat bis sedang penuh. Yang jelas, peran pengamen sebagai pengganggu telah diamini oleh banyak pihak. Antara lain larangan mengamen di lampu merah, atau di KRL AC dan busway, atau Kopaja AC. Dan juga oleh penumpang sendiri dan awak bis. Jadi pengamen disejajarkan dengan pengemis dan asongan, sama-sama penganggu.

Namun setidaknya ini membuktikan bahwa sektor angkutan umum masih menjadi tumpuan banyak orang-orang (marjinal) untuk mencari nafkah.

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s