Selama menggunakan angkutan umum ini, ada satu hal yang membuat saya bebas dari tanggung jawab mematuhi aturan lalu lintas. Jelas saja, karena bukan saya sopirnya. Jadi kalau angkutan saya yang melanggar aturan, yang di tilang ya sopirnya. Sebenernya mau melanggar lampu merah, mau nerobos jalur busway, mau melawan arah ok aja asal cepet. Toh kalo ada urusan bukan kita yang nanggung.

Bahkan kalau mau coba pengalaman teman saya pengguna setiap Angkot D-106 jurusan Parung-Lebak bulus, kalau pagi di Jalan Pondok Cabe Raya, angkot itu kalau ikut antrean macet pasti penumpangnya pada protes, sopirnya disuruh ambil jalur kanan melawan arah biar lancar jalannya. Dan sopirnya kebanyakan ‘terpaksa’ ikut ‘perintah’ itu. Nah, kalau ada masalah, seperti kena tilang, atau nabrak kendaraan lain, ‘pemberi perintah’ pasti lepas tangan. Jawabannya ya cuma satu, meskipun penumpang adalah ‘raja’, siapa dong sopirnya?

ngetem di perempatan

Ini ada cerita yang saya alami berkaitan dengan masalah tilang. Kejadiannya di perempatan Lebak Bulus – Pondok Indah (Poins). Obyeknya adalah Metromini 72, jurusan Lebak Bulus – Blok M. Sesuai aturan, disitu memang nggak boleh stop (ada tanda dilarang stop). Tapi sudah jadi kebiasaan banyak bis yang ngetem, karena penumpang banyak yang datang menyeberang dari arah poin square. Nah, kali ini ceritanya ada polisi, sehingga bis nggak ada yang berani ngetem. Dan bis yang saya naiki ini juga nggak berhenti ngetem. Karena kepadatan lalu lintas, maka bis 72 ini berjalan pelan. Karena penumpang juga banyak disana, dan pintu bis juga terbuka lebar (mana ada kopaja/metromini pintunya nutup kalo beroperasi), maka penumpangpun berlompatan naik.

Hasil dari peristiwa itu adalah sopir bis 72 itu ditilang, alasannya karena menaikkan penumpang tidak pada tempatnya. Sampai disini saya jadi berpikir, yang ditilang jadinya sopirnya, padahal yang melanggar juga penumpangnya. Hmmm…. kok sepertinya nggak fair ya… bukannya apa. Nggak sampai 50 meter dari perempatan itu ada sebuah halte bis, tepatnya di depan gedung BCA di Jalan Arteri Pondok Indah. Kenapa kok penumpangnya nggak mencegat di halte? kenek bis 72 itu cuma bisa ngedumel,” Wong penumpang mau naik masak nggak boleh”. katanya. Tidak menyalahkan penumpang, melainkan kesal pada polisinya (yang sebenarnya menjalankan aturan). Jelas kalau berurusan dengan polisi, ada biaya dan waktu yang terbuang, padahal setoran harus jalan, dan asap dapur juga harus terus ngebul.

Memang sih risiko penumpang yang naik/turun ditempat terlarang ya lumayan, karena seringkali bis tidak berhenti. Jadi bisa saja jatuh. Tapi sekali lagi, kalau ada penumpang yang jatuh dan cedera, apalagi sampai meninggal, sopir bis jelas (lagi-lagi) berurusan dengan polisi.

Jadi memang saya rasakan kalo tidak dipaksa memang susah tertibnya. Busway dan KRL menaik turunkan penumpang pada halte/stasiun juga karena konstruksi dan sistemnya tidak mengkondisikan penumpang naik/turun tidak pada tempatnya.

Satu hal lagi yang membuat saya trenyuh… Sopir dan kenek bis tadi ternyata satu keluarga. Saya lupa bilang, kenek itu seorang ibu, istri sang sopir. Wanita kurus asal Pasar Turi, Surabaya itu menggendong anaknya yang terkecil, yang berusia 2,5 tahun. Sebentar-sebentar dia meletakkan anaknya itu di dekat kursi bapaknya, untuk menarik uang penumpang.

Mungkin kejadian ini membuat saya sebagai penumpang menjadi sedikit mencoba berempati pada sopir-sopir dan kru angkutan umum, bukan cuma melulu protes, klaim dan mengeluh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s