Arsip untuk Januari, 2012

Akhir pekan kemarin, saya naik KRL Commuter line ke Jakarta Kota. Berbeda dengan hari kerja, cukup banyak kursi yang kosong sehingga saya bisa lebih santai. KRL eks Jepang yang ber-ac ini cukup bersih meskipun umurnya sudah uzur. Tak seperti Bis Transjakarta yang mulai banyak yang kusam dan mulai “mreteli” alias banyak yang copot.

Tapi… wah, kok banyak banget sampah disini…

sampah bertebaran di KRL

Mulai dari koran, bungkus makanan, plastik-plastik dan nggak tahu apa lagi. Sebenarnya pikiran spontan yang ada di kepala saya adalah ” kenapa sih nggak ada petugas kebersihan yang membersihkan sampah-sampah ini?”.

Tapi kemudian mata tertuju kepada 10 larangan di KRL :

10 Larangan di KRL

Sebenarnya makan-minum, membuang sampah dan duduk di lantai memang dilarang dilakukan di KRL. Makan dan minum selain bisa menimbulkan noda, juga bungkusnya menjadi sampah. Demikian juga dengan duduk dilantai beralas koran. Semuanya kegiatan yang memproduksi sampah. Jadi sebenarnya ya salah penumpang sendiri.

Pasti ada yang beralasan, nggak disediakan tempat sampah sih. Lho, sejak kapan di angkutan massal ada tempat sampah? bayangkan saat kondisi penuh sesak, tempat sampah tentunya jadi gangguan. Jadi, sampah memang harus dibuang di stasiun, sebelum atau sesudah naik KRL.

Saya pernah melihat ada seseorang yang membuang satu kantong plastik sampah di sambungan antar gerbong. Tadinya saya kira dia pasang bom…. Pasti para insinyur perancang KRL Jepang nggak menyangka kalo penutup sambungan antar gerbong bisa beralih fungsi menjadi tempat sampah.

Sampah-sampah ini baru terlihat jelas ketika KRL kosong. Jadi sehari-harinya ketika penuh sesak, sebenarnya banyak sampah yang bertebaran namun tersembunyi dari pandangan.

10 Larangan di KRL itu dulu deh yang diefektifkan…. nggak ada sanksinya sih…

Lalu lintas ekstrim

Posted: 29 Januari 2012 in Transport Jakarta, Umum
Tag:,

Nggak cuma cuaca saja yang ekstrim, lalu lintas, terutama yang di Jakarta pun bisa ikutan ekstrim. Tapi apa sih lalu lintas yang ekstrim itu? maksud saya, lalu lintas ektrim itu seperti cuaca yang tiba-tiba berubah dari terang benderang, mendadak jadi hujan badai. Lalu lintas juga begitu, dari ramai lancar tiba-tiba menjadi macet tak bergerak, atau sebaliknya dari yang biasanya macet, jadi lancar.

Hujan

 

Contohnya kalau hujan. Hujan pagi hari bisa membuat lalu lintas tiba-tiba macet total. Lihat saja di gerbang-gerbang menuju Jakarta seperti Cinere, Pondok Labu dan Gandul. Ekor kemacetan bisa sampai Krukut. Padahal sehari-hari lalu lintasnya ramai lancar. Nah, disini saya jadi berpikir, pandangan yang menggeneralisasi bahwa pengendara sepeda motor adalah kaum menengah kebawah kayaknya perlu direvisi. Tiap pemilik mobil hampir pasti mempunyai sepeda motor. Jadi pemilihan untuk digunakan berangkat kerja tergantung situasi. Misalnya, motor mempunyai keunggulan menembus kemacetan dan lebih efisien. Namun mobil menang dalam kenyamanan dan keamanan, terutama ketika hujan. Jadi ketika hujan turun pagi hari, bisa jadi pengendara motor yang punya mobil sebagian memilih naik mobil, jadi ruas jalan menjadi penuh dipadati mobil. Yang memperparah kemacetan, pemotor  yang tetap memakai motor juga biasanya menunda berangkat kerja menunggu hujan, sehingga waktu keberangkatan bisa bersamaan ketika hujan reda.

Hal lain yang berkontribusi dalam kemacetan adalah berkurangnya kecepatan ketika hujan akibat gangguan seperti genangan air, baliho/pohon tumbang, atau banyaknya pengendara motor yang berteduh dibawah fly over.

Musim Libur Sekolah

Kalau ini berkebalikan dengan yang pertama. Lalu lintas yang biasanya padat merayap, tiba-tiba bisa menjadi lancar di pagi hari, ketika liburan sekolah tiba. Jadi saya berkesimpulan bahwa banyaknya anak sekolah yang diantar dengan kendaraan pribadi, baik yang khusus mengantar maupun yang ikut dengan orang tuanya. Jika ikut orang tuanya sekalian berangkat kerja, ketika liburan sekolah orang tua mereka bisa berangkat lebih siang. Namun sore harinya tidak berbeda jauh.

Massa

Hal lain yang bisa tiba-tiba menimbulkan kemacetan atau kelengangan di suatu ruas jalan adalah kegiatan massa, entah unjuk rasa, tawuran massal, atau perhelatan. Seperti saat unjuk rasa buruh memblokir jalan tol tanggal 27 Januari kemarin, lalu lintas dari Jakarta lumpuh, seakan-akan tak ada jalan lain ke Roma, eh Bekasi atau Bandung. Juga ketika ada isu ada unjuk rasa besar di Jakarta, lalu lintas lalu menjadi lancar, padahal biasanya macet.

 

Kalau cuaca ekstrim biang keladinya adalah pemanasan global, untuk lalu lintas ekstrim saya menuduh industri otomotif global berperanan penting menyetir kebijakan sehingga tidak pro angkutan umum. Budaya berkendaraan pribadi dipupuk sejak dini, contohnya pada anak sekolah.

Lalu lintas menjadi ekstrim. Banyaknya kendaraan pribadi membuat perilaku lalu lintas menjadi susah diprediksi, karena isi otak jutaan orang bisa tiba-tiba berubah. Dan tiap-tiap kepala punya ego sendiri-sendiri. Kendaraan pribadi bebas menentukan jalur dan jadwal mereka, serta menggunakan apa.

Berbeda dengan kendaraan umum yang lebih punya jadwal dan armada. Angkutan umum tidak bisa tiba-tiba berfluktuasi jumlahnya karena hujan misalnya. KRL misalnya, tak bisa mengubah jadwalnya hanya karena musim libur sekolah.

Dan ternyata perilaku ektrim juga ikutan lahir di jalanan. Akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan bahkan sampai berujung maut, hanya karena masalah sepele di jalan.

Selama menggunakan angkutan umum ini, ada satu hal yang membuat saya bebas dari tanggung jawab mematuhi aturan lalu lintas. Jelas saja, karena bukan saya sopirnya. Jadi kalau angkutan saya yang melanggar aturan, yang di tilang ya sopirnya. Sebenernya mau melanggar lampu merah, mau nerobos jalur busway, mau melawan arah ok aja asal cepet. Toh kalo ada urusan bukan kita yang nanggung.

Bahkan kalau mau coba pengalaman teman saya pengguna setiap Angkot D-106 jurusan Parung-Lebak bulus, kalau pagi di Jalan Pondok Cabe Raya, angkot itu kalau ikut antrean macet pasti penumpangnya pada protes, sopirnya disuruh ambil jalur kanan melawan arah biar lancar jalannya. Dan sopirnya kebanyakan ‘terpaksa’ ikut ‘perintah’ itu. Nah, kalau ada masalah, seperti kena tilang, atau nabrak kendaraan lain, ‘pemberi perintah’ pasti lepas tangan. Jawabannya ya cuma satu, meskipun penumpang adalah ‘raja’, siapa dong sopirnya?

ngetem di perempatan

Ini ada cerita yang saya alami berkaitan dengan masalah tilang. Kejadiannya di perempatan Lebak Bulus – Pondok Indah (Poins). Obyeknya adalah Metromini 72, jurusan Lebak Bulus – Blok M. Sesuai aturan, disitu memang nggak boleh stop (ada tanda dilarang stop). Tapi sudah jadi kebiasaan banyak bis yang ngetem, karena penumpang banyak yang datang menyeberang dari arah poin square. Nah, kali ini ceritanya ada polisi, sehingga bis nggak ada yang berani ngetem. Dan bis yang saya naiki ini juga nggak berhenti ngetem. Karena kepadatan lalu lintas, maka bis 72 ini berjalan pelan. Karena penumpang juga banyak disana, dan pintu bis juga terbuka lebar (mana ada kopaja/metromini pintunya nutup kalo beroperasi), maka penumpangpun berlompatan naik.

Hasil dari peristiwa itu adalah sopir bis 72 itu ditilang, alasannya karena menaikkan penumpang tidak pada tempatnya. Sampai disini saya jadi berpikir, yang ditilang jadinya sopirnya, padahal yang melanggar juga penumpangnya. Hmmm…. kok sepertinya nggak fair ya… bukannya apa. Nggak sampai 50 meter dari perempatan itu ada sebuah halte bis, tepatnya di depan gedung BCA di Jalan Arteri Pondok Indah. Kenapa kok penumpangnya nggak mencegat di halte? kenek bis 72 itu cuma bisa ngedumel,” Wong penumpang mau naik masak nggak boleh”. katanya. Tidak menyalahkan penumpang, melainkan kesal pada polisinya (yang sebenarnya menjalankan aturan). Jelas kalau berurusan dengan polisi, ada biaya dan waktu yang terbuang, padahal setoran harus jalan, dan asap dapur juga harus terus ngebul.

Memang sih risiko penumpang yang naik/turun ditempat terlarang ya lumayan, karena seringkali bis tidak berhenti. Jadi bisa saja jatuh. Tapi sekali lagi, kalau ada penumpang yang jatuh dan cedera, apalagi sampai meninggal, sopir bis jelas (lagi-lagi) berurusan dengan polisi.

Jadi memang saya rasakan kalo tidak dipaksa memang susah tertibnya. Busway dan KRL menaik turunkan penumpang pada halte/stasiun juga karena konstruksi dan sistemnya tidak mengkondisikan penumpang naik/turun tidak pada tempatnya.

Satu hal lagi yang membuat saya trenyuh… Sopir dan kenek bis tadi ternyata satu keluarga. Saya lupa bilang, kenek itu seorang ibu, istri sang sopir. Wanita kurus asal Pasar Turi, Surabaya itu menggendong anaknya yang terkecil, yang berusia 2,5 tahun. Sebentar-sebentar dia meletakkan anaknya itu di dekat kursi bapaknya, untuk menarik uang penumpang.

Mungkin kejadian ini membuat saya sebagai penumpang menjadi sedikit mencoba berempati pada sopir-sopir dan kru angkutan umum, bukan cuma melulu protes, klaim dan mengeluh.

Buatan Indonesia

Posted: 7 Januari 2012 in Government Policy, Umum
Tag:

Ribut-ribut mengenai mobil Nasional kembali meruyak di media massa dengan kemunculan mobil Kiat Esemka. Semua menjadi terpancing, terkesima dan melirik. Kenapa? karena mobil (pribadi) adalah segalanya. Adalah dambaan, simbol status, adalah solusi transportasi dan kebutuhan vital, apalagi di tengah konsumerisme yang dijejalkan industri otomotif. Reaksinya macam-macam. Ada yang menjadikan mobil dinas. Banyak teman yang memasang status di fesbuk dengan tema “kebanggaan produk Indonesia”,  media massa menjadikan hot news, bahkan DPR pun sampai berebutan berkomentar.
image

Tapi bagaimanakah dengan nasib produk otomotif nasional lain yang notabene bukanlah kendaraan pribadi? jauh panggang daripada api. Beberapa bahkan nyaris mati walaupun sudah direncanakan dengan baik selama bertahun-tahun (dan memakan biaya yang besar pula).

1. Pesawat N 250
Masih ingat dengan pesawat N 250? prototype pesawat propeler ini pernah menjadi primadona di pameran dirgantara tahun 1996 karena sudah sukses mengangkasa.
image
Berbeda dengan kakaknya, CN 235 alias Tetuko, yang masih patungan antara CASA Spanyol dan IPTN, N 250 ini benar-benar produk PT DI (d.h. IPTN). Sekarang nasib sang Gatotkaca (nama N250) ini tidak jelas, meskipun ada wacana untuk mengembangkannya lagi, karena pesaing utama pesawat kelas ini  (Fokker) sudah gulung tikar. Masalah harga juga akan diturunkan dengan penurunan kualitas (menurunkan kapasitas mesin dan menghilangkan sistem fly by wire). Yah, semoga bisa jadi alternatif selain pesawat buatan Cina.

2. Bis Tempel Komodo
Ini sebenarnya sudah banyak mengaspal di jalanan Jakarta, tapi banyak yang belum tahu. Ya, bis tempel Komodo sudah menjadi sarana Busway yang menjalani koridor IX dan X.

image

Bis Tempel Komodo (wikipedia)

Saya pernah naik dari Ancol dan di Cawang. Orang menyebutnya dengan bis gandeng, namun untuk membedakan dengan truk gandeng yang gandengannya tak memiliki mesin, bis ini disebut bis tempel. Mesin terletak di bagian belakang, sedangkan sistem kendali di bagian depan. Jadi kalau bagian belakang dan depan terpisah, bis ini tidak bisa jalan. Bis ini diproduksi oleh PT Asian Auto Intenasional (AAI), dengan kandungan lokal mencapai sekitar 50%.

3. Kereta Api
Kayaknya banyak yang lupa kalo Indonesia punya industri kereta api di Madiun, yaitu PT Inka. Padahal bagi para pengguna kereta api pasti sedikit banyak bersentuhan dengan produk BUMN ini. Memang di daerah Jabodetabek, umumnya KRL yang beroperasi adalah KRL bekas dari Jepang. Namun masih ada ‘secuil’ produk Inka, yaitu KRL Lingkar (Ciliwung) atau Blue Line yang pernah beroperasi melingkar. Sayang KRL ini pada era sebelum loopline sangat rendah tingkat okupansinya.
image

Selain itu, di tengah tren impor barang, PT Inka masih mendapat pesanan KRD dan Railbus. Termasuk Railbus di Solo dan Sumatera, dan Prameks.
image

4. Mobil?
Masih terkait dengan PT Inka, ternyata selain produk berkaitan dengan kereta, juga memproduksi mobil. Entah kenapa, apakah Inka menyindir kebijakan pemerintah yang lebih ke kendaraan pribadi daripada tranportasi umum (atau produk Inka ini malah cerminan kebijakan pemerintah itu sendiri), atau terobosan untuk sepinya order.
image
Yang jelas, beberapa prototype mobil seperti GEA dan Moko (pesanan Makassar) sudah menampakkan wujudnya.

Bicara mengenai kebijakan pemerintah mengenai transportasi umum, sepertinya sulit untuk tidak berbicara mengenai industri otomotif global. Permasalan ini sudah ke arah government to government, masalah internasional. Sepertinya ada yang merasa rugi kalo transportasi umum berjalan baik di Indonesia. Bahkan jika wacana sudah ke arah transportasi umum pun, dengan alasan biaya atau profesionalisme kebanyakan tendernya dimenangkan oleh pihak asing.

Posted from WordPress for Android